Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 9 Merger Paling Resmi
Sabtu pagi pukul delapan, aula kecil di sebuah gedung serbaguna kawasan pusat kota berubah menjadi lokasi bencana terorganisir.
Setidaknya, itulah definisi yang ada di kepala Rania Azarina saat ia berdiri kaku di depan cermin ruang rias.
Gaun akad berwarna putih gading membungkus tubuhnya dengan potongan sederhana namun elegan.
Rambutnya disanggul rapi.
Riasannya natural.
Secara teknis, ia terlihat seperti pengantin yang siap menjalani hari paling bahagia dalam hidupnya.
Masalahnya, ekspresi wajahnya lebih cocok untuk terdakwa yang sedang menunggu vonis.
“Bu, jangan tegang begitu. Nanti foundation-nya retak.”
Nisa berdiri di belakang sambil merapikan veil di kepala Rania.
Di sampingnya, dua staf divisi marketing lain—Tika dan Seno—sibuk menahan tawa sejak lima menit lalu.
“Kalau kalian tertawa sekali lagi, saya batalkan cuti kalian sebulan,” ancam Rania datar.
Tika langsung menutup mulut.
Seno pura-pura batuk.
Nisa justru tersenyum makin lebar.
“Bu, jujur aja deh. Ini adalah mimpi semua cewek di kantor.”
Rania menoleh tajam.
“Mimpi buruk?”
“Menikah sama Pak Gavin.”
“Kalau ini mimpi, tolong bangunkan saya pakai defibrillator.”
Nisa terkekeh.
“Padahal tadi saya lihat beliau ganteng banget pakai beskap.”
Rania memutar bola mata.
“Tolong fokus kerja.”
“Siap, Bu Pengantin.”
Rania memejamkan mata.
Ia masih tidak percaya semua ini terjadi.
Dua hari lalu ia menandatangani kontrak.
Kemarin ia bertemu keluarga Gavin.
Dan hari ini...
Ia akan menikah.
Secara sah.
Dengan rival profesionalnya.
Kalau ada orang yang bilang hidup tidak penuh plot twist, orang itu jelas belum pernah bekerja di PT Jaya Media.
Di ruang tunggu pria, situasinya tidak jauh lebih absurd.
Gavin berdiri di depan cermin dengan beskap krem gading yang membuatnya terlihat sangat cocok menjadi pengantin.
Kevin, sahabat sekaligus rekan kerjanya, berdiri di samping sambil menatapnya seperti sedang melihat fenomena langka.
“Aku masih belum percaya.”
Gavin merapikan kerahnya.
“Percaya apa?”
“Bahwa manusia yang dulu pernah bilang ‘pernikahan itu sistem yang tidak efisien’ sekarang tinggal lima belas menit lagi menikah.”
“Itu dulu.”
Kevin menyipit.
“Oh? Jadi sekarang pandangan hidupmu berubah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Gavin terdiam.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tapi jawabannya terasa rumit.
Awalnya ini memang hanya langkah strategis. Solusi paling logis di tengah aturan absurd perusahaan.
Tapi setiap kali mengingat wajah tegang Rania semalam, entah kenapa keputusan ini tak lagi terasa sesederhana hitung-hitungan profesional.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Dan Gavin belum siap mengakui apa itu.
“Ini tetap keputusan yang harus dilakukan,” jawabnya akhirnya.
Kevin terkekeh.
“Kalau kamu bilang begitu sambil tidak berhenti menatap cincin nikahmu, aku justru makin curiga.”
Gavin menendangnya pelan.
“Diam.”
Kevin tertawa.
Lalu pintu terbuka.
Pak Arman masuk.
Aura dosen killer-nya tetap utuh meski mengenakan batik resmi.
“Sudah siap?”
Gavin langsung tegak.
“Iya, Om.”
Pak Arman menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata datar,
“Kalau kamu bikin anak saya menangis—”
“Saya tahu.”
“Belum selesai.”
Gavin menelan ludah.
“Kalau kamu bikin dia menangis, saya akan memastikan hidupmu lebih sulit daripada skripsi mahasiswa teknik semester akhir.”
Kevin menunduk, berusaha menahan tawa.
Gavin mengangguk mantap.
“Dimengerti, Om.”
Pak Arman menepuk bahunya.
“Bagus.”
Lalu pergi begitu saja.
Kevin akhirnya meledak tertawa.
“Ya Tuhan. Sekarang aku paham kenapa kamu kelihatan lebih takut ke calon mertua daripada ke direksi.”
___
Aula akad mulai dipenuhi tamu.
Mayoritas keluarga besar.
Sebagian kecil rekan kantor.
Dan tentu saja, tim divisi marketing yang datang dengan energi terlalu besar untuk acara sakral.
Di sudut ruangan, sebuah banner terbentang.
SELAMAT ATAS CORPORATE MERGER TERBESAR TAHUN INI
Rania menatapnya dengan ekspresi kosong.
“Nisa.”
“Iya, Bu?”
“Turunkan itu.”
“Tapi sudah terlanjur viral di grup kantor.”
“TURUNKAN.”
“Siap.”
Belum sempat banner diturunkan, keributan kecil terdengar di pintu masuk.
Semua menoleh.
Dan jantung Rania langsung berhenti sepersekian detik.
Theo Santoso baru saja masuk.
Dengan jas hitam formal dan ekspresi datar khasnya.
Di belakangnya, beberapa direksi ikut hadir.
Rania menoleh panik ke Gavin.
“Kenapa dia di sini?”
Gavin terlihat sama terkejutnya.
