Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kumpul keluarga
Naya pulang ke rumah setelah seharian sangat sibuk mengurus pekerjaannya di kantor. Dengan rasa lelahnya itu, ingin sekali berbaring di kasur yang empuk di kamarnya.
Akan tetapi, itu hanya angan-angannya saja. Saat sampai di rumah, keluarga besar sedang berkumpul. Memang setiap bulan selalu di adakan kumpul keluarga bergilir ke setiap rumah dan malam ini giliran di rumah Naya.
"Kamu kenapa baru pulang? mama sudah kirim pesan padamu loh ..." sambut Suci.
"Hmmm ... Aku sibuk tidak sempat membuka ponsel," jawab Naya datar.
Paling malas menghadiri perkumpulan keluarga seperti ini. Isinya hanya ajang adu dan sekarang Naya tidak bisa menghindarinya.
"Wah yang di tunggu sudah tiba, mari bergabung dengan yang lainnya," ajak Sigit–kakek Naya.
Dengan usia yang sudah menginjak delapan puluh lima tahun itu, Sigit masih terlihat segar dan bersemangat. Terlihat sepuluh tahun lebih muda.
Dengan rasa hormat Naya menyalami kakeknya itu dan beralih pada paman-pamannya.
"Selamat malam, Kakek, Paman Bagas, Paman Ilyas. Maaf aku terlambat pulang karena lagi banyak pekerjaan," ucap Naya.
"Haduh, kamu tuh perempuan. Kalau sibuk terus ngurusin pekerjaan, kapan nikahnya?" celetuk Riri–tantenya–istri Ilyas.
Naya hanya mendelik kesal. Hal yang paling malas untuk di dengar adalah membahas pernikahan.
Kemudian Riri menarik tangan Yuna. "Karena Naya sudah pulang, pertemuan ini sekalian saja untuk mengumumkan pertunangan Yuna. Putriku sudah di pilihkan jodoh anak konglomerat di kota ini," jelasnya.
"Mohon doanya dari semuanya," ucap Yuna lembut.
Yuna yang masih berusia dua puluh tiga tahun itu memang terlihat lebih anggun dan bicaranya lembut. Sungguh berbanding terbalik dengan Naya yang berani dan terkadang bersikap kasar.
"Nah, ini adalah kabar yang sangat bagus!" sahut Sigit.
"Sepertinya kak Ilham juga harus segera mencarikan jodoh untuk Naya. Apalagi dia sudah tidak muda lagi, terlalu lama lagi takutnya tidak akan ada yang mau menikahinya," celetuk Bagas yang sedari tadi diam dan sekalinya bicara nyelekit menyakitkan hati.
Naya hanya menghela nafas berat. Ingin sekali ia segera pergi dari perkumpulan orang-orang menyebalkan itu.
Sementara Ilham dan Suci hanya saling melirik.
"Bukannya kamu punya pacar?" tanya Sigit pada Naya.
"Pacar kakak sepupu bukannya putra keluarga Jaya, ya? Kayaknya kemarin dia baru mengumumkan pacar barunya deh," cetus Yuna.
"Yang benar kamu?" Riri memastikan.
"Naya dengan putra keluarga Jaya sudah lama putus. Sudah jangan di bahas lagi!" ucap Ilham membela putrinya.
"Apakah tidak ada pembahasan lain selain membahas soal diriku? Disini banyak orang, kenapa hanya membahas diriku saja?" ujar Naya kesal.
"Kamu bicara tidak sopan, ya. Contoh tuh Yuna, masih muda, tapi punya attitude yang luar biasa!" puji Ilyas membanggakan putrinya.
Pada kenyataannya Yuna tidak lebih baik dari Naya. Semasa kuliah saja ia terkenal sebagai pembully yang kejam karena menggunakan kekuasaan sang kakek.
"Sudah ... Kalian jangan berdebat lagi. Kita semua keluarga dan harus selalu akur," timpal Sigit. "Apa yang Bagas katakan ada benarnya, kamu harus segera mencarikan Naya jodoh," ucapnya pada Ilham.
Ilham menatap Naya, yang kemudian Naya memalingkan pandangannya. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya soal Naya yang tidak ingin menikah.
"Untuk hal itu, kami sangat mengutamakan kebahagiaan Naya dan menikah itu biar menjadi urusannya. kami sebagai orangtua hanya bisa mendoakan," tutur Ilham.
"Kak, kamu harusnya tegas pada putrimu sendiri!" cetus Ilyas.
"Benar itu, kak," timpal Bagas.
Kemudian seorang anak kecil berlarian di ruang tamu dan tidak sengaja menyenggol vas bunga sampai pecah berkeping-keping.
"Raka! Nakal sekali kamu. Duduk diam!" sentak Bagas.
Raka adalah anak Bagas yang baru berusia delapan tahun.
"Kamu juga, Gita. Jaga anak yang bener dong," sentaknya lagi kali ini pada perempuan lugu yang sangat cantik yaitu mbak Gita–istri Bagas.
