NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. Pelarian Zhit dan Pembebasan Raja Zion.

‎Melihat Jenderal terkuatnya musnah menjadi abu, Zhit tidak lagi mempedulikan martabatnya sebagai "Raja". Dengan tangan gemetar, ia menyentuh sebuah cincin kuno dengan permata hitam legam di jari manisnya sebuah artefak terkutuk pemberian Raja Iblis sebagai jaminan keselamatannya.

"Kau tidak akan mendapatkan kepalaku hari ini, Kurza!" teriak Zhit dengan suara pecah oleh ketakutan. Sebelum kuku tajam Kurza sempat merobek tenggorokannya, permata di cincin itu bersinar terang dengan cahaya ungu yang menyakitkan mata. Ruang di sekitar Zhit mulai melengkung dan terdistorsi.

Kekuatan teleportasi tingkat tinggi mulai menarik tubuhnya masuk ke dalam celah dimensi. Dalam hitungan milidetik, Zhit lenyap dari aula, meninggalkan bau belerang yang menyengat. Ia berpindah entah ke mana, jauh dari jangkauan indra manusia biasa, menuju tempat persembunyian yang mungkin telah disiapkan oleh sang Raja Iblis sendiri.

Kurza berdiri di posisi tempat Zhit tadi berada. Tangannya yang masih terbalut kabut hitam mencengkeram udara kosong. Rambut putihnya berkibar pelan saat ia menurunkan tangannya. Ia tidak berteriak marah, ia tidak mengejar secara membabi buta.Kurza hanya menatap lantai yang kosong dengan mata merahnya yang menyala redup.

"Lari semaumu, Zhit," gumam Kurza, suaranya terdengar seperti janji maut yang bergema di seluruh penjuru aula. "Cincin itu tidak menyelamatkanmu. Ia hanya memperlama siksaanmu. Ke mana pun kau pergi aku pasti akan menemukanmu." Gumam Kurza

Kurza memungut mahkota yang terjatuh di lantai, meremasnya hingga hancur menjadi logam tak berbentuk, lalu melemparkannya ke samping.

‎Kurza yang kehilangan jejak Zhit di aula utama, sementara itu Miyuki bergerak seperti bayangan di koridor bawah tanah yang gelap menuju penjara rahasia. Di depan pintu besi raksasa tempat Raja Zion disiksa, lima iblis penjaga elit—yang dikenal sebagai The Hollow Sentinels—telah bersiaga dengan senjata berat mereka.

Lima iblis itu memiliki tubuh tinggi besar dengan zirah yang menyatu dengan kulit mereka. Mereka tidak bicara, hanya suara napas berat yang keluar dari celah helm besi mereka.

"Kalian menghalangi jalanku. Dan itu berarti... kematian." Gumam Miyuki yang muncul dari kegelapan, memegang belati kembar Moonshard.

Dua iblis pertama menerjang dengan kapak raksasa. Miyuki tidak mundur; ia justru berlari rendah, meluncur di antara celah kaki mereka. Dengan satu putaran tubuh yang anggun namun mematikan, ia menyayat urat belakang kaki kedua iblis tersebut. "Srat!" Iblis tumbang berlutut, dan sebelum mereka sempat meraung, Miyuki melompat ke bahu mereka dan menancapkan belatinya tepat di ubun-ubun helm mereka. Dua iblis tumbang seketika menjadi abu.

Tiga iblis sisanya menyadari kelincahan Miyuki. Salah satu dari mereka merapal mantra, menciptakan duri-duri hitam yang melesat dari lantai. Miyuki melakukan salto di udara, tubuhnya berputar seperti baling-baling. Sambil melayang, ia melepaskan puluhan jarum es dari tangannya. Jarum-jarum itu bukan mengincar tubuh, melainkan mata-mata merah di balik helm mereka.

Iblis ketiga buta dan mengamuk, menghantamkan senjatanya ke kawan sendiri. Miyuki memanfaatkan kekacauan itu. Ia menggunakan teknik Shadow Step, menciptakan tiga bayangan dirinya secara bersamaan. Iblis-iblis itu bingung mana yang nyata.

Saat mereka menyerang bayangan yang salah, Miyuki asli muncul di belakang pemimpin penjaga. Miyuki menciotakan benang dari es lalu melingkarkan benang es itu di leher iblis terakhir. Dengan satu tarikan kuat, kepala iblis itu terpisah dari tubuhnya.

Dua iblis lainnya dihabisi dengan tebasan menyilang yang sangat cepat hingga tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian sebelum jatuh ke lantai. Miyuki berdiri tegak, merapikan poninya yang sedikit berantakan. Tidak ada luka di tubuhnya, hanya sedikit noda darah hitam di ujung belatinya.

"Terlalu lambat." Gumam Miyuki. Ia kemudian menendang pintu penjara hingga hancur, melihat Raja Zion yang terikat rantai dalam kondisi sangat lemah. Miyuki segera bergerak memotong rantai tersebut tepat saat Rin tiba melalui celah dimensi untuk membantu evakuasi.

