Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - TENTARA YANG MASIH HIDUP
Damar tidak tahu sudah berapa kilometer kakinya melangkah, atau sudah berapa jam waktu berlalu sejak dia memutuskan keluar dari reruntuhan minimarket itu. Yang dia tahu pasti, kota yang dulunya dia kenal sebagai pusat peradaban yang bising, kini telah kehilangan kompasnya. Kota ini tidak lagi punya arah. Semuanya melebur menjadi labirin beton yang mati dan membusuk.
Langkahnya merayap pelan, nyaris tanpa suara, melewati aspal hitam yang dulu mungkin macet total oleh deretan kendaraan kaum urban saat jam pulang kantor. Sekarang? Jalanan itu hanya menyisakan bangkai-bangkai mobil yang hangus terbakar hingga menyisakan kerangka besi legam. Pecahan kaca dari jendela ruko berserakan di mana-mana, berkilau sinis di bawah sisa-sisa cahaya bulan yang tertutup jelaga. Beberapa bangunan bertingkat di kanan-kirinya mulai kehilangan bentuk aslinya; runtuh, retak, atau menghitam akibat sisa kebakaran yang tak sempat dipadamkan.
Setiap sepuluh atau dua puluh meter, Damar terpaksa menghentikan langkahnya. Punggungnya merapat ke kap mobil atau pilar toko terdekat. Dada dan paru-parunya naik-turun memburu pasokan oksigen, tapi dia tidak berani bernapas terlalu keras.
Dia berhenti bukan semata-mata karena otot kakinya sudah berteriak minta ampun. Melainkan karena rasa takut yang terus mencengkeram tengkuknya. Di kota mati ini, diam terlalu lama di tempat terbuka bisa berarti mati dalam hitungan detik. Tapi melangkah serampangan tanpa perhitungan juga jalan tol menuju liang kubur.
*“Aing kudu ka mana sabenerna? Anjir, lieur…”* bisik Damar pada kesunyian, menyeka keringat dingin yang bercampur debu jalanan di dahinya. (Aku harus ke mana sebenarnya? Anjir, pusing...)
Tiba-tiba, dari arah kejauhan menembus kabut asap tipis, sebuah gelombang suara yang sangat familiar memecah sunyi.
*DUAR! DUAR!*
Suara letusan senapan serbu menggema hebat, memantul di antara dinding-dinding gedung tinggi. Damar secara refleks langsung merunduk rendah, menjatuhkan lututnya ke aspal di balik sebuah ban truk yang pecah. Jantungnya berdetak gila-gilaan, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Udara di sekitarnya mendadak terasa makin mencekam.
“Masih ada tentara…” gumam Damar pelan, bibirnya bergetar.
Namun, alih-alih merasa lega, sekelebat keraguan justru melintas di benaknya. Di dunia yang sudah gila seperti ini, pertemuan dengan sesama manusia—bahkan mereka yang berseragam dan memegang otoritas hukum—tidak selalu berakhir menjadi kabar baik. Bisa jadi mereka justru lebih berbahaya ketimbang makhluk-makhluk kaku di luar sana jika mereka sudah kehilangan kemanusiaannya demi bertahan hidup.
Tapi Damar tidak punya kemewahan untuk memilih. Diam di sini berarti menunggu giliran untuk dikepung. Dengan sangat hati-hati, dia mulai bergerak merangkak, mengikuti arah asal suara tembakan tadi. Setiap jengkal pergerakannya dihitung dengan cermat, matanya bergerak liar memindai setiap sudut gelap, sampai akhirnya dia tiba di ujung sebuah persimpangan jalan arteri yang cukup besar.
Dan di sana, di balik kepulan asap tipis, Damar melebarkan matanya.
Sebuah barikade darurat skala besar telah didirikan di tengah jalan. Dua buah truk barak militer berukuran besar diparkir melintang, menutup penuh akses jalan utama. Di depan truk-truk itu, gulungan kawat berduri dipasang berlapis-lapis seadanya, dikombinasikan dengan tumpukan karung pasir sebagai benteng pertahanan.
Dan yang paling penting: di balik benteng karung pasir itu, berdiri beberapa orang tentara dengan seragam loreng lengkap. Laras senjata serbu mereka bergerak aktif memindai kegelapan jalanan.
Damar baru saja hendak menggeser kakinya dari balik tembok ruko ketika salah satu moncong senjata itu mendadak mengarah tepat ke posisinya.
“STOP! JANGAN BERGERAK!” sebuah teriakan lantang yang sarat akan tekanan memotong keheningan malam.
Langkah Damar langsung terkunci di tempat. Tubuhnya kaku seketika.
