NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Dibalik Kabut & Nama Pewaris

Asap putih tebal masih mengepul memenuhi ruangan kecil itu, menyengat hidung dan membuat mata perih. Namun, bagi Dewa, kabut itu tak lagi menjadi penghalang. Sosok wanita yang berdiri di ambang pintu yang hancur itu wanita yang wajahnya sama persis dengan potret yang tergantung di ruang tengah rumahnya selama sepuluh tahun membuat seluruh darah di tubuhnya terasa membeku.

Ibu Maya. Ibunya. Wanita yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan tunggal sepuluh tahun lalu, kecelakaan yang terjadi tak lama setelah kematian Ayah Ardi. Selama ini Dewa mengira ia yatim piatu, tumbuh dengan rasa kehilangan dan dendam, namun kenyataannya... wanita itu hidup. Hidup, berdiri di sisi musuh, dan menatapnya dengan tatapan yang jauh lebih dingin daripada orang asing sekalipun.

Kalimat itu masih bergaung di telinga Dewa: "Kau hanyalah alat."

Naura mencengkeram lengan Dewa erat-erat, merasakan betapa kaku dan gemetar tubuh pria itu. Ia sendiri tak kalah kaget, namun nalurinya untuk melindungi orang yang dicintainya jauh lebih kuat. Ia melangkah sedikit ke depan, menempatkan dirinya setengah badan di depan Dewa, seolah menjadi tameng di tengah kepungan maut ini.

Raga tertawa keras, suara tawanya menggema mengerikan di antara reruntuhan kedai kecil itu. Di belakangnya, puluhan anak buahnya sudah mengacungkan senjata, mengelilingi bangunan itu hingga tak ada celah untuk lari. Pak Wahyu berdiri tenang di samping Ibu Maya, wajahnya tak lagi menampakkan kerutan kebaikan atau kesedihan yang kemarin ia pamerkan. Kini, wajah pria tua itu datar, penuh keyakinan, seolah ia adalah penguasa sejati di sini.

"Kau terlihat sangat terkejut, Dewa," ucap Raga sambil berjalan perlahan mendekat, langkahnya santai seolah sedang berjalan-jalan di taman, bukan di medan pertempuran. "Kau pikir ibumu benar-benar meninggal? Kau pikir semua penderitaanmu, semua rasa kehilanganmu itu nyata? Ah, sayang sekali... semuanya sudah diatur sejak awal. Bahkan air matamu pun adalah bagian dari skenario kami."

Dewa berusaha menenangkan diri, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping. Ia menatap tajam ke arah ibunya, berusaha mencari sedikit saja jejak kasih sayang atau penyesalan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan dan ambisi yang membara.

"Kenapa..." suara Dewa keluar parau, hampir tak terdengar. "Kenapa kau masih hidup, Bu? Kenapa kau tidak pernah menemuiku? Selama sepuluh tahun aku meratapi kepergianmu, selama sepuluh tahun aku membenci dunia ini karena mengira aku ditinggalkan... dan ternyata kau ada di sana, bekerja sama dengan orang-orang yang membunuh ayahku?"

Ibu Maya menghela napas panjang, lalu melangkah maju selangkah. Wajahnya yang cantik namun kini tampak keras menatap lurus ke arah putra kandungnya.

"Ayahmu?" ulang wanita itu dengan nada sinis. "Ardi Buwana bukan ayahmu, Dewa. Itu fakta pertama yang kau harusnya pahami sejak dulu. Dia hanya pria bodoh yang menerima anak orang lain, membesarkannya, dan memberinya nama besar. Aku hidup bukan untukmu, dan bukan untuk dia. Aku hidup untuk satu tujuan: memastikan nama dan kekayaan yang seharusnya menjadi hak keluarga asliku kembali ke tangan kami."

"Keluarga asli?" potong Naura cepat, tak bisa lagi menahan diri. "Apa maksudmu? Apa ini semua soal harta dan nama saja? Kau rela membiarkan anakmu tumbuh dalam penderitaan, rela membiarkan dia membenci orang yang dia cintai, hanya demi harta?"

Pak Wahyu yang sedari diam akhirnya bersuara. Suaranya berat dan penuh wibawa, sama seperti saat ia berlagak sebagai penyelamat kemarin, namun kali ini maknanya jauh lebih mengerikan.

