NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal penjara yang indah

Apartemen itu sunyi, hanya menyisakan deru pendingin ruangan yang terdengar samar di telingaku. Aku menatap gaun berwarna *navy* yang tergantung di pintu lemari. Gaun itu indah, sangat mahal, dan bagi orang lain, mungkin itu adalah impian. Bagiku? Itu adalah kostum untuk sandiwara yang tak pernah kupinta untuk dimainkan.

Pikiranku melayang mundur. Enam bulan lalu. Hari di mana duniaku yang sederhana mendadak runtuh dan digantikan oleh kontrak tak tertulis dengan pria bernama Charles.

Enam bulan lalu.

Rumah besar milik keluarga besar Charles, kediaman keluarga Utama, selalu membuatku merasa kerdil. Langit-langitnya terlalu tinggi, lampunya terlalu gemerlap, dan kesunyian di dalamnya terasa begitu menekan. Saat itu, aku datang bersama paman, satu-satunya kerabat yang tersisa setelah orang tuaku tiada. Aku hanya remaja berumur tujuh belas tahun yang sedang bingung mengapa kami harus datang ke tempat seformal ini hanya untuk makan malam.

Aku duduk di kursi kayu jati yang berat, meremas ujung rok bajuku yang—jujur saja—terasa sangat tidak pada tempatnya di antara karpet sutra dan lukisan harga miliaran.

"Andini," bisik Paman dengan nada cemas, "Tolong jaga sikapmu. Ini sangat penting untuk masa depan kita."

"Memangnya ada apa sih, Paman? Kenapa kita harus bertemu dengan CEO perusahaan besar?" tanyaku pelan, berusaha menahan rasa ingin tahu yang meledak-ledak.

Paman tidak sempat menjawab. Pintu ruang makan terbuka lebar, dan seorang pria berjalan masuk. Dia tidak berjalan, dia *memimpin* ruangan. Charles. Saat itu, dia tampak lebih muda—atau mungkin hanya karena dia belum menatapku dengan tatapan sedingin es seperti sekarang. Dia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, memperlihatkan jam tangan yang aku tahu harganya mungkin bisa membeli rumah kami.

Dia tidak melirik kami. Dia langsung menuju kursi utama, membiarkan pelayan menuangkan air ke gelasnya.

"Maaf membuat kalian menunggu," suaranya berat, datar, dan tidak terdengar seperti sebuah permintaan maaf yang tulus. Dia adalah definisi otoritas.

Selama makan malam, Charles hanya berbicara soal bisnis, angka, dan efisiensi. Aku hampir tertidur karena bosan sampai akhirnya kakek Charles—seorang pria tua dengan tatapan tajam yang menakutkan—meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras.

"Charles, cukup dengan bahasamu tentang profit. Kita di sini untuk membahas sesuatu yang lebih penting. Wasiat mendiang kakek Andini dan kakekmu."

Charles berhenti sejenak. Dia menatap kakeknya dengan dahi berkerut. "Saya tidak punya waktu untuk membicarakan nostalgia, Kakek."

"Ini bukan nostalgia. Ini utang janji," potong Kakeknya tegas. "Dua puluh tahun lalu, saat keluarga Andini membantu keluarga kita di saat terpuruk, kita berjanji untuk menjamin keamanan mereka. Dan satu-satunya cara untuk mengikat keluarga kita secara permanen, sekaligus melindungi aset yang akan diwariskan pada Andini, adalah melalui ikatan pernikahan."

Hening.

Aku tersedak air minumku. "Pernikahan?" tanyaku, suaraku sedikit melengking. "Saya masih SMA!"

Charles meletakkan gelasnya dengan perlahan. Dia menoleh padaku. Untuk pertama kalinya, matanya yang tajam mengunci pandanganku. Tidak ada emosi di sana. Hanya kalkulasi. Dia menatapku seolah-olah aku adalah variabel yang baru saja masuk ke dalam persamaan rumitnya.

"Saya tidak setuju," ucap Charles dingin. "Saya seorang CEO. Saya memiliki tanggung jawab terhadap ribuan karyawan. Saya tidak punya waktu untuk mengurus anak sekolah."

"Ini perintah, Charles. Dan wasiat ini mengikat hartamu," balas Kakeknya.

Charles terdiam. Rahangnya mengeras. Dia menatapku lagi, lebih lama kali ini. Dia melihat ke arah seragam sekolah yang masih kupakai karena aku baru saja pulang ekskul saat Paman menyeretku ke sini. Dia mendesah, sebuah desahan yang sarat dengan kekesalan.

"Baiklah," katanya tiba-tiba, membuatku terlonjak kaget. "Tapi ada syaratnya."

"Apa itu?" tanya Paman dengan penuh harap.

"Pernikahan ini rahasia. Sampai dia lulus. Saya tidak ingin kehidupan pribadi saya terganggu oleh gosip murahan atau masalah remaja di sekolahnya. Dia akan tinggal di apartemen saya, tapi dia harus menjalani hidupnya dengan normal. Jangan sampai ada yang tahu bahwa dia adalah istri seorang CEO."

"Charles!" seruku, tidak terima. "Kau bahkan belum bertanya padaku apakah aku mau!"

Charles berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekatiku, sampai tubuh tingginya membayangi posisiku yang duduk. Dia menunduk, menatapku dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.

"Apakah kau punya pilihan lain, Andini?" bisiknya pelan, cukup pelan agar hanya aku yang dengar. "Pamanmu terbelit utang besar. Harta warisanmu diincar banyak orang. Di luar sana, kau hanyalah mangsa. Di sini, kau adalah istriku. Pilihan ada di tanganmu. Menjadi orang asing yang hancur, atau menjadi istri seorang CEO dan aman?"

Hatiku mencelos. Dia benar. Aku terjebak. Dan di saat itulah, aku melihat kilatan kecil di matanya—bukan cinta, bukan benci, melainkan rasa kesal karena dia pun dipaksa melakukan ini.

"Aku akan menikah denganmu," jawabku dengan suara bergetar.

Itulah awal mula kami. Tidak ada cinta, tidak ada bunga, tidak ada lamaran romantis. Hanya kesepakatan dingin di atas meja makan kayu jati yang mahal.

Aku tersadar dari lamunanku. Aku masih berdiri di depan lemari, memegang gaun *navy* itu. Suara mobil Charles di bawah tadi masih terngiang. Dia benar-benar pria yang kaku, tapi entah kenapa, memori tentang tatapannya enam bulan lalu membuatku merasa sedikit... sedih?

Dia adalah pria yang terperangkap dalam tanggung jawab, sama sepertiku. Dia kehilangan masa mudanya untuk mengurus perusahaan, dan sekarang, dia harus mengurus "anak SMA" yang bahkan tidak dia kenal.

Aku menarik napas panjang, lalu mulai membuka resleting gaun itu. Malam ini, aku akan menjadi istrinya. Malam ini, aku akan kembali memainkan peran itu. Di balik seragam putih abu-abuku yang kulepas, tersimpan rahasia yang mungkin, entah bagaimana, suatu saat nanti tidak lagi terasa seperti beban.

"Andini!" suara Charles memanggil dari ruang tamu, suaranya terdengar tidak sabar.

"Iya! Sedang bersiap!" teriakku kembali.

Aku memakai gaun itu, menatap pantulanku di cermin. Gadis di cermin itu tampak dewasa, namun matanya masih menyimpan kepolosan yang kontras dengan dunia Charles yang gelap.

Pernikahan ini rahasia. Tapi, apakah rahasia akan selamanya tetap menjadi rahasia? Aku pun tidak tahu.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!