Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN DUA SISI
Restoran The Peak perlahan mulai sepi saat jam makan siang berakhir. Alea masih duduk terpaku di kursinya, mengabaikan sisa hidangan mewah yang kini mendingin. Di hadapannya, pengusaha muda dari keluarga Wijaya sedang asyik memamerkan rencana ekspansinya, namun suara pria itu hanya terdengar seperti dengungan lebah di telinga Alea.
Pikirannya tertahan pada satu momen singkat tadi: saat Baskara membisikkan instruksi di telinganya.
"Maaf, Tuan Wijaya," Alea memotong pembicaraan dengan suara yang jauh lebih tenang dari perasaannya. "Saya rasa kita bisa melanjutkan detail teknis ini melalui email. Saya harus segera menyusul Ibu ke rumah."
Alea bangkit berdiri, meninggalkan restoran itu dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat seperti orang yang sedang melarikan diri. Namun, begitu ia sampai di dalam lift yang berdinding cermin, pertahanannya runtuh. Ia menatap pantulan dirinya—seorang gadis dengan pakaian desainer mahal, namun memiliki tatapan mata yang penuh dengan kepalsuan.
"Apa yang sedang aku lakukan?" bisiknya pada bayangan itu.
Sementara itu, Baskara sudah lebih dulu berada di dalam mobilnya yang terparkir di rubanah gedung. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Sebaliknya, ia membuka sebuah laptop kecil yang tersembunyi di bawah dasbor. Sebuah notifikasi dari Reno muncul di layar.
[RENO]: Alarm rumah sudah kumatikan secara remote. Sarah baru saja sampai di gerbang mansion. Dia tidak akan menemukan tanda-tanda kerusakan fisik, tapi kecurigaannya pasti akan memuncak pada tim keamanan.
Baskara mengetik balasan dengan cepat: Bagus. Sekarang fokus pada target utama. Kirimkan detail tentang panti jompo itu. Aku butuh alamat pastinya sekarang.
Beberapa detik kemudian, sebuah koordinat GPS dan sebuah foto buram masuk. Foto itu menampilkan sebuah bangunan tua di pinggiran kota yang dikelilingi oleh tembok tinggi dengan kawat berduri. Panti Wreda Kasih Abadi.
Baskara menyalakan mesin mobilnya. Raungan mesin itu seolah mencerminkan amarah yang ia pendam selama ini. Namun, saat ia hendak memindahkan tuas transmisi, sebuah ketukan di kaca jendela mobilnya membuatnya tersentak.
Itu Alea.
Baskara menurunkan kaca jendela. "Kenapa kau di sini? Seharusnya kau tetap di atas sampai urusanmu selesai."
"Urusanku tidak akan pernah selesai jika kau terus menarikku ke dalam skenariomu, Baskara!" Alea berseru, napasnya tersengal. "Kau sengaja membuat alarm itu berbunyi, kan? Kau membuat Ibu ketakutan hanya agar kau bisa bicara denganku?"
Baskara menatap Alea dengan dingin. "Aku melakukannya untuk melindungimu. Jika Sarah terus menatapmu di meja makan itu, dia akan menyadari bahwa matamu sedang menyembunyikan rahasia besar."
"Kau tidak melindungiku! Kau hanya sedang menggunakanku untuk memukul Ibu!" Alea membuka pintu penumpang dan masuk tanpa izin. "Aku ikut denganmu. Ke mana pun kau pergi sekarang, aku ikut."
"Alea, turun. Tempat yang akan kudatangi bukan untukmu."
"Kau bilang ini tentang kebenaranku juga, kan?" Alea menoleh, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Jika kau benar-benar ingin aku percaya padamu, jangan tinggalkan aku di kegelapan. Tunjukkan padaku apa yang kau temukan di dalam flash drive itu. Tunjukkan padaku kenapa kau begitu membenci Ibu."
Baskara terdiam. Ia melihat keras kepala yang sama dengan yang ia miliki di mata Alea. Jika ia mengusir Alea sekarang, ia mungkin akan kehilangan satu-satunya aksesnya ke dalam hati gadis itu. Tapi jika ia membawanya, ia akan merobek dunia Alea dalam sekejap.
