Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aku punya nama
JAM 07.30
Pintu udah ketutup 30 menit tapi anget tubuh Axel masih nempel di kasur, aku peluk bantal sambil merem tapi otak muter kenceng, nama Axeliano keluar dari bibirku pas demam itu bukan kebetulan, 13 tahun dia naga, 13 tahun aku tawanan, tapi semalem dia jagain aku sampe subuh tanpa tidur, itu bukan naga, itu manusia yang capek
Klek, pintu kebuka lagi pelan, ga ada suara langkah, cuma hembusan angin dingin masuk, aku pura-pura tidur lagi, napas diatur, pura-pura beku kayak batu es, tapi di sela bulu mata aku ngintip
Axel masuk bawa baki kayu, di atasnya handuk basah, mangkok kecil, sama pisau ukir pendek, dia jalan tanpa suara sampe 2 meter dari kasur, berhenti, naruh baki di lantai, duduk bersila, punggung tegap tapi bahu turun, capek
Dia ga manggil aku, cuma diem, jarinya muter-muter gagang pisau ukir, pelan, kayak mikir keras, akhirnya dia bisik pelan banget sampe hampir ga kedenger
"Aku ajarin kau bela diri ya, biar kalo aku ga ada, kau bisa jaga diri sendiri"
Aku diem, jantung deg kenceng, ini jebakan atau beneran, dia musuh Papa, dia naga yang bunuh keluarga Pramesti, masa dia mau ajarin aku pedang, aneh
Axel lanjut ngomong ke lantai, ga ke aku, suaranya serak kayak 3 hari ga tidur
"13 tahun aku latih prajurit, tapi ga pernah latih perempuan, apalagi perempuan yang tiap malam aku sebut musuh, tapi kau beda, kau Aira, bukan Pramesti, bukan Elena, kau cuma kau?"
Aku gigit bibir, nahan air mata, dia hafal aku benci dipanggil Pramesti, dia tau aku mau jadi diriku sendiri
Aku duduk pelan di kasur, selimut masih nutup sampe dada, rambut acak-acakan, muka pucat abis demam, aku ga jawab, cuma ngeliatin dia dari jauh
Axel ngangkat kepala, mata kami ketemu, mata dia merah, ada kantong hitam di bawah, tapi tatapannya lurus, ga ngelak
"Bangun", katanya singkat, suaranya datar tapi ada getar kecil di ujung
Aku ragu 3 detik, kaki masih lemes, tapi aku turun dari kasur pelan, lantai dingin, aku berdiri goyang dikit, Axel langsung mau maju tapi dia tahan, tangannya ngepal, dia kasih jarak
"Jaga jarak 1 meter," katanya, "kita mulai dari kuda-kuda dasar, kaki kiri maju, lutut tekuk dikit, punggung lurus, jangan kayak karung beras. "
Aku ikutin, kaku, salah posisi, badan miring, Axel liat, alisnya nyatu, dia mau betulin tapi tangannya berhenti di udara, dia inget jarak
"Kau miring ke kanan," katanya pelan. "bahu kiri turun, nafas buang lewat mulut, jangan ditahan"
Aku buang napas, badan agak lurus, Axel manggut dikit, bagus, sekarang ambil pisau ini
Dia lempar pisau ukir pelan, aku tangkep, gagangnya masih anget dari tangan dia, pisau kecil tapi tajam, aku genggam ragu
"Bayangin pisau ini tangan musuh," katanya. "kalau dia mau nusuk, kau geser badan ke kiri, tangkis pake punggung pisau, jangan pakai telapak tangan, nanti putus uratnya"
Aku coba, gerakanku kaku, pisau hampir jatuh, Axel maju setengah langkah reflek mau nangkep tapi dia berhenti, dia ngepal tangan sampe buku-buku putih
"Kau gemetar" katanya. "bukan karena demam, karena takut, Aira, takut itu normal, tapi jangan biarin takut nguasain tanganmu"
Aku dongak, tatap matanya, "Tuan kenapa ajarin aku, bukannya aku musuh Tuan"
