Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Kamu?
Rasa penasaran yang menyelimuti diri Wilona saat melihat Nimas. Ingin rasanya Wilona memastikan sendiri kebenaran atas penglihatan matanya.
Namun, karena keberadaan dirinya yang masih duduk di tanah menjadi pusat perhatian para tetangga Dira. Membuat Wilona bergegas untuk berdiri meninggalkan kediaman Dira.
“Jaman sekarang pengemis itu penampilannya seperti orang kaya. Benar-benar gak tau malu.”
“Benar, saya kira tadi ibu pejabat karena penampilannya sangat fashionable. Eh ternyata pengemis berkedok sultan, Hahahaha.”
Tawa merendahkan serta tatapan miring ditujukan ke Wilona. Baru kali ini Wilona merasa tidak memiliki harga diri.
“Dasar kurang ajar, AWAS KALIAN SEMUA!” ancam Wilona dengan wajah merah padam.
“Eh, bisa marah.”
“HAHAHAHA!”
Karena mobil tidak bisa masuk ke jalanan sempit tempat tinggal Dira. Membuat Wilona dikira sebagai seorang penipu sekaligus pengemis mencari korban. Karena penampilannya benar-benar berantakan.
Rasa jengkel jelas dirasakan oleh Wilona. Tapi, yang jelas saat ini fokus Wilona hanya pada sosok perempuan yang tidak asing di masa lalunya.
“Aku harus memastikan sendiri dia orang yang sama atau bukan,” gumam Wilona panik sambil menggigit bibir.
Tangan Wilona masih gemetaran. Bahkan, detak jantungnya benar-benar tidak karuan saat bayang-bayang wajah Nimas menyelimuti pikirannya.
“Sepertinya kali ini aku harus membatalkan penerbangan ke luar negeri. Masalah ini lebih penting dari apapun,” gumam Nimas sepanjang jalan menuju parkiran.
“Sebab, masalah ini menyangkut karir dan juga masa depanku. Jika prediksiku benar tentang identitas perempuan itu. Maka, aku harus menyingkirkan dia secepatnya.”
Jika Wilona sampai membatalkan acara jalan-jalan, yang sudah menjadi bagian hidup hanya karena sosok Nimas. Maka, sudah bisa dipastikan jika masalah ini sangatlah penting dan akan meledak selayaknya bom waktu.
BRUK!
Bantingan pintu mobil terdengar kencang. Langsung mengalihkan perhatian asisten pribadi Wilona.
“Nyonya, apakah Anda sakit?”
“APA YANG KAMU LAKUKAN?”
Pertanyaan asisten pribadinya langsung menyadarkan Wilona. Dirinya langsung menatap kaca spion di hadapannya, yang menunjukkan saat ini dirinya benar-benar tampak kacau.
“Apakah kita harus ke rumah sakit? Anda terlihat pucat.”
Sang asisten pribadi Wilona tampak gugup dan khawatir saat melihat keadaan majikannya. Apalagi ada luka baret di lutut dan kedua tangan Wilona.
“Kita pulang sekarang! Tidak jadi ke bandara maupun rumah sakit. Panggil dokter pribadi ke rumah,” perintah tegas Wilona dengan nafas memburu. Emosinya benar-benar tidak stabil saat ini.
“Baik, Nyonya.”
Setelah kepergian Wilona dari kediaman Mbah Sekar. Nimas yang sebelumnya menarik tangan Dira dan Mbah Sekar bersembunyi ke kamar. Dengan wajah ketakutan melongok mengawasi teras rumah.
Perilaku aneh yang ditunjukkan oleh Nimas. Tentu saja membuat Dira dan Mbah Sekar saling menatap.
Jelas saat ini pikiran mereka sama-sama diliputi pertanyaan yang belum terjawab. Kenapa Nimas sangat bereaksi seperti itu.
“Nimas,” lirih Mbah Sekar sambil mengusap lembut pundak Nimas.
“Jangan, jangan keluar!” pinta Nimas sambil menggelengkan kepala dan menggerakkan kedua telapak tangannya. Selayaknya seseorang yang tengah melarang sesuatu.
“Masuk sekarang!”
Dengan kuat Nimas menarik tangan Mbah Sekar untuk masuk kembali ke kamar. Bersembunyi dari sesuatu yang Mbah Sekar kurang paham.
BRAK!
Hantaman keras dari pintu yang ditutup penuh tenaga. Membuat Dira dan Mbah Sekar keluar kamar.
Nimas langsung naik ke ranjang. Menarik selimut sambil menutupi seluruh tubuhnya.
“Mbah, Ibu kenapa?” tanya Dira bingung.
“Nduk, peluk ibumu sekarang! Sepertinya ada sesuatu telah terjadi yang kita tidak pahami.”
“Baik, Mbah.”
Krieeet!
Dira langsung menghampiri Nimas yang saat ini tubuhnya bergetar hebat. Memeluk tubuh Nimas berharap bisa mengurangi rasa gugup itu.
