NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Otot Vs Otak

Ray menyeringai lebar, merasa percaya diri dengan pertandingan otot ini. Dia segera menyingkirkan papan catur di meja.

Orang-orang saling pandang, merasa kali ini Sang Ketos tidak akan bisa lepas dari kekalahan. Kecuali, dia menghindar dengan lihai dan membalik keadaan.

Namun, Vyan hanya tersenyum tipis, melepas jas OSIS nya dengan tenang, lalu melipat kemeja putihnya dengan gerakan elegan.

"Kebetulan, gue emang lagi ingin nguji kekuatan otot lu."

Dia meletakan sikutnya di meja. Ray memperhatikan lengan Vyan yang ramping. Dia tertawa.

"Coba saja! Mana ada tenaga dari lengan seperti itu!"

Ray memperlihatkan lengannya yang berotot. Walaupun tidak terlalu kekar, itu sudah luar biasa bagi teman-temannya.

"Waah!" Seruan kagum terdengar riuh dari teman-teman mereka.

Senyum Ray makin lebar. Dia bahkan memamerkan otot bisepnya.

"Hebat, Kak Ray. Rajin ngegym juga ya?" tanya tegar.

"Bien. Latihan beban udah kayak makan buat gue."

Vyan berdehem. "Masih lama pamernya?"

Ray terkekeh. "Lu udah ga sabar ngerasain tenaga gue ya."

"Bisa dibilang begitu."

Ray meletakan sikutnya di meja lalu menautkan lengannya di lengan Vyan. Dari situ orang-orang bisa melihat perbedaan lengan mereka. Lengan Ray yang kekar lawan lengan Vyan yang lebih ramping.

Agil menahan tangan mereka dan memberi komando.

"Satu... dua... tiga... mulai!"

Gebrakan pertama dimulai. Ray langsung menekan dengan seluruh berat badannya, bermaksud menyelesaikan permainan ini dalam hitungan detik. Ia ingin membuktikan bahwa latihan bebannya bukan sekadar gaya hidup, tapi keunggulan mutlak.

​Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Lengan Vyan yang tampak ramping dan pucat itu tidak bergerak sedikit pun.

​Vyan hanya menatap Ray dengan tenang, bahunya tidak bergeming, meski urat-urat di lehernya mulai menegang. Ia tidak melawan dengan dorongan kasar, melainkan menahan posisi dengan sudut siku yang terkunci rapat.

​"Baru segitu, Ray?" bisik Vyan pelan. Napasnya masih teratur, berbanding terbalik dengan Ray yang sudah mulai memerah wajahnya.

​"Gue baru pemanasan, Yan!" balas Ray sambil menggeram. Ia menambah tekanan, otot bicep-nya menyembul keras hingga urat-urat di lengannya tampak seperti akar pohon yang menonjol. Meja kayu di bawah mereka mulai berderit protes.

Awalnya ruangan sepi ketika pertandingan dimulai, tapi kemudian mereka bersorak karena terbawa suasana. Walau pun tidak jelas siapa yang mereka soraki.

Vyan mulai melakukan manuver. Ia tidak hanya menahan, tapi mulai menarik pergelangan tangan Ray sedikit demi sedikit ke arah luar, mencoba merusak keseimbangan Ray. Ray terkejut. Ia tidak menyangka Vyan memiliki teknik secerdik itu.

​"Lu emang licik, Yan. Bahkan di meja panco pun lu main otak," geram Ray. Keringat mulai menetes dari pelipisnya.

​Vyan tersenyum tipis, sebuah senyum predator yang mulai muncul kembali. "Kekuatan tanpa perhitungan itu cuma tenaga yang terbuang, Ray."

​Dorongan Vyan semakin kuat. Tangan Ray mulai miring beberapa derajat menuju meja. Penonton histeris. Mereka hampir tidak percaya melihat Vyan mampu menyudutkan Rayandra.

​Namun, di detik-detik kritis itu, Ray menarik napas panjang. Ia tidak mau kalah begitu saja. Apalagi ini masalah otot. Dia mungkin ga akan sanggup sekolah lagi kalau kalah di sini. Dia kerahkan tenaganya lebih keras lagi. Tiba-tiba dia merasa tekanan Vyan hilang, seolah rivalnya itu menyerah.

Brak!!

Tangan Vyan menghantam meja dengan keras. Ray menang.

​"Yeah! Gue menang!" seru Ray sambil mengacungkan tangan.

​"Oke, elo lulus," ucap Vyan sambil mengurut pergelangan tangannya.

Ray mengernyit.

Vyan tersenyum. "Lo memenuhi standar jadi kuli," ucapnya tenang. "Buat lo kerja paruh waktu setelah kalah di sini. Tidak perlu keahlian atau otak, cukup otot. Persis sepertimu."

