NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:645
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LARI DARI ZONA MATI

Damar sendiri baru bisa memejamkan mata saat fajar hampir menyingsing, itu pun dalam kondisi setengah tersadar. Namun, tidurnya yang seujung kuku langsung terenggut paksa ketika jeritan parau sirene darurat kamp meraung dahsyat, mengoyak sunyinya udara pagi.

*WUUUUUUUUTTTT!! WUUUUUUUUTTTT!!*

Sepasang kelopak mata Damar seketika terbuka lebar. Jantungnya bergedup kencang, menghantam rongga dada bagai tabuhan genderang perang. Di luar bilik sekat, gelombang teriakan panik bergemuruh, disusul suara derap langkah kaki yang saling berbenturan.

"Semua ke posisi perimeter! Jaga jarak!"

"Serangan masal! Buru-buru bawa senjata!"

"Cepat! Jangan ada yang bengong!"

Tanpa membuang waktu untuk mengumpulkan kesadaran, Damar langsung menyambar linggis besi andalannya dan melesat keluar. Lorong-lorong markas pengungsian sudah berubah menjadi lautan manusia yang berlarian tumpang-tindih. Gurat wajah mereka pucat pasi, dibayangi kombinasi rasa takut dan kebingungan yang luar biasa.

Begitu langkah kakinya sampai di dekat area pagar pembatas utama, Damar mendadak membatu. Ia langsung paham mengapa sirine darurat dibunyikan sefrustrasi itu.

Ratusan, bahkan mungkin ribuan *infected* tampak bergerak masif dari segala penjuru mata angin. Densitas jumlah mayat hidup kali ini benar-benar tidak masuk akal, berkali-kali lipat lebih padat dibanding serangan gelombang sebelum-sebelumnya. Seolah-olah, seluruh isi liang kubur dan pelosok kota mati ini telah sepakat untuk bangkit dan berjalan beriringan menuju satu titik lurus: kamp mereka.

"Gusti... Apa-apaan ini..." gumam Damar lirih, tenggorokannya mendadak kering.

Di sampingnya, Alya yang biasanya selalu memasang wajah tenang bin tangguh pun ikut terpaku dengan pandangan mata membelalak horor. Bahkan untuk ukuran gadis sekeras dia, pemandangan di depan mereka saat ini terasa terlalu mustahil untuk dihadapi.

Kapten Rendra sudah berdiri tegak di atas barikade tumpukan karung pasir, wajahnya mengeras sarat beban. "Semua personel yang masih kuat pegang senjata, ambil posisi sekarang! Jangan biarkan mereka menyentuh kawat!"

Detik berikutnya, runtunan suara tembakan senapan serbu mulai meledak memekakkan telinga.

*DOR! DOR! DOR!*

Satu per satu *infected* di barisan depan tumbang dengan kepala hancur, namun lubang kosong yang mereka tinggalkan langsung ditutup kembali oleh belasan mayat hidup lainnya di barisan belakang. Jumlah mereka terlalu masif. Dan yang paling membuat bulu kuduk meremang, pergerakan kawanan monster ini tidak lagi acak. Mereka bergerak dinamis, seakan ada sebuah konduktor tak terlihat yang sedang mengarahkan rute berjalan mereka secara presisi menuju perimeter kamp.

Pertempuran berdarah itu berlangsung melelahkan selama hampir satu jam penuh. Stok amunisi militer kian menipis ke titik kritis, struktur pagar kawat mulai meliuk bengkok di beberapa titik akibat beban dorongan, dan korban luka dari pihak penyintas mulai berjatuhan satu per satu.

Damar mengayunkan linggisnya sekuat tenaga, menghantam bagian pelipis seekor *infected* wanita yang mencoba menerobos celah kawat.

*BRAKK!*

Jasad busuk itu ambruk ke tanah, namun belum sempat Damar menarik napas, dua pasang tangan kelaparan lainnya sudah menjulur keluar dari balik celah yang sama, mengincar lehernya.

"Sebelah kiri, Mar! Awas!" teriak Alya lantang.