Rasa hangat dari pelukan Dira. Mengalihkan perhatian Nimas dari rasa takutnya. Menatap kearah Dira yang saat ini tampak khawatir.
“Apakah Ibu saat ini merasa takut?”
“Em,” jawab Nimas sambil menganggukkan kepalanya.
“Ibu tidak perlu takut. Tenang saja, ada Mbah dan juga Dira yang selalu menjaga Ibu,” ucap Dira mencoba memahami keadaan Nimas.
“Iya.”
“Ibu sekarang tidur. Dira akan selalu menjaga Ibu. Dira akan selalu memeluk Ibu. Dira akan selalu ada di samping Ibu.”
Meski Nimas mengalami masalah kejiwaan. Namun, jiwa seorang ibu untuk melindungi buah hatinya sangat kuat. Hal itulah yang saat ini Mbah Sekar lihat.
“Dira sayang Ibu,” ucap Dira semakin erat memeluk Nimas.
“Terima kasih banyak sudah mengkhawatirkan Dira. Terima kasih banyak atas cinta dan kepedulian Ibu untuk Dira.”
Dira mencoba memberikan ketenangan untuk Nimas. Sedangkan senyum Dira mulai terbit, saat Nimas membalas pelukannya. Hal kecil yang bagi Dira sangat luar biasa.”
“Sepertinya Ibu kurang nyaman mendengar suara keras dari Tante Wilona. Membuat Ibu merasa keadaanku dan Mbah terancam,” ucap Dira menatap Nimas.
“Alhamdulillah kemajuan Ibu sangat pesat. Dira sangat bahagia dengan perkembangan luar biasa itu.”
Hanya tatapan tanpa ucapan yang diberikan oleh Nimas. Tak apa meski hanya sebatas tatapan, bagi Dira apapun yang ada pada Nimas adalah kebahagiaannya.
Karena tidak tahu apa yang dialami oleh Nimas atas reaksi diluar kendali melihat Wilona. Membuat Dira sama sekali tidak memiliki pikiran aneh terhadap Wilona.
Dira lebih memilih merasakan kehangatan kasih sayang Nimas. Hingga akhirnya Dira tidur di ranjang Nimas sambil memeluk ibunya.
Sebuah pemandangan yang membuat hati Mbah Sekar menghangat. Melihat kedekatan seorang ibu dengan putrinya.
Drrrrt… drrrt!
Suara alarm pagi yang berbunyi. Langsung membangunkan Dira dari tidurnya. Lalu mematikan handphone miliknya, dilanjutkan mengambil earphone untuk dipasang ke telinga Nimas.
Sebagai cara mencoba meminimalisir agar Nimas tidak teriak-teriak setelah adzan subuh seperti yang sudah-sudah.
“Semoga cara ini berhasil,” ucap Dira penuh harap.
“Maafkan Dira yang sengaja memasang alat ini di telinga Ibu.”
“Dira hanya tidak ingin warga mengusir kita karena Ibu berteriak hingga membuat tetangga terganggu. Dira janji akan mencari obat untuk kesembuhan Ibu. Semoga Miss Panda memberikan kabar baik untuk Dira, aamiin.”
Bukan karena Nimas terganggu dengan suara adzan subuh. Melainkan waktu subuh itulah yang mengingatkan Nimas pada kejadian buruk menimpanya.
Hal itulah yang diyakini oleh Dira maupun Mbah Sekar. Membuat keduanya sepakat menutupi telinga Nimas.
“Akhir pekan Mbah sudah memutuskan untuk libur. Mbah tidak ingin kamu kecapean,” ucap Mbah Sekar saat melihat Dira masuk ke dapur.
“Dira setuju dengan keputusan Mbah. Dira juga tidak ingin Mbah kecapean. Dira tidak ingin Mbah sakit. Karena hanya Mbah yang Dira punya untuk menemani menjaga ibu,” ucap Dira menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.
“Karena Mbah juga lah yang akan menjelaskan tentang identitas Dira kepada Ibu saat sembuh. Jadi, Dira ingin Mbah tetap sehat.”
Ungkapan hati Dira membuat Mbah Sekar tersenyum. Apa yang dikatakan oleh Dira memang benar.
Mbah Sekar memang harus tetap sehat paling tidak hingga Nimas sembuh. Karena dirinya lah yang akan menjelaskan kepada Nimas tentang identitas Dira. Mengingat Nimas mengalami gangguan kejiwaan saat Dira masih dalam kandungan.
Suara handphone Dira yang berbunyi. Membuat Dira membuka pesan yang baru masuk dari Miss Panda.
“Alhamdulillah,” gumam Dira membaca isi pesan sesuai dengan keinginan.
Kini, pandangan mata Dira menatap Mbah Sekar yang tengah memotong tempe.
“Mbah,” panggil Dira sambil duduk mendekati Mbah Sekar. Selayaknya seorang cucu tengah merayu neneknya.
“Ada apa, Nduk? Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan ke Mbah.”
“Emmm.”
“Katakan saja! Mbah akan bersikap bijak dengan apapun yang akan kamu ucapkan.”
