NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: MAHAR DARI MASA LALU DAN PENJARA SATU MINGGU

Lampu neon di langit-langit Balai Desa Sukamaju berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas wajah-wajah yang tegang. Pak Penghulu, seorang pria tua bersahaja dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, berkali-kali menyeka keringat di dahinya. Ia menatap Pak Kades dengan tatapan ragu, lalu beralih pada pasangan di depannya yang tampak seperti bumi dan langit.

​"Pak Kades, apa ini tidak terlalu terburu-buru? Pernikahan itu sakral, bukan sekadar urusan meredam amarah warga," bisik Pak Penghulu lirih.

​"Laksanakan saja, Pak Ustaz. Keadaan sudah tidak terkendali. Ini demi marwah desa kita," jawab Pak Kades tegas, matanya melirik ke luar jendela di mana warga masih berkerumun, menanti "keadilan" ditegakkan.

​Pak Penghulu menghela napas panjang, lalu membuka kitab kecilnya. Ia menatap Reyhan yang duduk bersila dengan punggung tegak, ekspresinya sedingin es aspal di malam hari. "Saudara Reyhan, sebagai syarat sah, apakah Anda memiliki mahar untuk calon istri Anda?"

​Keheningan yang mencekam menyergap ruangan itu. Bramantyo Hutama mendengus sinis, menyandarkan punggungnya di kursi kayu dengan tangan bersedekap. "Mahar? Dia hanya pengemudi ojek. Paling-paling dia hanya mampu memberikan seperangkat alat salat cicilan atau uang receh hasil narik seharian," cibirnya tanpa belas kasihan.

​Vanya yang duduk di samping Reyhan hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang hebat karena isak tangis yang tak kunjung reda. Baginya, setiap detik di ruangan ini adalah pisau yang menguliti harga dirinya.

​Reyhan terdiam sejenak. Pikirannya melayang ke sebuah kotak kecil yang ia simpan di balik tumpukan baju di kontrakannya yang sempit. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian kecil—simpanan terakhir dari sisa-sisa kejayaannya sebelum ia difitnah dan diusir dari keluarga Dirgantara. Kalung itu seharusnya melingkar di leher Sherly, tunangannya yang dijanjikan akan dinikahi setelah urusan keluarga ini selesai.

​Maafkan aku, Sherly, batin Reyhan pilu. Aku harus menggunakan ini. Hanya sementara. Aku tidak akan menyentuh wanita ini, dan pernikahan ini takkan lama. Aku berjanji akan menggantinya dengan yang lebih indah jika kau bersedia menungguku di ujung takdir ini.

​"Saya punya mahar," suara Reyhan memecah keheningan. "Sebuah kalung emas putih. Ada di kontrakan saya. Saya akan mengambilnya sekarang jika diizinkan."

​Pak Kades mengangguk. Dua orang pemuda ronda mengawal Reyhan kembali ke kontrakannya yang hanya berjarak beberapa ratus meter. Sepuluh menit kemudian, Reyhan kembali dengan sebuah kotak beludru merah yang tampak kusam di luar namun berisi kemewahan yang tersembunyi di dalam.

​Saat kotak itu dibuka, Pak Penghulu terkesiap. Kilau berlian di tengah liontin itu memantulkan cahaya neon dengan begitu sempurna. Bramantyo yang ahli melihat barang mewah menyipitkan mata. Darimana tukang ojek ini punya barang seperti itu? Curian? Atau hasil membegal? Curiganya dalam hati. Namun, bagi Bram, yang penting drama ini selesai.

​"Baik. Mari kita mulai," ucap Pak Penghulu.

​Prosesi itu berlangsung dengan suasana melankolis. Suara Reyhan saat mengucapkan ijab kabul terdengar berat dan mantap, sangat kontras dengan isak tangis Vanya yang nyaris menjerit saat ayahnya, Bramantyo, menjabat tangan Reyhan sebagai wali hakim yang terpaksa.

​"Sah?"

​"Sah!" suara warga di luar menyambut dengan sorak-sorai yang terasa seperti ejekan di telinga Vanya.

​Setelah prosesi selesai, suasana tidak lantas menjadi hangat. Bramantyo berdiri, merapikan jasnya yang mahal, lalu menatap Vanya dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat putrinya sebelumnya.

​"Sesuai keputusan, Vanya. Kamu tidak akan pulang ke rumah malam ini," ucap Bramantyo ketus.

​Vanya tersentak, matanya yang sembap membelalak. "Pa? Maksud Papa apa? Papa mau meninggalkan Vanya di desa ini? Bersama... bersama begal ini?!"

