NovelToon NovelToon
HADIRMU KEMBALI

HADIRMU KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Three Flowers

Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI MIRANDA

Kevin terbangun dari tidur lelapnya begitu mendengar ponselnya berbunyi. Semalam ia bisa tidur di kantornya dengan bantuan obat penenang. Dengan sigap ia mengambil ponselnya dan menatap tulisan di layar yang menampilkan nama Miranda.

Kevin langsung bersemangat menerima panggilan itu dan menyapanya. “Hallo? Miranda?”

“Ma-maaf, saya Bu Tina..., tetangganya Miranda,” terdengar suara Bu Tina yang terdengar panik di seberang.

Jantung Kevin langsung berdegup kencang saat yang berbicara lewat ponsel Miranda bukanlah sang pemilik, melainkan Bu Tina. Sebuah firasat buruk langsung terlintas di benaknya.

“Ada apa, Bu Tina? Mana Miranda?” tanya Kevin cemas.

“Miranda diculik, Nak Kevin...,” jawab Bu Tina.

“Apa?!” Kevin langsung melompat dari sofa empuk tempatnya tidur semalam.

Bu Tina lalu menjelaskan kejadiannya, dimana Silvia melihat seorang wanita menyeret Miranda dibantu oleh seorang pria dan memasukkannya ke dalam mobil.

“Bodoh!” Kevin mengumpat pada dirinya sendiri setelah menyelesaikan panggilan Bu Tina.

Ia segera menelepon temannya yang ia tugaskan untuk mengawasi Miranda. Ternyata Rudy, nama temannya itu, belum sampai di lokasi saat kejadian itu. Penculikan Miranda terjadi pada pagi buta, terlalu pagi sebelum Rudy siap mengawasi di tempat itu.

“Celine masih di rumah sakit. Kemungkinan wanita itu adalah Mama atau Bu Meli. Mungkin juga orang suruhan mereka. Tapi aku akan memastikan dulu....” ujar Kevin pada dirinya sendiri.

Kevin lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya. Benar saja, salah satu mobil pribadi mereka tidak ada di garasi dan mamanya pun tidak ada di rumah.

Salah seorang pelayan mengatakan bahwa Maya keluar rumah pada pagi buta diantar sopirnya. Sedangkan Jaya Pratama, ayahnya, memang sedang melakukan perjalanan bisnis di luar negeri sejak beberapa hari yang lalu. Kevin semakin yakin kalau Mamanya adalah wanita yang  diceritakan Bu Tina telah Miranda pergi.

‘Aku harus segera menghubungi polisi untuk mencari keberadaan mobil Mama yang membawa Miranda itu,” ujar Kevin dalam hati.

****

Sementara itu, di halaman depan gudang tempat Maya menyembunyikan Miranda, sebuah motor butut yang dikendarai oleh seorang pemuda dan wanita paruh baya datang, lalu berhenti di dekat mobil Maya. Sopir Maya segera menyuruh kedua orang itu untuk masuk ke dalam.

Maya yang berdiri tepat di depan pintu menyambut mereka di dalam gudang itu. “Bu Lastri? Sudah membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan? Pastikan jangan ada yang tertinggal!” tanya Maya.

Wanita yang dipanggil Bu Lastri itu mengangguk yakin. Ia adalah Dukun bayi yang bisa melakukan aborsi. Beberapa saat yang lalu, Maya menghubungi temannya yang pernah bercerita menggugurkan kandungan pada seorang dukun bayi.

Dengan wajah gugup, Bu Lastri mendekati Miranda yang sedang duduk di atas kotak kayu dengan wajah pucat.

“Anda siapa? Mau apa?” tanya Miranda panik saat Bu Lastri mendekatinya.

Bu Lastri menoleh pada Maya, ia merasa pasiennya kali ini tidak bersedia diaborsi. Ini adalah aborsi paksa, jadi ia tidak akan bisa melakukannya pada wanita yang masih sepenuhnya sadar ini.