Axel diem lama, tenggorokannya naik turun, akhirnya dia jawab pelan, "karena aku capek jadi naga terus, 13 tahun aku bangun tidur mikir dendam, bangun tidur liat foto Papa kau di dinding, bangun tidur sumpahin keluarga Pramesti, tapi 3 hari ini aku bangun tidur mikir kau udah makan belum, demammu turun belum, bibirmu masih pucat apa udah merah"
JLEB, kata-kata itu nusuk ke tulang, aku noleh ke jendela, nutup muka pake rambut, malu, dada sesek
"Aku ga minta dikasihanin," bisikku, "aku ga minta Tuan berubah jadi baik"
"Aku tau," jawabnya cepet. "kau ga minta, tapi aku yang lelah, lelah benci, lelah pura-pura kuat, semalam pas kau demam, kau genggam kemejaku, kau bisik Ma jangan pergi, aku pengen jadi Mama kau 5 menit aja, biar kau ga nangis"
Air mataku jatuh, netes ke lantai, Axel liat, dia maju 1 langkah reflek, tapi langsung mundur lagi, jaga jarak, dia frustasi, tangannya ngusap muka kasar
"Aku ga bisa" katanya. "aku naga, naga ga bisa jadi Mama, naga cuma bisa jagain dari jauh, biar kau ga mati di tanganku sendiri"
Aku genggam pisau lebih kenceng, ujungnya ngarah ke lantai, "Tuan, kalau Tuan nyesal, kenapa 13 tahun lalu Tuan ga berhenti? "
Axel ketawa pendek, ga ada lucunya, "karena 13 tahun lalu aku liat Papa kau, aku liat dia ketawa sambil bakar rumahku, aku liat dia lempar adikku ke api, aku umur 12, Aira, aku anak kecil yang liat semua keluarganya mati, dendam itu satu-satunya yang bikin aku hidup sampai sekarang"
Dia nunduk, bahunya bergetar, tapi dia ga nangis, naga ga nangis, katanya dulu, naga cuma berdarah dari dalam
Aku jalan pelan ke arah dia, jarak 50cm, berhenti, Axel dongak, kaget aku sedekat ini, dia mau mundur tapi aku lebih cepat, aku tempel punggung pisau ke dadanya, pas di atas jantung
"Kalau Tuan menyesal, bunuh aku sekarang," kataku, suaraku getar tapi mata lurus. "tusuk sini, seperti uan tusuk Papaku. "
Axel liat pisau di dadanya, terus liat mataku, lama, dia ga gerak, tangannya naik pelan, megang pergelangan tanganku, tapi ga ngerebut pisau, cuma megang, anget, kepalan
"Aku ga bisa," bisiknya, suaranya pecah. "13 tahun aku latih tangan ini buat bunuh Pramesti, tapi 3 hari ini tangan ini cuma bisa ganti kain dingin di jidatmu, ngelap tumpahan sup, nyisir rambutmu pas kau demam, tanganku lupa cara bunuh Aira. "
Aku lepas pisau, jatuh ke lantai, ting, suara kecil tapi berasa kayak guntur, aku dorong dada Axel pelan, "Tuan bohong, naga ga punya hati. "
Axel megang pergelangan tanganku lebih kenceng, bukan nyakitin, tapi nahan, dia tarik aku sampe jarak kami 10cm, napas kami kecampur, mata dia merah banget, kayak mau nangis tapi ditahan
"Aku punya hati," katanya suaranya hancur. "hati ini udah mati 13 tahun, tapi 3 hari ini dia hidup lagi gara-gara kau, Aira, tiap kau manggil aku Axeliano lengkap, hati ini seperti ditusuk tapi angat, sakit tapi aku ga mau berhenti. "
Aku diem, air mata jatuh lagi, Axel angkat tangan kirinya pelan, jempolnya ngusap air mataku, hati-hati, kayak takut aku pecah
"Jangan nangis," katanya. "aku ga bisa liat kau nangis, tiap kau nangis aku ingat Elena, dia juga nangis pas rumah kebakar, aku janji ke dia mama elena, aku jaga kau, aku gagal 13 tahun, jangan bikin aku gagal lagi hari ini. "
Aku dorong dada dia, lemah, tapi dia ga lepas, dia malah makin dekat, keningnya nempel ke keningku, napasnya berat, terasa hangat.
