NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam itu Seraphina tidak segera memejamkan mata setelah meninggalkan ruang baca. Rumah besar keluarga Halstrom sudah kembali tenang. Langkah para pelayan menghilang satu per satu, lampu beberapa ruangan mulai dipadamkan, dan suara dari lantai bawah perlahan lenyap bersama larutnya malam.

Namun di dalam kamarnya, pikirannya justru terasa semakin hidup.

Ia berdiri cukup lama di dekat jendela besar sambil memandang taman belakang yang gelap. Cahaya lampu taman memantul samar di dedaunan basah, sementara angin malam bergerak perlahan membuat tirai bergoyang kecil. Udara dingin menyentuh kulitnya, tetapi Seraphina hampir tidak merasakannya. Kepalanya dipenuhi terlalu banyak hal untuk memedulikan hal kecil seperti itu.

Selama ini ia terlalu fokus pada rasa sakit. Pada pengkhianatan yang terus menggerogoti pikirannya sejak kembali ke masa lalu. Pada pertanyaan tentang bagaimana orang-orang yang paling ia cintai bisa berdiri diam saat dirinya perlahan kehilangan nyawa di kehidupan sebelumnya.

Namun malam ini, setelah melihat perubahan sikap Lysandra dan Kael semakin jelas, ia mulai memahami sesuatu yang lebih besar.

Masalahnya bukan sekadar kebencian.

Bukan hanya soal hubungan keluarga yang rusak.

Semua itu berakar pada sesuatu yang jauh lebih dingin.

Harta.

Kekuasaan.

Dan rasa tamak yang tumbuh diam-diam selama bertahun-tahun.

Seraphina menutup matanya sejenak. Ia teringat kembali tatapan Darius sebelum dirinya mati. Tatapan pria itu begitu tenang, begitu dingin, seolah semua yang terjadi hanyalah bagian dari keputusan yang memang harus diambil. Saat itu ia terlalu lemah untuk memahami semuanya dengan jelas. Kini, semakin banyak potongan yang mulai tersusun di kepalanya.

Kalau ia ingin mengubah akhir hidupnya, maka ia tidak bisa hanya menjaga jarak secara emosional.

Ia harus mengambil kembali kendali.

Pelan-pelan Seraphina berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar. Lampu meja dinyalakan, menciptakan cahaya hangat di tengah ruangan yang redup. Tangannya membuka laptop tanpa ragu, lalu mulai mencari file-file lama yang selama ini hampir tidak pernah ia periksa secara serius.

Dulu, ia percaya semuanya aman.

Darius mengurus perusahaan.

Kael mulai membantu bisnis keluarga.

Ia sendiri lebih banyak mengatur rumah, menghadiri acara sosial, dan memastikan semuanya berjalan baik untuk keluarganya.

Sekarang pemikiran itu terasa begitu naif.

Tatapan Seraphina berubah lebih fokus ketika laporan keuangan perusahaan muncul di layar. Jemarinya bergerak pelan menggulir halaman demi halaman dengan teliti. Angka demi angka memenuhi layar, tetapi kali ini ia tidak membacanya sekilas seperti dulu.

Ia memperhatikan semuanya.

Setiap detail kecil.

Setiap perubahan angka.

Setiap nama yang muncul berulang.

Halstrom Holdings adalah perusahaan warisan keluarganya. Perusahaan itu dibangun oleh ayahnya selama puluhan tahun hingga menjadi salah satu nama besar yang disegani. Bahkan setelah menikah dengan Darius, kepemilikan terbesar tetap berada di tangan Seraphina.

Atau setidaknya begitu yang ia yakini selama ini.

Alisnya mulai berkerut samar ketika melihat beberapa perubahan dalam struktur saham. Tidak besar. Sangat kecil bahkan hampir tidak terlihat jika hanya diperiksa sekilas. Namun perubahan itu terjadi berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir.

Persentase tertentu berpindah perlahan.

Hak pengambilan keputusan mulai dibagi.