“Miranda, ini adalah cara untuk menyingkirkan jejak Kevin pada dirimu. Jadi kamu tidak akan punya alasan lagi untuk mendekati anakku,” ujar Maya tanpa perasaan.

“Tidak! Apakah anda akan tega membunuh calon cucu anda sendiri, Bu Maya?” teriak Miranda langsung ketakutan.

“Cucu? Itu hanya sebuah gumpalan daging yang belum bernyawa. Karena itu, sebelum gumpalan daging itu bernyawa, kita harus menggugurkannya sekarang, Miranda,” sahut Maya tanpa rasa bersalah.

Miranda menangis. Mengapa Maya jadi begitu kejam padanya? Padahal dulu wanita itu baik sekali padanya dan juga pada orang tuanya.

Ia teringat saat ia mengantar roti pesanan keluarga Pratama, Maya tampak sangat terkesan padanya. Lalu, tiba-tiba Maya datang pada orang tuanya untuk menanyakan apakah mereka bersedia mengijinkan Miranda untuk dinikahkan dengan putranya yang lumpuh.

Kini, semua itu sudah tidak ada artinya. Saat Maya memerintahkan pemuda yang datang bersama Bu Lastri itu untuk memegangi tangannya dan merebahkannya di atas kotak kayu yang tadi didudukinya, harga diri Miranda langsung hancur berkeping-keping.

Bu Lastri segera mendekat padanya dan menyentuh perut bagian bawah untuk memeriksa janinnya, tapi dengan kuat Miranda memberontak dan berhasil menendang tubuh wanita itu.

“Aah!” Bu Lastri jatuh terjengkang ke belakang sambil merintih kesakitan.

Pemuda yang merupakan anak dari Bu Lastri itu terkejut dan sangat marah melihat Miranda melukai ibunya. Lalu dengan gerakan refleks ia memukul kepala Miranda hingga pingsan karena pukulan itu cukup keras.

“Hentikan!” Maya langsung berteriak panik menghentikan adegan kekerasan yang tiba-tiba terjadi di depan matanya.

Maya menghampiri Miranda dan memastikan kondisinya. Miranda benar-benar sudah tidak bergerak. Pukulan pemuda itu terlalu keras karena dilakukan dengan emosi dan kekuatan yang tak terkendali.

“Bodoh! Siapa suruh kamu memukulnya?” bentak Maya pada pemuda itu.

“Dia menendang ibuku!” sahut pemuda itu marah.

Bu Lastri yang sudah bisa berdiri kembali segera memegang lengan putranya untuk menenangkannya, “Sudah, nak. Ibu sudah nggak pa pa, kok. Jangan ikut marah-marah, ya?!”

Bu Lastri lalu menatap Maya dan menenangkannya, “tapi Nyonya, dengan pingsan begini saya akan lebih mudah memijit perutnya untuk aborsi.”

Maya lalu berkata, “Benarkah? Tapi pastikan dulu keadaannya! Bagaimana kalau dia tidak bisa bangun lagi?”

Bu Lastri mengecek keadaan Miranda, lalu menoleh pada Maya. “Dia cuma pingsan.”

“Kalau begitu, apakah bisa dilanjutkan?” tanya Maya.

Bu Lastri mengangguk. Ia segera memberi perintah pada putranya untuk memegang kedua lengan Miranda, berjaga-jaga kalau wanita itu terbangun nantinya.

Sementara itu Maya segera membalikkan badannya dan keluar dari gudang itu sambil menarik nafas panjang. Bagaimanapun, ia tidak tega melihat tindakan aborsi di depan matanya. Maya lalu menatap sopirnya tampak siaga di depan mobilnya yang terparkir di halaman gudang itu.

Tak lama kemudian, ia mendengar teriakan Miranda yang kesakitan dan menyayat hati dari dalam gudang. Maya dan sopirnya terkesiap. Rupanya Miranda sudah siuman dari pingsannya, mungkin juga karena merasakan pijitan yang sangat kuat pada rahimnya.

Lalu terdengar keributan dari dalam gudang. Maya segera memberi tanda dengan tangannya pada sopirnya untuk mengikutinya sebelum ia membuka kembali pintu gudang itu.

