Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
BAB 8: PONSEL HITAM
"Di zaman ini, orang bisa menyembunyikan segalanya. Tapi benda mati seperti ponsel... selalu ingat setiap rahasia yang dipercayakan padanya."
Malam semakin larut, menelan apartemen mewah itu dalam kegelapan yang nyaris total. Hanya cahaya remang dari lampu jalan di bawah sana yang merembes masuk lewat celah tirai, membentuk garis-garis samar di atas lantai keramik dingin. Di kasur besar itu, Elena berbaring diam, punggungnya memunggungi Arka. Napasnya terdengar teratur, berat, dan konstan—irama tidur nyenyak yang sudah terlalu sering Arka saksikan belakangan ini.
Tapi Arka tidak tidur. Matanya terbuka lebar, menatap bayangan gelap tubuh istrinya, sementara pikirannya masih terperangkap pada pesan singkat yang ia baca sore tadi: Pastikan dia tidak ikut. Jangan sampai ada mata asing di sini. Segala cara.
Adrian Mahesa. Pria itu tidak hanya ada dalam bayang-bayang, tidak hanya sekadar nama di layar kaca. Pria itu nyata, dan dia menganggap keberadaan Arka sebagai ancaman yang harus disingkirkan, dengan cara apa pun.
Perlahan, sangat perlahan, Arka menggeser tubuhnya menjauhi tepi kasur. Ia tidak membuat suara sedikit pun. Instingnya yang selama ini tertidur kini terbangun sepenuhnya, tajam dan waspada. Ia tahu, malam ini adalah satu-satunya kesempatannya. Besok malam Elena akan pergi ke Bandung, dan kalau ia membiarkannya pergi tanpa tahu apa-apa, mungkin kebenaran akan terkubur selamanya di kota itu.
Ia ingat kejadian beberapa minggu lalu. Saat ia tidak sengaja melihat benda pipih berwarna hitam terselip di dasar koper besar Elena, saat wanita itu bereaksi berlebihan dan wajahnya memucat hebat. Benda itu. Itu adalah kunci segalanya.
Dengan langkah berjinjit yang senyap seperti angin, Arka keluar dari kamar tidur. Ia menutup pintu pelan-pelan hingga hanya menyisakan celah kecil, cukup untuk mengintip jika Elena bergerak. Di ruang tengah yang sunyi, bayangan-bayangan perabot tampak seperti sosok-sosok pengawas yang bisu.
Koper besar berwarna cokelat tua itu berada di sudut ruangan, terselip di balik rak pakaian, persis seperti posisinya minggu lalu. Arka berlutut di lantai dingin, jantungnya berdegup kencang namun terkontrol. Tangannya gemetar sedikit saat ia menarik koper itu keluar. Tidak terkunci. Elena terlalu percaya diri, atau mungkin ia yakin Arka tidak akan pernah berani melanggar batas privasi yang sering ia tuntut.
Arka membuka penutup koper itu perlahan. Bau wangi parfum khas Elena langsung tercium, bau yang dulunya menenangkan, kini terasa memabukkan dan penuh kepalsuan. Di dalamnya tertata rapi pakaian-pakaian lama, selimut tipis, dan beberapa kotak sepatu. Tangannya menyusuri dasar koper, meraba setiap lekukan, mencari benda keras dan pipih yang ia ingat.
Dan jari-jarinya menyentuh sesuatu.
Terselip di lapisan paling bawah, di antara lipatan kain tebal yang sengaja disusun untuk menyamarkan bentuknya, ada sebuah benda persegi panjang kecil. Arka mengeluarkannya dengan napas tertahan.
Sebuah ponsel. Berwarna hitam pekat, merek yang sudah lama tidak diproduksi, bodanya agak tebal dan terasa dingin di tangan. Bukan ponsel canggih yang biasa Elena gunakan sehari-hari. Ini ponsel sederhana, hanya bisa untuk telepon dan pesan singkat. Alat komunikasi klasik yang sulit dilacak, sulit dipantau, dan tidak terhubung ke media sosial mana pun.
Inilah dia. Ponsel kedua yang menjadi awal dari segala kecurigaannya.
Arka berbalik badan, duduk bersandar pada dinding ruangan yang dingin. Cahaya dari luar tidak cukup terang, jadi ia mengeluarkan ponsel pribadinya, mengatur kecerahan layar ke tingkat paling rendah, lalu mengarahkannya ke benda hitam itu.
