NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 6 Roh Bulan Yang Kesepian

Pagi perlahan menyelimuti pegunungan dengan cahaya keemasan yang hangat. Kabut tipis bergerak pelan di antara pepohonan pinus, sementara angin dingin berhembus lembut membawa aroma tanah basah setelah hujan malam. Dari puncak bukit yang tinggi, Arum berdiri diam memandang dunia di bawahnya.

Matanya memperhatikan kota yang dipenuhi gedung tinggi, kendaraan yang bergerak tanpa henti, lampu-lampu jalan yang perlahan padam, dan manusia-manusia yang mulai menjalani aktivitas pagi mereka.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia melihat dunia seperti ini.

Ratusan tahun.

Desa-desa yang dulu sunyi kini berubah ramai. Jalan tanah berubah menjadi jalan besar. Bahkan pakaian manusia pun terasa asing baginya.

Arum memandang semuanya dengan tatapan terpukau sekaligus bingung.

“Dunia benar-benar berubah...” gumamnya pelan.

Angin pagi meniup rambut panjangnya lembut. Untuk sesaat, ia merasakan kebebasan yang selama ini hanya bisa dibayangkannya di balik lukisan dan dinding kuil.

Namun perlahan, pikirannya justru teringat sesuatu yang tidak ia mengerti.

Pelukan Ravin dan wanita itu.

Tatapan Ravin yang bergetar saat dipeluk perempuan bernama Dewi tadi subuh terus muncul di kepalanya. Entah kenapa dadanya terasa aneh setiap mengingatnya.

Arum menurunkan pandangan pelan.

“Itukah...” suaranya lirih. “Perasaan manusia?”

Tiba-tiba—

Angin di sekitar puncak berubah dingin.

Langit cerah mendadak meredup beberapa detik. Cahaya keemasan matahari tertutup bayangan hitam yang muncul di belakang Arum.

Arum langsung menyadarinya.

Belum sempat ia bergerak, rantai cahaya muncul melingkari tubuhnya.

“Arum.”

Suara berat menggema memenuhi udara.

Tubuh Arum langsung ditarik paksa oleh kekuatan besar yang membuat tanah di sekitarnya bergetar. Dalam sekejap cahaya putih menyelimuti pandangannya.

Saat Arum membuka mata kembali, dirinya sudah berada di tempat yang dipenuhi kabut putih dan pilar-pilar batu raksasa menjulang tinggi. Suasana sunyi dan dingin memenuhi tempat itu.

Istana para dewa.

Arum langsung berlutut di lantai batu dengan kedua tangan terikat rantai cahaya. Rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya yang tertunduk.

Di hadapannya, sosok dewa duduk di singgasana tinggi dengan tatapan penuh kemarahan.

“Kau berani melarikan diri sebelum hukumanmu selesai.”

Suara itu menggema kuat sampai udara terasa berat.

Arum menggenggam tangannya erat namun tetap diam.

“Masa hukumanmu tinggal seratus sepuluh hari,” lanjut sang dewa dingin. “Namun kau memilih keluar dari segel.”

Arum perlahan mengangkat wajahnya. Matanya dipenuhi amarah yang selama ini tertahan.

“Aku tidak pernah bersalah.”

Ruangan langsung menjadi sunyi.

Para utusan dewa di sekitar aula saling menatap tegang.

Namun sang dewa hanya memandang Arum tanpa belas kasihan.

“Kesalahanmu telah diputuskan sejak dahulu.”

“Itu fitnah!” suara Arum akhirnya meninggi. “Sejak awal tidak ada yang mau mendengarkan penjelasanku!”

Bayangan masa lalu memenuhi pikirannya. Tuduhan, hukuman, dan pengurungan yang dijalaninya sendirian selama ratusan tahun.

Ia dipaksa menjadi roh bulan. Dikurung dalam lukisan. Dilupakan semua orang.

Dan yang paling membuatnya membenci semuanya... tidak seorang pun pernah percaya padanya.

“Aku benci kuil itu...” ucap Arum lirih penuh kebencian. “Aku benci hukuman ini.”

Tatapan sang dewa sedikit berubah tajam.

“Karena itulah kau masih belum berubah.”

Arum menggigit bibir menahan emosi.

Beberapa saat kemudian, sang dewa akhirnya berbicara lagi dengan suara lebih tenang namun tetap dingin.

“Hukumanmu kini tersisa sepuluh hari.”

Arum langsung menatap tajam.

“Kembalilah ke kuil dan lanjutkan menjadi roh bulan.”

“Aku menolak.”

Jawabannya cepat tanpa ragu.

