NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 SATU LANGKAH TANPA PEGANGAN

Bzzzt...

Getaran ponsel membangunkan Abdul tepat beberapa menit sebelum azan subuh berkumandang.

Matanya masih setengah mengantuk ketika meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur.

Sebuah SMS baru dari Bank Suka sudah menunggu.

[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp80.000.000,00.]

[Saldo Akhir Anda: Rp3.852.550.000,00.]

Abdul membaca pesan itu sebentar lalu tersenyum tipis.

"Beasiswa ya..."

gumamnya.

Ingatan tentang mimpi semalam masih jelas.

Gedung sekolah.

Anak-anak berseragam.

Dan papan besar bertuliskan Program Beasiswa Masa Depan.

Anehnya, yang paling membekas bukan nominal delapan puluh juta rupiah itu.

Melainkan wajah-wajah anak yang tampak begitu bahagia saat memasuki ruang kelas.

Abdul mematikan layar ponselnya.

Ia tidak buru-buru memikirkan uang tersebut.

Justru pikirannya kembali melayang kepada Doni dan anak-anak panti lainnya.

 

Pagi itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya.

Ibu Abdul sedang menyiapkan bubur ayam kesukaan Bapak Abdul.

Aroma kaldu memenuhi ruang makan.

Ketika Abdul turun dari lantai dua, ia mendapati bapaknya sudah duduk di meja makan.

Sesuatu yang dulu mustahil.

Beberapa bulan lalu, pria itu bahkan kesulitan duduk tegak sendiri.

Sekarang kondisinya jauh lebih baik.

"Selamat pagi, Pak."

sapa Abdul.

Bapak Abdul menoleh.

"P-pagi."

Meski masih terbata-bata, suara itu terdengar jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Abdul tersenyum lebar.

Perkembangan kecil seperti ini selalu berhasil memperbaiki suasana hatinya.

 

Setelah sarapan, mereka kembali menuju klinik rehabilitasi.

Hari itu Nita terlihat lebih bersemangat dari biasanya.

"Saya mau coba latihan baru hari ini."

katanya.

Abdul mengangkat alis.

"Latihan apa?"

Nita tersenyum.

"Berjalan tanpa pegangan."

Baik Abdul maupun ibunya langsung terdiam.

Mereka saling pandang.

Ini jauh lebih sulit dibanding latihan-latihan sebelumnya.

Namun Nita terlihat yakin.

"Bapak sudah berkembang cukup pesat."

"Kita coba perlahan."

 

Latihan pun dimulai.

Ruangan fisioterapi terasa lebih sunyi dari biasanya.

Beberapa pasien lain bahkan ikut memperhatikan.

Bapak Abdul berdiri perlahan.

Tongkatnya diletakkan di samping.

Tidak ada pegangan.

Tidak ada alat bantu.

Hanya tubuhnya sendiri.

Kakinya terlihat sedikit gemetar.

Napasnya terdengar berat.

Abdul tanpa sadar mengepalkan tangan.

Ibu Abdul menundukkan kepala sambil terus berdoa dalam hati.

"Satu langkah saja, Pak."

kata Nita lembut.

"Pelan-pelan."

Bapak Abdul mengangguk.

Lalu...

Kakinya bergerak.

Satu langkah.

Tubuhnya sedikit oleng.

Namun ia berhasil menyeimbangkan diri.

Langkah kedua.

Langkah ketiga.

Langkah keempat.

Dan...

Langkah kelima.

Tanpa pegangan.

Tanpa bantuan siapa pun.

Ruangan mendadak hening beberapa detik.

Lalu terdengar tepuk tangan.

Beberapa pasien ikut bertepuk tangan.

Nita tersenyum lebar.

"Berhasil, Pak!"

Ibu Abdul langsung menangis.

Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.

Abdul sendiri merasakan matanya memanas.

Lima langkah.

Hanya lima langkah.

Namun bagi keluarga mereka...

Itu terasa seperti menaklukkan gunung.

 

Siang harinya.

Sebagai bentuk rasa syukur, Abdul mengajak kedua orang tuanya makan siang di sebuah rumah makan sederhana dekat taman kota.

Bapak Abdul terlihat sangat menikmati suasana.

Sesekali ia tersenyum melihat anak-anak kecil berlari-larian di taman.

"Ayah senang?"

tanya Abdul.

Pria tua itu mengangguk.

"S-senang."

Jawaban singkat itu sudah cukup membuat Abdul bahagia.

