Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Sugar Daddy KR
Pukul 12:05 siang. Ayu baru saja selesai menerima teguran keras dari Lingga mengenai kesalahan kecil Rp100 juta di laporan klien. Kakinya terasa seperti dihantam palu godam, seolah sepatu hak Italia itu adalah jebakan maut yang dipasang oleh Lingga sendiri.
"Sekarang, tugas keempat," kata Lingga, berjalan cepat menuju pintu penthouse-nya.
"Temani aku makan siang. Aku benci asisten yang berjalan seperti bebek patah kaki."
Ayu menggertakkan gigi, berusaha mengejar Lingga. Setiap langkah adalah siksaan. Ia mencoba berjalan secepat mungkin, tetapi rasa sakit itu begitu hebat hingga ia kesulitan menjaga keseimbangan.
Tepat di samping pintu keluar, Ken sudah berdiri menunggu dengan wajah datarnya yang khas. Ia melihat Ayu yang memerah, berjalan terhuyung-huyung dengan sepatu yang jelas-jelas tidak nyaman.
Ken, yang biasanya kaku dan profesional, merasakan sedikit iba. Ia tahu sepatu itu baru, dan Ayu adalah seorang siswi yang baru beralih ke lingkungan kantor yang kejam ini.
"Nona Ayu," bisik Ken, sedikit memajukan tubuhnya saat Lingga sedang mengenakan jas di depan cermin. "Tuan Lingga punya sepasang flat shoes cadangan di lemari itu, bekas hadiah yang tidak ia sentuh. Mungkin lebih baik..."
Ayu mendongak, matanya penuh rasa terima kasih. "Oh, Tuan Ken, terima kasih. Saya benar-benar—"
"Ken!" Potongan tajam Lingga membelah udara. Lingga berbalik, tatapannya menyambar. Entah mengapa, melihat Ken mencondongkan tubuh ke arah Ayu dengan raut wajah simpatik—raut yang belum pernah Lingga lihat Ken tunjukkan sebelumnya—membuat dada Lingga terasa panas. Rasa kesal yang tajam menyeruak.
Ken tidak pernah mencampuri urusan pribadiku. Kenapa dia bersikap begitu peduli pada gadis ini?
Lingga maju selangkah, berdiri di antara Ayu dan Ken. Aura kekuasaannya langsung menekan.
"Urusanmu adalah membuka pintu dan memastikan mobil siap, Ken. Urusan Ayu adalah menuruti perintahku," kata Lingga, suaranya sangat dingin. "Asistenku harus terlihat profesional, tidak peduli apa pun yang terjadi. Jika dia tidak bisa mengatasi sepasang sepatu, dia tidak bisa mengatasi klien miliaran dolar."
Lingga menatap Ayu dengan mata mengancam.
"Kau mendengarnya, Ayu? Tidak ada kompromi. Atau kau ingin aku mencarikan kamu pekerjaan di bagian arsip bawah tanah?"
Ayu menggeleng cepat. "Tidak, Tuan. Saya mengerti. Maafkan saya."
Ken mundur selangkah, ekspresinya kembali datar, meskipun ada sedikit kerutan di dahinya yang menunjukkan rasa tidak suka pada perlakuan Lingga.
Lingga, meskipun terlihat tenang, merasakan dorongan aneh untuk memastikan Ayu berada dalam pengawasannya, jauh dari simpati Ken. Ini bukan cemburu, pikir Lingga keras-keras. Ini adalah profesionalisme. Ia tidak ingin asistennya dimanja oleh pegawainya.
"Ayo, Ayu," perintah Lingga. Ia berjalan cepat menuju lift, memaksa Ayu mengikutinya dengan susah payah.
Restoran La Vue adalah puncak kemewahan. Ayu harus mengerahkan seluruh sisa energinya untuk berjalan di belakang Lingga, berusaha agar langkahnya tidak terlihat pincang.
Mereka tiba di meja dan disambut oleh Tuan Robert, seorang pengusaha properti paruh baya yang ramah.
"Lingga! Wah, kau selalu tepat waktu. Dan... siapa gadis cantik ini?" sapa Tuan Robert. Mata Tuan Robert menunjukkan kekaguman yang jelas pada kecantikan alami dan keremajaan Ayu yang masih polos, kontras dengan Lingga yang tampak tegang.
"Asisten baru? Kau akhirnya merekrut orang yang menyenangkan di mata."
Pujian itu, ditambah dengan tatapan Tuan Robert yang terlalu lama tertuju pada Ayu, membuat Lingga merasa sangat tidak nyaman. Ada rasa panas yang naik ke tenggorokannya, campuran rasa kesal dan posesif yang tak beralasan. Ia benci cara orang lain melihat miliknya, meskipun milik ini adalah seorang siswi yang ia 'beli' dengan kontrak kerahasiaan.
