Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam yang Baru
"Maaf?!" Hilman berteriak, air mata kemarahan menggenang di matanya yang mulai renta. "Ibumu sedang sekarat di dalam sana karena kamu menukar kesetiaan istrimu dengan sampah seperti dia! Kamu menghancurkan kehormatan keluarga ini, Attar!"
Di sudut lorong, Sheila yang sejak tadi menyaksikan adegan itu tiba-tiba mengeluarkan suara yang ganjil. Sebuah tawa kecil yang perlahan berubah menjadi tawa histeris yang memuakkan.
"Hahaha... hahahaha!" Sheila menutup mulutnya dengan kedua tangan, namun bahunya terguncang hebat.
Pemandangan itu sangat mengerikan. Sheila tampak kehilangan kewarasannya. Air mata mengalir deras dari matanya, namun bibirnya tetap menyeringai lebar. Karena tangis dan tawa yang bercampur aduk, cairan bening—ingus—keluar berlebihan dari hidungnya, mengotori bibir dan tangan indahnya yang berselimut perhiasan mahal. Ia tidak peduli. Ia tampak benar-benar gila.
"Lucu sekali..." gumam Sheila di sela tawa histerisnya, suaranya serak dan pecah. "Lihatlah kalian... Keluarga Pangestu yang agung... runtuh hanya karena seorang wanita seperti aku. Attar, lihat papamu! Dia membencimu! Bukankah ini indah? Sekarang tidak ada lagi yang tersisa untukmu kecuali aku!"
"Diam kau, Sheila! Pergi dari sini!" raung Hilman, menunjuk ke arah pintu keluar dengan tangan yang bergetar hebat.
Sheila justru melangkah maju, menghapus ingus di wajahnya dengan punggung tangan secara kasar, menyisakan noda kotor yang menjijikkan di wajah cantiknya. "Aku tidak akan pergi! Aku adalah pemenangnya! Livia sudah kalah! Aku yang memiliki Attar sekarang!"
****
"Kamu tidak memenangkan apa pun, Sheila."
Sebuah suara tenang namun penuh otoritas menghentikan kegilaan Sheila. Di ujung lorong, Livia berdiri. Ia tampak jauh lebih tegar daripada sebelumnya. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin rumah sakit, namun matanya memancarkan kekuatan yang baru.
Livia berjalan mendekat, melewati Sheila tanpa sedikit pun rasa takut. Ia langsung menuju Hilman, memeluk pria tua itu yang seketika luruh dalam tangis di bahu menantunya.
"Livia... Maafkan anakku, Nak... Maafkan dia," isak Hilman.
Livia mengusap punggung mertuanya pelan, lalu matanya beralih pada Attar yang masih duduk di lantai, dan kemudian pada Sheila yang kini menatapnya dengan kebencian yang mendalam.
"Lihat dirimu, Sheila," ucap Livia pelan, menatap penampilan sahabatnya yang kini tampak hancur dan kotor oleh cairan dari hidung dan matanya sendiri. "Kamu pikir kamu menang? Kamu hanya mendapatkan seorang pria yang tidak punya tulang punggung, dan kamu harus menghancurkan nyawa orang lain untuk mendapatkannya. Kamu bukan pemenang. Kamu hanya pemulung yang memungut sampah yang sudah aku buang."
"Kau...!" Sheila hendak menerjang Livia, tangannya yang kotor sudah terangkat di udara.
****
"Jangan berani-berani menyentuhnya."
Sebelum tangan Sheila sempat mencapai Livia, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Sheila di udara. Ayub Sangaji muncul dari belakang Livia. Pemuda itu masih mengenakan jaket olahraganya, wajahnya tampak mengeras dengan sorot mata tajam yang mengancam.
Ayub telah mengikuti Livia sejak dari hotel, dan ia sampai tepat waktu untuk melihat puncak drama ini. Ia berdiri tegak di samping Livia, seperti sebuah benteng yang tak tergoyahkan. Kehadirannya yang muda dan penuh energi atletis membuat suasana di koridor itu mendadak berubah.
"Siapa kau?!" teriak Sheila, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Ayub yang seperti besi.
Ayub tidak menjawab Sheila. Ia menatap Attar yang masih terduduk di lantai, menatap pria itu dengan tatapan meremehkan yang sangat dalam. "Pria yang membiarkan istrinya dihina dan disakiti orang lain adalah pria yang tidak layak disebut laki-laki."
Livia menoleh ke arah Ayub, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat pemuda ini benar-benar datang untuk menjaganya.
Attar menatap Ayub dengan bingung dan cemburu yang mulai bangkit. "Siapa kamu? Kenapa kamu bersama istriku?"