​"Dia suamimu sekarang, Vanya. Secara hukum agama dan adat desa ini, kamu adalah tanggung jawabnya," Bramantyo mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Aku sudah bosan dengan ulahmu. Keluyuran, mabuk, dan sekarang skandal ini. Satu minggu. Kamu harus hidup di sini, di kontrakan suamimu. Belajarlah bagaimana rasanya menjadi orang yang harus berjuang untuk makan. Jika dalam satu minggu kamu melarikan diri, jangan pernah panggil aku Papa lagi."

​"Pa! Tolong, jangan begini!" Vanya memegang tangan ayahnya, namun Bram mengibaskannya.

​Bramantyo berpaling pada Reyhan. "Reyhan Dirgantara. Jaga dia. Jika lecet sedikit saja karena kecerobohanmu, aku pastikan kamu membusuk di penjara. Tapi jangan harap kamu mendapat bantuan dana dariku. Hiduplah dengan hasil ojekmu."

​Reyhan hanya mengangguk pelan. "Saya mengerti, Tuan."

​Bramantyo melangkah keluar menuju SUV hitamnya. Namun, di balik sikap kerasnya, ia tetaplah seorang ayah yang penuh perhitungan. Begitu pintu mobil tertutup, ia menoleh pada ajudan kepercayaannya.

​"Perintahkan tim unit dua. Awasi kontrakan itu dua puluh empat jam dari jarak jauh. Jangan sampai ada warga yang mengganggu, dan jangan sampai mereka tahu mereka diawasi. Jika pria ojek itu macam-macam pada Vanya... eksekusi di tempat," perintah Bramantyo dengan suara yang mematikan.

​Malam semakin larut. Reyhan berjalan kaki menembus kegelapan Gang Kelinci, diikuti Vanya yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Vanya harus menjinjing gaun satinnya yang sudah kotor dan mengenakan sandal jepit pinjaman yang kebesaran. Setiap langkah di gang yang becek dan berbau selokan itu terasa seperti perjalanan menuju neraka bagi sang putri konglomerat.

​Mereka tiba di depan sebuah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Reyhan memutar kunci yang berderit, lalu membuka pintu.

​"Masuklah. Ini tempat tinggal saya," ucap Reyhan tanpa nada menyambut.

​Vanya melangkah masuk dan nyaris muntah. Ruangan itu hanya berukuran 3x4 meter. Ada satu kasur tipis di lantai, sebuah lemari plastik yang salah satu pintunya miring, dan sebuah kipas angin kecil yang berdebu. Di sudut ruangan, ada tumpukan mi instan dan helm ojol yang diletakkan di atas meja kayu kecil.

​"Aku harus tidur di sini?" Vanya bertanya dengan suara bergetar, menatap kasur lantai yang tampak sangat tidak higienis bagi kulitnya yang biasa bersentuhan dengan kain sutra.

​"Tidak ada tempat lain," jawab Reyhan datar. Ia melepaskan jaket ojolnya, menampilkan kaos oblong hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Ia mengambil sehelai kain jarik bersih dari lemari. "Kamu tidur di kasur. Saya akan tidur di lantai depan pintu."

​Vanya terduduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. "Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu pasti senang, kan? Menikahi putri orang kaya, mendapatkan kalung mahal dari hasil kejahatanmu..."

​Reyhan berhenti bergerak. Ia menatap Vanya dengan tatapan yang membuat Vanya terdiam. "Kalung itu adalah satu-satunya harga diri yang tersisa dari masa lalu saya. Saya memberikannya hanya agar warga tidak menyeret Anda ke jalanan dan mempermalukan Anda lebih jauh. Pernikahan ini bagi saya adalah penjara, sama seperti bagi Anda."

​Reyhan mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu tidur kecil yang temaram. "Tidurlah. Besok saya harus narik ojek pagi-pagi untuk mencari uang makan kita berdua."

​Vanya terisak dalam kegelapan. Ia merasa dunia benar-benar telah kiamat. Di luar sana, di balik semak-semak dan bayangan pohon pisang, beberapa pria berpakaian hitam dengan alat komunikasi canggih terus memantau setiap gerak-gerik di dalam rumah kayu itu.

​Sementara itu, di sebuah rumah mewah di bagian lain kota, seorang wanita bernama Sherly menatap ponselnya, menunggu kabar dari tunangannya, Reyhan, tanpa tahu bahwa malam itu, mahar yang dijanjikan untuknya telah berpindah tangan ke leher wanita lain dalam sebuah ikatan yang penuh dengan kebohongan dan dendam.

​Intrik di desa kecil itu baru saja dimulai, dan di bawah atap seng yang bocor, dua jiwa yang saling membenci dipaksa untuk berbagi napas dalam satu minggu yang akan mengubah segalanya.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!