Maya tercengang saat melihat Bu Lastri kembali mengerang kesakitan di lantai sambil memegangi dadanya. Putranya berusaha menolongnya dengan berlutut di depannya dan merangkul tubuhnya. Ia bahkan membiarkan Miranda berlari melewati mereka sambil memegangi perut bagian bawahnya menuju ke pintu gudang yang kini sudah terbuka.

“Miranda!” Maya berteriak karena terkejut melihat Miranda semakin mendekat ke arahnya dengan langkah setengah berlari namun tampak terseok-seok.

“Tangkap dia! Jangan sampai lepas!” perintah Maya pada sopirnya.

Sopir itu segera berlari dan langsung berhasil menangkap tubuh Miranda. Miranda terus bergerak dan meronta dengan sekuat tenaga.

“Apa perlu saya pukul dia, Nyonya?” tanya sopir itu pada Maya, karena ia mulai kewalahan mengekang Miranda yang terus meronta.

Maya menatapnya dengan kebingungan. Ia belum bisa memutuskan, sampai akhirnya tubuh Miranda terlepas dari sopir itu, namun roboh dengan sendirinya ke tanah.

Sopir itu menghela nafas lega dan mulai mengatur nafasnya kembali. Dilihatnya Miranda yang sudah terkapar di tanah, merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Tampak darah segar merembes di roknya yang berwarna putih tulang.

Maya menahan nafas melihatnya. Meskipun sempat terjadi kekacauan, tapi proses aborsi itu sepertinya telah berhasil.

Maya segera berlari menuju Bu Lastri dan putranya. “Lihat itu! Tampaknya kalian sudah berhasil melakukan aborsi. Sekarang harus bagaimana? Kulihat ada banyak darah di roknya!” tanya Maya panik.

“Da-dada saya... sa-sakit,” keluh Bu Lastri yang masih kesulitan bernafas. Mungkin Miranda tadi berhasil menendangnya lagi.

Maya melotot kesal. Lalu ia segera mengambil dompet di dalam tasnya dan mengeluarkan sejumlah uang di dalamnya.

“Nih, ambil! Urus diri kalian sendiri!” ujarnya seraya menyodorkan sejumlah uang itu pada putra Bu Lastri. Pemuda itu menerimanya dan Maya segera berlari keluar dari gudang lagi.

“Ayo, kita bawa ke klinik terdekat! Jangan sampai dia mati di sini!” seru Maya pada sopirnya.

Pria itu segera memapah Miranda masuk ke dalam mobil. Maya ikut masuk dalam mobil, mengambil tempat di sisi sopir. Ia membiarkan Miranda duduk terkulai di kursi belakang.

NGUIIING!!

Terdengar suara sirine melengking dan meraung yang semakin mendekat. Tiba-tiba ada dua mobil polisi datang sebelum mobil Maya sempat bergerak maju. Maya dan sopirnya terkesiap. Salah satu mobil polisi itu berhenti tepat di depan mobil Maya, membuatnya tak bisa bergerak maju untuk melarikan diri.

“Kenapa bisa ada polisi di sini?” tanya Maya marah dan panik.

“Nyonya, tampaknya ada yang melaporkan kita pada polisi,” jawab Sopirnya, tak kalah panik.

Beberapa petugas Kepolisian langsung mengepung tempat itu dan menodongkan pistolnya, memerintahkan Maya dan sopirnya untuk turun dari mobil.

“Keluar dari mobil dan angkat tangan kalian!” perintah Polisi itu.

Dengan ragu-ragu Maya dan sopirnya keluar dari mobil mereka sambil mengangkat kedua tangannya, sebagai isyarat tidak akan melakukan perlawanan.

“Anda ditangkap karena telah melakukan tindakan kriminal penculikan!” seru salah satu Petugas Kepolisian.

Maya saling bertatapan dengan sopirnya. Bagaimana polisi bisa tahu? Siapa yang telah melaporkan mereka, sedangkan ia membawa Miranda pada pagi buta, tanpa ada saksi kecuali seorang anak kecil yang hanya bisa menangis tak berdaya.