Damar refleks memutar tubuhnya setengah lingkaran. Di saat yang sama, tongkat aluminium milik Alya berdesing horizontal, menghantam remuk lutut salah satu *infected* hingga jatuh tersungkur, memberikan ruang bagi Damar untuk menghujamkan ujung linggisnya tepat di ubun-ubun monster tersebut. Mereka berdua bergerak lincah bagai roda gigi yang klop; tanpa perlu banyak instruksi atau obrolan basa-basi, hanya mengandalkan refleks murni dan rasa percaya satu sama lain yang sudah teruji di jalanan.

Namun, momentum bertahan itu seketika hancur lebur ketika sebuah dentuman dahsyat mengguncang bumi.

*DUAAAAARRR!!*

Gelombang kejut dari ledakan besar di sektor timur sukses membuat beberapa orang terlempar. Semua kepala refleks menoleh ke arah sumber suara. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit pagi, membawa kabar buruk: struktur pagar baja bagian timur telah runtuh total, menyisakan lubang besar tanpa pelindung.

"Jebol! Sektor timur jebol!"

"Mereka masuk dari belakang! Tolong!"

Jeritan histeris seketika meledak di mana-mana, memicu kepanikan masal yang tak lagi bisa dibendung. Gelombang *infected* mulai mengalir masuk seperti air bah melewati celah reruntuhan pagar Timur. Situasi di dalam kamp resmi bergeser menjadi neraka kekacauan total.

Melihat pertahanan pasukannya yang kian koyak, Kapten Rendra terpaksa mengambil satu keputusan paling pahit yang paling dihindari oleh pemimpin mana pun.

"Mundur! Kita tinggalkan kamp ini sekarang juga!" teriak Rendra melalui pengeras suara.

Keheningan sempat merayap selama beberapa sekon di tengah desing peluru. Kemudian, rentetan protes langsung mencuat dari barisan pengungsi.

"Apa?! Kita mau mundur ke mana?!"

"Nggak bisa, Kapten! Ini satu-satunya rumah kita!"

"Kalau keluar, kita pasti mati di jalanan!"

Rendra meloncat turun dari barikade, mencengkeram kerah salah satu pengungsi yang memproprotesnya lalu menunjuk ke arah perimeter dalam yang mulai dipenuhi mayat hidup. "BUKA MATA KALIAN! LIHAT SEKELILING!" Rendra berteriak dengan urat leher menegang. "Kamp ini sudah kalah! Pagar kita hancur, peluru kita habis! Kalau kita tetap keras kepala diam di sini, kita semua cuma bakal jadi bangkai dalam waktu setengah jam!"

Perintah evakuasi darurat itu akhirnya dijalankan dengan sisa-sisa kewarasan yang ada. Orang-orang mulai bergerak panik, meraup apa saja yang bisa dijejalkan ke dalam tas punggung mereka. Makanan kaleng, pasokan obat-obatan, botol air bersih, dan sisa amunisi. Hanya barang-barang esensial penunjang hidup yang boleh dibawa; sisanya harus rela ditinggalkan menjadi rongsokan.

Satu jam kemudian, sebuah rombongan besar pengungsi yang terdiri dari seratus kepala lebih mulai bergerak lambat meninggalkan area kamp melalui pintu darurat barat. Pria, wanita, anak-anak, hingga lansia berjalan beriringan dalam kesunyian yang mencekat, merayap membelah bayang-bayang gedung. Mereka resmi meninggalkan tempat yang selama beberapa bulan terakhir mereka agungkan sebagai benteng pertahanan terakhir manusia.

Damar sempat menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke belakang untuk menatap kamp mereka untuk terakhir kali. Kobaran api mulai menjalar liar melalap tenda-tenda logistik, mengirimkan kepulan asap pekat ke angkasa. Dan untuk pertama kalinya sejak wabah jahanam ini pecah, Damar merasakan sebuah kehampaan yang luar biasa besar di dadanya. Ia benar-benar merasa kehilangan arah.

