NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 JEJAK KEBAIKAN

Bzzzt...

Getaran ponsel membangunkan Abdul beberapa menit sebelum azan subuh berkumandang. Di luar jendela, langit masih gelap, hanya ditemani suara jangkrik yang sesekali terdengar dari kebun kosong di belakang rumah.

Dengan mata yang masih berat, Abdul meraba meja kecil di samping tempat tidurnya lalu mengambil ponsel.

Semalam ia mengalami mimpi yang cukup aneh.

Di dalam mimpi itu, Abdul berdiri di sebuah ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku tinggi menjulang. Ratusan anak-anak duduk rapi membaca dan belajar dengan wajah ceria. Suasana di dalam ruangan terasa hangat dan damai.

Di tengah ruangan berdiri sebuah papan digital besar.

Entah kenapa, dari seluruh isi mimpi itu, justru angka yang tertera di papan tersebut paling jelas diingat oleh Abdul.

Rp220.000.000,00

Angka itu bahkan masih terbayang di kepalanya saat ia membuka layar ponsel.

Lalu sebuah SMS dari Bank Suka muncul di layar.

[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp220.000.000,00.]

Abdul membeku.

Matanya berkedip beberapa kali.

Kemudian ia membaca ulang pesan itu.

Lalu membacanya sekali lagi.

Nominalnya sama.

Persis sama.

Tidak kurang satu rupiah pun.

Abdul terduduk tegak di atas tempat tidurnya.

"Lagi-lagi..."

gumamnya pelan.

Kalau kejadian seperti ini hanya terjadi satu atau dua kali, mungkin masih bisa dianggap kebetulan.

Tapi sekarang?

Sudah terlalu sering.

Amplop cokelat dalam mimpi.

Harga motor.

Struk belanja sembako.

Lelang properti.

Dan sekarang angka dua ratus dua puluh juta rupiah yang muncul di papan digital dalam mimpinya.

Semuanya selalu berakhir dengan nominal yang sama masuk ke rekeningnya saat subuh.

Abdul mengusap wajahnya perlahan.

"Aku gak ngerti sebenarnya apa yang terjadi..."

Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat.

Namun seperti biasa, Abdul bukan tipe orang yang suka berlarut-larut memikirkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Kalau memang rezeki itu datang, ia hanya ingin memastikan rezeki tersebut digunakan untuk hal yang benar.

"Itu aja cukup."

Setelah menenangkan pikirannya, Abdul beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap salat subuh.

Pagi hari di Konveksi Berkah Gang Seng berjalan seperti biasa.

Suara mesin jahit terdengar bersahut-sahutan dari dalam workshop.

Belasan karyawan baru tampak sibuk mengerjakan pesanan seragam sekolah yang mulai berdatangan dari berbagai kecamatan sekitar.

Rian berjalan membawa clipboard berisi daftar produksi.

"Jaka! Yang bagian lengan panjang jangan dicampur sama yang pendek!"

"Siap!"

"Mas Budi, pola nomor tiga salah ukurannya!"

"Siap diperbaiki!"

Suasana ramai namun teratur.

Abdul berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan aktivitas para pekerja dengan senyum tipis.

Beberapa bulan lalu tempat ini bahkan belum ada.

Kini puluhan orang menggantungkan penghasilan mereka dari workshop tersebut.

"Dul."

Rian mendekat sambil membawa beberapa berkas.

"Hmm?"

"Kita dapat pesanan baru lagi."

"Wah, banyak?"

"Lumayan. Tiga sekolah sekaligus."

Abdul mengangguk puas.

"Bagus. Yang penting kualitas tetap dijaga."

"Tenang."

Rian tersenyum.

"Anak-anak juga semangat karena bulan depan katanya mau ada bonus."

Mendengar itu, beberapa pekerja yang kebetulan lewat langsung tertawa.

"Bener gak, Bos?"

"Iya nih, jangan PHP!"

Abdul ikut tertawa.

"Kalau target tercapai, bonus jalan."

Sorak kecil langsung memenuhi workshop.

Menjelang siang, Abdul memutuskan pergi ke lokasi pembangunan panti asuhan.

Bangunan baru Panti Asuhan Harapan Bunda kini berkembang sangat cepat.

Kerangka lantai dua hampir selesai.

Beberapa pekerja tampak sibuk memasang bata ringan.

Sementara di area depan, taman bermain mulai dibentuk.

Begitu tiba, Abdul melihat Doni sedang menyapu halaman.

Bocah itu langsung mengenalinya.

"Kakak baik!"

Abdul tertawa kecil.

"Masih manggil begitu juga?"

Doni mengangguk cepat.

"Hehe."

"Kenapa gak diganti?"

"Soalnya aku belum tahu nama Kakak."

Abdul terdiam sejenak.

Baru sadar selama ini mereka memang belum pernah saling memperkenalkan nama.

"Kalau gitu panggil aja Kak Abdul."

Mata Doni langsung berbinar.

"Ooo... Kak Abdul."

"Iya."

"Nama Kakak bagus."

Abdul tertawa.

