tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Awal Mula dan Ancaman yang Mengintai
Kehidupan Rian dan Serli kini telah berjalan memasuki babak baru yang penuh harapan. Setelah melewati berbagai rintangan berat yang menguji kekuatan cinta dan kesetiaan mereka, keduanya akhirnya berhasil menapaki jalan yang lebih cerah.
Perusahaan yang mereka bangun dengan keringat, air mata, dan kerja keras tanpa henti, Arka Group, kini mulai menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Apa yang dulunya hanya berupa mimpi dan rencana di atas kertas, kini telah menjelma menjadi sebuah entitas bisnis yang disegani, memiliki puluhan karyawan, dan bergerak di berbagai sektor mulai dari perdagangan, jasa, hingga konstruksi. Bagi Rian dan Serli, Arka Group bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan bukti nyata ketekunan mereka, warisan yang ingin mereka bangun dan pertahankan seumur hidup.
Di permukaan, segalanya tampak berjalan sangat sempurna. Rian tampil sebagai direktur utama yang cerdas, berwawasan luas, dan selalu bersikap ramah kepada siapa saja. Ia sering terlihat menghadiri pertemuan bisnis resmi, berbincang dengan pejabat daerah, dan menjalin kerja sama dengan berbagai mitra besar.
Di sisi lain, Serli berdiri kokoh di sampingnya, menjadi pendamping setia sekaligus otak di balik pengelolaan keuangan dan administrasi perusahaan. Wanita itu dikenal sangat teliti, disiplin, dan memiliki insting bisnis yang tajam. Berkat kerja sama yang padu antara suami istri ini, Arka Group tumbuh pesat, meraup keuntungan besar dan perlahan namun pasti mulai menguasai pangsa pasar yang sebelumnya didominasi oleh perusahaan-perusahaan lama dan mapan.
Namun, kesuksesan sering kali membawa dampak ganda. Di balik sorotan keberhasilan dan tepuk tangan yang mereka terima, terselip pandangan-pandangan iri, dengki, dan niat buruk dari pihak-pihak yang tidak senang melihat kemajuan Arka Group. Dunia bisnis, seperti yang mulai disadari Rian, tidak selalu berjalan di jalur yang terang dan sesuai aturan tertulis.
Semakin besar omzet yang mereka dapatkan, semakin luas jaringan yang mereka bangun, semakin banyak pula pihak yang merasa terancam. Para pesaing lama yang merasa posisi mereka mulai tergeser, serta kelompok-kelompok kekuasaan gelap yang selama ini menguasai jalur bisnis bawah tanah, mulai melirik keberadaan Arka Group sebagai duri dalam daging yang harus disingkirkan.
Masalah pertama datang secara halus namun sangat jelas maknanya. Salah satu proyek besar Arka Group tiba-tiba mengalami hambatan perizinan yang tidak masuk akal, padahal semua persyaratan telah dipenuhi dengan lengkap dan benar.
Petugas yang menangani bersikap dingin dan memberikan alasan yang berputar-putar, seolah ada tekanan dari atas agar proyek itu macet. Tidak lama setelah itu, masalah datang lagi dari sisi lain. Beberapa pemasok bahan baku utama tiba-tiba membatalkan kontrak kerja sama sepihak dengan alasan yang tidak jelas, padahal perjanjian sudah disepakati jauh hari sebelumnya.
Belum lagi laporan dari lapangan yang menyebutkan bahwa kendaraan pengiriman milik Arka Group sering kali mendapat gangguan, diperiksa berulang kali tanpa alasan sah, atau mengalami kerusakan ringan yang dicurigai disengaja saat berhenti di perjalanan.
Malam itu, di ruang kerja pribadinya yang terletak di lantai atas gedung pusat Arka Group, Rian duduk termenung di balik meja besarnya. Di depannya terdapat tumpukan laporan masalah yang terus bertambah. Wajahnya tampak serius, dahinya berkerut menahan kekesalan sekaligus kekhawatiran. Serli masuk membawa secangkir teh hangat, lalu duduk di hadapan suaminya.
Wanita itu tahu betul apa yang sedang membebani pikiran Rian, karena ia pun merasakan hal yang sama.
"Mereka tidak akan berhenti, Rian," ucap Serli pelan namun tegas, memecah keheningan ruangan itu.
"Selama kita terus tumbuh dan mengambil bagian dari kue bisnis ini, mereka akan terus berusaha menjatuhkan kita."
Rian menghela napas panjang, menatap istrinya dengan pandangan tajam namun penuh kasih sayang.
"Aku sadar itu, Serli. Selama ini aku berpikir bahwa kejujuran, kerja keras, dan mengikuti aturan sudah cukup. Aku pikir jika kita berbuat baik, orang lain pun akan berbuat baik kepada kita. Tapi ternyata aku salah besar. Di dunia ini, kebaikan saja tidak cukup untuk melindungi apa yang kita miliki. Hukum dan aturan resmi sering kali terlalu lambat, terlalu berbelit-belit, atau bahkan bisa dibeli oleh mereka yang punya kuasa dan uang."
Kata-kata itu menggantung di udara. Rian bangkit berdiri, berjalan mendekati jendela besar yang memandang keluar ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di malam hari. Di luar sana, di balik kemegahan kota itu, tersembunyi sisi gelap yang penuh bahaya, kekerasan, dan persaingan mematikan.
"Jika kita diam saja, Arka Group akan hancur perlahan-lahan. Kita akan kehilangan semua yang telah kita bangun, dan mungkin keselamatan kita pun terancam," lanjut Rian dengan suara rendah namun berwibawa. "Kita butuh perlindungan, Serli.
Bukan perlindungan dari polisi atau pengacara, karena mereka tidak bisa menjangkau tempat-tempat gelap itu. Kita butuh kekuatan sendiri. Kita butuh sesuatu yang bisa membuat mereka gentar menyentuh kita."
Di saat itulah, sebuah pemikiran besar mulai terbentuk di benak Rian. Sebuah pemikiran yang berat, berisiko tinggi, namun ia yakini sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan. Ia sadar, untuk bisa terus bertahan dan berkembang di dunia bisnis yang kejam ini, Arka Group harus memiliki tameng yang kokoh, kekuatan yang bergerak di balik layar, setangguh baja dan seberbahaya ular berbisa jika sampai diganggu.
Ide mendirikan sebuah organisasi rahasia, sebuah kekuatan bayangan, mulai tumbuh subur di kepalanya. Rian bertekad, apa pun risikonya, ia akan membangun kekuatan itu. Ia akan memastikan bahwa tidak ada seorang pun, tidak ada kelompok pun, yang berani mengancam masa depan dirinya, istrinya, maupun perusahaan tercinta mereka. Di malam yang sunyi itu, benih dari sebuah kekuatan besar mulai ditanamkan, sebuah kekuatan yang kelak akan dikenal dan ditakuti seantero dunia bawah:
Organisasi Naga Hitam.