Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: MALAM DI PARIS
Paris di musim gugur seharusnya menjadi kota paling romantis di dunia, dengan daun-daun marronnier yang menguning dan lampu-lampu jalanan yang memantul indah di atas permukaan Sungai Seine.
Namun, bagi Alana, keindahan itu terasa hambar dan penuh kepalsuan. Udara Paris malam ini terasa menggigit, membawa aroma hujan yang baru saja turun dan asap knalpot dari mobil-mobil yang berlalu-lalang di sepanjang Avenue des Champs-Élysées.
Mereka tiba melalui jalur darat setelah penerbangan kargo yang melelahkan dari Mumbai ke Turki.
Menggunakan identitas sebagai relawan medis dari organisasi non-pemerintah fiktif, mereka berhasil menembus perbatasan Prancis tanpa menarik perhatian otoritas setempat.
Saat ini, mereka berada di sebuah apartemen kecil yang kumuh di Distrik 13, sebuah wilayah padat yang didominasi oleh komunitas imigran, tempat yang sempurna untuk bersembunyi di balik kebisingan urban.
Alana berdiri di dekat jendela, menatap ke arah kejauhan di mana Menara Eiffel berdiri tegak, memancarkan cahaya keemasan yang megah.
Namun, matanya tidak sedang menikmati pemandangan. Sejak prosedur "Ujian DNA" di Mumbai, penglihatan Alana telah berubah. Ia bisa melihat fluktuasi energi pada perangkat elektronik di sekitarnya dan merasakan kehadiran makhluk hidup melalui jejak panas yang lebih detail dari radar termal mana pun.
"Lukas, bagaimana status pengintaianmu?" suara Alana terdengar tenang, namun mengandung nada otoritas yang baru.
Lukas duduk di lantai dengan tumpukan perangkat keras yang ia rakit dari pasar gelap Mumbai.
Layar monitornya menampilkan peta digital L'Hôpital de la Pitié-Salpêtrière, salah satu rumah sakit tertua dan terbesar di Paris, tempat Victor dijadwalkan memberikan pidato kuncinya besok pagi.
"Aku sudah berhasil menyusup ke sistem keamanan rumah sakit melalui koneksi Wi-Fi publik di kafe seberang jalan, Mummy," jawab Lukas tanpa mengalihkan pandangan.
"Tapi ada yang aneh. Protokol keamanannya bukan milik polisi Prancis atau keamanan internal rumah sakit. Ini adalah enkripsi militer tingkat tinggi. Polanya mirip dengan yang kita hadapi di The Sanctuary."
Arlan mendekat, bahunya sudah tidak lagi terbalut penyangga, meski gerakannya masih sedikit kaku. Ia memegang teleskop jarak jauh yang diarahkan ke sebuah hotel mewah yang berjarak tiga blok dari posisi mereka—tempat Victor menginap.
"Mereka tidak membiarkannya sendirian, Alana," kata Arlan dengan nada berat. "Aku melihat setidaknya enam orang penjaga di balkon lantai paling atas. Mereka mengenakan pakaian sipil, tapi posisi berdiri dan cara mereka memantau jalanan... itu adalah formasi pengawalan untuk aset bernilai tinggi."
Alana mengambil teleskop dari tangan Arlan. Ia mengatur fokusnya ke arah jendela kaca besar di lantai teratas hotel. Di sana, di balik tirai tipis, ia melihat siluet seorang pria tua yang sedang duduk di kursi roda, dikelilingi oleh peralatan medis.
Itu adalah Victor.
Namun, yang mengejutkan Alana bukanlah kondisi fisik mentornya yang tampak lemah, melainkan sosok yang berdiri di sampingnya.
Pria itu tinggi, tegap, dengan rambut pirang pucat yang disisir rapi dan tatapan mata satu yang sedingin es perak.
"Kael," desis Alana. "Komandan lapangan Ouroboros ada di sini. Dia sendiri yang mengawal Victor."
Arlan mengumpat pelan. "Jika Kael ada di sana, artinya mereka tahu bahwa Victor adalah umpan paling efektif untuk memancingmu keluar. Mereka tidak yakin kau tewas di kapal kargo itu, Alana. Alfred Mahendra terlalu paranoid untuk percaya pada laporan tanpa bukti mayat."
Alana menurunkan teleskopnya. Pikirannya berputar cepat. Jika Victor dikelilingi oleh pasukan khusus Ouroboros di bawah komando Kael, maka serangan langsung adalah tindakan bunuh diri.