"Kamu juga."

Doni menunjuk bangunan baru yang sedang dibangun.

"Kak Abdul, nanti kalau udah jadi aku mau punya rak buku sendiri."

"Rak buku?"

"Iya."

"Buat apa?"

"Buat nyimpen buku cerita."

Abdul tersenyum hangat.

Anak-anak lain mungkin bermimpi punya mainan mahal.

Tapi Doni hanya ingin rak buku.

Namun suasana santai itu mendadak berubah ketika sebuah mobil berlogo Bank Suka memasuki area parkir panti.

Abdul sempat mengernyit.

Mobil tersebut berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dua orang berpakaian formal turun sambil membawa map.

Mereka terlihat mencari seseorang.

Tak lama kemudian, salah satu dari mereka berjalan mendekat.

"Permisi."

"Iya?"

"Apakah Bapak Abdul?"

Abdul mengangguk.

"Saya Abdul."

Pria itu tersenyum ramah lalu menunjukkan kartu identitas.

"Perkenalkan. Saya Arman dari Bank Suka."

"Dan saya Dina."

sambung wanita di sampingnya.

Jantung Abdul sedikit berdegup lebih cepat.

Meski wajahnya tetap tenang.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Pak Arman tersenyum.

"Tenang saja, Pak. Tidak ada masalah."

"Kami hanya ingin melakukan pembaruan data nasabah."

Abdul menghela napas lega dalam hati.

Ternyata bukan sesuatu yang serius.

Proses verifikasi berlangsung cukup santai.

Mereka hanya menanyakan alamat terbaru, nomor telepon aktif, serta pekerjaan Abdul saat ini.

Saat ditanya pekerjaan, Abdul menunjuk workshop konveksinya yang tidak jauh dari lokasi panti.

"Saya punya usaha konveksi."

"Oh begitu."

Pak Arman mencatat sesuatu.

"Kami juga melihat ada cukup banyak transaksi terkait pembangunan dan kegiatan sosial."

Abdul tersenyum tipis.

"Saya sedang membantu pembangunan panti asuhan."

Pak Arman dan Dina saling berpandangan.

Kemudian tersenyum.

"Kalau begitu semuanya sesuai."

Abdul sedikit bingung.

"Sesuai?"

"Iya."

Pak Arman tertawa kecil.

"Terus terang kami sempat mengira rekening Bapak dipakai untuk aktivitas yang tidak wajar."

Abdul nyaris tersedak mendengarnya.

"Tapi setelah melihat langsung kondisi di lapangan, kami jadi paham."

Dina menambahkan.

"Jarang ada nasabah muda yang menggunakan uangnya untuk membantu sebanyak ini."

Abdul hanya tersenyum sopan.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Setelah urusan selesai, kedua petugas bank bersiap pergi.

Namun sebelum masuk ke mobil, Dina sempat menoleh.

"Pak Abdul."

"Iya?"

"Saya tadi sempat ngobrol sama anak-anak panti."

"Lalu?"

Mata wanita itu tampak sedikit berkaca-kaca.

"Mereka terlihat sangat bahagia."

Abdul terdiam.

"Terima kasih karena sudah membantu mereka."

Mobil itu kemudian perlahan meninggalkan area panti.

Abdul berdiri memandangi kendaraan tersebut hingga menghilang di tikungan jalan.

Untuk pertama kalinya sejak fenomena uang misterius itu terjadi, pihak bank benar-benar datang ke hadapannya.

Untung saja tidak terjadi apa-apa.

Sore hari, Abdul kembali ke rumah.

Setelah makan malam bersama kedua orang tuanya, ia duduk sendirian di teras rumah baru.

Angin malam berembus pelan.

Dari kejauhan terdengar suara pekerja malam yang masih menyelesaikan beberapa detail kecil di workshop.

Abdul memandangi langit.

Entah kenapa akhir-akhir ini hidupnya terasa seperti mimpi.

Dulu ia hanya seorang korban PHK yang bingung mencari uang untuk berobat bapaknya.

Sekarang?

Bapaknya mulai pulih.

Ibunya hidup nyaman.

Puluhan orang bekerja di konveksinya.

Dan sebuah panti asuhan baru sedang dibangun.

Semua berubah begitu cepat.

Namun satu hal tetap sama.

Abdul masih belum tahu alasan semua keberuntungan itu datang kepadanya.

"Kalau memang ini titipan dari Tuhan..."

gumamnya pelan.

"Semoga aku gak salah menggunakannya."

Malam semakin larut.

Tak lama kemudian Abdul masuk ke kamarnya dan kembali beristirahat.

Di dalam mimpinya malam itu...

Abdul kembali melihat ruangan besar yang penuh rak buku.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Di ujung ruangan yang remang-remang, ia melihat sesosok bayangan berdiri diam.

Sosok itu tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Hanya memperhatikannya dari kejauhan.

Abdul mencoba melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Namun sebelum wajah sosok itu terlihat jelas...

Seluruh ruangan tiba-tiba berubah menjadi putih terang.

Dan mimpi itu pun berakhir.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!