Jempolnya menekan tombol daya di sisi samping.
Layar kecil itu menyala perlahan, memancarkan cahaya biru pudar yang menyilaukan di tengah kegelapan. Tidak ada kata sandi. Elena benar-benar yakin tidak ada yang akan menemukannya. Atau mungkin... ia sengaja meninggalkannya terbuka, seperti perangkap? Arka mengesampingkan pikiran itu. Ia harus tahu.
Daftar pesan.
Jari Arka bergerak cepat, menggulir ke atas, membaca setiap baris tulisan yang tertera di layar kecil itu. Tulisan-tulisan itu adalah bukti nyata bahwa dua tahun hidup bersama, Elena tidak pernah benar-benar jujur padanya.
Pesan-pesan itu sebagian besar dikirim ke nomor yang disimpan dengan nama "A". Tidak lengkap, hanya satu huruf. Tapi Arka tahu persis siapa itu.
"Dia mulai curiga soal Surabaya. Dia tanya soal toko kue orang tuaku lagi. Aku hampir salah ngomong." – Kiriman Elena, dua minggu lalu.
Balasan "A": "Hati-hati. Jangan sampai dia gali lebih dalam. Ingat, Claire sudah mati. Sekarang kamu Elena. Kalau kamu salah, kita berdua tamat."
Claire.
Nama itu lagi. Nama yang ada di kartu identitas palsu yang ia temukan di laci meja kerja. Claire sudah mati. Apa maksudnya? Apakah Elena membunuh sosok itu? Atau dia mengambil alih identitas orang lain yang sudah tiada?
Jantung Arka berdegup semakin kencang, sakit. Ia terus menggulir ke atas. Pesan-pesan yang lebih lama, lebih mengerikan.
"Arka baik. Dia terlalu polos. Mudah sekali dibohongi. Kadang aku merasa bersalah." – Elena.
"Buang rasa bersalah itu. Dia cuma alat. Kalau bukan dia, orang lain juga bisa. Ingat hutangmu pada keluargamu. Kamu lakukan ini demi mereka." – "A".
Air mata rasanya ingin menetes, tapi Arka menahannya sampai menyesak di tenggorokan. Alat. Itulah dirinya di mata mereka. Pria polos yang dipilih dengan sengaja, dinikahi dengan sengaja, hanya sebagai bagian dari sebuah rencana besar yang entah apa tujuannya.
Ia terus menelusuri pesan-pesan itu, sampai ke percakapan yang tercatat paling baru, dikirimkan semalam, tepat pukul 02.01 pagi—waktu di mana status Elena aktif dan Arka sedang terjaga penuh curiga.
"Semua siap untuk Rabu. Aku berangkat pagi-pagi. Pastikan tidak ada yang mengikuti. Kalau dia nekat, gunakan cara terakhir." – Elena.
"Siap. Dokumen lama sudah dikubur. Di Bandung, Elena Wijaya tidak ada. Di sana, hanya ada Claire Nathania." – "A".
Arka hampir menjatuhkan ponsel itu dari tangannya.
Di Bandung, Elena Wijaya tidak ada. Di sana, hanya ada Claire Nathania.
Jadi benar. Dua identitas. Dua kehidupan. Elena yang lembut, elegan, dan berlogat Surabaya hanya ada di Jakarta, di samping Arka. Begitu ia melangkahkan kaki keluar dari kota ini, menuju Bandung, menuju Adrian... ia berubah menjadi orang lain. Wanita lain. Dengan nama lain, sifat lain, dan masa lalu yang gelap yang tidak Arka ketahui sama sekali.
Tapi ada satu pesan lagi, di bagian paling atas, pesan yang belum sempat dihapus, masuk tadi sore tepat setelah Elena menerima ucapan selamat dari Arka soal perjalanan dinasnya.
"Hati-hati. Detektif Sihombing mulai bertanya ke sana ke mari. Dia mengendus sesuatu soal kasus hilang di Surabaya lima tahun lalu. Jangan biarkan dia nyambungkan Claire dengan Elena."
Detektif Sihombing. Nama itu asing bagi Arka, tapi kalimat terakhir itu membuat darahnya berdesir hebat. Kasus hilang di Surabaya lima tahun lalu.