 

Sementara itu di workshop konveksi, suasana juga tidak kalah sibuk.

Rian dan Jaka sedang memeriksa hasil produksi seragam sekolah.

Salah satu karyawan baru menghampiri mereka.

"Kak Rian."

"Iya?"

"Pesanan sekolah yang kemarin sudah selesai semuanya."

Rian terkejut.

"Cepat juga."

Jaka tertawa.

"Mesin baru kita emang monster."

Mereka segera memeriksa hasil akhir.

Semuanya tampak rapi.

Tidak ada cacat.

Tidak ada jahitan yang lepas.

Kualitasnya bahkan lebih baik dibanding target awal.

Ketika Abdul datang sore hari, kabar itu langsung disampaikan kepadanya.

"Bagus."

kata Abdul puas.

"Kalau begitu bonus lembur minggu ini tetap jalan."

Para pekerja langsung bersorak kecil.

Membuat suasana workshop menjadi semakin hangat.

 

Menjelang sore Abdul kembali mengunjungi lokasi pembangunan panti.

Kerangka lantai dua kini sudah hampir selesai.

Beberapa pekerja sedang memasang rangka atap.

Doni tampak duduk di bawah pohon sambil membaca buku.

Begitu melihat Abdul datang, bocah itu langsung berdiri.

"Kakak baik!"

teriaknya.

Abdul tertawa.

"Kamu lagi."

Doni menggaruk kepala.

"Hehe."

Lalu ia menunjukkan buku yang sedang dibacanya.

"Itu buku apa?"

"Buku IPA."

"Katanya kalau mau jadi dokter harus pintar IPA."

Abdul duduk di sampingnya.

"Betul."

Doni tersenyum bangga.

"Kak."

"Hm?"

"Kalau aku nanti jadi dokter..."

"Aku mau bikin klinik gratis."

Abdul langsung teringat mimpi semalam.

Klinik Harapan Sehat.

Pasien.

Dan bangunan putih sederhana itu.

Entah kenapa dadanya terasa hangat.

Mungkin itu hanya kebetulan.

Atau mungkin tidak.

 

Malam hari.

Setelah semua pekerjaan selesai, Abdul duduk sendirian di balkon rumah.

Angin malam berembus lembut.

Dari kejauhan terlihat lampu pembangunan panti yang masih menyala.

Ia memikirkan banyak hal.

Tentang bapaknya.

Tentang Doni.

Tentang konveksi.

Tentang uang yang terus datang melalui mimpi.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

"Kalau suatu hari uang ini berhenti datang..."

"Apakah semua yang kubangun bisa tetap berjalan?"

Pertanyaan itu membuatnya terdiam cukup lama.

Lalu perlahan ia tersenyum.

Karena kini jawabannya berbeda dibanding beberapa bulan lalu.

Dulu jawabannya mungkin tidak.

Namun sekarang...

Konveksinya sudah menghasilkan keuntungan nyata.

Para pekerjanya berkembang.

Dan banyak orang mulai berdiri di atas kaki mereka sendiri.

"Kalau berhenti pun..."

gumamnya pelan.

"Aku gak akan kembali ke titik nol."

Pikiran itu membuatnya jauh lebih tenang.

 

Malam semakin larut.

Abdul pun tertidur.

Di dalam mimpinya kali ini...

Ia berdiri di sebuah aula besar.

Puluhan anak menerima amplop beasiswa sambil tersenyum bahagia.

Di atas panggung terdapat sebuah papan digital.

Dan di sana tertera angka yang sangat jelas.

Rp220.000.000,00

Angka itu bersinar terang.

Semakin terang.

Semakin terang.

Hingga seluruh aula berubah menjadi lautan cahaya emas.

 

Pukul 04.50 subuh.

Ponsel Abdul kembali menyala sendiri.

Tulisan sistem muncul perlahan.

[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]

[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Penyaluran Dana Beasiswa.]

[Nominal Akumulasi Visual Dalam Mimpi: Rp220.000.000,00.]

[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]

[Proses Berhasil.]

Namun sebelum cahaya menghilang...

Sebuah tulisan baru muncul sesaat.

[Perubahan Nasib Positif Terdeteksi.]

[Sinkronisasi Meningkat.]

[22% → 23%]

Tulisan itu hanya muncul kurang dari satu detik.

Lalu menghilang begitu saja.

Seolah sistem sedang menghitung sesuatu yang bahkan Abdul sendiri belum siap untuk mengetahuinya.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!