Beberapa detik ruangan terasa sepi mencekam. Mereka tahu Vyan tidak akan pernah membiarkan harga dirinya jatuh, tapi mereka tidak menyangka Vyan membuat kekalahannya justru menjadi bahan olok-olok bagi Ray.

Ray gemetar. Tangannya terangkat, menunjuk, tapi dia tahu protes tidak akan memulihkan harga dirinya.

"Siapa yang bakal kalah?! Kita satu sama," seru Ray. ​"Satu pertandingan lagi."

"Benar. Satu kekalahan lagi dan jadi kuli."

Wajah Ray memerah, rahangnya terkatup keras.

"Kali ini biar adil, harus pihak lain yang menentukan jenis pertandingannya," ucap Vyan.

Semua orang langsung tersentak mundur, kecuali Agil yang penuh semangat.

​"Gue saja yang nentuin!" usul Agil.

​"Mais non!" Ray protes keras "Harus orang yang netral. Dean! Lu yang tentuin!" tunjuk Ray.

​Dean terlonjak. Ia menatap Vyan, lalu menatap Ray. Ia tahu betul posisinya terjepit. Jika ia memilih olahraga fisik, Ray menang. Jika ia memilih strategi, Vyan menang. Masalahnya, kalaupun dia terlalu memihak Vyan, Ray juga bukan orang yang bisa diremehkan. Dia pemimpin para atlet di sekolah.

Dean menggeleng. Dia bukan orang yang suka mencari aman buat diri sendiri. Dia memiliki prinsip keadilannya sendiri.

​"Bagaimana kalau... suit saja?" tanya Dean ragu. Itu bahkan bukan olah raga, tapi dia tidak punya pilihan. "Suit tiga kali menang," lanjutnya.

​Keputusan yang baik buat menyelamatkan diri sendiri, Dean, pikir Agil.

​"Oke. Fair," ucap Vyan.

"Bien. Gue setuju," sahut Ray.

​Mereka berdiri berhadapan, tangan sudah bersiap. Namun, suasana menjadi sunyi. Mereka berdua terdiam, saling mengunci pandangan, mencoba membaca gerakan lawan melalui tatapan mata. Seolah ini adalah tantangan hidup dan mati.

Tidak ada satupun dari mereka yang rela kalah di sini. Vyan membuang jauh-jauh bayangan dirinya yang memakai kemben Srikandi. Dia lebih suka mencari cara membubarkan eskul teater kalau dia benar-benar kalah kali ini. Bagi Vyan yang punya keahlian mencari dosa orang, dan menciptakan skandal, membuat satu eskul terlihat layak dibubarkan tidaklah susah.

Sementara itu, keringat Ray menetes di pelipisnya. Hidupnya dipertaruhkan. Reputasinya di atas tanduk. Kata 'kuli' terus bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Masalahnya bukan hanya pada pekerjaannya, tapi pada skala kekuasaan Vyan untuk menentukan nasibnya.

​Vyan tidak memberikan rincian. Dia tidak menyebutkan lokasi, jam kerja, atau apa yang harus dipikul. Dan ketidaktahuan itu mulai menggerogoti kewarasan Ray. Di dalam pikirannya, skenario terburuk mulai bermunculan: Bagaimana kalau Vyan mengirimnya ke tempat di mana semua orang bisa melihatnya seolah jatuh miskin dalam semalam? Bagaimana kalau tempat itu begitu kotor hingga ia harus berendam selama berjam-jam untuk menghilangkan baunya?

Vyan jelas ingin membunuh karakternya, meredupkan sinarnya sebagai bintang. Dia bisa melakukannya tanpa ragu. Karena Ketos sadis itu punya alasan jelas untuk membencinya.

​"Boleh aku pulang duluan...?" bisikan Dila memecah keheningan sekaligus ketegangan. Membuat Vyan dan Ray menoleh serempak pada gadis berkacamata itu. Dila menciut ngeri. "Se-sebentar lagi deh..."

​"Dean, lu beri komando biar jelas," perintah Agil, mengetahui ketegangan ini akan menjadi terlalu lama.

Dean mengangguk. ​"Satu... dua... tiga... mulai!"

​Vyan mengeluarkan telunjuk, Ray mengeluarkan jempol. Vyan kalah.

Ray menarik napas tapi tangannya agak gemetar.

"Ayo, Ray... " ucap Vyan. "Jangan banyak jeda."

"Tiga... Dua... satu... "

Mereka suit lagi. Kali ini seri... lalu seri... seri lagi... seri terus.

Dan akhirnya Ray kembali menang satu poin. Dia sangat gembira, karena hanya butuh satu kemenangan lagi, sementara Vyan masih butuh tiga.

​Randy memejamkan mata, komat-kamit berdoa agar keajaiban terjadi. Vyan tampak sangat tenang, tapi matanya yang tajam fokus memindai gerakan tangan Ray dan wajahnya.

​"Mulai!"