Ruangan langsung dipenuhi tekanan dingin.

Namun sang dewa justru mengangkat tangan perlahan.

“Kalau begitu...” suaranya menggema pelan, “aku akan memberimu satu kesempatan.”

Arum terdiam.

“Kamu akan turun ke bumi selama sepuluh hari dan menyelesaikan tugas yang kuberikan.”

Tatapan Arum perlahan berubah bingung.

“Dan jika gagal?”

“Kau akan kembali ke kuil.”

Suara sang dewa terdengar jauh lebih berat kali ini.

“Dan menjadi roh bulan selamanya.”

Tubuh Arum langsung menegang.

Menjadi roh bulan berarti dirinya tidak akan pernah bebas lagi.

Tidak bisa meninggalkan kuil.

Tidak bisa menyentuh dunia manusia.

Tidak bisa hidup maupun mati.

Hanya menjadi roh yang terus terkurung sendirian sampai keberadaannya perlahan dilupakan waktu.

Kabut pagi masih menggantung tipis di antara pepohonan pinus saat Arum berdiri diam di tepi jurang pegunungan. Cahaya matahari pagi perlahan menyinari wajah pucatnya, sementara angin dingin membuat rambut panjangnya bergerak lembut.

Di belakangnya, utusan dewa masih berdiri sebelum benar-benar kembali ke alam para dewa. Tatapannya memandang Arum dengan rasa iba yang samar.

“Jika saja kau bersabar sedikit lagi...” ucapnya pelan. “Semua ini tidak akan terjadi.”

Arum menunduk kesal. Tangannya mengepal kuat.

“Ratusan tahun terkurung bukan sesuatu yang bisa kutahan lagi.”

Utusan dewa terdiam sesaat sebelum kembali berbicara dengan suara lebih serius.

“Karena kau telah melanggar hukuman, dewa memberimu syarat baru.” Arum perlahan mengangkat wajahnya.

“Dalam sepuluh hari...” lanjutnya, “harus ada seorang manusia yang rela berkorban demi dirimu.”

Tatapan Arum sedikit berubah bingung.

“Berkorban?”

“Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.”

Angin pagi mendadak terasa lebih dingin.

Arum membelalakkan mata perlahan.

“Jika itu terjadi, maka hukumanmu akan berakhir dan kau memperoleh kebebasanmu sepenuhnya.”

“Dan kalau gagal?”

Utusan dewa menatapnya dalam diam beberapa detik sebelum menjawab pelan.

“Kau akan kembali menjadi roh bulan selamanya.”

Kalimat itu membuat dada Arum terasa berat.

Menjadi roh bulan berarti kembali terkurung sendirian di kuil tua itu. Tidak bisa pergi. Tidak bisa hidup seperti manusia. Hanya menjadi roh yang perlahan dilupakan waktu.

Utusan dewa mulai berubah menjadi cahaya samar.

“Selesaikan tugasmu, Arum.”

Dan dalam sekejap sosoknya menghilang bersama hembusan angin.

Arum kini benar-benar sendiri. Tatapannya perlahan menurun memikirkan perkataan tadi. Siapa manusia yang mau mempertaruhkan nyawanya demi dirinya?

Ia bahkan baru kembali ke dunia manusia.

Namun tanpa sadar, satu wajah muncul di pikirannya.

Ravin.

Pria aneh yang membebaskannya, memarahinya, lalu membuat taruhan dengannya.

Entah kenapa bayangan Ravin terus muncul di kepalanya sejak tadi malam.

Sementara itu di villa Dewi, suasana pagi mulai ramai dengan aroma makanan hangat dari ruang makan besar. Cahaya matahari masuk dari jendela lebar menghangatkan ruangan yang sebelumnya dingin karena udara pegunungan.

Dewi, Lia, Juna, dan Ravin duduk bersama di meja makan.

Namun sejak tadi Lia terus memperhatikan Ravin dengan wajah penasaran.

“Jadi semalam kamu sebenarnya ke mana?” tanyanya sambil menopang dagu.

Ravin yang sedang meminum teh langsung sedikit tersedak kecil.

“oohh.. itu...” ia berusaha terlihat santai. “Mobilku sempat bermasalah.”

Dewi langsung menoleh cepat padanya.

“Bermasalah?”

“Iya,” jawab Ravin sambil mengangguk kecil. “Ban mobilku kempes dekat kuil di jalan sini, jadi aku terpaksa nginap semalam di sana.”

Ia berusaha terdengar biasa meski pikirannya kembali teringat Arum dan kejadian aneh di kuil tadi malam.

Lia langsung membelalakkan mata.

