NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan cemburu arman

Tatapannya tidak berubah. Sepasang mata yang kini menatap Arman dari seberang kerumunan itu masih membawa dingin yang sama persis seperti dua tahun lalu di kamar kos yang sempit itu. Sepasang mata yang menguras seluruh keberanian Arman hingga tak bersisa.

​Di antara riuhnya suara mahasiswa dan deru mesin bus, tatapan Kanaya seolah mengisyaratkan sebuah garis pembatas yang tebal dan mutlak kepada Arman: “Kita tidak pernah saling kenal.”

​Tidak ada riak dendam yang meledak-ledak, tidak ada raut terkejut yang berlebihan. Kanaya hanya menatapnya lurus selama beberapa detik, sebelum akhirnya memutus kontak mata itu dengan sangat tenang—seolah-olah Arman hanyalah seonggok benda mati atau orang asing yang kebetulan lewat di depannya. Perempuan itu kembali melangkah, menghampiri dosen pembimbing lapangan untuk mengumpulkan berkas tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang.

​Sementara itu, di ujung bus, Arman mematung dengan tangan yang masih menggantung di udara, menahan sekotak kardus logistik. Dadanya mendadak dihantam rasa sesak yang luar biasa, persis seperti malam ia diusir pergi.

​Dua tahun telah berlalu, namun dinginnya tatapan Kanaya membuktikan bahwa waktu tidak pernah benar-benar menghapus luka itu. Sial bagi Arman, selama satu bulan penuh ke depan, di desa terpencil yang jauh dari mana-mana, ia harus berada di satu tempat yang sama dengan wanita yang dunianya telah ia hancurkan, namun kini harus ia anggap sebagai orang asing yang tak pernah ia kenal.

Setelah semua perlengkapan masing-masing kelompok selesai didata, kardus-kardus logistik dan ransel-ransel besar mulai dimasukkan ke dalam bagasi bus kecil. Kendaraan itulah yang akan membawa ke-12 anggota kelompok mereka menuju lokasi pengabdian.

​Di dalam bus berkapasitas pas-pasan itu, atmosfer terasa riuh oleh candaan anggota lain yang mulai saling akrab berkenalan. Namun, tidak bagi Kanaya dan Arman. Mereka berdua menciptakan dunia sunyi mereka masing-masing, terpisahkan oleh barisan kursi dan jarak tak kasat mata yang teramat jauh.

​Kanaya memilih duduk di kursi bagian tengah, tepat di samping jendela. Ia langsung memasang earphone ke telinganya, sengaja melempar pandangannya keluar kaca untuk menatap jalanan yang mulai bergerak menjauh. Baginya, jendela itu adalah benteng terbaik untuk memisahkan diri dari sisa anggota kelompok—terutama dari satu orang yang kehadirannya terus mengusik ketenangannya.

​Sementara itu, Arman memilih posisi di bangku paling belakang. Dari sudut paling pojok itu, Arman bisa melihat punggung Kanaya dan rambut sebahunya yang bergerak kecil mengikuti guncangan bus. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir empat jam tersebut, Arman lebih banyak diam. Matanya sesekali menatap ke arah depan, memandangi sosok Kanaya dari belakang dengan perasaan campur aduk: rindu, bersalah, dan sesak yang kembali merayap di dadanya.

​Bus kecil itu terus melaju membelah jalanan kota yang perlahan berganti menjadi hamparan hijau dan perbukitan yang sepi. Di dalam ruang sempit yang terus berguncang itu, empat jam perjalanan terasa berjalan begitu lambat bagi dua orang yang pura-pura saling asing tersebut.

Di antara riuhnya obrolan di dalam bus, paras cantik Kanaya—dengan wajahnya yang bersih, tatapan matanya yang tenang, dan rambut sebahu yang membingkai wajahnya dengan pas—rupanya menarik perhatian seseorang sejak awal mereka naik. Dialah Wisnu, ketua kelompok KKN mereka yang berasal dari jurusan Ahli Gizi.

​Melihat bangku di sebelah Kanaya masih kosong, Wisnu memanfaatkan kesempatan itu. Laki-laki berwajah ramah dan berpenampilan rapi itu melangkah menyusuri lorong bus, lalu berhenti tepat di samping kursi Kanaya.

​"Hai, boleh duduk di sini?" tanya Wisnu sopan, sambil mengetuk pelan sandaran kursi untuk menarik perhatian Kanaya.

​Kanaya yang merasakan kehadiran seseorang langsung melepas sebelah earphone-nya. Ia mendongak, lalu memberikan senyum tipis yang formal namun tetap terlihat manis. "Oh, iya, silakan."

​Wisnu tersenyum lega lalu menduduki kursi kosong itu. Ia mengulurkan tangannya dengan percaya diri namun tetap menjaga kesopanan. "Kenalin, aku Wisnu dari Gizi. Kebetulan di kelompok ini aku diamanahin jadi ketua. Biar perjalanan empat jam ini nggak kerasa garing, kayaknya kita harus mulai kenalan, nih."

​Kanaya menyambut uluran tangan itu sekilas. "Kanaya. Dari jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)."

​"Wah, pas banget! Berarti nanti kamu yang bakal jadi garda terdepan buat program kerja kita di Sekolah Dasar sana," ujar Wisnu antusias, mencoba mencairkan suasana dengan obrolan yang santai. Tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan rasa terpukau pada ketenangan yang dipancarkan oleh Kanaya.

​Sementara itu, dari bangku paling belakang, Arman menyaksikan seluruh pemandangan itu. Dadanya mendadak terasa dihantam oleh rasa cemburu dan sesak yang luar biasa. Melihat laki-laki lain duduk begitu dekat dengan Kanaya, melihat Kanaya memberikan senyum—meski tipis—kepada orang lain, membuat tangan Arman tanpa sadar meremas kuat pinggiran jok bus di depannya.

​Arman hanya bisa menahan napas dalam-dalam di pojok bus yang gelap, menyadari pahitnya kenyataan bahwa kini ia tidak lagi memiliki hak bahkan hanya untuk sekadar menyapa Kanaya seperti yang dilakukan Wisnu.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!