"Baiklah," ujar Baskara akhirnya. Ia menginjak pedal gas, membuat mobil itu meluncur keluar dari rubanah. "Tapi bersiaplah, Alea. Setelah hari ini, kau mungkin berharap kau tetap menjadi boneka yang tidak tahu apa-apa."
Perjalanan menuju panti jompo itu diisi dengan keheningan yang menyesakkan. Baskara sengaja mengambil rute memutar untuk memastikan tidak ada mobil Sarah yang mengikuti. Alea hanya menatap keluar jendela, memperhatikan perubahan pemandangan dari gedung-gedung mewah menjadi perumahan kumuh dan gudang-gudang tua.
"Kenapa kita ke tempat seperti ini?" tanya Alea saat mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi yang berkarat.
"Di sinilah Sarah menyimpan sisa-sisa dosa masa lalunya," jawab Baskara.
Mereka turun dari mobil. Udara di sini berbau amis laut dan asap knalpot. Baskara memimpin jalan menuju ruang resepsionis yang suram. Di sana, seorang perawat tua menyambut mereka dengan tatapan curiga.
"Kami ingin bertemu dengan Tuan Yusuf. Pasien di kamar 4B," ujar Baskara sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu di bawah buku tamu.
Perawat itu terdiam sejenak, melihat uang itu, lalu mengangguk kecil. "Dia sedang di taman belakang. Tapi jangan lama-lama. Dia tidak banyak bicara sejak serangan jantung terakhirnya."
Baskara dan Alea berjalan menuju taman belakang yang gersang. Di sana, di atas kursi roda tua, duduk seorang pria paruh baya yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Kakinya ditutupi selimut lusuh, dan matanya menatap kosong ke arah tembok beton.
Alea mengerutkan kening. "Siapa dia, Baskara?"
Baskara tidak menjawab. Ia berjalan mendekat ke depan pria itu dan berjongkok. "Tuan Yusuf? Masih ingat dengan logo lumba-lumba?"
Pria tua itu tersentak. Bahunya gemetar hebat, dan napasnya mulai tersengal-sengal. Matanya yang semula kosong kini dipenuhi dengan ketakutan yang luar biasa.
"Maaf... maafkan saya..." gumam pria itu dengan suara parau. "Saya tidak sengaja... remnya... remnya blong..."
Alea melangkah maju, tangannya menutup mulutnya sendiri saat mendengar kata-kata itu. "Apa maksudnya, Baskara? Rem apa?"
Baskara berdiri, menatap Alea dengan sorot mata yang tajam sekaligus pedih. "Pria ini adalah supir truk yang menghantam mobil orang tuamu tiga puluh tahun lalu, Alea. Dan dia tidak berada di penjara. Dia berada di sini, dibiayai oleh yayasan milik ibumu, agar dia tetap diam selamanya."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alea. Suara angin, debu yang beterbangan, dan isak tangis pria tua itu menyatu menjadi sebuah simfoni kehancuran. Alea menatap pria di kursi roda itu, lalu menatap Baskara, mencoba mencari tanda bahwa ini semua hanyalah lelucon jahat.
Namun di mata Baskara, ia hanya menemukan kebenaran yang dingin dan tak terbantahkan.
"Ibu... Ibu melakukan ini?" suara Alea hampir tidak terdengar.
"Dia bukan ibumu, Alea," bisik Baskara, melangkah mendekat. "Dia adalah penjagamu yang membangun penjara dari emas dan kebohongan."
Tepat saat itu, ponsel Baskara bergetar. Sebuah pesan dari Reno muncul: "Bas, batalkan semuanya! Sarah baru saja menyadari bahwa uang santunan untuk Yusuf dialihkan. Dia sedang menuju ke sana dengan tim keamanannya! LARI SEKARANG!"
Baskara menoleh ke arah pintu masuk panti jompo. Suara deru mesin mobil yang melaju kencang mulai terdengar mendekat.