Apakah... apakah Elena, atau Claire, terlibat dalam kasus orang hilang? Apakah wanita yang tidur di sampingnya ini bukan hanya pembohong, tapi juga penjahat?
Suara berderit pelan terdengar dari arah kamar tidur.
Arka tersentak hebat. Refleks ia mematikan layar ponsel hitam itu dan menyembunyikannya kembali di lipatan kain di dasar koper, menutup semuanya persis seperti semula. Napasnya tertahan, dadanya naik turun cepat. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka itu.
Bayangan tubuh Elena terlihat berdiri di ambang pintu. Sosoknya tegak, diam, tidak bergerak. Cahaya remang hanya menerangi bagian bawah tubuhnya, membuat wajahnya tertutup kegelapan total.
"Mas...?" suaranya terdengar pelan, serak, namun ada nada tajam yang tersembunyi di baliknya. "Mas ngapain di situ? Jam segini kok belum tidur?"
Arka bangkit berdiri perlahan, berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja, meski keringat dingin sudah membasahi punggung bajunya. Ia melangkah mendekat, menyeimbangkan langkahnya agar tidak terlihat terburu-buru atau gugup.
Ia berhenti tepat di hadapan Elena. Wajah istrinya tampak samar, namun matanya berkilat di kegelapan, menatap tajam ke manik mata Arka, seolah sedang mencari kebohongan apa pun yang tersembunyi di sana.
"A... nggih, Le. Maaf ya," jawab Arka, berusaha meniru nada bicaranya yang tenang. "Aku kebangun haus. Mau ambil air minum di kulkas. Eh... pas lewat sini, kaget lihat koper ini jatuh. Mau aku rapihin lagi."
Elena tidak bergerak. Ia tetap diam di tempat, pandangannya tidak lepas dari wajah suaminya. Udara di antara mereka terasa tebal, berat, dan berbahaya. Seolah ada pisau tajam yang tergantung di atas kepala keduanya.
"Koper jatuh ya..." ulang Elena pelan. Bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum tipis yang dingin. "Mas... kalau ada barang-barangku yang Mas temuin... barang lama, barang rusak... tolong jangan dipikirin ya. Itu cuma sampah masa lalu yang nggak penting."
Ia melangkah maju selangkah, mendekat hingga tubuhnya hampir bersentuhan dengan Arka. Wangi parfumnya menguar kuat, memabukkan sekaligus mengancam. Tangan lentiknya terulur, menyentuh dada kiri Arka, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang.
"Masa laluku itu rumit, Mas. Penuh hal buruk yang nggak mau aku ingat lagi. Aku jadi Elena sekarang cuma karena aku mau hidup tenang sama Mas. Jangan gali lubang yang nggak perlu... nanti yang jatuh ke dalamnya malah Mas sendiri."
Kalimat itu diucapkan dengan nada paling manis, namun maknanya adalah peringatan keras yang nyata. Elena tahu. Entah bagaimana, wanita itu tahu. Ia tahu Arka sedang menggali rahasianya, ia tahu Arka sudah melihat sesuatu.
Elena menarik tangannya perlahan, lalu berbalik badan berjalan kembali ke kamar tidur, mengayunkan pinggangnya dengan tenang, seolah tidak ada yang terjadi.
"Ayo tidur, Mas. Besok aku harus berkemas buat ke Bandung. Dan... Mas tetap di rumah ya? Jangan ke mana-mana. Aku nggak mau hal buruk menimpa orang yang aku sayang."
Pintu kamar tertutup pelan di belakang punggungnya.
Arka berdiri diam di ruang tengah yang dingin itu, napasnya terengah tertahan. Di dalam koper di belakangnya, ponsel hitam itu masih tersembunyi, menyimpan ribuan kebenaran mengerikan yang baru saja ia baca. Di dalam kamar di depannya, wanita yang ia nikahi sedang bersiap menjadi orang lain lagi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Dan Arka tahu satu hal pasti sekarang:
Ia tidak hanya akan mengikuti Elena ke Bandung. Di sana, ia akan membongkar semuanya. Bahkan jika kebenaran itu akan membuktikan bahwa wanita yang dicintainya selama dua tahun ini adalah monster yang paling cerdik dan berbahaya yang pernah ada.
— BERSAMBUNG.......