"Terima kasih, Robert," jawab Lingga kaku, suaranya sedikit lebih tajam dari yang seharusnya. Ia segera menarik kursi untuk Ayu, hampir mendudukannya secara paksa, seolah ingin menyembunyikan Ayu dari pandangan Robert.
"Ini Ayu Puspita. Dia asisten pribadiku yang baru." Lingga lalu menambahkan dengan nada dingin, sarat akan peringatan tersembunyi, ditujukan baik untuk Robert maupun Ayu. "Dia bertugas memastikan semua rahasia perusahaan ku—dan pribadiku—tetap aman."
Ayu, meski kesakitan, berhasil tersenyum profesional dan mencatat setiap detail negosiasi dengan cermat. Ia harus membuktikan pada Lingga—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia lebih dari sekadar pencuri yang ditangkap basah.
Tepat saat makanan penutup dihidangkan, seorang wanita menghampiri meja mereka. Wanita itu, Aleya, mantan kekasih Lingga, memancarkan aura sosialita yang mahal.
Lingga membeku. Semua profesionalisme yang ia pertahankan selama ini runtuh. Matanya dipenuhi amarah dan rasa sakit.
"Aleya!" sapa Tuan Robert.
ALeya tersenyum paksa pada Lingga, lalu matanya beralih ke Ayu. Aleya juga tidak bisa menyembunyikan tatapan kagumnya pada kulit bersih dan pesona muda Ayu yang jauh berbeda dari wanita sosialita lain.
"Oh, siapa ini? Asisten baru?" tanyanya dengan nada meremehkan, mencoba menutupi rasa terkejutnya pada penampilan Ayu.
"Ayu Puspita. Asistenku," jawab Lingga, suaranya tegang.
"Kau cepat sekali, Lingga. Setelah semua yang terjadi, kau sudah... mencari teman baru," ucap Aleya, nada bicaranya menyiratkan kecurigaan.
Ayu mengambil alih. Ia tahu ia harus melindungi Lingga—dan kontraknya.
"Saya hanya asisten, Nyonya," kata Ayu, suaranya tenang dan tegas. "Saya ditugaskan untuk mengurus agenda Tuan Lingga, dan memastikan tidak ada informasi pribadi yang bocor."
Ayu menekankan kata "pribadi yang bocor", menatap lurus ke mata Aleya. Itu adalah peringatan halus, bahwa ia tahu mengapa Lingga mabuk.
ALeya terkejut dengan keberanian Ayu.
"Menarik," komentar Aleya, lalu ia tersenyum sinis dan menatap Lingga. "Kau tahu, Lingga. Kau selalu memilih yang terbaik, meskipun... kau sedang dalam kondisi terburukmu."
ALeya kemudian membungkuk sedikit ke arah Ayu, suaranya menjadi sangat rahasia.
"Kau tahu apa yang paling dicintai Lingga?" bisik Aleya.
"Dia mencintai privacy-nya. Dia benci diganggu. Bahkan di saat dia sedang sakit hati. Dia sangat profesional," kata Aleya.
Lalu, Aleya mengucapkan kalimat yang membuat seluruh darah di tubuh Ayu membeku, kalimat yang mengungkap rahasia yang ia yakini hanya ia dan Lingga yang tahu.
"Dia benci clubbing dan tidak pernah menyentuh alkohol. Sama sekali," bisik Aleya, lalu dia tersenyum penuh kemenangan, berbalik, dan berjalan pergi.
Lingga Mahardika, Ketua Yayasan yang melarang keras alkohol dan clubbing, dan yang Ayu temui malam itu dalam keadaan mabuk berat dan patah hati, adalah seorang abstainer sejati.
Ayu menatap Lingga, wajahnya sepucat kertas. Jika Lingga tidak pernah minum, lalu... siapa pria yang memaksanya masuk ke suite? Siapa pria yang mabuk dan patah hati yang dompetnya ia curi?
Lingga, yang kini kembali sadar dari keterkejutannya, menatap Ayu dengan mata yang melebar dan dipenuhi ketakutan.
Rahasianya yang sebenarnya kini terkuak: bahwa ia melakukan sesuatu yang benar-benar di luar karakternya, sesuatu yang ia benci, hanya karena mantan kekasihnya. Dan kini, Ayu tahu bahwa Lingga melanggar prinsip terbesarnya sendiri.
""Gawat!" gumam Lingga khawatir.
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....