"Kita... mau jalan ke mana sekarang, Mar?" tanya Alya yang berjalan di sisinya, suaranya terdengar agak parau akibat kelelahan.

Kapten Rendra yang berjalan memimpin di barisan paling depan menyahut pendek tanpa menoleh. "Target kita sekarang cuma satu: keluar secepatnya dari radius pusat kota."

Tidak ada titik tujuan yang pasti. Tidak ada peta koordinat untuk pangkalan militer cadangan yang aman. Misi mereka hari ini telah direduksi menjadi bentuk paling primitif: bergerak agar tidak mati.

Rute pelarian malam itu bertransformasi menjadi visualisasi mimpi buruk yang panjang bagi rombongan. Mereka dipaksa bergerak taktis di bawah bayang-bayang malam tanpa boleh memicu atensi dari kawanan *infected*. Namun, membawa rombongan besar yang berisi seratus orang lebih dengan kondisi mental yang guncang membuat senyap menjadi sebuah kemewahan yang mustahil didapat.

Suara tangisan tertahan dari anak-anak sesekali membelah malam, disusul oleh keluhan para orang tua yang fisiknya mulai digerogoti kelelahan ekstrem. Beberapa korban luka dari pertempuran pagi tadi bahkan harus dipapah bergantian oleh penyintas yang sehat. Ritme kecepatan berjalan rombongan ini sangat lambat, dan dalam kamus kiamat zombi, lambat adalah sinonim dari kematian.

Kira-kira menjelang tengah malam, langkah kaki rombongan akhirnya tiba di sebuah kawasan industri tua di pinggiran kota. Jajaran bangunan pabrik dan gudang kontainer raksasa berdiri angkuh di kiri-kanan jalan layaknya siluet monster mati. Gelap, kosong, dan luar biasa mencekam.

Kapten Rendra mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat berhenti. "Kita istirahat di sini. Sepuluh menit saja untuk atur napas."

Suara helaan napas lega seketika terdengar bersahut-sahutan dari barisan pengungsi yang langsung ambruk menjatuhkan diri di atas aspal kering jalanan. Mereka benar-benar sudah berada di batas akhir ketahanan fisik.

Namun, Damar tidak bisa membiarkan dirinya rileks. Radar kewaspadaannya justru kian berdenyut kencang, mengirimkan sinyal bahaya yang familier ke dalam benaknya—sebuah perasaan mengganjal yang sama persis seperti sesaat sebelum malapetaka besar datang menghantam.

Dan benar saja, sedetik kemudian, indra pendengarannya menangkap gema suara itu. Sebuah lolongan parau yang meliuk-liuk tajam membelah sunyi malam dari arah kejauhan.

*AWWWWWWWHHHHHH—*

Sekujur tubuh Damar seketika menegang sempurna. Di sisinya, Alya juga langsung menegakkan posisi duduknya, cengkeraman tangannya pada tongkat aluminium mengeras. "Kamu denger itu, Mar?"

Damar mengangguk kaku, matanya bergerak dinamis menyisir kegelapan gang pabrik. "Enya, Al. Loba... banyak ini mah, bukan cuma satu."

Hanya berselang beberapa fragmen detik, suara lolongan serupa menyusul bersahut-sahutan dari arah timur, barat, dan selatan, seolah sedang membentuk sebuah formasi kepungan radial yang rapi.

"Situasi buruk! Bersiap!" gumam salah seorang tentara pengawal dengan nada panik sembari mengokang senapannya.

Dari balik kepekatan bayang-bayang kontainer karat, pendar cahaya merah mulai bermunculan satu per satu. Puluhan pasang mata merah menyala menatap lapar ke arah rombongan manusia, dan jumlahnya kian detik kian bertambah padat merayap keluar.

Itu adalah kawanan anjing mutasi. Ukuran tubuh monster berkaki empat ini jauh lebih masif dibanding anjing normal di dunia lama, bahkan beberapa di antaranya memiliki postur tegap yang menyerupai serigala hutan utara. Kulit mereka tampak melepuh penuh borok bernanah, dengan jajaran gigi-gigi taring tajam yang mencuat keluar dari balik moncong mereka yang terus meneteskan air liur kental berbau busuk. Mereka telah resmi mengepung rombongan pengungsi.

