NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Timbulnya Orang Ketiga

Hari-hari yang penuh dengan manisnya bunga-bunga cinta di dalam rumah, ternyata tidak menjamin bahwa kehidupan di luar sana akan berjalan mulus tanpa gangguan apa pun. Di dalam rumah, kebahagiaan terasa lengkap dan damai, namun di dunia luar, tantangan dan ujian terkadang datang tanpa diundang, menguji seberapa kokoh ikatan yang sedang dibangun itu.

Di kantor, proyek pembuatan film besar yang sedang digarap berjalan sangat lancar, segala rencana berjalan sesuai jadwal, dan hasilnya pun mulai terlihat menjanjikan. Namun, di tengah kelancaran itu, kini muncul satu variabel baru yang membuat suasana menjadi sedikit panas, penuh ketegangan, dan berpotensi merusak suasana hati Farzhan yang belakangan ini selalu terasa tenang dan bahagia.

Variabel baru itu bernama Nabila.

Nabila adalah perwakilan resmi dari salah satu investor besar yang baru saja sepakat bekerja sama dengan perusahaan mereka. Wanita ini sangat cantik, berpakaian modis dan selalu mengikuti tren, serta memiliki rasa percaya diri yang jauh di atas rata-rata. Ia memiliki gaya bicara yang lincah, pandai mengambil hati orang lain, dan memiliki tatapan mata yang seolah selalu mengirimkan kode-kode tertentu, terutama saat menatap laki-laki.

Pertemuan pertama mereka terjadi di ruang rapat besar yang mewah dan luas. Saat Farzhan masuk dengan langkah tegap dan aura wibawanya yang selalu membuat suasana menjadi hening, semua orang yang ada di sana segera berdiri memberi hormat. Nabila yang duduk di ujung meja besar itu langsung menatap Farzhan lekat-lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki, senyumnya mengembang manis, penuh kekaguman dan ketertarikan.

"Jadi, inilah Bapak Farzhan Ibrahim yang selama ini sering saya dengar kabar dan kisah kehebatannya," kata Nabila dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, merdu, dan sedikit bergetar, seolah sedang berbicara dengan orang yang sangat istimewa. Ia berdiri perlahan, lalu mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat feminin dan penuh pesona.

"Perkenalkan, saya Nabila. Sangat senang sekali akhirnya bisa bertemu dan bekerja sama langsung dengan Bapak."

Farzhan menyambut uluran tangan itu sekilas saja, sentuhan yang sangat singkat dan tidak berarti apa-apa, lalu segera melepaskannya kembali. Wajahnya tetap datar, dingin, serius, dan sama sekali tidak terkesan.

"Selamat siang, Ibu Nabila. Mari kita langsung mulai rapatnya. Waktu sangat terbatas dan banyak hal yang harus dibahas," jawabnya singkat tanpa basa-basi atau sapaan manis, lalu langsung duduk di kursi utamanya dan membuka berkas tebal di hadapannya.

Namun, sikap dingin, cuek, dan tegas Farzhan itu sepertinya tidak membuat Nabila mundur atau kapok. Justru sebaliknya, sikap itu malah membuatnya semakin tertantang. Baginya, laki-laki yang sulit didekati, misterius, dan memiliki karisma kuat seperti Farzhan justru memiliki daya tarik tersendiri yang sangat besar dan mahal. Semakin ditolak, semakin ia ingin mendekat.

Sejak hari pertemuan itu, Nabila mulai sering muncul dan berlalu-lalang di lantai eksekutif, tempat di mana kantor Farzhan berada. Alasannya selalu beragam dan berubah-ubah: mau konfirmasi ulang soal rincian anggaran, mau berdiskusi mendalam soal alur skenario film, atau sekadar lewat dengan alasan "kebetulan ada urusan di lantai atas".

Dan setiap kali berpapasan atau masuk ke ruangan Farzhan, sikap wanita itu berubah drastis menjadi sangat manja, lembut, dan penuh perhatian berlebihan yang tidak wajar.

"Pak Farzhan... ini kopinya, saya buatkan sendiri lho, khusus untuk Bapak," kata Nabila sambil meletakkan cangkir kopi hangat di meja kerja Farzhan dengan gerakan tangan yang pelan, anggun, dan terlihat menggoda. "Rasanya pahit manisnya pas sekali, saya sudah atur takarannya khusus buat Bapak yang pasti lagi banyak pikiran berat."

Farzhan hanya melirik sekilas cangkir itu, lalu kembali menatap layar komputernya.

"Terima kasih. Tapi saya lebih suka kopi buatan asisten saya, rasanya sudah pas dan biasa saya minum. Tolong letakkan saja di sana," jawabnya datar dan dingin, tanpa menoleh lagi.