Ayub tersenyum sinis. "Saya adalah orang yang menyelamatkan istri Anda saat dia hampir mati karena ulah Anda. Dan mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitinya lagi. Termasuk Anda, atau wanita gila di samping Anda ini."
Sheila berteriak frustrasi, mencoba meronta, namun Ayub dengan tenang mendorongnya menjauh hingga Sheila terhuyung ke dinding. Di lorong rumah sakit itu, garis peperangan telah ditarik. Livia tidak lagi berdiri sendirian. Ia memiliki Hilman di sisinya, dan seorang pemuda bernama Ayub yang siap mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya.
Tepat saat itu, lampu di atas ruang UGD berubah warna. Seorang dokter keluar dengan wajah tegang, membuat semua orang di sana menahan napas.
****
Lampu merah di atas pintu Unit Gawat Darurat masih menyala, memancarkan rona merah yang mengerikan di sepanjang lorong rumah sakit yang sunyi. Dokter keluar dengan masker yang sudah diturunkan, wajahnya tampak kuyu.
"Pak Hilman, kondisi Ibu Rahmi sangat kritis. Beliau mengalami serangan jantung akibat syok berat. Saat ini kami sedang melakukan upaya maksimal, namun Ibu dalam keadaan koma. Kita hanya bisa berdoa melewati masa kritis 24 jam ini," ujar dokter itu dengan nada pelan namun menghujam.
Hilman nyaris ambruk jika tidak segera ditopang oleh Ayub. Pria tua itu terisak tanpa suara, pundaknya berguncang hebat. Di sisi lain, Attar bersimpuh di depan pintu kaca yang tertutup, memukuli lantai marmer dengan tinjunya yang bergetar.
"Ini salahku... ini semua salahku," ratap Attar. Suaranya terdengar seperti rintihan binatang yang terluka. Ia menoleh ke arah Livia, mencoba merangkak mendekati ujung sepatu istrinya. "Liv... tolong... jangan tinggalkan aku sekarang. Mama butuh kita. Aku butuh kamu untuk melewati ini. Aku berjanji akan berubah, aku akan melakukan apa saja!"
Livia menatap suaminya dari ketinggian. Tidak ada lagi binar cinta, tidak ada lagi rasa iba. Yang tersisa hanyalah kelelahan yang luar biasa. "Attar, dengarkan aku baik-baik. Aku berada di sini hanya karena Mama. Aku mencintai Mama seperti ibuku sendiri. Tapi untukmu? Hubungan kita sudah mati di saat kamu membiarkan Sheila masuk ke dalam ranjang kita."
"Liv, aku mohon!"
"Keputusanku sudah bulat, Attar. Aku akan segera mengurus perceraian kita. Jangan gunakan kondisi Mama sebagai senjatamu untuk menahanku dalam penjara kebohongan ini," ucap Livia dengan suara yang stabil meski hatinya perih.
****
Di kejauhan, bersandar pada pilar koridor yang gelap, Sheila menyaksikan adegan itu dengan pemandangan yang memuakkan. Ia baru saja menyeka sisa-sisa ingus dan air mata "gilanya" dengan tisu, namun matanya masih merah berkilat.
Saat mendengar kata "cerai" keluar dari bibir Livia, sebuah seringai kepuasan yang murni merekah di wajah Sheila. Akhirnya, batinnya. 'Duda. Attar akan segera menjadi duda kaya yang rapuh, dan akulah yang akan berdiri di sana untuk memungut sisa-sisanya. Aku akan menjadi Nyonya Pangestu.'
Namun, pandangan Sheila kemudian beralih pada sosok pemuda yang berdiri tegap di samping Livia. Ayub Sangaji. Pemuda itu masih menatapnya dengan pandangan meremehkan, seolah-olah Sheila adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Kata-kata Ayub tadi—bahwa Sheila adalah wanita gila dan pemulung sampah—masih terngiang-ngiang dan membakar harga diri Sheila yang tinggi.
"Kamu..." desis Sheila, suaranya nyaris seperti desisan ular.
Ia memperhatikan Ayub dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pemuda itu tampan, atletis, dan memiliki aura pelindung yang kuat. Tapi baginya, Ayub hanyalah pengganggu. Seorang bocah ingusan yang berani mempermalukannya di depan keluarga Pangestu.
Sheila mulai tertawa lagi. Bukan tawa histeris seperti tadi, tapi tawa rendah yang mencekam. "Hahaha... Kamu pikir kamu pahlawan, hah? Berani-beraninya bocah sepertimu menghinaku."