"Mundur... mundur perlahan, jangan ada yang bikin gerakan mengejutkan..." instruksi Rendra dengan suara bergetar rendah.

Namun, seekor anjing mutasi berukuran paling besar di barisan depan tiba-tiba mengeluarkan geraman berat, lalu melesat maju menerjang tanpa peringatan.

"Tembak! Serang makhluk itu!"

Kekacauan masal jilid dua kembali pecah berantakan di kawasan industri tua tersebut. Kawanan anjing mutasi itu menghambur beringas dari segala arah mata angin. Berbeda dengan pergerakan lamban khas *infected* manusia, makhluk berkaki empat ini memiliki kecepatan dan kelincahan motorik yang berkali-kali lipat lebih superior, membuat mereka menjadi mesin pembunuh yang jauh lebih efisien.

Seorang pengungsi pria di barisan tengah langsung ambruk ke aspal saat seekor anjing mutasi berhasil menggigit dalam-dalam bagian lengan kanannya, menyeret tubuh pria itu ke dalam kegelapan jalan. Jeritan minta tolongnya menggema memilukan.

Damar bergerak nekat, melompat maju lalu mengayunkan linggis besinya sekuat tenaga ke arah kepala anjing yang sedang menyeret korban tersebut.

*BRAKK!*

Hantaman telak itu sukses membuat tengkorak si hewan mutasi retak, melontarkannya beberapa meter ke samping. Namun belum sempat Damar membantu si korban berdiri, dua ekor anjing mutasi lainnya sudah melesat dari arah belakang rongsokan truk, siap menerkam lehernya.

Alya bergerak tak kalah taktis. Dengan lompatan cepat, tongkat aluminiumnya berdesing keras di udara, menghantam telak bagian rahang bawah salah satu anjing mutasi hingga terdengar bunyi patahan tulang yang renyah.

*CRAAKK!*

Namun, gelombang serangan hewan-hewan jahanam ini seolah tidak ada habisnya. Jumlah mereka terlalu dominan untuk dihadapi oleh tim pengawal yang sudah kelelahan.

"KITA HARUS LARI! JANGAN BERTAHAN DI SINI!" teriak Rendra memberi komando mutlak.

Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam panjang itu, seluruh sisa-sisa formasi rombongan pengungsi benar-benar pecah berantakan. Mereka semua berlari tunggang-langgang menyelamatkan nyawa masing-masing, meninggalkan kawasan industri tua menuju bentangan jalan raya lintas kota yang hancur lebur.

Di belakang mereka, kawanan anjing mutasi masih terus mengejar dengan kecepatan penuh. Sementara dari arah depan jalan raya, erangan-erangan parau khas *infected* manusia mulai terdengar bersahut-sahutan, tertarik oleh suara riuh kegaduhan yang mereka ciptakan.

Malam itu, dunia resmi menggelar panggung neraka bagi mereka. Di barisan depan, jajaran zombi siap menyambut dengan rahang terbuka; di barisan belakang, kawanan anjing mutasi siap merobek daging mereka; sementara di sisi kiri dan kanan, hanya ada reruntuhan bangunan beton yang runtuh terkunci.

Tepat di saat sisa-sisa harapan rombongan mulai terkikis habis oleh deru napas maut, sebuah gema raungan mesin silinder besar mendadak membelah kebisingan malam dari arah kejauhan.

*GRRRRRRMMM!! GRRRRRRMMM!!*

Suara bising yang kasar itu sontak membuat puluhan kepala refleks menoleh. Dari balik tikungan gelap jalan raya yang mati, seonggok siluet truk fuso modifikasi berukuran masif muncul mendobrak kegelapan dengan kecepatan tinggi. Sepasang lampu tembak di bagian atas kabinnya menyala benderang, memuntahkan sorot cahaya putih yang menyapu bersih hamparan aspal penuh mayat hidup.