“Pantesan Dewi cemas banget semalam.”

Dewi langsung salah tingkah. “Lia!”

Lia malah tertawa kecil jahil.

“Serius tahu. Dari tadi malam dia terus lihat jalan depan villa.”

Ucapan itu membuat Ravin diam beberapa detik.

Jantungnya terasa hangat mendadak.

Matanya perlahan menoleh pada Dewi yang terlihat malu sambil menghindari tatapan semua orang.

Perasaan bahagia perlahan memenuhi dada Ravin. Bahkan senyum kecil tanpa sadar muncul di wajahnya.

Mungkin... taruhan itu benar-benar berhasil?

Di sisi lain meja, Juna hanya duduk diam sambil meminum kopinya perlahan. Tatapannya sesekali mengarah pada Ravin dan Dewi tanpa mengatakan apa pun.

Namun wajahnya terlihat jauh lebih tenang dari biasanya. Sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

..................

Udara pegunungan pagi itu terasa sejuk dan menyegarkan. Hamparan kebun teh membentang luas mengikuti perbukitan hijau yang tertutup kabut tipis. Cahaya matahari pagi jatuh lembut di antara daun-daun teh, sementara angin membawa aroma tanah dan tumbuhan basah yang menenangkan.

Dewi berjalan lebih dulu di jalan kecil di tengah kebun sambil tersenyum menikmati suasana. Sesekali ia berhenti hanya untuk mengambil foto pemandangan atau memotret Lia yang sibuk berpose aneh di antara tanaman teh.

“Tunggu! Jangan candid terus!” protes Lia sambil tertawa.

Ravin yang memegang ponsel hanya tersenyum kecil. Sejak pagi suasana hatinya terasa jauh lebih ringan. Bahkan rasa lelah semalam perlahan terlupakan saat melihat Dewi terus berada dekat dengannya.

“Sekali lagi,” kata Dewi sambil tertawa kecil. “Yang tadi jelek.”

“Kamu dari tadi bilang jelek terus,” jawab Ravin.

“Tapi emang jelek.”

Mereka berdua tertawa pelan bersama.Tidak jauh dari sana, Juna berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. Tatapannya terus mengarah pada Ravin dan Dewi yang terlihat semakin dekat. Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya.

Biasanya Dewi selalu berjalan di sampingnya. Selalu memanggil namanya lebih dulu. Namun sejak Ravin datang pagi tadi, perhatian Dewi perlahan berubah. Juna memalingkan wajah pelan menatap hamparan kebun teh luas di depannya.

Ia ingin marah. Ingin mengatakan sesuatu.

Namun tidak punya hak untuk itu.

Karena sejak awal... Dewi tidak pernah benar-benar memilih siapa pun.

Lia yang berjalan di sampingnya perlahan menyadari perubahan ekspresi itu.

“Kamu kenapa diem terus?” tanyanya pelan.

Juna langsung tersadar lalu tersenyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa.

“Capek aja.”

Namun Lia tahu itu bukan alasan sebenarnya.

Tatapan Juna terlalu kosong untuk seseorang yang hanya kelelahan.

Angin dingin pegunungan kembali berhembus melewati mereka, membuat suasana yang tadinya hangat perlahan terasa sedikit canggung.

Sementara itu, jauh dari keramaian kebun teh, Arum duduk sendirian di bawah pohon besar di lereng bukit yang sepi. Cahaya matahari menembus sela daun jatuh samar di rambut panjangnya yang hitam.

Tatapannya kosong memandang kota kecil di kejauhan. Suara tawa manusia dari area wisata samar terdengar terbawa angin, namun terasa sangat jauh darinya. Arum memeluk lututnya pelan. Untuk pertama kalinya setelah bebas, ia benar-benar menyadari sesuatu. Dirinya tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Tidak ada tempat untuk kembali. Tidak ada orang yang menunggunya. Tidak ada manusia yang peduli apakah dirinya ada atau tidak. Perlahan Arum menundukkan wajahnya. Lalu tanpa sadar, ia kembali memikirkan Ravin.

Pria itu marah padanya, takut padanya, bahkan menganggapnya aneh. Namun tetap saja... Ravin adalah manusia pertama yang berbicara padanya setelah ratusan tahun kesendirian.

“Apa dia...” gumam Arum lirih. “Benar-benar bisa membantuku?”

Namun syarat dari dewa bukan sesuatu yang mudah.

Harus ada manusia yang rela berkorban demi dirinya. Bahkan mempertaruhkan nyawa.

Arum tersenyum kecil pahit.

Mana mungkin ada manusia yang mau melakukan itu untuk roh sepertinya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!