"Kau masih terlalu muda untuk mengerti, Nak. Sejarah keluarga Buwana adalah sejarah pertumpahan darah, persaingan, dan dendam yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dulu, ada dua keluarga besar yang berkuasa: Keluarga Buwana dan Keluarga Adhitama. Mereka bersaing sengit. Ardi Buwana mengalahkan dan menyingkirkan ayah Ibu Maya kakek dari Dewa dengan cara licik. Dia mengambil alih kekuasaan, dan menganggap keluarga Adhitama musuh yang harus dimusnahkan."

Pak Wahyu menunjuk Dewa dengan pandangan tajam.

"Ibumu, Maya, adalah pewaris terakhir Keluarga Adhitama. Dia menikah dengan Ardi Buwana bukan karena cinta, tapi sebagai bagian dari rencana balas dendam. Dia harus masuk, menanamkan pengaruh, dan mengambil kembali apa yang dirampas. Dan kau, Dewa... kau lahir dari hubungan rahasia ibumu dengan pria pilihan kami, pria berdarah murni Adhitama. Kau diciptakan, kau dibesarkan, dan kau dididik dengan satu tujuan: menjadi keponakan, menjadi pewaris Buwana, dan suatu hari nanti menghancurkan nama itu dari dalam."

Dewa terhuyung mundur, punggungnya menabrak dinding kayu yang sudah retak. Rasanya seluruh identitasnya direnggut paksa. Ia bukan Buwana, bukan anak Ardi, melainkan alat balas dendam dari keluarga musuh. Selama sepuluh tahun ia membenci nama Zafira, membenci Naura, membenci semua orang yang ia anggap merugikan keluarga Buwana, padahal ia sendiri adalah musuh yang disembunyikan di dalam benteng itu.

"Lalu... ayah Ardi tahu?" tanya Dewa pelan, air mata mulai menggenang namun ia berusaha menahannya. "Dia tahu aku bukan anaknya, dia tahu ibu memata-matai dia... tapi dia tetap membesarkanku dengan kasih sayang?"

Pertanyaan itu membuat Ibu Maya terdiam sejenak. Ada kilatan emosi samar yang melintas di matanya, namun hilang secepat ia datang.

"Dia tahu. Dia orang yang cerdas. Tapi dia juga orang yang lemah karena perasaan. Dia mencintaiku, bodohnya. Dan dia mencintaimu, meski tahu kau adalah benih kebencian keluargaku. Itulah kelemahan terbesarnya, dan itulah yang membuat kami bisa mengalahkannya dengan mudah."

Di samping mereka, Kakek Harun yang tergeletak di lantai karena terjebak asap, perlahan bangkit. Wajahnya penuh amarah dan rasa sakit.

"Kalian semua iblis!" seru kakek itu parau. "Tuan Ardi selalu berkata: kebenaran akan terungkap pada waktunya, dan kebenaran itu akan menyakitkan. Tapi aku tidak menyangka sejahat ini caranya. Kalian memanfaatkan kasih sayang, memanfaatkan darah daging sendiri, demi kekuasaan yang fana!"

Raga melangkah cepat, menendang tubuh tua itu hingga kembali terguling. "Diam kau, orang tua tua! Kau sudah tidak berguna lagi. Sekarang..." Raga berbalik menatap Dewa dan Naura, senyumnya melebar penuh kemenangan. "...serahkan dokumen yang kau pegang itu, Dewa. Serahkan surat wasiat curian itu. Kau sudah tidak punya apa-apa lagi. Kau tahu siapa dirimu, kau tahu kau tidak punya kekuatan, dan kau tahu kau dikepung dari segala arah. Berikan saja, dan mungkin kami akan membiarkan kau dan gadis ini hidup sedikit lebih lama."

Dewa meremas tumpukan kertas di tangannya. Di antara kertas-kertas itu, ada lembaran yang belum sempat dibacakan Kakek Harun—surat wasiat asli Ayah Ardi yang menyebutkan nama pewaris sejati. Nama yang bukan Dewa, bukan Naura.

Tiba-tiba, Dewa teringat kembali pesan terakhir ayahnya, potongan demi potongan kalimat yang dulu ia anggap bualan orang yang sedang sekarat: "Pewaris sejati adalah anak kandungku, anak yang disembunyikan, anak yang lahir dari hubungan sah namun tidak diakui... anak yang dirawat oleh orang kepercayaan tertinggiku agar selamat dari bahaya."