Tanpa mengurangi kecepatan barang satu kilometer per jam pun, moncong truk berbalut pelat besi bumper *custom* itu menghantam barisan *infected* yang merubung di tengah jalan.

*DUK! DUK! DUK!*

Tubuh-tubuh membusuk itu seketika hancur, terpental ke udara layaknya boneka perca yang rusak dihantam gada besi. Truk itu melakukan manuver *drift* kasar, memutar posisinya hingga bagian bak belakang yang terbuka menghadap tepat di depan rombongan Damar.

"MASUK!!"

Seorang pria bertubuh tegap tampak berdiri kokoh di atas kabin truk, sepasang tangannya lincah mengokang sebilah senapan serbu otomatis. Teriakan pria itu terdengar menggelegar, sarat akan otoritas yang tegas dan tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi siapa pun untuk ragu.

"MASUK SEKARANG JUGA KALAU KALEAN MASIH MAU LIHAT BESOK PAGI!!"

Seluruh pengungsi sempat terpaku mematung selama satu sekon yang krusial. Tak ada satu pun orang di dalam rombongan kamp yang mengenali wajah pria asing tersebut. Di dunia yang sudah gila ini, tidak ada jaminan apakah uluran tangan malam ini adalah sebuah pertolongan tulus atau justru sekadar umpan jebakan baru model Arman jilid dua.

Namun, di belakang mereka, gema lolongan kawanan anjing mutasi kian melengking dekat, sementara di sektor depan, barisan *infected* mulai merapat menutup satu-satunya jalur evakuasi.

"Naik! Semuanya naik sekarang juga!" perintah Kapten Rendra, memberikan legitimasi mutlak.

Komando itu sudah lebih dari cukup untuk memicu sisa-sisa energi ratusan orang. Satu per satu pengungsi berlari kesetanan menuju buritan truk. Alya menjadi orang pertama yang berhasil melompat naik ke atas bak besi, dengan sigap ia mengulurkan tangan atletisnya, menarik tubuh para lansia dan wanita paruh baya agar bisa naik lebih cepat.

Damar yang berada di barisan bawah menyambar kerah jaket seorang anak kecil yang hampir saja jatuh terinjak massa panik, lalu menyurungkannya ke atas dek bak truk dengan satu hentakan bertenaga.

Di atas kabin, senapan pria asing itu mulai memuntahkan badai timbal tanpa ampun.

*DOR! DOR! DOR!*

Rentetan peluru tajam melesat akurat, menghantam dada kawanan anjing mutasi yang mencoba melompat ke arah roda truk. "Jangan ada yang berhenti melangkah! Terus naik!" teriaknya lagi, mengabaikan selongsong peluru yang berdentang jatuh di atas atap kabin.

Damar melempar pandangannya ke belakang, memastikan tidak ada lagi pengungsi yang tertinggal di aspal sebelum akhirnya ia melakukan lompatan nekat ke atas bak truk di detik-detik terakhir. Begitu sepasang sepatunya mendarat kaku, pintu besi bak belakang langsung ditarik paksa oleh dua orang tentara.

*BRAKK!*

Truk fuso itu seketika menderu liar, bannya berdecit hebat memuntahkan asap karet sebelum akhirnya melesat cepat membelah malam, meninggalkan distrik industri tua yang kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi neraka jahanam di belakang mereka.

Berselang tiga puluh menit kemudian, ritme guncangan truk mulai berangsur stabil. Siluet lanskap kota yang membara digulung api perlahan mengecil, menjelma menjadi titik-titik merah redup di kaki langit yang kian menjauh.

Di dalam bak truk yang sempit dan berbau solar itu, tak ada satu pun jiwa yang berani membuka suara untuk memulai obrolan. Yang terdengar hanyalah harmoni muram dari deru napas berat yang tersengal-sengal, berbaur dengan derit friksi logam kendaraan yang berayun ritmis. Sebagian wanita tampak menangis tanpa suara di pojokan, mendekap anak-anak mereka yang gemetar, sementara sisanya hanya mampu menatap kosong ke arah langit malam dengan pandangan mata yang telah kehilangan binar kehidupan.