Namun, keberadaan Kael juga mengonfirmasi satu hal: Victor bukan sekadar pengkhianat biasa, dia adalah kunci laboratorium berjalan bagi mereka.
"Mereka menggunakan Victor untuk menyempurnakan prototipe yang ada di dalam tubuhnya," Alana menganalisis dengan cepat.
"Kael bukan menjaganya karena rasa hormat, tapi karena Victor adalah satu-satunya subjek yang masih hidup dengan sisa-sisa Formula Teratai sebelum aku melakukan sinkronisasi sempurna."
Lukas tiba-tiba berseru kecil. "Mummy, lihat ini! Aku mendapatkan akses ke log komunikasi hotel. Ada permintaan pengiriman tabung oksigen khusus dan cairan dekstrosa dengan label kimia yang sangat spesifik... ini bukan untuk pasien kanker biasa. Ini adalah penstabil seluler."
Alana mendekati monitor Lukas. Ia membaca deretan kode kimia tersebut. Matanya menyipit. "Victor sedang sekarat. Prototipe Teratai itu mulai memakan jaringan tubuhnya sendiri karena dia tidak memiliki kunci DNA yang tepat. Dia membutuhkan pasokan energi yang konstan hanya untuk tetap bernapas. Dia dikhianati oleh obat yang dia pikir akan menyelamatkannya."
Rasa benci yang selama ini menyelimuti hati Alana sesaat bercampur dengan rasa kasihan yang pahit. Victor, pria yang mengajarinya tentang kemanusiaan, kini terjebak dalam siklus penderitaan abadi hanya demi memperpanjang usianya beberapa bulan lagi.
"Kita akan menyerang besok saat simposium berlangsung," kata Alana dengan tekad bulat.
A"Di depan publik, Kael tidak bisa menggunakan senjata berat tanpa memicu kemarahan pemerintah Prancis. Itu adalah celah kita."
"Tapi bagaimana kau akan mendekatinya?" tanya Arlan. "Kael mengenal wajahmu. Kamera pengaman akan menangkapmu begitu kau masuk ke lobi."
Alana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak asing di wajahnya yang cantik. "Lukas sudah bilang, biometrikku tidak terbaca. Dan untuk penglihatan manusia... aku punya cara untuk menjadi orang lain."
Alana berjalan menuju meja di sudut ruangan di mana Meera telah menyiapkan kotak perlengkapan rias prostetik kelas film.
Namun, Alana tidak menggunakannya. Ia hanya menyentuh permukaan kulit wajahnya sendiri. Sejak "Ujian DNA", ia menyadari bahwa ia bisa mengendalikan aliran darah dan tegangan otot di wajahnya secara terbatas.
Dengan sedikit konsentrasi, ia bisa mengubah struktur pipinya tampak lebih tirus dan garis matanya sedikit berbeda.
Arlan menatap transformasi itu dengan ngeri sekaligus kagum. "Kau benar-benar menjadi sesuatu yang lain, Alana."
"Aku adalah apa yang mereka ciptakan, Arlan," sahut Alana. "Besok, aku akan masuk ke rumah sakit itu sebagai asisten medis. Lukas, kau akan mengambil alih sistem audiotorium. Aku ingin saat Victor berbicara tentang 'keajaiban regenerasi', aku yang memberikan demonstrasi yang sebenarnya."
Malam semakin larut di Paris. Di apartemen kecil itu, rencana matang disusun. Lukas akan bertindak sebagai dukungan teknis dari jarak jauh, sementara Arlan akan menyusup ke jalur evakuasi bawah tanah rumah sakit untuk memastikan mereka memiliki jalan keluar jika situasi memburuk.
Luna, yang kini mulai mengerti bahaya yang mengancam, memegang tangan ibunya erat-erat sebelum tidur.
"Mummy akan kembali, kan?" tanya Luna.
"Tentu saja, Sayang. Mummy hanya perlu mengembalikan sesuatu yang bukan milik orang jahat itu," jawab Alana sambil membelai rambut Luna.
Setelah anak-anak terlelap, Alana dan Arlan duduk di balkon kecil, menatap lampu-lampu Paris yang mulai meredup.
"Jika ini adalah jebakan, Arlan... kau harus membawa anak-anak pergi. Jangan kembali untukku," bisik Alana.
Arlan menoleh, menatap mata abu-abu baja Alana yang kini tampak bercahaya dalam kegelapan. Ia menggenggam tangan Alana, kali ini lebih erat dari sebelumnya.
"Kita sudah melewati dasar samudra dan gurun Mumbai bersama, Alana. Jangan minta aku untuk menjadi pengecut di Paris. Jika kau jatuh, aku akan meruntuhkan seluruh kota ini untuk membawamu pulang."