Tak lama kemudian pertanyaan Maya terjawab. Datanglah sebuah mobil yang sangat dikenalnya, lalu berhenti di lokasi penangkapan Maya itu. Maya melihat putranya turun dari mobil itu dengan wajah sinis padanya.

“Kevin! Tolong Mama!” teriak Maya pada Kevin. “Kevin! Ini adalah kesalahpahaman!”

Kevin tidak menghiraukannya dan justru berlari ke bagian belakang mobil Mamanya. Ia melihat seorang polisi berusaha mengeluarkan tubuh Miranda dari dalam mobil itu. Kevin segera membantunya.

“Biar saya saja yang membawa istri saya, Pak!” sayup-sayup Miranda mendengar suara Kevin dan merasakan tubuhnya telah berpindah ke dalam gendongan seseorang.

“Miranda, bertahanlah!” terdengar lagi suara Kevin bergetar, membisikkan kalimat di telinga Miranda.

Hatinya sangat hancur melihat kondisi Miranda saat ini. Rambutnya berantakan dan di wajahnya terlihat lebam-lebam. Juga roknya yang basah oleh darah segar.

****

Di sebuah ruang perawatan rumah sakit, Miranda perlahan membuka kedua matanya. Kevin langsung melompat dari tempat duduknya yang berada di sisi Miranda untuk mendekatinya.

“Miranda! Kamu sudah sadar!” teriak Kevin.

Diciumnya kening wanita yang masih dianggap istrinya itu dengan penuh haru. Miranda menoleh lemah pada Kevin.

“Janinku?” tanya Miranda lirih.

“Maafkan aku, Miranda!” Kevin menangis sambil mengusap kepala Miranda.

Miranda pun menangis terisak. Saat ini, selain rasa sakit yang dirasakan pada rahimnya yang baru saja dioperasi, hatinya lebih sakit lagi. Kejadian di gudang itu telah merenggut janin yang diam-diam telah dicintainya.

Tidak hanya Miranda yang merasa hancur, Kevin pun demikian. Harapannya untuk mendapatkan keturunan dari Miranda saat ini telah runtuh. Namun, masih ada harapan yang tersisa, karena ia berjanji tidak akan melepaskan Miranda lagi.

Selama perawatan di rumah sakit, Kevin tidak pernah meninggalkan Miranda. Segala urusan hukum terkait tuntutan pada ibu kandungnya sendiri dan urusan perceraian dengan Celine, langsung ia serahkan pada Pengacaranya.

****

Jaya Pratama, suami Maya sekaligus ayah kandung Kevin, mendengar kabar bahwa istrinya ditangkap polisi. Ia segera meninggalkan urusan bisnisnya di luar negeri. Ia menemui Maya di ruang tahanan sementara dan meminta penjelasan tentang kejadian yang menimpa keluarganya.

Mengapa anak kandungnya sendiri sampai tega menahan mamanya, padahal selama ini hubungan mereka selalu harmonis. Dan Jaya segera paham, bahwa hati Kevin kini sudah tak tergoyahkan lagi. Putranya itu telah memilih untuk mempertahankan Miranda di sisinya dan menceraikan Celine.

“Kamu sangat gegabah, Maya!” hardik Jaya pada istrinya dengan penuh kekecewaan.

“Maafkan aku, Jay. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa untuk mempertahankan rumah tangga Kevin dan Celine,” isak Maya.

“Aku akan menemui Kevin untuk melakukan negosiasi dengannya agar melepaskanmu. Kamu tahu akibatnya jika orang lain tahu bahwa dalam rumah tangga Keluarga Pratama, seorang anak tega memenjarakan ibunya sendiri. Memalukan!” Jaya mengakhiri percakapannya dengan Maya dan beranjak meninggalkan istrinya itu di ruang tahanan.