Jawaban yang dingin, kaku, dan menjauhkan diri itu seharusnya sudah menjadi peringatan keras agar orang lain mundur. Tapi tidak bagi Nabila. Wanita itu justru tersenyum semakin lebar dan berseri-seri.

"Ih... galak sekali sih Bapak ini... tapi justru sifat tegas dan dingin itulah yang bikin saya semakin suka," bisiknya pelan, cukup rendah namun jelas terdengar hanya oleh Farzhan.

Farzhan menghela napas panjang pelan, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang mulai menyeruak. Ia mulai merasa sangat risih dan terganggu. Wanita ini terlalu berlebihan, terlalu akrab, dan terlalu berani melampaui batas profesionalitas. Sikapnya yang sok akrab, manja, dan berusaha mengoda itu justru membuat Farzhan semakin muak dan menjauh.

Di dalam pikirannya, yang terbayang saat itu justru wajah Vira. Wajah yang tulus, yang merawatnya dengan ikhlas tanpa mengharap pujian, yang memasakkan makanan enak dengan penuh kasih sayang, dan yang selalu ada di sisinya dengan cara yang sederhana namun sangat berarti.

Jauh berbeda sekali dengan wanita ini. Palsu. Semuanya terasa dibuat-buat, batin Farzhan mencibir dalam hati.

Keesokan harinya, situasi dan tingkah Nabila makin menjadi-jadi dan semakin tidak terkendali.

Nabila datang ke kantor dengan penampilan yang jauh lebih mencolok, riasan wajah yang tegas, dan pakaian yang dirancang untuk menarik perhatian seisi kantor. Ia berjalan mondar-mandir di depan ruangan kerja Farzhan, berharap diperhatikan atau dipanggil masuk.

Bahkan saat Farzhan sedang memimpin apel pagi rutin bersama seluruh staf, manajer, dan karyawan di aula utama, Nabila ikut nimbrung berdiri di barisan paling depan, tepat di bawah pandangan Farzhan.

Saat Farzhan sedang memberikan arahan, evaluasi kerja, dan target-target baru dengan wajah serius, tegas, dan terlihat galak seperti biasanya, tiba-tiba Nabila mengangkat tangannya tinggi-tinggi layaknya anak sekolah yang ingin bertanya.

"Permisi, Pak Farzhan..."

Semua mata karyawan seketika tertuju padanya dengan bingung. Farzhan menoleh perlahan, menatap tajam ke arah wanita itu.

"Ada apa, Ibu Nabila? Ini waktu apel pagi dan pengarahan kerja, bukan sesi tanya jawab pribadi," ucapnya tegas dan dingin.

"Bukan apa-apa kok, Pak..." Nabila tersenyum malu-malu tapi penuh percaya diri, lalu ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya, dan dengan suara lantang, jelas, serta bergetar yang bisa didengar oleh seluruh orang di ruangan itu, ia berkata...

"AKU SUKA SAMA PAK FARZHAN! DARI PERTAMA KALI BERTEMU, SAYA SUDAH SANGAT TERTARIK! BAPAK ITU GANTENG, KEREN, TEGAS, DAN SIKAP DINGINNYA ITU ASIK SEKALI! MAU TIDAK KALAU KITA MENJALIN HUBUNGAN YANG LEBIH SERIUS? SAYA SANGAT, SANGAT SUKA SAMA BAPAK!"

..............................

DEGGGG!!!

Seluruh ruangan seketika hening total. Sunyi senyap. Mati kutu.

Suasana yang tadinya tegang karena tekanan dan ketegasan sang bos, kini berubah menjadi tegang karena kaget setengah mati!

Semua staf, manajer, sampai petugas keamanan dan petugas kebersihan yang kebetulan lewat di depan pintu semuanya melongo tak percaya. Mata mereka membelalak lebar, mulut ternganga, dan saling pandang satu sama lain seolah bertanya: Apakah saya tidak salah dengar?

Gila?! Ada wanita yang berani menembak Bos Besar secara terang-terangan di depan umum?!

Wanita ini pahlawan keberanian, atau orang yang sengaja ingin menghancurkan diri sendiri?!

Zikri yang berdiri di samping kanan Farzhan langsung memegang dahinya, menundukkan wajah berusaha menahan napas.

Gila... masalah besar nih. Aku tebak, pasti akan ada ledakan dahsyat sebentar lagi.

Sementara itu, Farzhan sendiri diam membisu. Wajahnya tidak berubah banyak, masih datar, namun aura dingin di sekitarnya berubah menjadi sangat tajam, menusuk, dan menekan siapa saja yang berada di dekatnya. Tatapannya tajam menusuk tepat ke arah Nabila yang masih berdiri dengan pose bangga, mengira ia baru saja melakukan hal paling romantis dan berani.

Suasana menjadi sangat mencekam. Semua orang menahan napas, menunggu ledakan amarah Farzhan Ibrahim yang terkenal mengerikan itu.

