NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11_HAMPIR DIKELUARKAN DARI SEKOLAH

Masalah itu meledak di hari yang tidak Nayla duga.

Awalnya hanya cekcok kecil di koridor lantai dua. Nayla sedang berjalan menuju kelas ketika salah satu siswi dari kelas sebelah sengaja menyenggol bahunya. Buku Nayla jatuh berserakan.

“Jalan pakai mata dong,” ucap siswi itu ketus.

Nayla menunduk, memunguti bukunya. “Koridornya sempit. Semua juga lewat sini.”

“Alasan,” balas siswi itu sambil mendengus. “Atau emang kebiasaan nyari perhatian?”

Beberapa murid berhenti melangkah. Lingkaran kecil terbentuk tanpa disadari.

Nayla berdiri. Menatap lurus. “Kamu nggak kenal aku. Jangan asal bicara.”

“Tapi semua orang juga tahu,” sahut siswi itu, menyeringai. “Modal satu kelompok sama Azka aja udah ngerasa naik kelas.”

Kalimat itu menyulut sesuatu di dada Nayla.

“Aku naik kelas karena belajar,” jawab Nayla, suaranya mulai meninggi. “Bukan karena numpang nama siapa pun.”

“Uh, galak,” ejek yang lain. “Pantesan Azka ilfeel.”

Nayla menahan napas. Tangannya mengepal. Ia bisa memilih diam. Bisa juga memilih pergi. Tapi kata-kata itu sudah terlalu jauh.

“Stop bawa-bawa nama orang,” ucap Nayla tegas. “Masalahmu apa sih sama aku?”

Siswi itu melangkah lebih dekat. “Masalahnya lo sok suci.”

Dorongan itu datang tiba-tiba.

Tidak keras, tapi cukup membuat Nayla kehilangan keseimbangan. Punggungnya membentur loker. Suara benturan membuat koridor langsung ricuh.

“Eh! Jangan dorong!”

“Gila, ribut!”

Nayla berdiri lagi, refleks mendorong balik. Bukan dengan niat menyakiti, tapi cukup membuat lawannya mundur satu langkah.

Dan di saat itulah guru piket muncul.

“Ada apa ini?!”

Semua membeku.

***

Kepala sekolah memanggil mereka berdua ke ruangannya siang itu juga.

Nayla duduk di kursi panjang depan ruangan, tangan di pangkuan. Wajahnya pucat, tapi punggungnya tetap tegak. Ia mendengar suara berisik dari dalam, guru, wali kelas, dan suara perempuan yang tadi berkonflik dengannya.

Namanya disebut. Berulang kali.

Pintu terbuka. “Nayla Azzahra, masuk.”

Langkah Nayla terasa berat, tapi ia tetap melangkah.

Di dalam ruangan, suasana tegang. Guru piket berdiri dengan wajah serius. Wali kelas Nayla tampak cemas. Dan di kursi utama, kepala sekolah.

Omnya Azka.

Pria paruh baya itu menatap Nayla lama sebelum berbicara. “Kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?”

Nayla mengangguk. “Karena konflik di koridor, Pak.”

“Kamu melakukan kekerasan fisik,” potong guru piket. “Itu pelanggaran berat.”

Nayla menelan ludah. “Saya hanya membela diri.”

Siswi yang satunya langsung menyela. “Dia duluan yang kasar, Pak!”

“Dia yang dorong aku ke loker,” lanjut Nayla cepat, suaranya bergetar tapi jelas.

“Tidak ada bukti,” sahut guru piket.

Hening.

Kepala sekolah akhirnya angkat bicara. “Sekolah ini tidak mentolerir keributan. Apalagi yang sudah melibatkan fisik.”

Nayla menunduk.

“Kami sedang mempertimbangkan sanksi,” lanjutnya. “Termasuk… kemungkinan terburuk.”

Kata itu menggantung di udara.

Kemungkinan terburuk. Dikeluarkan.

Nayla merasakan dunia seperti menyempit. Tangannya dingin. Dadanya sesak.

“Pak,” ucap wali kelas Nayla pelan, “Nayla murid yang cukup baik selama ini. Nilainya stabil. Tidak pernah membuat masalah besar.”

Guru piket menghela napas. “Tapi kali ini sudah jadi pembicaraan banyak murid.”

Nama baik sekolah. Kalimat itu selalu jadi alasan.

Nayla mengangkat wajah. “Kalau saya salah, saya siap terima hukuman,” katanya lirih. “Tapi saya tidak memulai.”

Kepala sekolah menatapnya lebih lama. Tatapan yang sulit ditebak.

“Kamu boleh keluar dulu,” ujarnya akhirnya. “Kami akan rapat.”

Nayla berdiri. Kakinya terasa lemas saat melangkah keluar ruangan.

Di luar, Dani dan Sena menunggunya dengan wajah panik.

“Nayla!” Dani langsung berdiri. “Gimana?”

Nayla menggeleng pelan. “Belum tahu.”

Sena menggenggam tangannya. “Kita tunggu bareng.”

Nayla mengangguk, tapi pikirannya sudah ke mana-mana.

Kalau ia dikeluarkan, ibunya bagaimana? Semua pengorbanan itu untuk apa? Ia menarik napas panjang, menahan air mata yang mengancam jatuh.

***

Di sisi lain sekolah, Azka baru mendengar kabar itu dari Raka.

“Nayla dipanggil ke ruang kepala sekolah,” kata Raka cepat. “Katanya ribut sama anak IPS.”

Azka berhenti melangkah.

“Apa?” Devan menoleh tajam. “Serius?”

“Udah rame,” tambah Dion. “Katanya bisa berat.”

Azka berbalik arah tanpa bicara.

Langkahnya cepat menuju gedung administrasi. Dadanya berdebar tidak karuan. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli tatapan orang.

Di depan ruang kepala sekolah, ia melihat Nayla duduk dengan Dani dan Sena. Wajah Nayla pucat.

Azka berhenti beberapa langkah dari sana. Nayla mendongak. Tatapan mereka bertemu. Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Azka terasa mencelos.

Ia tidak masuk. Tidak mendekat. Hanya berdiri di kejauhan. Takut. Bingung. Marah, pada dirinya sendiri.

***

Rapat berlangsung hampir satu jam.

Saat pintu akhirnya terbuka, semua yang menunggu berdiri. Kepala sekolah keluar lebih dulu. Wajahnya tenang, tapi serius.

“Nayla Azzahra,” panggilnya.

Nayla berdiri, langkahnya pelan.

“Kami memutuskan,” ucap kepala sekolah, “kamu tidak dikeluarkan.”

Napas Nayla tersangkut di tenggorokan.

“Tapi,” lanjutnya, “kamu akan mendapat skorsing sementara. Dan satu catatan pelanggaran berat.”

Nayla mengangguk, air mata akhirnya jatuh. “Terima kasih, Pak.”

“Masalah ini belum sepenuhnya selesai,” tambah kepala sekolah, menatap Nayla dalam-dalam. “Jaga sikapmu. Satu kesalahan lagi… tidak akan ada toleransi.”

Nayla mengangguk lagi. “Iya, Pak.”

Ia keluar ruangan dengan kaki gemetar. Dani langsung memeluknya. Sena ikut menyusul.

“Syukurlah…” bisik Dani.

Nayla hanya bisa mengangguk, menangis tanpa suara.

Di ujung koridor, Azka masih berdiri. Ia melihat Nayla keluar dengan mata merah.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!