Orang kepercayaan tertinggi... dulu ia mengira itu Pak Wahyu, tapi ternyata Pak Wahyu adalah pengkhianat. Lalu siapa?

Dewa menatap tajam ke arah Pak Wahyu, lalu ke arah Ibu Maya, dan akhirnya matanya jatuh pada foto lama yang tergenggam erat di tangan Pak Wahyu. Foto yang kemarin ia lihat sekilas. Foto itu berisi tiga orang: Ayah Ardi, Ibu Ratih—ibu kandung Naura, dan seorang bayi kecil yang digendong oleh seorang wanita lain yang wajahnya sengaja tertutup sudut foto.

"Foto itu..." gumam Dewa keras-keras, menarik perhatian semua orang. "Foto apa yang kau pegang itu, Pak Wahyu?"

Pak Wahyu tersentak, refleks ia menyembunyikan foto itu ke balik punggungnya. Namun reaksi panik itu justru memperkuat kecurigaan Dewa.

"Itu bukan urusanmu," ketus Pak Wahyu.

"Kau bilang kau orang kepercayaan ibuku, kau orang kepercayaan keluarga Adhitama," ucap Dewa mulai menyusun benang merah di kepalanya, suaranya kembali tegas dan berwibawa, meski hatinya sedang hancur. "Tapi kau juga yang dulu bekerja untuk Ayah Ardi. Kau ada di sana saat semua rahasia terjadi. Kau yang memisahkan anak-anak, kau yang mengatur siapa dibawa ke mana."

Dewa melangkah maju satu langkah, berani menatap wajah-wajah yang dulu ia anggap dewa-dewa pemegang nasibnya.

"Ayah Ardi menulis bahwa pewaris sejati dirawat oleh orang kepercayaan tertinggi. Kalian bilang kalian mengatur segalanya. Kalian bilang kalian tahu segalanya. Tapi kenapa kalian begitu takut pada surat wasiat itu? Kenapa kalian tidak berani membiarkan namanya disebut? Apakah... apakah kalian sendiri tidak tahu siapa pewaris itu?"

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu. Wajah Raga berubah keruh. Ibu Maya tampak bingung. Pak Wahyu... Pak Wahyu justru tersenyum lagi, senyum yang lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Kau mulai pintar, Dewa," ucap Pak Wahyu pelan. "Benar, kami tidak tahu persis siapa dan di mana anak itu. Ardi sangat cerdas menyembunyikannya. Dia tahu kami akan mencari dan membunuh anak itu jika kami tahu siapa dia. Dia menitipkan anak itu pada seseorang yang bahkan aku pun tidak kenal wajahnya, seseorang yang setia mati-matian, dan dia hanya meninggalkan petunjuk di dalam dokumen-dokumen ini."

Pak Wahyu menunjuk tumpukan kertas di tangan Dewa.

"Itulah sebabnya kami membiarkan kalian lari, membiarkan kalian membawa dokumen itu, dan membiarkan kalian berpikir kalian menang. Kami berharap kalian akan mencari petunjuk itu, mengikuti jejak itu, dan akhirnya menuntun kami langsung ke tempat persembunyian pewaris sejati itu. Karena begitu kami menemukannya... maka takdir keluarga Buwana akan berakhir selamanya."

Naura tersentak hebat. Ia baru menyadari sesuatu yang mengerikan.

"Jadi... aku dan Dewa... kita hanyalah umpan juga? Sama seperti dokumen ini? Kita diizinkan hidup, diizinkan berjuang, hanya untuk menjadi penunjuk jalan ke arah satu-satunya orang yang bisa menghancurkan kekuasaan kalian?"

"Persis sekali, Nyonya Muda," jawab Raga dengan gembira. "Dan rencana kami berjalan sangat mulus. Sampai di desa ini, sampai di depan orang tua ini, kalian hampir saja membacakan nama itu untuk kami. Sayang sekali kami harus mengganggu."

Namun, di tengah kekacauan dan pengakuan mengerikan itu, Kakek Harun yang masih terbaring di lantai berusaha bangkit kembali. Dengan sisa tenaganya, kakek itu melemparkan sebuah benda kecil ke arah Dewa—sebuah gantungan kunci kayu berukir bentuk matahari, sama persis dengan lambang di liontin Dewa.

