“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun
Bayu maju selangkah, mengulurkan tangannya.
“Sekarang, serahkan album itu. Sudah saatnya sejarah ditulis ulang oleh pemenangnya.”
Jantung Raras berdentum di rusuknya, begitu keras hingga ia takut Bayu bisa mendengarnya. Otaknya berputar, mencari celah, jalan keluar dari paviliun yang kini terasa seperti makam.
Ia tidak bisa melawan kekuatan fisik Bayu. Menyerahkan album ini berarti menyerahkan satu-satunya bukti fisik yang ia miliki, satu-satunya kunci untuk membuka topeng pengkhianat itu.
Matanya melesat ke sekeliling. Di sebelah lemari ukir tempatnya bersandar, sebuah guci porselen biru-putih dari dinasti Ming berdiri anggun di atas meja kecil. Benda itu lebih tua dari negara ini, tak ternilai harganya. Sebuah ide gila, putus asa, dan berbahaya melintas di benaknya.
“Jangan coba melakukan hal bodoh,” desis Bayu, seolah membaca pikirannya. Ia semakin dekat, aroma parfumnya yang mahal kini terasa memuakkan.
Raras melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Dengan satu gerakan cepat, ia tidak lari ke arah pintu. Ia justru menyambar guci porselen itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memeluk erat album foto itu ke dadanya.
“Mundur!” pekiknya, suaranya bergetar tetapi nadanya tak bisa ditawar.
Bayu berhenti, matanya membelalak kaget, lalu berubah menjadi amarah.
“Kamu gila? Letakkan itu! Kalau sampai pecah, Eyang bisa membunuhmu!”
“Eyang sedang koma karena ulahmu!” balas Raras, air mata amarah akhirnya menggenang di pelupuknya.
“Satu langkah lagi, dan sejarah dinasti Ming akan berakhir di lantai paviliun ini!”
Untuk sesaat, Bayu ragu. Keserakahannya berperang dengan misinya. Guci itu adalah aset, bagian dari kekayaan yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Keraguan sepersekian detik itu adalah yang Raras butuhkan.
Dengan sekuat tenaga, ia tidak membanting guci itu ke lantai. Ia melemparkannya ke arah gamelan perunggu di sisi lain ruangan.
PRAAANNGGG!
DUNGGG!
Suara porselen yang pecah berkeping-keping, diikuti oleh dentuman keras logam kuno, menggema memekakkan telinga. Suara itu cukup untuk membuat seluruh isi rumah terbangun.
Bayu tersentak kaget, refleks menoleh ke sumber suara. Momen itulah yang Raras gunakan. Ia memutar tubuhnya dan berlari secepat yang ia bisa melewati ambang pintu, kakinya yang tanpa alas tak bersuara di atas lantai marmer yang dingin.
Raras terus berlari, ia tidak menoleh ke belakang. Ia terus berlari, membelah keheningan malam kediaman Cokrodinoto, dengan memeluk album foto lawas, seolah itu adalah nyawanya.
***
“Gobl*k! Perempuan sialan!” Bayu membanting ponselnya ke sofa kulit di ruang kerjanya.
Urat di pelipisnya berkedut hebat. Perhitungannya gagal total. Ia meremehkan Raras. Ia mengira perempuan itu hanyalah penjual jamu lugu yang bisa ia injak-injak sesuka hati. Ternyata di balik penampilan sederhananya, ada seekor singa betina yang cerdik dan nekat.
Album itu kini ada di tangan Raras. Bukti motifnya. Bukti dendam keluarganya. Jika album itu sampai ke tangan Radya. Radya yang waras maka permainannya selesai.
Ia harus memastikan Radya tidak akan pernah waras.
Dengan tangan gemetar karena amarah, ia menekan nomor Ayunda. Panggilan itu tersambung setelah dering ketiga.
“Ada apa, Bayu? Aku sedang sibuk,” jawab suara Ayunda ketus dari seberang.
“Sibuk apa kamu? Merencanakan gaun pengantin?” sinis Bayu.
“Rencanamu tidak cukup kuat, Ayunda! Perempuan itu lolos!”
“Lolos? Maksudmu?”
“Raras! Dia menemukan album foto kakekku! Dia tahu semuanya!” teriak Bayu, tak lagi bisa menahan diri.
“Dia kabur membawa bukti itu!” teriak Bayu frustasi.
Terdengar helaan napas tajam dari seberang sambungan telepon.
“Bagaimana bisa? Bukankah kamu bilang dia sudah terkunci?”
“Dia lebih licik dari yang kita duga! Sekarang dengarkan aku baik-baik,” kata Bayu, suaranya turun menjadi desisan berbahaya.
“Aku tidak peduli bagaimana caramu. Tambah dosisnya. Buat Radya lebih gila lagi. Aku tidak butuh dia cuma benci pada Raras, aku butuh dia hancur!”
“Apa maksudmu hancur?” tanya Ayunda, ada nada ngeri dalam suaranya.
“Hancur, Ayunda! Buat dia tidak bisa berpikir. Buat dia salah mengambil semua keputusan di kantor. Biarkan proyek-proyek besar gagal. Aku butuh dewan direksi melihatnya sebagai CEO yang tidak kompeten dan labil. Saat itulah aku akan masuk sebagai penyelamat, mengambil alih kendali darurat atas nama Eyang yang sedang koma. Paham?”
Keheningan sesaat di ujung telepon. Bayu bisa membayangkan Ayunda menimbang-nimbang.