“Saya tidak mengundang.”
Theo berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Membuat tekanan udara sekitar terasa turun drastis.
Ia berhenti tepat di depan mereka.
Tatapannya berpindah dari Gavin ke Rania.
Lama.
Terlalu lama.
“Saya hanya ingin memastikan,” ucapnya tenang, “keputusan besar perusahaan tidak dibuat berdasarkan kepanikan.”
Sunyi.
Lalu ia menambahkan,
“Dan ternyata kalian benar-benar menikah.”
Tatapannya jatuh ke Gavin.
“Menarik.”
Rania nyaris tersedak.
Gavin berdeham.
“Pak, ini resmi.”
Theo menatap mereka bergantian.
Lama.
Lalu mengangguk.
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Tapi entah kenapa terasa seperti audit kelulusan.
“Lanjutkan.”
Dan pria itu duduk di barisan depan.
Rania menutup mata.
“Kenapa hidup saya begini?” gumamnya.
“Tenang,” bisik Gavin.
“Bagaimana saya bisa tenang kalau bos kita datang seperti sedang inspeksi proyek?”
“Setidaknya dia pakai jas, bukan bawa checklist.”
“Jangan kasih ide.”
___
Akad dimulai pukul sembilan tepat.
Penghulu duduk di depan.
Pak Arman mengambil posisi sebagai wali.
Gavin duduk tegak di hadapan semua orang.
Rania menunggu di balik tirai pembatas, ditemani Nisa yang kini mendadak terharu.
“Bu... ini beneran ya.”
“Sayangnya.”
Nisa menyeka sudut matanya.
“Romantis banget.”
“Kalau kamu nangis lebih dulu dari saya, saya potong bonus akhir tahun.”
“Siap.”
Namun ancaman itu gagal menghilangkan rasa sesak aneh di dada Rania.
Karena sekarang semuanya terasa terlalu nyata.
Ia bisa mendengar suara penghulu.
Suara para saksi.
Suara napas Gavin.
Lalu ijab kabul dimulai.
Ruangan mendadak hening.
Semua mata tertuju pada Gavin.
Pria itu menarik napas.
Tatapannya lurus ke depan.
Lalu mengucapkannya.
Lancar.
Tegas.
Tanpa ragu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Rania Azarina binti Arman Azhar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Sah!”
Suara para saksi menggema hampir bersamaan.
Tepuk tangan pecah.
Beberapa orang berseru haru.
Ratna langsung menangis.
Nisa ikut menangis.
Bahkan Kevin terlihat menyeka mata secara diam-diam.
Dan di balik tirai, Rania membeku.
Napasnya tercekat.
Jemarinya otomatis mencengkeram kain gaunnya.
Untuk sesaat, ia lupa ini semua berawal dari kontrak.
Sah.
Satu kata sederhana.
Tapi efeknya menghantam jauh lebih keras dari yang ia bayangkan.
Karena di detik itu, semua kontrak, pasal, dan strategi mendadak terasa absurd.
Yang nyata sekarang hanya satu:
Ia resmi menjadi istri Gavin Mahendra.
Selama bertahun-tahun— Rania selalu yakin ia tidak akan pernah menikah.
Terlalu takut berharap. Terlalu takut ditinggalkan lagi.
Tapi pagi ini— seseorang baru saja mengucapkan akad dengan suara mantap.
Tanpa ragu.
Tanpa pergi.
Dan entah kenapa— itu terasa jauh lebih mengguncang daripada yang siap ia akui.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk berdampingan untuk penandatanganan buku nikah.
Tangan Rania sedikit gemetar saat memegang pulpen.
Gavin meliriknya.
“Masih bisa kabur.”
Rania menoleh tajam.
“Sekarang kamu bercanda?”
“Sedikit.”
Ia mencondongkan tubuh.
“Tenang.”
Satu kata.
Aneh.
Karena justru dari Gavin, kata itu terdengar menenangkan.
Rania menandatangani buku nikah.
Selesai.
Resmi.
Saat kepala mereka secara refleks saling menoleh setelah tanda tangan, jarak wajah mereka mendadak terlalu dekat.
Rania bisa merasakan napasnya.
Dan untuk sepersekian detik, dunia di sekeliling mereka seperti menghilang.
Mata Gavin turun sepersekian detik.
Ke bibirnya.
Lalu kembali naik.
Seolah sedang menimbang sesuatu.
Rania lupa bernapas.
Karena untuk pertama kalinya— Gavin tidak terlihat sedang bercanda.
Tidak terlihat menyebalkan.
Hanya… terlalu dekat.
Sangat dekat.
Sampai Rania bisa melihat detail kecil di mata Gavin yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.
Jarak mereka tinggal beberapa senti.
“Cium! Cium! Cium!”
Suara tim marketing menghancurkan momen itu seketika.
Rania tersentak mundur.
Wajahnya memanas.
“Kalau mereka tidak diam, saya pecat massal.”
Gavin justru menahan tawa.
Lalu, di luar dugaan, ia meraih tangan Rania.
Menggenggamnya pelan.
Hangat.
Mantap.
Dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Rania.
“Selamat datang di merger paling berisiko dalam hidup kita.”
Jantung Rania berdetak terlalu cepat.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah itu karena gugup...
atau karena hal lain yang jauh lebih berbahaya.
Di sisi lain aula—
Theo Santoso berdiri diam.
Tatapannya jatuh pada Gavin.
Lalu pada Rania.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang— ekspresinya berubah.
Karena ada satu hal yang belum diketahui siapa pun di ruangan itu.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.