Farzhan menatap Nabila lekat-lekat, meneliti wanita itu dari atas ke bawah. Ia tidak tersenyum. Tidak juga tertawa meremehkan. Wajahnya tetap datar, sangat serius, dingin, namun berwibawa.

Dengan langkah tenang, perlahan namun penuh kekuasaan, Farzhan maju selangkah ke depan. Suaranya rendah, tegas, dan jelas terdengar sampai ke sudut paling belakang ruangan.

"Terima kasih atas kejujuran dan perasaan yang Anda ungkapkan," katanya memulai dengan nada tenang namun berat.

Nabila tersenyum bangga, matanya berbinar, mengira dirinya akan diterima atau setidaknya ditolak secara halus dan sopan.

Namun, kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Farzhan membuat seluruh dunia di ruangan itu seakan berhenti berputar.

"Tapi saya harus menolaknya dengan tegas seratus persen. Karena..." Farzhan berhenti sebentar, menatap satu per satu staf yang ada di sana, memastikan semua mendengarnya, lalu kembali menatap Nabila.

"...saya SUDAH MENIKAH."

..............................

GEDOR!!!

Seperti ada petir besar yang menyambar tepat di tengah ruangan.

Seluruh staf terguncang dan syok berat!

Mata mereka hampir keluar dari kelopak!

Ada yang sampai terbatuk tersedak kaget.

Ada yang mulai berbisik-bisik heboh satu sama lain.

Hah?! Bos sudah menikah?!

Benarkah? Selama ini kita pikir Bos kita jomblo garis keras dan tidak ada perempuan yang berani mendekat!

Gila! Siapakah Istri yang begitu tangguh itu? Kok kita tidak pernah dapat kabar ya?

Pantas Bos kita tidak pernah menyentuh atau menggoda perempuan di kantor kita!

Pantas saja sikapnya selalu keras dan tegas! Rupanya untuk menjaga hati istrinya!

Nabila sendiri wajahnya berubah menjadi pucat pasi seketika. Senyum manisnya langsung kaku dan mati di tempat. Tubuhnya lemas hampir roboh.

"M-maksud Bapak...?" tanyanya terbata-bata, suaranya hilang.

"Saya sudah punya istri," ulang Farzhan tegas, lantang, tanpa rasa malu sedikit pun, justru ada nada bangga yang mendalam terselip di sana. "Dan saya sangat mencintai istri saya, lebih dari apa pun. Jadi, tolong jangan pernah lagi mengungkapkan perasaan seperti ini atau bersikap berlebihan di tempat kerja. Hal itu tidak pantas, dan sama sekali tidak profesional. Saya sangat tidak suka."

Farzhan tidak peduli lagi pada Nabila yang kini terlihat sangat malu, terpukul, dan kecewa berat. Ia menoleh ke arah seluruh karyawannya yang masih terpaku diam.

"Dan kalian semua, dengar baik-baik! Mulai sekarang, tidak perlu ada lagi rumor, tebakan, atau pertanyaan soal status pribadi saya. Saya sudah beristri. Jadi, tolong hormati hal itu dan segera kembali fokus sepenuhnya pada pekerjaan kalian masing-masing!" tegasnya keras namun terkontrol.

"SIAP, PAK!!!" serentak seluruh staf menjawab dengan suara gemetar namun penuh hormat dan kekaguman baru.

Farzhan melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan gagah, tegap, dan kepala yang terangkat tinggi. Nabila hanya bisa berdiri mematung di sana, dipermalukan habis-habisan oleh penolakan yang sangat elegan namun mematikan itu.

Sesampainya di dalam ruangan kerjanya yang tertutup dan sepi, Farzhan bersandar lemas di kursi besarnya, menghela napas panjang melepaskan segala ketegangan tadi. Ia segera mengeluarkan ponselnya, dan menatap lama foto Vira yang terpampang jelas di layar kuncinya — foto istrinya yang sedang tersenyum manis di teras rumah.

"Maaf ya, Vi... tadi aku harus bilang begitu secara terang-terangan biar mereka semua diam dan tidak ada lagi yang berani mengganggu atau mengoda aku," gumamnya pelan, senyum tipis dan hangat mulai terbentuk di wajahnya yang tadinya dingin.

"Dan rasanya... sungguh lega sekali rasanya bisa mengakuimu di depan umum, di depan semua orang. Kamu itu istriku, satu-satunya milikku dan aku bangga."

Meskipun telah muncul orang ketiga yang berani dan berusaha mengganggu, ternyata benteng cinta Farzhan sudah begitu kokoh, tinggi, dan tidak bisa ditembus. Tidak ada siapa pun yang bisa menggoyahkannya, karena di dalam hatinya sekarang, hanya ada satu nama yang terukir dalam dan abadi: Vira.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!