“Itu berisiko. Kalau perusahaannya hancur, apa yang tersisa untuk kita?”
“Perusahaan tidak akan hancur! Hanya reputasi Radya yang akan hancur!” geram Bayu.
“Setelah aku pegang kendali, aku akan ‘memperbaiki’ semuanya. Cepat lakukan! Sebelum perempuan itu berhasil menemui Radya dan menyadarkannya!”
“Baiklah,” jawab Ayunda akhirnya, suaranya dingin dan penuh tekad.
“Akan kulakukan. Tapi pastikan kamu menyingkirkan Raras untuk selamanya.”
Panggilan itu ditutup. Bayu mengusap wajahnya dengan kasar. Semuanya kini dipertaruhkan pada satu hal, seberapa cepat ia bisa menghancurkan Radya sebelum Raras menemukan cara untuk menyelamatkannya.
***
Di lantai tiga puluh lima gedung Cokrodinoto Group, Radya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
Ruangan CEO yang biasanya terasa seperti pusat kendali semesta, kini terasa menyempit dan menyesakkan. Pendingin ruangan yang disetel di suhu terendah pun tak mampu mendinginkan rasa panas yang membakar di bawah kulitnya.
Sejak pagi, semuanya terasa salah. Angka-angka di layar komputernya seolah menari-nari mengejeknya. Suara dering telepon terdengar seperti lonceng kematian. Dan bayangan itu…
Awalnya hanya kilasan di sudut matanya. Gumpalan hitam yang bergerak terlalu cepat untuk bisa ia pastikan. Ia mengabaikannya, menganggapnya hanya efek kelelahan dan stres karena kondisi Eyang.
Tapi kini, bayangan itu semakin berani. Ia melihatnya di pantulan kaca jendela di belakangnya, sesosok bayangan tanpa bentuk yang berdiri diam sebelum lenyap saat ia menoleh.
“Sialan,” desisnya, membanting tumpukan laporan ke meja.
Pintu ruangannya diketuk. Sekretarisnya masuk dengan wajah tegang.
“Pak Radya, rapat dengan dewan direksi lima menit lagi di ruang utama.”
Radya mengangguk kaku. Rapat ini sangat penting. Membahas strategi mitigasi risiko setelah kegagalan proyek tender pembangkit listrik minggu lalu. Ia harus terlihat kuat, terkendali, seorang pemimpin yang bisa diandalkan di tengah krisis.
Namun, saat ia bangkit dari kursinya, sebuah hawa dingin yang tak wajar menyelimutinya. Kabut hitam pekat seolah merayap dari sudut-sudut ruangan, berbisik di telinganya.
Gagal… kamu akan gagal…
Semua karena dia…
Perempuan pembawa sial itu…
Wanita itu penyihir Radya...
Usir dia...
Raras inten adalah kesialan hidupmu...
Radya menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir suara-suara itu. Ia berjalan menuju ruang rapat dengan langkah yang dipaksakan tegap, setiap langkah terasa seperti menembus lumpur yang tak terlihat.
Di dalam ruang rapat, para direktur sudah duduk di kursi masing-masing, wajah mereka serius. Radya mengambil tempatnya di ujung meja, mencoba memfokuskan pandangannya pada agenda rapat di hadapannya.
Tapi huruf-huruf itu kembali kabur. Ia bisa merasakan tatapan semua orang padanya, menghakimi, meragukan.
“Baik, kita mulai,” ucap Radya, suaranya serak.
Presentasi dimulai. Grafik dan proyeksi ditampilkan di layar besar. Tapi yang Radya lihat adalah gumpalan-gumpalan hitam yang menempel di setiap slide, mengotori setiap angka. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Jantungnya berdebar tak karuan.
“...seperti yang kita lihat, jika kita tidak segera mengamankan investor baru untuk proyek Geo-X, arus kas kita akan terganggu secara signifikan dalam kuartal ketiga,” jelas salah seorang direktur.
Investor baru. Proyek gagal. Arus kas terganggu. Kata-kata itu berputar di kepalanya, menyatu dengan bisikan-bisikan jahat itu.
Lihat? Gagal lagi…
Ini kutukan weton…
Dia yang membawanya… dia yang menikmatinya…
Napas Radya menjadi pendek dan cepat. Dinding kaca ruang rapat seolah bergerak mendekat, hendak menghimpitnya. Wajah para direktur mulai berdistorsi di matanya, seringai mereka tampak mengejek.
“Pak Radya? Anda baik-baik saja?” tanya seorang direktur yang duduk di sebelahnya, menyadari perubahan drastis pada atasannya.
Radya tidak menjawab. Matanya terpaku pada satu titik kosong di dinding. Semua kebencian, ketakutan, dan kebingungan yang telah meracuninya selama berminggu-minggu akhirnya meluap, mencari kambing hitam.
Logikanya hancur berkeping-keping, menyisakan satu nama yang terus diulang-ulang oleh bisikan di kepalanya.
Ia memukul meja dengan keras, membuat semua orang di ruangan itu terlonjak kaget.
“Ini semua tidak akan terjadi…” gumamnya, suaranya rendah dan bergetar penuh amarah yang tak terkendali.
Para direktur saling pandang dengan bingung dan cemas.
Radya mengangkat kepalanya, matanya merah dan liar, menatap kosong ke arah dewan direksi yang terdiam membisu.
“Ini semua karena dia,” desisnya dengan kertak gigi yang tertahan.
“Raras…”