Damar duduk menyandarkan punggungnya pada dinding bak besi yang dingin, sepasang jemarinya masih melingkar erat memeluk gagang linggis yang berlumuran darah kering. Alya duduk tepat di sisi kirinya, meluruskan kedua kakinya yang tampak kaku akibat kelelahan ekstrem.

"Gila..." gumam salah seorang pengungsi pria di dekat mereka, suaranya bergetar parah karena syok. "Kita beneran selamat... atau sebenarnya cuma kebetulan pindah ke tempat mati yang baru?"

Pertanyaan retoris itu menggantung di udara tanpa ada yang berniat menjawab. Terlalu jujur, dan terlalu menakutkan untuk dikuliti faktanya malam ini.

Laju truk fuso itu akhirnya berangsur melambat sebelum akhirnya mesin dieselnya dimatikan sepenuhnya di sebuah kawasan pinggiran kota yang berbatasan dengan distrik pergudangan tua. Struktur jajaran gudang logistik berukuran masif berdiri tegap di sekeliling mereka, diselimuti kegelapan yang pekat. Kawasan ini dikelilingi oleh barikade pagar besi tinggi kokoh; meski di beberapa sudut tampak bercak karat, ukurannya yang masif setidaknya masih sanggup memberikan jaminan pertahanan fisik yang layak.

"Turun semuanya," suara berat pria penyelamat tadi terdengar berseru dari arah depan kabin.

Satu per satu pengungsi mulai merosot turun melewati pintu bak belakang dengan tubuh yang lemas. Begitu kedua telapak bot Damar kembali menyentuh permukaan tanah gembur, indra taktisnya langsung memberikan sebuah kesimpulan cepat: tempat ini jelas bukan surga perlindungan yang sempurna, namun jika dibandingkan dengan pusat kota yang baru saja mereka tinggalkan, area pergudangan ini berkali-kali lipat lebih manusiawi untuk dijadikan tempat transit.

Pria bersenjata itu melangkah turun terakhir dari pintu kabin kemudi. Postur tubuhnya luar biasa tinggi besar dengan guratan wajah yang keras terpahat oleh kerasnya jalanan—tipikal manusia tangguh yang sudah kenyang bertahan hidup sendirian di tengah kiamat tanpa bantuan kelompok.

Kapten Rendra berjalan tegap menghampirinya, lalu mengulurkan tangan kanan dengan gestur hormat formal militer. "Terima kasih atas bantuan instannya, Bung. Kalau tidak ada truk Anda, pasukan saya sudah habis malam ini."

Pria itu menyambut jabat tangan Rendra dengan cengkeraman singkat, lalu mengangguk datar. "Jangan berterima kasih dulu," sahutnya dengan nada suara yang bariton tanpa riak emosi berlebih. "Tempat yang saya kelola ini bukan surga pengungsian yang mewah. Cuma sekadar bunker seng biar nggak digigit zombi."

Namun, tepat sebelum untaian percikan obrolan taktis itu berlanjut ke arah negosiasi logistik, sebuah decit engsel pintu besi gudang utama terdengar bergeser pelan. Sebuah vokal suara kecil yang jernih merembes keluar dari balik celah remang.

"Papa..."

Seketika itu juga, seluruh pasang mata di halaman gudang refleks menoleh ke arah sumber suara. Seorang anak perempuan berukuran tubuh mungil tampak berdiri malu-malu di ambang pintu besi yang besar. Usianya diperkirakan baru menginjak sekitar tujuh tahun, tenggelam di dalam balutan jaket *hoodie* berwarna merah terang yang ukurannya tampak terlalu besar untuk tubuh kecilnya. Wajah anak itu tampak lelah dan kuyu, namun sepasang bola matanya langsung berbinar benderang memancarkan binar kebahagiaan begitu mendapati sosok pria tegap di depan truk.

"Papa!!" jerit anak kecil itu girang, mengabaikan kerumunan orang asing di halaman. Ia berlari kecil dengan langkah kaki yang riang.