​Kali ini Vyan menang. Ray kaget. Dua suit berikutnya... Vyan menang berturut-turut dengan sangat cepat. Ray terperangah. Ia benar-benar kalah.

"ALHAMDULILLAH, YA ALLAH!" Randy berteriak paling kencang. Bahkan dia menjatuhkan diri dan sujud syukur di lantai.

Yang lain juga bersorak atas kemenangan Vyan.

Sementara ​Vyan tersenyum tipis. Ia mendekati Dean dan berbisik pelan, "Terima kasih, Dean, sudah memberi kesempatan tiga kali menang."

​Dean terpaku. Buku kudunya meremang. D​ia baru menyadari sesuatu. Vyan tidak sedang beruntung. Dua kali kalah dan rentetan hasil seri tadi bukanlah kegagalan. Itu adalah investasi. Vyan sengaja membiarkan Ray merasa di atas angin, memancing Ray mengeluarkan semua variasi gerakannya, sementara Vyan diam-diam mencatat setiap getaran otot dan pola pikir Ray.

​Begitu data itu lengkap, Vyan hanya butuh hitungan detik untuk mengeksekusi Ray tanpa ampun. Vyan tidak sedang bermain suit; dia sedang melakukan bedah saraf pada mental Ray, dan Ray bahkan tidak sadar dia sudah "mati" sejak awal.

Sementara Ray berdiri lunglai. Agil hanya menepuk bahunya prihatin.

Saat itu Fifi Sang Bendahara bergeser mendekati Vyan dengan takut-takut. Buku catatan keuangan digenggamnya erat-erat.

​"Maaf Vyan, boleh nggak masalah Ray jadi donatur itu tidak perlu dihubungkan dengan kekalahan ini?" tanyanya dengan wajah khawatir.

​Vyan menatap Fifi dengan tatapan tajam yang membuat Fifi salah tingkah. Dia menutup sebagian wajahnya dengan buku tapi tidak dengan matanya.

Oh God, tatapannya menakutkan tapi dia cakep banget, batin Fifi tidak rela membuang kesempatan menikmati pemandangan wajah ketosnya yang justru semakin memesona ketika mode predatornya aktif. Garis rahang Vyan yang tegas, sorot matanya yang tajam di balik bulu mata lentik, dan ketenangan yang mematikan itu justru menciptakan daya tarik magnetis yang aneh.

"Maksudku jadi donatur tetep jalan, taruhan tetep jalan."

Wajah Vyan perlahan melunak. Fifi mengeratkan tangannya pada buku keuangannya. Untuk sepersekian detik, ia melihat perisai dingin di wajah Vyan retak.

​Saat Vyan sedikit memiringkan kepalanya dan mengusap pangkal hidungnya karena lelah, matanya yang biasanya setajam elang itu mendadak meredup, menyisakan tatapan sayu yang lembut—seperti genangan air yang tenang di pagi hari. Garis rahangnya yang kaku merileks, dan bibirnya yang biasa melontarkan sarkasme pedas itu kini sedikit terbuka, memberikan kesan polos yang sangat kontras dengan reputasinya.

​Dalam posisi ini, Vyan tidak terlihat seperti monster yang ditakuti sekolah. Dia terlihat seperti laki-laki yang hanya ingin dipeluk, yang rambutnya ingin diusap-usap sampai berantakan. Wajahnya yang pucat dan bersih itu mendadak terlihat begitu... squishy. Ada aura hangat yang menguar, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ingin melindunginya, atau setidaknya, ingin menangkup kedua pipinya dan mencubitnya sampai merah.

​Ya Tuhan, dia kissable banget kalau lagi begini, batin Fifi menjerit frustrasi.

"Ya, terserah Ray saja," jawab Vyan akhirnya.

​"Tenang saja. Nyokap gue suka membantu," tegas Ray, mencoba menjaga martabatnya meski ia tahu ia baru saja masuk ke dalam perangkap Vyan.

Vyan hanya tersenyum kecut, tahu sekali kenapa Ray hanya menyebut ibunya tanpa menyebut ayahnya untuk memberikan donatur. Jelas ucapan itu ditujukan padanya.

...****************...

Vyan Hadyanata

Mode Predator

Mode imut

Mode senyum manipulatif

1
Cimol krispy
kamu mah selalu nggak tau Yas 🤭
Cimol krispy
Kesannya kayak Yasmin lagi ngejek. padahal dia beneran ngira mereka sakit🤣🤣🤣
Cimol krispy
dan kalian baru sadar dia sepolos itu
Cimol krispy
para bibir biru ikan lohan🤣
Cimol krispy
ya kalo lomba pakaian daerah mah nggak usah di sebutin lagi Reka. kan memang wajib dan diadakan penilaian langsung
Cimol krispy
mereka nggak tau aja ada satu mata Dajjal yang lagi ngawasin para penguasa kelas itu🤭
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!