Sementara Maya terus menangis, menyesali mengapa putranya sendiri langsung membawa polisi untuk menangkapnya di gudang itu. Kevin terpaksa melakukannya karena ia memerlukan bantuan polisi untuk melacak keberadaan mobil yang dipakai Maya dengan cepat dan untuk menyelamatkan Miranda secara aman.

*** BERSAMBUNG***

Apakah Kevin akan memberikan ampunan pada Mamanya sendiri? Dan bagaimana hubungan Kevin dengan Miranda selanjutnya?

1
PrettyDuck
kasih tau aja pa. dia main belakang sama miranda.
biar sadar si celine.
lagian celine kenapa juga sih masih bertahan sama cowok bingung.
toh dia gak kekurangan apa2. cantik, kaya, pinter.
PrettyDuck
jahat bener mulutnya. di depan celine lagi.
rasanya pingin masuk layar buat jambak rambut kevin 😭
PrettyDuck
untung bapaknya gak rumpi
Three Flowers: bapaknya cool🤣
total 1 replies
PrettyDuck
kok gitu responnya??? /Panic//Panic/
jedotin ke dashboard aja mir palanya, biar eling.
Three Flowers: gas kan😂
total 1 replies
PrettyDuck
kalo emang prihatin kamu harus tegas. mau dibawa kemana hubungan sama miranda dan celine. jangan kayak orang bingung.
PrettyDuck
ke kuluraganya mungkin enggak. justru kekacauan ini mulanya ya dari keluarganya. tapi celine? korban dia tuhh
PrettyDuck
dia gak ada perasaan empati blas ya ke celine? padahal udah hidup bareng lama.
Three Flowers: betul! di situlah salahnya Kevin di sini, dia terlambat memilih dan menyadari.
total 3 replies
Filan
masalah dibuat sendiri. cewek kok ga ada harga dirinya padahal dokter, ngapain ngemis cinta
Three Flowers: iya, padahal sendirinya banyak yang ngefans
total 1 replies
Filan
pasti mau bikin gara-gara
Filan
ayolah Miranda buka hatimu.
Filan
gogo Kevin. Kamu bisa.
Filan
malah menghina. mana bisa mengambil hati Kevin. Aneh banget Celine ini.
Dia udah ga minta dihormati.
Kalaupun pernikahan dipertahankan apa jadinya
Three Flowers: dia ingin membalas sakit hatinya karena kepercayaan dirinya dijatuhkan oleh Kevin... ga sadar Kevin akan makin sebel😅
total 1 replies
Filan
ya tidak apa-apa nikah ulang. Yang penting cerai dulu
Filan
apa lagi nih? apa maya ini ga mau anaknya bahagia? ga mau punya keturunan?
Three Flowers: dia tetap maksa Kevin akhirnya mau terapi n bikin anaknya sama Celine yg selevel sama mereka😅
total 1 replies
Elly Suroso
Ngeri jg nih Celine mulai menyuruh orang mengikuti Kevin, smoga sj usaha rmh makan Miranda dn kakaknya tdk ketahuan Celine, penasaran nih lanjut donk👍💪😍
PrettyDuck
coba mau liat gimana cara kevin melindungi miranda.
dia gak akan lepas dari sanksi sosial kalo hubungan mereka sembunyi2.
PrettyDuck
ya kann? ternyata miranda juga punya empati ke celine
PrettyDuck
pilu bener ngebayangin perasaan celine kalo tau lakinya ngegodain perempuan lain 🥲
Three Flowers: iya, benar... kasihan dia😭
total 1 replies
PrettyDuck
ini kevin niatnya ke miranda apa dah sebenernya?
mau jadiin dijadiin sinpenan gitu ya?
Three Flowers: ingin dinikahi secara resmi, tapi nunggu waktu yang tepat karena mau fokus ke pengobatan Silvia
total 1 replies
PrettyDuck
wajar sih sikap miranda ke kevin dingin.
biar gimanapun, kevin punya istri sah yg gak tau menau hubungan lampau miranda sama kevin.
kesian celine, ntar pasti dia jadi jahat.
Three Flowers: iya, betul. Itulah alasan Miranda gak ingin balikan ke Kevin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!