Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Jantung yang Tertinggal di Tirta Kencana
Motor sport hitam legam itu melesat kesetanan membelah jalan raya Yogyakerto. Rama sama sekali tidak memedulikan umpatan klakson dari mobil-mobil yang ia salip dengan jarak kurang dari satu sentimeter. Lampu merah diterobosnya begitu saja. Otaknya sudah kehilangan fungsi rasional. Di dalam kepalanya, hanya ada satu skenario mengerikan yang terus berputar seperti kaset rusak: Tora menemukan Nayla lebih dulu.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti duri yang menusuk paru-parunya. Tadi, sebelum ia meninggalkan kawasan industri mati, ia sempat mencoba menelepon nomor Nayla. Sekali, dua kali, tiga kali... tidak ada jawaban. Hanya nada sambung monoton yang membuat dada Rama semakin sesak. Apa gadis itu masih di jalan? Apa ojek online-nya dicegat oleh anggota Kobra Besi? Atau jangan-jangan, gadis itu tertidur dan tidak mendengar dering ponselnya?
Jalanan sore menuju kompleks perumahan Tirta Kencana terasa berkali-kali lipat lebih panjang dari biasanya. Langit Yogyakerto yang mendung mulai menitikkan gerimis tipis, menambah kesan suram pada suasana hati Rama. Tetesan air hujan menghantam kaca visor helmnya, tapi Rama tidak menurunkan kecepatannya sama sekali.
Begitu ban motornya berbelok kasar memasuki gerbang utama Tirta Kencana, Rama langsung memindai setiap sudut jalan. Blok M. Blok M nomor 12. Ia mengingat deretan alamat yang pernah Nayla sebutkan sepintas lalu.
Dari kejauhan, di depan sebuah pagar besi berwarna hitam, Rama melihat sebuah motor matic berjaket hijau khas ojek online baru saja berhenti. Penumpangnya turun, menyerahkan helm dan selembar uang. Penumpang itu mengenakan seragam putih abu-abu dengan kardigan kedodoran dan sebuah jilbab pashmina ungu pastel.
Rem berdecit keras memekakkan telinga. Rama membanting setir motornya dan berhenti tepat satu meter di belakang abang ojek tersebut. Ban motornya meninggalkan bekas hitam pekat di aspal yang mulai basah.
Abang ojek itu terlonjak kaget nyaris jatuh dari motornya, sementara Nayla yang baru saja membalikkan badan untuk membuka pagar rumahnya ikut membelalakkan mata.
"Ya Allah! Kaget saya, Mas! Kalau bawa motor yang bener dong!" omel si abang ojek panik, langsung tancap gas begitu Rama turun dari motor dengan aura yang menyeramkan.
Rama tidak memedulikan omelan itu. Ia mematikan mesin, menendang standar motor, dan turun dengan gerakan tergesa-gesa. Ia melepas helm full-face-nya dan melemparnya begitu saja ke atas jok. Kacamata minusnya tidak ada, rambutnya berantakan diterpa angin, dan napasnya memburu hebat. Dadanya naik turun dengan kasar. Matanya yang merah menatap Nayla dari atas sampai bawah, seolah memastikan tidak ada satu pun anggota tubuh gadis itu yang hilang.
"Rama?! Lo ngapain di—"
Belum sempat Nayla menyelesaikan kalimatnya, Rama melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka, dan langsung menarik bahu gadis itu. Tangannya mencengkeram lengan Nayla, cukup erat namun tidak sampai menyakiti.
"Lo nggak apa-apa?! Ada yang ngikutin lo di jalan?! Tadi lo lewat jalur mana?!" cecar Rama bertubi-tubi. Suaranya serak, bergetar, dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa telanjang.
Nayla mematung. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali, bingung sekaligus kaget melihat kondisi Rama. Bos preman yang biasanya tampil cool dan penuh perhitungan itu kini terlihat berantakan, basah oleh rintik gerimis, dan pucat pasi layaknya orang yang baru saja melihat hantu.
"Gue... gue nggak apa-apa, Ram," jawab Nayla pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Rama yang memancarkan teror murni. "Gue lewat jalan raya biasa, sesuai rute abang ojolnya. Nggak ada yang ngikutin gue. Lo... lo kenapa? Tangan lo gemetaran."
Mendengar pengakuan langsung dari bibir Nayla bahwa ia aman, seluruh tenaga yang menopang tubuh Rama seolah menguap begitu saja. Adrenalinnya anjlok ke titik nol.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh kelegaan yang menyesakkan dada, Rama menarik tubuh mungil Nayla dan mendekapnya. Pelukan itu terjadi begitu cepat dan impulsif. Rama membenamkan wajahnya di puncak kepala Nayla yang tertutup jilbab, menghirup aroma stroberi yang bercampur dengan bau hujan. Kedua tangannya melingkar erat di punggung gadis itu, merengkuhnya seolah Nayla adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai.
Nayla membeku seketika. Jantungnya berdentum gila-gilaan, menabrak tulang rusuknya hingga rasanya ingin melompat keluar. Tubuh tegap Rama yang basah dan bau asap knalpot itu mendekapnya dengan sangat protektif. Di tengah rintik hujan yang mulai menebal, dunia Nayla seakan berhenti berputar. Tangan gadis itu perlahan terangkat, dengan ragu menepuk-nepuk punggung Rama yang lebar.