Alana merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya, sesuatu yang selama lima tahun pengasingannya hampir ia lupakan. Cinta bukan lagi kelemahan baginya; itu adalah bahan bakar yang membuat Formula Teratai di dalam darahnya tetap stabil.
Pagi harinya, Paris diselimuti kabut tipis. Di depan gedung L'Hôpital de la Pitié-Salpêtrière, puluhan jurnalis sains dan dokter ternama mulai berdatangan.
Alana berjalan di antara kerumunan, mengenakan jas laboratorium putih dan kacamata berbingkai hitam besar. Ia tampak seperti mahasiswa kedokteran pascasarjana yang ambisius.
Ia melewati pos pemeriksaan keamanan. Penjaga Ouroboros yang menyamar sebagai sekuriti rumah sakit memindai wajahnya dengan perangkat genggam.
Hasilnya: No Match Found. Sinyal biometriknya benar-benar netral, seolah-olah ia adalah hantu yang berjalan di siang bolong.
Alana masuk ke dalam auditorium besar yang sudah dipenuhi orang. Di atas panggung, sebuah podium kayu berdiri megah di bawah lampu sorot.
Tak lama kemudian, pintu samping terbuka. Kael muncul terlebih dahulu, matanya memindai seluruh ruangan dengan kewaspadaan predator sebelum memberikan isyarat.
Dua orang perawat mendorong kursi roda masuk ke panggung. Di sana duduk Victor. Tubuhnya jauh lebih kurus dari yang Alana ingat, wajahnya pucat pasi, dan tangannya gemetar hebat. Namun, saat ia mulai berbicara di depan mikrofon, suaranya tetap memiliki wibawa intelektual yang tinggi.
"Selamat pagi, rekan-rekan sejawat," Victor memulai pidatonya. "Hari ini, kita akan berbicara tentang masa depan di mana kematian hanyalah sebuah pilihan... tentang Proyek Teratai yang akan mengubah takdir manusia."
Alana berdiri di barisan paling belakang, tersembunyi di balik bayangan pilar. Ia bisa merasakan frekuensi Teratai yang tidak stabil di dalam tubuh Victor—seperti suara radio yang rusak dan berdengung menyakitkan.
"Pilihan?" bisik Alana sangat pelan, namun ia tahu Lukas bisa mendengarnya melalui mikrofon tersembunyi. "Kau tidak punya pilihan, Victor. Kau hanya punya waktu."
Lukas menjawab melalui earpiece Alana, "Sistem audiotorium terkendali, Mummy. Video presentasinya siap diunggah. Berikan aba-aba."
Alana melangkah maju perlahan di antara deretan kursi jurnalis. Matanya terkunci pada Victor, dan untuk sesaat, mata tua Victor bertemu dengan mata abu-abu Alana.
Victor terhenti di tengah kalimatnya. Napasnya tercekat. Ia mengenali tatapan itu—tatapan yang tidak bisa diubah oleh prostetik atau manipulasi biometrik apa pun.
"A-Aura?" gumam Victor, suaranya tertangkap oleh mikrofon dan menggema di seluruh auditorium.
Kael segera menajamkan pandangannya, tangannya bergerak ke arah balik jasnya.
"Sekarang, Lukas!" perintah Alana.
Lampu auditorium tiba-tiba padam. Di layar proyeksi raksasa di belakang Victor, bukan grafik medis yang muncul, melainkan rekaman pembantaian di MV Asteria dan data pengkhianatan Victor yang berhasil dicuri Meera. Suara kericuhan mulai pecah di dalam ruangan.
Alana melompat ke atas panggung dengan kelincahan yang mengejutkan semua orang. Sebelum Kael sempat menarik senjatanya, Alana sudah berdiri di depan kursi roda Victor.
Ia tidak membawa senjata api; ia hanya membawa sebuah ampul kecil berisi cairan bening.
"Halo, Guru," bisik Alana. "Waktunya untuk dosis terakhirmu."
Kael menerjang maju, namun dari arah balkon, sebuah tembakan jitu menghantam lantai tepat di depan kaki Kael. Itu Arlan.
"Tetap di tempatmu, Kael!" suara Arlan menggelegar melalui sistem suara auditorium yang dibajak.
Di tengah kekacauan dan kilatan lampu kamera jurnalis yang bingung, Alana menatap Victor yang gemetar ketakutan. Inilah saat yang ia tunggu-tunggu—pertemuan dengan orang yang menjual nyawanya demi keabadian yang palsu.