“Mbah jangan marah, ya?”
“InsyaAllah tidak.”
“Sepeda Dira kan sudah diperbaiki. Biayanya lumayan mahal. Ditambah lagi Dira ingin menjadi dokter spesialis kejiwaan. Karena biaya yang harus dikeluarkan besar. Jadi, Dira berinisiatif mencari tambahan pendapatan. Apakah Mbah mengizinkan?” tanya Dira sambil merayu.
“Tambahan pendapatan dengan cara apa? Asal halal Mbah akan mengizinkan.”
“Mbah tenang saja. Pekerjaan yang Dira lakukan halal yaitu mengajar les privat putri dari sahabat Miss Panda. Waktunya pun juga tidak lama. Sekitar 60 menit di akhir pekan saja.”
“Waktu mulai dan pulangnya jam berapa? Mbah tidak ingin kamu kecapean, apalagi pulang malam.”
“Jam 08.00 wib, bagaimana? Apakah Mbah memberikan izin?” tanya Dira tidak sabaran.
“Karena pekerjaan itu rekomendasi dari Miss Panda. Jadi, Mbah kasih izin. Asalkan kamu tidak kecapean.”
“Terima kasih banyak Mbah. Dira sangat sayang Mbah. Titip Ibu ya, Mbah. Doakan Dira lancar hari pertama kerja.”
“Tentu saja, Nduk. Doa terbaik Mbah selalu menyertaimu.”
***
Di hari itu juga Dira menjalani pekerjaan tambahan. Dengan berbekal alamat dari Miss Panda serta ditemani sepeda kesayangannya. Dira menuju ke alamat itu.
Sepanjang mata memandang, Dira dibuat kagum dengan komplek perumahan mewah alamat tujuannya. Jujur saja baru pertama kali Dira masuk ke komplek perumahan tersebut. Hingga akhirnya Dira sampai di gerbang perumahan yang sangat megah.
“Ada yang bisa saya bantu, Dik?” tanya satpam melihat Dira celingak-celinguk.
“Saya ingin ke rumah Ibu Manik istrinya bapak Kavandra,” jawab Dira.
“Apakah sudah bikin janji dengan Ibu Manik?”
“Sudah melalui Miss Panda,” jawab Dira sesuai dengan perintah dari Miss Panda.
“Tunggu sebentar! Saya akan memastikan terlebih dahulu. Siapa nama, Dik?”
“Dira.”
Tidak butuh waktu lama Dira menunggu kabar. Karena satpam tersebut langsung kembali menghampiri Dira.
“Bisa tinggalkan kartu identitas di pos. Saya akan mengantar adik di kediaman Ibu Manik.”
“Apakah pakai kartu pelajar boleh, Pak?”
“Tentu saja boleh.”
Dengan diantar salah satu satpam yang bertugas. Dira menuju kediaman Manik yang merupakan sahabat dari Miss Panda.
Rasa kagum kembali menyelimuti Dira saat masuk ke area gerbang pos kedua. Menandakan jika kediaman tempat tujuannya memang sangat eksklusif.
Hingga akhirnya motor listrik yang digunakan oleh satpam berhenti di sebuah bangunan besar yang dikelilingi pagar tinggi selayaknya gerbang. Benar-benar tingkat keamanan berlapis-lapis.
“Adik sudah sampai tujuan.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
“Iya sama-sama.”
Sambil memegangi sepedanya. Dira memencet bel di pintu gerbang kediaman Manik.
Teeet!
Setelah bel berbunyi, kotak kecil yang digunakan untuk komunikasi dengan luar langsung terbuka. Menampilkan sosok laki-laki dengan pakaian satpam.
“Assalamualaikum, Pak.”
“Waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?”
“Permisi, Pak, nama saya Dira. Saya datang sebagai pengajar nona Anjana rekomendasi dari Miss Panda.”
“Oh, silahkan masuk, Non! Sudah ditunggu Bu Manik di dalam.”
“Baik, Pak.”
Pintu gerbang yang ukurannya besar langsung terbuka menyambut kedatangan Dira. Menampilkan deretan mobil mewah beserta bangunan sangat besar. Benar-benar kontras dengan sepeda butut milik Dira.
“Biarkan sepeda Non saya yang parkirin.”
Saat Dira melangkahkan kakinya masuk di area kediaman Manik. Ternyata dari arah luar berbarengan dengan suara motor tidak asing untuk Dira.
GREEENG!
“Suara motor ini, kenapa seperti milik…?”
Jantung Dira berdetak tidak karuan saat pandangan matanya menangkap sosok laki-laki tidak asing.
Sosok laki-laki satu-satunya yang pernah melihat dirinya tanpa kerudung. Sosok laki-laki yang membuat tangan gemetaran hingga kesulitan bernafas.
“Kamu?”
Kata penuh pertanyaan dan tatapan saling tidak percaya langsung diberikan oleh keduanya.
Tampak sekali jika keduanya tidak menyangka akan bertemu di tempat sama. Dengan suasana yang berbeda.
Ceritanya keren 👍