Dan pemandangan berikutnya sukses membuat Damar tertegun. Garis-gari wajah pria asing yang siang tadi tampak begitu sangar, keras, dan dingin seketika runtuh berantakan tanpa sisa. Pria itu buru-buru menjatuhkan kedua lututnya ke tanah, merendahkan postur tubuhnya sembari membuka kedua belah lengannya lebar-lebar untuk menyambut dekapan hangat sang anak. Ia merengkuh tubuh mungil itu dengan tingkat kehati-hatian yang luar biasa tinggi, seolah sedang mendekap barang pecah belah paling berharga di muka bumi.

"Rania..." bisik pria itu lirih, suaranya kali ini bergeser menjadi begitu lembut dan sarat akan emosi kebapakan yang kental.

"Aku pikir... Papa nggak bakal pulang lagi malam ini..." ucap si anak kecil sembari menyembunyikan wajahnya di lipatan leher sang ayah.

Pria itu mengusap punggung anaknya dengan telapak tangannya yang kasar. "Papa di sini, Sayang. Papa selalu pulang."

"Janji ya, Pa?"

"Iya, Papa janji."

Di barisan belakang, Damar dan Alya hanya bisa berdiri diam bergeming, menyaksikan fragmen drama keluarga kecil itu dari kejauhan dalam keheningan yang pekat. Ada sebuah denyut rasa hangat sekaligus sesak yang mendadak memenuhi rongga dada Damar. Sesuatu yang bukan lahir dari rasa takut terhadap zombi, melainkan sebuah realisasi emosional yang menampar kesadarannya; bahwa di tengah dunia yang sudah mati, hancur lebur, dan kehilangan kompas moral ini, ternyata masih ada segelintir manusia yang memilih untuk terus memaksakan diri bertahan hidup bukan demi ego keselamatan diri mereka sendiri, melainkan demi menjadi perisai bagi nyawa orang lain.

Alya di sisinya tampak menatap lekat-lekat ke arah sosok anak perempuan berjaket merah itu dengan pandangan mata yang emosional, seolah teringat sesuatu dari masa lalunya sendiri sebelum dunia hancur.

Damar yang menyadari perubahan raut wajah itu melirik pelan. "Kunaon, Al? Kok melamun?"

Alya tersentak kecil, lalu buru-buru membuang muka sambil mengembuskan napas pendek dari hidungnya. "Nggak apa-apa. Cuma... iri aja lihatnya. Di saat kayak gini, dia masih punya alasan buat pulang."

Damar menyunggingkan senyum tipis yang hambar, namun ia memilih untuk tidak melontarkan kalimat balasan apa pun untuk menjaga privasi temannya itu.

Pria bertubuh tegap itu akhirnya kembali bangkit berdiri, menggendong anak perempuannya di satu lengan sementara tangan kirinya kembali menyambar senapan serbunya. Ia memutar tubuh, mengedarkan sepasang matanya yang tajam untuk menyapu wajah para pengungsi baru di halamannya satu per satu dengan wibawa yang mutlak.

"Nama saya Rangga. Rangga Wicaksana," ucapnya memperkenalkan diri dengan intonasi yang tegas. Ia mengusap puncak kepala anaknya dengan gerakan lembut. "Dan ini anak perempuan saya... Rania."

Malam yang dingin itu, di bawah lindungan atap seng gudang tua pinggiran kota, tanpa pernah disadari oleh satu pun jiwa yang ada di sana... Damar dan Alya baru saja resmi mengetuk pintu gerbang dari sebuah fase baru dalam lembar perjalanan hidup mereka. Ini bukan lagi sekadar urusan primitif tentang bagaimana cara berlari menghindari terkaman *infected* di jalanan kota; melainkan sebuah langkah awal untuk masuk ke dalam pusaran dinamika dunia yang jauh lebih masif. Sebuah dunia baru yang masih menyisakan puing-puing kemanusiaan, namun sekaligus menyimpan tumpukan konflik interaksi sosial yang berkali-kali lipat jauh lebih rumit dan berbahaya dibanding sekadar menghadapi gigitan mayat hidup.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!