“ANGKAT TANGAN DI ATAS KEPALA! MAJU PERLAHAN! SEKARANG!”
Damar menelan ludah yang terasa segetir empedu. Dia perlahan-lahan mengangkat kedua tangannya ke atas, memastikan gerakannya tidak terlihat mencurigakan atau mengancam. Langkah kakinya diseret maju mendekati sorot lampu sorot dari barikade yang mendadak menyala, menyilaukan pandangannya.
“Gue… gue manusia! *Urang* masih hidup, pak! Jangan menembak!” seru Damar dengan suara parau yang dipaksakan agar terdengar lantang.
Suasana mendadak hening selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Hanya ada suara deru mesin truk yang menyala stasioner di belakang barikade. Salah satu tentara, dengan helm taktis dan wajah yang coreng-moreng oleh debu mesiu, melompati barikade karung pasir dan berjalan mendekati Damar dengan langkah waspada. Senjatanya tetap terarah lurus ke dada Damar.
“Status?” tanya tentara itu dengan nada suara yang dingin dan tajam.
Damar mengerutkan kening, otaknya yang lelah mendadak macet. “Hah? Status apa, pak?”
“KAU TERINFEKSI ATAU TIDAK?! ADA LUKA GIGITAN ATAU CAKARAN DI TUBUHMU?!” bentak tentara itu lagi, mengoreksi jaraknya dengan mengambil satu langkah mundur, bersiap menarik pelatuk jika Damar menunjukkan gelagat aneh.
“ENGGAK!! *Demi Allah, urang* bersih, pak! Enggak ada luka sama sekali!” teriah Damar panik, nyaris histeris. Dia memutar tubuhnya sekilas untuk menunjukkan bahwa jaket dan pakaiannya tidak robek oleh bekas serangan.
Sebelum tentara itu melangkah lebih dekat untuk melakukan pemeriksaan fisik paksa, sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa terdengar dari balik truk militer.
“Bawa dia masuk ke dalam garis barikade. Jangan biarkan dia berdiri terlalu lama di zona terbuka.”
Seorang pria paruh baya berjalan keluar dari balik bayangan truk. Penampilannya jelas berbeda dari para prajurit muda yang berjaga di lini depan. Pria ini tampak jauh lebih tenang, kepalanya tegak, dan pembawaannya luar biasa tegas. Umurnya mungkin berkisar di akhir 30-an atau awal 40-an. Tatapan matanya tajam bagai elang, mengisyaratkan pengalaman tempur yang matang, sama sekali tidak ada riak kepanikan di sana. Di kerah seragam militer yang agak kotor miliknya, tanda pangkat tiga balok emas masih tersemat dengan jelas.
Pria itu berhenti tepat di depan Damar yang masih mengangkat tangan. “Nama?” tanya pria itu singkat, tapi menuntut jawaban instan.
“…Damar, pak,” jawab Damar pelan, perlahan menurunkan tangannya karena merasa tekanan di sekitarnya sedikit mengendur.
Pria itu mengamati penampilan Damar dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan detail pakaian, tatapan mata, hingga cara Damar berdiri. “Kapten Rendra Mahesa. Komandan Kompi C Sektor Evakuasi Tiga.”
Damar hanya bisa terdiam, tidak tahu harus merespons apa dengan protokol militer seperti itu.
Kapten Rendra melirik sekilas ke arah jalanan gelap di belakang Damar, tempat dari mana pemuda itu datang. “Kamu selamat dari zona tengah distrik?”
Damar mengangguk kecil, tenggorokannya bergerak naik-turun. “Iya, pak. Dari balai sekolah dasar negeri di dekat jalan arteri. Tempat itu…”
“Tempat itu sudah jatuh dua jam yang lalu,” potong Rendra dengan nada suara yang teramat datar.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada emosional atau penuh kesedihan. Rendra mengatakannya seolah-olah itu hanyalah sebuah laporan cuaca harian yang biasa. Namun, justru karena ketiadaan emosi itulah yang membuat bulu kuduk Damar meremanding hebat. Berapa banyak tempat aman yang sudah jatuh hingga seorang kapten militer bisa berbicara sepasang mati itu tentang kematian ratusan orang?
“Masuk ke dalam. Sersan, lakukan pemeriksaan standar baret hijau di pos dua,” perintah Rendra pada anak buahnya, lalu berbalik badan tanpa menunggu respons.
Damar sempat ragu selama satu detik. Dia melirik kawat berduri di sampingnya, lalu menatap kegelapan kota di belakangnya. Benar kata Rendi sebelum mereka terpisah: tidak ada kata aman. Tapi setidaknya, di balik barikade ini, ada dinding besi dan senapan yang bisa memberinya waktu bernapas. Dia pun melangkah melewati pembatas darurat tersebut.