‎‎Miyuki dan Rin membopong tubuh Raja Zion yang lunglai melewati lorong-lorong istana yang hancur. Saat mereka melangkah masuk ke aula utama, suasana langsung berubah menjadi hening yang menekan. Bau belerang sisa pelarian Zhit dan abu jenazah Valac masih menggantung di udara.

Kurza berdiri membelakangi mereka, menatap singgasana yang kini kosong. Rambutnya sudah kembali hitam, namun aura dinginnya masih terasa seperti pedang yang terhunus.

"Tuan Kurza... Raja Zion telah kami bawa kehadapan Anda." Seru Miyuki sambil menyangga lengan Zion.

Kurza berbalik perlahan. Matanya bertemu dengan mata Zion yang sayu dan penuh luka. Raja Zion, penguasa manusia yang sah, kini tak lebih dari bayangan dirinya yang dulu. Pakaian kebesarannya compang-camping, dan bekas rantai membekas merah di pergelangan tangannya.

Zion terbatuk, mencoba berdiri tegak dengan sisa kekuatannya saat melihat Kurza. "Kurza... Kau... kau benar-benar datang. Aku mengira kau akan membiarkan kerajaan ini tenggelam dalam kegelapan yang dibawa Zhit." Ucap Raja Zion dengab suaranya serak dan bergetar.

Kurza berjalan mendekat, langkahnya pelan namun berwibawa "Aku tidak datang untuk kerajaanmu, Zion. Aku datang untuk apa yang sudah aku janjikan pada keluarga Raja Alabas. Namun Zhit baru saja kabur menggunakan teleportasi cincin Raja Iblis. Kurza berhenti tepat di depan Zion.

Ia melihat penderitaan di mata raja manusia itu—penderitaan yang sama yang ia rasakan. Zion adalah saksi bisu kehancuran keluarganya.

"Maafkan aku... Aku gagal menjaga Iris dan Khaya. Saat Zhit masuk dengan pasukan iblisnya, aku dipaksa menonton... Aku tidak berdaya, Kurza. Manusia itu (Zhit) telah menjual jiwa mereka pada Raja Iblis." Seru Raja Zion, Menundukkan kepala, air mata jatuh ke lantai marmer.

Mendengar ucapan Zion, Kurza mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan suara gemertak. Namun, ia tidak meledak marah. Ia meletakkan tangannya di bahu Zion, sebuah gestur yang sangat langka bagi seorang vampir murni terhadap manusia.

"Istirahatlah, Zion. Rin akan membawamu ke tempat yang aman. Kau adalah satu-satunya saksi yang tersisa tentang siapa mereka sebenarnya. Jangan mati sebelum kau melihatku menyeret kepala Zhit di bawah kakimu." Ucap Kurza.

"Tuan Kurza, pasukan pemberontak atau jendral - jendral yang memilih berhianat, mereka masih terjebak di dalam istana. Apa perintah Anda?" Laporan Rin kepada Kurza.

Kurza menatap ke arah pintu aula yang terbuka lebar, memperlihatkan langit yang mulai gelap.

"Miyuki... Tangkap mereka, dan jebloskan para penghianat itu ke penjara. Kita akan memikirkan hukuman apa yang pantas untuk penghianat dan pengecut seperti mereka." Perintah Kurza. "Baik tuan" jawab Miyuki dan bergegas pergi untuk menangkap para penghianat.

"Rin, bawa Zion ke kamar dan berikan dia makanan! Aku akan mencari dimana Iris dan Khaya di semayamkan." Seru Kurza sambil bergerak secepat kilat mencari dimana mayat Iris dan Khaya di semayamkan.

Kurza berjalan pelan mengelilingi aula. Kurza mencoba menajamkan indra penciumannya yang legendaris, kemampuan vampir murni yang bisa melacak setetes darah bahkan dari jarak berkilo-kilometer.

Namun, wajahnya kian mengeras. "Aku tidak mencium bau Iris atau Khaya... tidak ada aroma darah segar mereka di udara ini..." Kurza bergumam pelan, suaranya bergetar.

"Ahhhh.. Aku lupa, mungkun sekarang mereka sudah tidak utuh lagi bahkan mungkin sisa tulang belulang, karena aku tidak bisa mencium aroma darah dari mereka." Pikiran itu menghantam Kurza lebih keras daripada serangan Valac.

Bayangan Khaya yang ceria dan Iris yang anggun kini hanya tinggal bayangan dan kenangan. Ketika Kurza mulai pasrah, ia teringat, ia pernah memberikan kalung kepada Iris, dan Iris berjanji tidak akan melepas kalung itu apapun yang terjadi.

Kurza mulai melacak keberadaan kalung itu.

Bersambung. . .

1
T28J
keren kak 👍
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: oke. nanti gw mampir.
total 3 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!