Naya hanya tersenyum menyeringai. Orang yang paling vokal menyudutkan orang lain, terlihat begitu arogan terhadap keluarganya sendiri.
"Sudah, Gita. Biar pelayan yang membereskan semuanya. Sekarang mending kita ke meja makan, makanan sudah siap," ajak Suci. Mengalihkan segala perhatian agar tidak semakin kacau.
Setiap berkumpul pasti ada saja masalah.
"Sungguh malang nasib kakek punya tiga anak laki-laki yang begitu. Aku saja melihatnya sangat muak!" gumam Naya.
"Sudah, ayo makan." Suci menarik Naya bergabung dengan yang lainnya.
"Ilham ... sekarang kamu yang bertanggung jawab penuh di perusahaan pusat, tapi sesuai kesepakatan kita semua, siapa yang menikahkan putrinya lebih dulu dan memiliki momongan, maka dia yang akan melanjutkan sampai ke keturunan selanjutnya," jelas Sigit.
Ilham tidak mengatakan apapun, ia akan memikirkan cara lain agar Naya mau menikah supaya apa yang sudah ia bangun tidak jatuh ke tangan adiknya yang kurang tanggung jawab itu. Bagaimanapun perusahaan itu di besarkan oleh Ilham.
Sementara Ilyas dan Riri sangat senang mendengar itu.
"Kakek, anak kakek bukan hanya satu orang dan perusahaan kakek juga banyak. Apa tidak bisa untuk di bagikan secara adil saja? Ya–maksudnya dengan keputusan kakek itu malah bikin anak-anak kakek tidak akur!" timpal Naya. Ia sudah muak dengan keluarga penuh drama itu.
"Semua orang akan mendapatkan jatahnya masing-masing, ini hanya sebagai penentuan pemimpin perusahaan pusat dan paling penting, ini sudah turun temurun seperti ini," jelas Sigit.
"Kalau kamu tidak ingin ayahmu kehilangan posisi, ya menikah dan punya anaklah lebih dulu," tambah Sigit.
Percuma Naya buka suara, toh pada akhirnya tidak akan di dengarkan.
Selesai makan malam bersama, semua orang pulang. Naya bisa bernafas dengan lega, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Akhirnya, bisa rebahan juga!" gumamnya.
"Naya, kamu setuju papa jodohkan, ya?" bujuk Ilham.
"Kenapa? Papa gak mau kehilangan posisi papa? Udah sih lebih baik berikan saja posisi papa itu. Sekarang aku sudah punya perusahaan sendiri, bahkan papa pegang dua puluh persen saham atas perusahaanku. Papa mau jadi direktur? Oke, aku kasih untuk papa," jelas Naya.
"Bukan begitu Naya. Perusahaan kakek sudah sangat maju dengan pesat dan sekarang berada dalam posisi tiga perusahaan terbesar di kota ini. Kalau posisi pimpinan jatuh ke tangan pama Ilyas, apa yang akan terjadi?" tutur Ilham.
"Yang ada perusahaan bangkrut!" cetus Naya asal.
"Itu yang papa takutkan. Papa memikirkan semuanya!" ujar Ilham.
"Sudah, jangan tekan Naya berlebihan. Kalau memang jabatan itu di ambil dari tanganmu, yasudah, mau gimana lagi?" timpal Suci.
"Mama memang paling mengerti aku!" sahut Naya.
"Sudah, kamu juga sana mandi. Terus istirahat ..." titah Suci pada Naya.
"Oke, Ma. Selamat malam, Ma, Pa ..." Naya berlalu pergi ke kamarnya dengan cepat.
"Akhirnya bisa istirahat juga!" Selesai mandi ia berbaring di tempat tidur. Kemudian meraih ponselnya dan mengecek-ngecek pesan yang masuk.
Naya mendapatkan pesan dari Rossi.
"Bu, Mahen si fotografer itu maksa minta nomor ibu. Aku sudah katakan kalau ada hal penting katakan saja lewat aku, tapi dia maksa," isi pesan dari Rossi.
"Apa ada hal penting? Jangan sampai dia batalkan untuk besok!" kemudian ia membalas pesan Rossi dan mengizinkan untuk memberikan nomor ponselnya pada Mahen.
Sampai akhirnya ada beberapa pesan masuk dari nomor baru dan Naya bisa menebak kalau itu adalah nomor Mahen.
"Hay ... Maaf mengganggumu malam-malam. Ini aku Mahen, aku meminta nomormu untuk mengirimkan foto-foto waktu itu. Bukannya kamu suka foto itu?" pesan singkat yang Mahen kirim.
Lalu di susul dengan beberapa foto masuk.
"Hmmm ... emang bagus-bagus sih hasil jepretan dia," gumam Naya. Lalu kemudian memukul mulutnya sendiri seraya memendamkan ponselnya pada bawah bantal.
"Ngapain juga sih puji dia? Iiihhh gak banget!"