Dan nama yang terus muncul di hampir semua dokumen itu adalah Darius.

Seraphina menyandarkan tubuhnya ke kursi perlahan. Jantungnya tetap tenang, tetapi ada rasa dingin yang menjalar pelan di dadanya. Bukan karena terkejut. Lebih karena kesadaran bahwa semua ini ternyata sudah berjalan sangat lama.

Jauh sebelum kematiannya.

“Jadi kamu memang sudah menyiapkannya sejak dulu…” gumamnya lirih.

Ingatan lama muncul lagi. Beberapa kali Darius pernah membawakan dokumen untuk ditandatangani sambil tersenyum santai. Ia selalu berkata itu hanya prosedur bisnis biasa. Seraphina hampir tidak pernah membaca semuanya dengan teliti karena percaya penuh pada suaminya sendiri.

Sekarang ia ingin menertawakan kebodohannya di masa lalu.

Bukan karena ia lemah.

Melainkan karena ia terlalu yakin bahwa keluarganya tidak mungkin menyakitinya.

Seraphina kembali membuka dokumen lain. Kali ini rekening investasi dan catatan pengeluaran perusahaan keluarga. Matanya bergerak lebih cepat sekarang, mulai menangkap pola yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Ada beberapa transfer dalam jumlah besar menuju perusahaan kecil yang namanya asing. Nilainya tidak cukup besar untuk menarik perhatian dalam satu waktu, tetapi jika dijumlahkan…

Jumlahnya sangat banyak.

Perusahaan-perusahaan itu tampak legal. Semuanya memiliki laporan lengkap dan jalur transaksi yang rapi. Namun justru karena terlalu rapi, Seraphina mulai merasa curiga.

Semua ini terlihat seperti sesuatu yang sengaja disamarkan.

Ia membuka file tambahan, lalu menemukan beberapa dokumen kerja sama investasi yang bahkan tidak pernah ia ingat pernah menyetujuinya.

Bibirnya bergerak tipis.

Rasa muak terhadap dirinya sendiri perlahan muncul lagi.

Bagaimana bisa ia sebegitu percayanya?

Bagaimana bisa ia menyerahkan semuanya begitu saja?

Tangannya mengetuk meja pelan. Teratur. Berulang. Kebiasaan kecil yang selalu muncul saat dirinya sedang berpikir serius.

Kepalanya mulai menyusun kemungkinan demi kemungkinan.

Darius tidak bergerak secara gegabah. Ia melakukannya perlahan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sedikit demi sedikit mengambil akses. Sedikit demi sedikit memperluas kendali.

Dan pada akhirnya…

Dirinya hanya menjadi penghalang terakhir.

Persis seperti kehidupan sebelumnya.

Ingatan tentang malam kematiannya muncul lagi dengan begitu jelas hingga napas Seraphina sempat tertahan sesaat. Tubuhnya yang melemah. Lantai marmer yang dingin. Tatapan tanpa rasa bersalah dari orang-orang yang ia lindungi sepanjang hidupnya.

Kini semuanya terasa jauh lebih masuk akal.

Racun itu bukan keputusan mendadak.

Pengkhianatan itu sudah disiapkan lama.

Seraphina menutup laptop perlahan lalu menatap kosong ke depan. Ruangan itu sunyi, tetapi pikirannya bergerak semakin cepat. Kalau mereka menginginkan hartanya, maka ia akan memastikan semuanya kembali ke tangannya sebelum siapa pun sempat bergerak lebih jauh.

Dan kali ini, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Keesokan paginya Seraphina bangun lebih awal dari biasanya. Wajahnya terlihat tenang saat turun dari kamar, seolah tidak ada apa pun yang berubah. Para pelayan menyapanya seperti biasa dan ia membalas dengan anggukan kecil sebelum berjalan menuju bagian belakang rumah.

Di sana terdapat ruang arsip pribadi keluarga Halstrom.