"Dewa... tangkap ini..." bisik Kakek Harun dengan napas tersengal. "Di balik ukiran ini... ada mikrofilm. Isinya... daftar nama, lokasi, dan... bukti asli semua kejahatan mereka. Ardi memberikannya padaku sepuluh tahun lalu, berpesan: Berikan ini hanya pada orang yang berani memegang kebenaran meski tahu dia hanyalah alat."

Raga berteriak marah, melompat hendak menangkap benda itu, namun Dewa lebih cepat. Ia menangkap gantungan kunci itu di udara, menyelipkannya ke saku baju secepat kilat sambil menarik tangan Naura.

"Naura, ikut aku!" seru Dewa.

Di saat yang sama, Kakek Harun dengan sekuat tenaga menarik seutas tali besar yang tersembunyi di bawah meja—tali yang terhubung ke penopang langit-langit kedai itu.

"Pergilah! Ini pengorbanan terakhirku untuk Tuan Ardi!" teriak Kakek Harun.

Bunyi 'krek' keras terdengar. Langit-langit dan atap kedai tua itu runtuh seketika, menimpa Raga, anak buahnya, Pak Wahyu, dan Ibu Maya yang berada di bagian depan ruangan. Debu dan puing beterbangan ke mana-mana, menciptakan kekacauan luar biasa.

Dewa memanfaatkan momen itu. Ia menarik Naura masuk ke celah kecil di dinding belakang yang dulu pernah ditunjukkan Kakek Harun sebagai jalan darurat. Mereka merayap cepat di bawah tumpukan kayu dan debu, mendengar suara teriakan dan amukan Raga di belakang mereka yang tertahan di bawah reruntuhan.

Mereka keluar ke sisi lain bukit, tepat di pinggir jurang yang tertutup semak belukar lebat. Napas mereka memburu, dada mereka naik turun, namun mereka terus berlari menjauh, masuk lebih dalam ke hutan belantara yang lebat dan gelap.

Setelah merasa cukup jauh dan aman, mereka berhenti di balik pohon besar yang rimbun. Di sana, di tengah kesunyian hutan yang hanya diisi suara jangkrik dan angin malam, Dewa dan Naura saling menatap. Tubuh mereka penuh luka, kotor, dan lelah, namun di mata mereka kini tidak lagi ada rasa bingung atau dendam buta.

Dewa mengeluarkan gantungan kunci kayu itu dari sakunya. Ia membelah ukiran matahari itu dengan hati-hati, dan di dalamnya terdapat selembar film kecil bening.

"Di sini ada jawabannya, Naura," bisik Dewa, suaranya tenang namun penuh tekad baja. "Di sini ada nama pewaris sejati Buwana. Di sini ada bukti kejahatan ibu kandungku, Pak Wahyu, Raga, dan Sera. Dan di sini... mungkin ada jawaban terakhir tentang siapa kita sebenarnya."

Naura menggenggam tangan Dewa erat, menatapnya dengan mata berbinar.

"Kita bukan alat lagi, Dewa. Karena kita punya kebenaran. Dan karena kita saling memiliki. Apapun isi di sana, apapun siapa pewaris itu... kita akan menemukannya. Kita akan melindunginya, dan kita akan membalas semua ini."

Namun, saat Dewa hendak menyimpan kembali benda berharga itu, matanya menangkap sesuatu yang tergantung di dahan pohon di atas kepala mereka. Sebuah kamera pengintai kecil, tersembunyi di antara daun-daun. Dan di bawah kamera itu, terikat selembar kertas kecil yang tertulis tulisan tangan indah:

"Kerja bagus, Dewa. Kau berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Sekarang, bawalah benda itu ke tempat yang tertulis di mikrofilm itu. Di sana, kau akan bertemu orang yang kau cari... dan kau akan mengetahui bahwa musuh terbesarmu bukanlah mereka yang kau lihat hari ini. Selamat datang di babak akhir permainan kita. - S.R."

Dewa dan Naura menegang serentak. Sera. Wanita bergaun merah itu ternyata sudah mengantisipasi segalanya, bahkan kekalahan Raga dan pengkhianatan Pak Wahyu sekalipun. Dia tidak hanya mengawasi dari jauh... dia mengatur arah permainan ini sampai ke detail terkecil.

Dan yang lebih mengerikan: di akhir pesan itu, ada satu kalimat tambahan yang membuat jantung mereka berdua hampir berhenti berdetak.

"Dan sampaikan salamku untuk adikmu, Dewa. Dia sudah menunggu cukup lama untuk bertemu kakak kandungnya."

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!