"Aira," bisiknya. "nama itu keluar seperti doa, seperti sumpah, seperti tangisan, kalau kau benci aku, benci saja, tapi jangan mati, jangan demam lagi, jangan bikin aku begadang 13 tahun lagi sendirian. "
Aku merem, kening kami masih nempel, aku capek, capek benci, capek pura-pura kuat, 13 tahun aku latih diri jadi batu es, tapi batu es ini meleleh kena anget napas naga.
"Tuan," bisikku pelan. "kenapa Tuan hafal tanggal lahirku. "
Karena aku baca akta kau tiap malam, jawabnya, 12 Oktober, kau lahir pas musim gugur, daun maple merah jatuh depan rumah Pramesti, Elena bilang kau nangis kenceng banget pas lahir, kayak protes ke dunia, aku hafal, karena aku mau bunuh kau pas ulang tahunmu ke 18, biar sakitnya dobel buat Papa kau. "
Aku buka mata, kaget, "Tuan mau bunuh aku pas aku 18 tahun. "
"Iya," jawabnya jujur, brutal. "aku udah siapkan pisau, udah asah 3 tahun, tapi pas tanggal 12 Oktober tahun ini datang, kau demam, 39,5C, kau manggil Ma sambil genggam kemejaku, pisau itu jatuh dari tanganku, Aira, aku ga bisa. "
Aku napas berat, dada naik turun, jarak kami masih 10cm, anget tubuh dia ngalir ke aku, aku dorong pelan, Tuan gila
"Mungkin," jawabnya, "gila karena 13 tahun minum dendam, tapi 3 hari ini aku minum namamu, Aira, Elena, Pramesti, dan yang paling manis, Axeliano, pas kau manggil lengkap namaku pas demam"
Dia lepas keningnya dari keningku, mundur 1 langkah, jarak balik jadi 50cm, dia jongkok ngambil pisau di lantai, dielap pakai ujung kemejanya, terus ditaruh di baki, jauh dari aku
"Latihan selesai," katanya, suaranya balik datar, topeng naga dipake lagi. "kau lemas, istirahat lah. "
Aku masih berdiri, kaki gemetar, bukan karena demam, karena barusan, karena kening kami nempel, karena dia bilang namaku kayak doa
Axel jalan ke pintu, sebelum keluar dia berhenti, ga noleh, bahunya kaku
"Aku taruh roti dan susu di meja," katanya. "makan, jangan seperti kemarin, pingsan terus aku yang repot"
Pintu ketutup, klek, hening lagi
Aku jalan sempoyongan ke meja, ada roti anget, susu, sama kertas kecil di bawah piring, tulisannya sama kayak semalem, tulisan buru-buru jelek tapi tiap huruf nusuk
"Obat habiskan, istirahat, kalau pusing panggil aku, aku di luar pintu, ga tidur lagi, aku janji, A. "
Aku megang kertas itu, jari gemetar, A, cuma satu huruf, bukan Axeliano, bukan Tuan, cuma A, kayak dia nyoba jadi manusia 1 huruf aja
Aku duduk di lantai, punggung nempel kasur, posisinya sama kayak Axel tadi pas ngajarin aku, jarak kami sekarang cuma dipisah pintu kayu tipis
Di luar, aku dengar dia duduk juga, punggungnya nempel pintu, dari celah bawah pintu aku liat bayangan hitamnya, dia ga tidur, dia jagain
Aku bisik pelan, cuma angin yang dengar, "Axeliano, aku juga ga tidur, karena tiap usaha memejamkan mata aku keingat kening Tuan yang anget, mulai hari ini. "
Aku peluk bantal, air mata jatuh lagi, tapi kali ini anget, bukan karena sedih, karena bingung, naga yang 13 tahun mau bunuh aku, sekarang takut aku mati
Jam 08.00, matahari udah tinggi, sinarnya masuk dari celah jendela, ngenain lantai tempat pisau tadi jatuh, aku ngeliatin titik itu lama, disitu tadi jantung naga hampir ditusuk, tapi dia milih naruh pisau jauh-jauh
13 tahun dendam, retak gara-gara demam 39,5C, gara-gara manggil nama lengkap, gara-gara kening nempel 3 detik
Aku Aira Elena Pramesti, tawanan tanpa nama, sekarang punya nama, Axeliano, naga yang benci, sekarang takut kehilangan.
kalo berkenan mmpir juga thor😉