Ruangan itu jarang dibuka. Hanya ada beberapa lemari besi besar dan rak dokumen yang tersusun rapi memenuhi dinding. Aroma kertas lama langsung terasa begitu pintu dibuka.

Seraphina berdiri beberapa detik di ambang pintu.

Ingatan tentang ayahnya muncul begitu saja.

Pria itu pernah berkata padanya dengan sangat serius, bertahun-tahun lalu.

“Jangan pernah menyerahkan seluruh kendali pada siapa pun. Bahkan pada orang yang kamu cintai.”

Saat itu Seraphina menganggap ucapan itu terlalu berlebihan. Ia percaya pernikahannya berbeda. Ia percaya Darius mencintainya.

Sekarang nasihat itu terasa seperti tamparan yang datang terlambat.

Ia membuka salah satu lemari besi perlahan. Map-map penting mulai dikeluarkan dan disusun rapi di atas meja besar. Surat saham perusahaan. Akta kepemilikan aset. Dokumen kuasa hukum. Semua diperiksa satu per satu dengan teliti.

Semakin lama ia membaca, semakin jelas satu kenyataan yang tidak bisa ia abaikan lagi.

Darius memiliki terlalu banyak akses.

Dan semua akses itu diberikan langsung olehnya sendiri.

Karena cinta.

Karena rasa percaya yang terlalu besar.

Namun cinta itu sudah habis.

Yang tersisa sekarang hanya kenyataan dingin yang harus ia hadapi.

Seraphina membuka satu dokumen terakhir, lalu berhenti cukup lama saat melihat tanda tangannya sendiri di bagian bawah halaman. Dokumen kuasa pengelolaan aset tambahan untuk Darius. Tanggalnya beberapa tahun sebelum kematiannya.

Tangannya perlahan menutup map itu kembali.

Tatapannya berubah semakin dingin.

Keputusan yang semalam mulai terbentuk kini menjadi jauh lebih jelas.

Semua harus kembali ke tangannya.

Seluruh akses.

Seluruh kendali.

Tanpa pengecualian.

Ia tidak bisa terus membiarkan Darius bergerak bebas di belakangnya. Tidak bisa lagi menunggu sampai semuanya terlambat. Langkah pertamanya bukan menyerang secara terbuka.

Melainkan mengambil kembali apa yang memang miliknya.

Diam-diam.

Tanpa membuat siapa pun curiga.

Seraphina menarik napas panjang sebelum mengambil ponselnya dari meja. Jemarinya berhenti sesaat di atas layar. Ada satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi.

Seseorang yang dulu sangat dipercaya ayahnya.

Pengacara keluarga lama yang pernah beberapa kali mengingatkannya untuk lebih berhati-hati terhadap urusan bisnis.

Namun saat itu Seraphina justru membela Darius.

Menganggap semua peringatan itu tidak perlu.

Sekarang ia merasa bodoh setiap kali mengingatnya.

Nama itu masih tersimpan di kontaknya.

Alden Verrow.

Seraphina menatap nama itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar pelan memenuhi ruangan sunyi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hingga akhirnya suara pria dewasa terdengar dari seberang.

“Seraphina?”

Nada keterkejutannya cukup jelas. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka berbicara.

Seraphina berjalan mendekati jendela sambil memandang taman luar rumah.

“Aku perlu bantuan,” ucapnya tenang.

Beberapa detik hening di seberang sana sebelum Alden kembali bicara.

“Bantuan seperti apa?”

Tatapan Seraphina perlahan menyipit tipis. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya bergerak jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.

“Mengenai sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan sejak lama.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Belum sekarang.

Namun untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Seraphina merasa dirinya benar-benar mulai bergerak maju.

Bukan hanya bertahan.

Bukan hanya menahan luka.

Melainkan mulai merebut kembali kendali atas hidupnya sendiri.

Dan kali ini…

Ia akan melakukannya diam-diam, tanpa memberi siapa pun kesempatan membaca langkahnya lebih dulu.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!