Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Citra Sengaja Menantang
Bahlil menyadari perubahan itu. Ia tahu kepercayaan istrinya hancur, dan ia harus berusaha keras memulihkannya. Ia sering tersenyum, berusaha melucu, atau menanyakan hal ringan, meski jawabannya hanya diam atau anggukan.
"Hari ini panas banget ya? Kamu nggak mau jalan-jalan keluar sebentar? Kita cari minum es aja, aku yang traktir," ajak Bahlil sambil tersenyum lebar, berusaha mencairkan suasana.
"Nggak mau. Capek, mending di rumah aja," jawab Puann singkat, lalu duduk di kursi teras sambil memainkan ponsel, memunggungi suaminya.
Rasa cemburu masih sering muncul di hati Puann. Setiap kali Bahlil berangkat kerja dengan pakaian rapi dan wangi, Puann bertanya dalam hati apakah suaminya akan bertemu Citra lagi. Ia ingin bertanya atau melarang, namun gengsi dan rasa sakit hati menahannya. Ia tidak mau terlihat peduli pada laki-laki yang sudah membohonginya sejak lama.
Sore itu, Bahlil pulang agak terlambat. Ia masuk rumah dengan terburu-buru, lalu langsung menuju ruang depan tempat mobilnya terparkir. Ia mengambil kotak persegi panjang berbungkus kertas mengkilap, lalu menyembunyikannya di balik baju kerja sebelum masuk kembali.
Gerakan itu terlihat jelas oleh Puann yang berdiri di dekat jendela dapur. Jantungnya berdebar kencang. Kotak itu tampak mahal dan indah, bukan barang kebutuhan rumah tangga biasa.
"Kamu tadi ambil apa di mobil?" tanya Puann langsung, suaranya terdengar biasa saja tapi matanya menatap tajam ke arah tangan Bahlil yang menyembunyikan benda itu di belakang punggung.
"Eh, nggak ada apa-apa kok. Cuma ... barang kerjaan aja," jawab Bahlil sedikit gugup, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan berjalan menuju kamar.
Puann tidak percaya. Ia tahu bungkusan seperti itu adalah kado, biasanya berisi perhiasan, pakaian, atau barang berharga. Pikirannya langsung tertuju pada Citra. Apakah ini hadiah untuk wanita itu?
Apakah mereka masih berhubungan diam-diam?
Malam harinya, Bahlil sudah tertidur lelap di sampingnya, namun Puann sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Rasa penasaran dan curiga menggerogoti hatinya. Ia bangun perlahan, lalu berjalan ke ruang depan tempat mobil diparkir.
Ia membuka pintu mobil yang tidak dikunci dengan hati-hati. Di kursi belakang, tepat di bawah jaket kerja Bahlil, kotak itu tergeletak sama seperti sore tadi. Tangannya gemetar saat mengambil kotak itu dan membuka sedikit ujung pembungkusnya.
Di dalamnya terlihat jelas kalung emas berkilau dengan liontin berbentuk hati yang indah dan mewah. Harganya pasti sangat mahal, jauh melebihi uang belanja mereka berbulan-bulan.
Puann menutup kotak itu kembali dengan kasar. Matanya memanas, dadanya sesak menahan amarah dan kekecewaan yang kembali bangkit. Dugaan ternyata benar. Bahlil tidak hanya membohonginya soal harta, tapi masih memberi hadiah mewah untuk perempuan lain, sementara ia bertahan dalam dingin dan kesepian di rumah ini.
Ia masuk kembali ke kamar dengan langkah berat. Melihat wajah Bahlil yang tertidur pulas, Puann makin merasa asing dan kecewa. Hadiah mahal itu bukan untuknya. Pertanyaan besar kembali muncul di benaknya, untuk siapa sebenarnya benda itu?
...***...
Pagi belum terlalu terang, Puann sudah bangun lebih dulu. Ia duduk di pinggir kasur, menatap punggung Bahlil yang masih tidur lelap. Bayangan kalung mahal yang ditemukannya semalam terus terbayang, membuat dadanya semakin sesak.
Begitu Bahlil bangun dan bersiap berangkat kerja, Puann sudah berdiri di dekat pintu dengan wajah dingin. Ia tidak bertanya langsung, namun tatapannya menyelidik seolah ingin menembus pikiran suaminya.
"Kamu berangkatnya pagi banget ya? Ada acara penting ya sampai harus siap-siap rapi begini?" tanya Puann dengan nada sarkas.
"Iya, ada acara rapat dan serah terima barang di hotel. Kamu nggak usah khawatir, nanti sore aku pulang cepat kok," jawab Bahlil santai sambil merapikan kerah bajunya.
"Serah terima barang? Barang apa? Jangan-jangan barang berkilauan yang mahal harganya itu ya?" celetuk Puann pelan, cukup terdengar oleh Bahlil.
Bahlil berhenti bergerak sejenak, lalu menoleh dengan tatapan bingung. Namun sebelum ia sempat bertanya, Puann sudah berbalik badan dan masuk ke dapur.
Sepanjang hari itu, pikiran Puann kacau balau. Ia tidak tenang membayangkan ke mana dan dengan siapa Bahlil pergi. Akhirnya, rasa penasaran dan ketidakpercayaan itu mengalahkan egonya. Puann memutuskan menyusul ke hotel tempat Bahlil bekerja.
Sesampainya di sana, lobi tampak ramai dan meriah. Ada dekorasi bunga dan pita di berbagai sudut, tanda sedang ada acara besar. Dari kejauhan, Puann melihat Bahlil berdiri di tengah ruangan sambil memegang kotak persegi panjang yang semalam ia temukan.
Di sampingnya, Citra berdiri dengan penampilan sangat cantik dan seksi. Wanita itu tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Bahlil, tidak peduli siapa saja yang melihat.
"Terima kasih banyak ya, Mas Bahlil. Hadiah ini benar-benar indah banget. Aku nggak nyangka kamu seperhatian ini sama aku," ucap Citra dengan suara lantang, sengaja agar orang-orang di sekitar mendengar.
Citra memegang kotak itu erat, lalu mengelus permukaannya. Tatapannya ke arah Bahlil penuh arti, seperti sedang memamerkan kemenangan.
"Itu kan hadiah kenang-kenangan dari manajemen hotel buat kamu sebagai karyawan terbaik tahun ini, Mbak Citra. Bukan dari aku pribadi, lho," jawab Bahlil berusaha menjelaskan, nada bicaranya terdengar canggung.
"Sama saja dong, kan kamu yang menyerahkannya atas nama perusahaan. Berarti ini ada jasa kamu juga di dalamnya. Aku bakal simpan baik-baik, bahkan bakal aku pakai terus biar kamu selalu ingat sama aku," sahut Citra lagi, makin berani dan tidak tahu malu.
Puann yang melihat dan mendengar itu dari balik persembunyian, rasanya darahnya mendidih. Dugaan benar, barang mahal itu memang untuk Citra. Meski alasannya urusan kantor, sikap dan ucapan Citra membuat Puann merasa ditampar berulang kali.