"Ram... ini di depan rumah gue... kalau nyokap gue lihat, bisa digorok lo," bisik Nayla terbata-bata, berusaha mencairkan suasana meski suaranya terdengar sangat parau karena gugup yang luar biasa.
Rama melepaskan dekapannya perlahan, namun kedua tangannya masih bertahan di pundak gadis itu. Ia menunduk, menatap Nayla dengan tatapan yang membuat lutut Nayla terasa lemas.
"Gue telepon lo berkali-kali nggak lo angkat. Gue pikir lo udah..." kalimat Rama menggantung, ia tak sanggup menyuarakan skenario terburuk itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Bangsat. Gue bener-bener hampir gila tadi."
"HP gue di dalam tas, di-silent waktu di sekolah tadi dan belum gue ubah," jelas Nayla, kini raut wajahnya berubah serius. Ia menyadari kepanikan Rama bukanlah kepanikan tanpa alasan. "Ada apa, Ram? Apa yang terjadi pas lo narik umpan Kobra Besi tadi?"
Rama menarik napas panjang, menetralkan emosinya yang masih berantakan. "Gue berhasil nangkep mereka. Gue interogasi mereka di kawasan industri. Dan... tebakan lo benar, Nay. Tora nggak cuma nyari celah gue."
Rama menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Tora ngincer lo. Dia nyuruh kacung-kacungnya buat nyari tahu siapa orang terdekat gue di sekolah. Tora mau nyulik lo buat dijadiin jaminan biar gue mau serahin wilayah Wana Asri ke tangan dia."
Mata Nayla melebar sempurna. Fakta bahwa nyawanya kini secara resmi menjadi target incaran geng motor paling brutal di Yogyakerto akhirnya menghantam kesadarannya. Rasa dingin yang merayap di tengkuknya bukan berasal dari air hujan, melainkan dari rasa takut yang nyata.
Namun, bukannya menangis atau histeris, Nayla justru menarik napas dalam-dalam dan menegakkan bahunya. Gadis cerewet ini selalu punya cara aneh untuk menghadapi masalah.
"Wah. Ternyata gue sepenting itu ya sampai mau dijadiin sandera buat nuker wilayah?" gumam Nayla dengan nada sarkas, mencoba menutupi ketakutannya dengan tawa hambar. "Pesonanya anak baru emang nggak ada tandingannya."
Rama tidak tertawa. Wajahnya mengeras, rahangnya kembali menegang. "Ini bukan lelucon, Nayla. Nyawa lo taruhannya sekarang."
"Gue tahu," sahut Nayla cepat, membalas tatapan tajam Rama. "Terus lo maunya gue gimana? Nangis? Pindah ke luar angkasa? Nggak bisa, kan? Lagian, gue percaya sama babu gue. Lo nggak bakal biarin cecunguk-cecunguk itu nyentuh sehelai pun benang dari jilbab gue, kan?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan nada ringan, tapi kepercayaannya sangat absolut. Rama tertegun. Di saat gadis lain mungkin sudah menjauhinya dan menganggapnya sebagai pembawa sial, Nayla justru menyerahkan seluruh kepercayaannya pada seorang berandal sepertinya.
"Nggak akan ada yang bisa nyentuh lo selama gue masih napas," sumpah Rama, suaranya sangat berat dan penuh kepastian. "Mulai besok, lo nggak boleh selangkah pun jauh dari gue. Di sekolah, di perpustakaan, pas istirahat, lo harus ada di jarak pandang gue. Pas pulang, lo ikut gue atau naik mobil jemputan gue bareng Pak Maman. Nggak ada tawar-menawar."
"Dih, posesif banget," cibir Nayla, meski rona merah di pipinya semakin kentara menyaingi warna tomat. "Ini gue berasa punya bodyguard atau punya pacar overprotektif sih?"
Rama tak peduli dengan godaan itu. Ia mengambil helmnya dari atas jok motor. Hujan mulai turun lebih deras, membasahi kemeja putih dan jaket kulitnya.
"Masuk sana, udah hujan. Nanti lo sakit," perintah Rama lembut. "Kunci pintu rumah rapat-rapat. Malam ini gue bakal suruh beberapa anak The Ghost nyamar buat jaga-jaga di ujung gang blok rumah lo. Jangan kaget kalau ada tukang nasi goreng nongkrong sampai pagi di depan gang sana."
Nayla terkekeh pelan. Ia mengangguk, lalu berbalik membuka pagar rumahnya. Namun sebelum masuk ke halaman, ia menoleh kembali.
"Ram!" panggil gadis itu di tengah suara rintik hujan.
Rama yang baru saja menstarter motornya langsung menoleh. "Apa?"
"Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut. Kalau lo sampai kenapa-napa, siapa yang mau jagain gue?" teriak Nayla sambil tersenyum manis, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah dan menutup pagar rapat-rapat.
Rama membeku sejenak di atas motornya. Senyum lebar tak tertahankan akhirnya terukir di wajahnya yang basah oleh hujan. Ancaman Tora memang menakutkan, tapi anehnya, Rama merasa ia memiliki kekuatan seribu kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Ia memasang helmnya, memacu motornya menembus derai hujan Yogyakerto dengan perasaan yang meluap-luap. Peperangan ini belum berakhir, tapi sekarang, ia memiliki alasan paling absolut untuk terus hidup dan memenangkannya.