Begitu kakinya menginjak bagian dalam zona barikade, Damar langsung menyadari perbedaan atmosfer yang sangat kontras dengan anarki di luar sana.
Di dalam zona ini, segalanya berjalan dengan keteraturan yang ketat dan dingin. Sebuah lapangan parkir luas dari bekas kompleks pemerintahan telah disulap menjadi kamp transit darurat. Orang-orang sipil yang berhasil selamat dikumpulkan di tengah lapangan, dikelilingi oleh pagar kawat tambahan.
Ada pos pemeriksaan medis darurat di mana orang-orang disuruh menanggalkan baju atas mereka untuk diperiksa di bawah sorot lampu neon. Di sudut lain, beberapa relawan membagikan botol air mineral dengan porsi yang sangat dibatasi. Sebagian besar orang yang berada di sana hanya duduk diam di atas beton, memeluk lutut dengan tatapan mata yang kosong dan mati—trauma telah merenggut jiwa mereka, menyisakan tubuh yang sekadar bernapas.
Sementara itu, para tentara bergerak cepat, terstruktur, dan penuh disiplin. Mereka memindahkan kotak-kotak amunisi, memperkuat barikade, dan berkomunikasi lewat radio HT yang berisik oleh suara statis. Benar-benar kontras dengan kekacauan massal yang Damar saksikan di balai sekolah tadi.
Damar berjalan mengekor di samping Kapten Rendra yang tampaknya sedang melakukan inspeksi keliling. “Pak… ini… tempat ini beneran aman?” tanya Damar dengan suara lirih, hampir tidak terdengar di antara bisingnya suara radio darurat.
Rendra menghentikan langkahnya sekilas. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Damar. Matanya menatap lurus ke arah para pengungsi yang sedang meringkuk ketakutan, sebelum akhirnya beralih menatap Damar.
“Ini bukan aman, Damar,” jawab Rendra dengan suara beratnya yang dingin. “Di dunia sekarang, kata ‘aman’ itu sudah musnah. Ini cuma tempat untuk bertahan sedikit lebih lama.”
Damar menelan ludahnya yang terasa kesat. Dia memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sejak kemarin menyiksa isi kepalanya. “Yang di luar itu… makhluk-makhluk itu… sebenarnya apa, pak? Penyakit? Senjata kimia? Atau apa?”
Rendra menatap Damar agak lama, seolah sedang menimbang apakah pemuda di depannya ini cukup kuat untuk mendengar jawaban yang sebenarnya.
“Secara medis dan taktis, markas komando pusat belum mengeluarkan nama ilmiah atau rilis resmi mengenai fenomena ini,” Rendra berhenti sejenak, menghela napas berat yang langka dari mulutnya. “Tapi di antara frekuensi radio darurat dan sisa-sisa obrolan prajurit di lapangan… orang-orang menyebutnya ‘infeksi’.”
“Infect… maksudnya, kayak zombie di film-film gitu, pak?” sergah Damar cepat.
Rendra langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, sorot matanya menajam. “Jangan pernah pakai istilah film atau fiksi ilmiah untuk situasi kita sekarang, anak muda. Itu naif. Apa yang terjadi di luar sana jauh lebih buruk dan lebih sistematis dari sekadar mayat hidup yang berjalan lambat.”
Sebelum Damar sempat mencerna maksud dari ucapan sang kapten, sebuah keributan pecah dari arah pos pemeriksaan medis di sisi kiri mereka.
“LEPASKAN SAYA! SIALAN! *URANG LAIN JALMA EDAN!* SAYA MASIH SADAR!!” (Lepaskan saya! Sialan! Aku bukan orang gila! Saya masih sadar!!)
Seorang pria muda berpakaian kantoran yang robek-robek berteriak histeris. Tubuhnya diringkus oleh dua orang tentara bertubuh kekar. Pria itu meronta-ronta dengan beringas, air matanya mengucur deras di sela wajahnya yang memerah penuh urat tehang. Di lengan kanannya, terdapat sebuah luka goresan panjang yang masih basah, meskipun warnanya sudah mulai berubah menjadi keunguan yang tidak wajar.
“Bawa dia ke tenda isolasi sektor empat! Cepat!” perintah bintara yang bertugas di pos tersebut.
Meskipun pria itu terus berteriak, memohon, dan bersumpah demi apa pun kalau kesadarannya masih utuh, para tentara tetap menyeretnya dengan dingin tanpa rasa iba sedikit pun. Pintu tenda isolasi kanvas tebal ditutup rapat, meredam suara tangisannya yang memilukan.
Damar menyaksikan pemandangan itu dengan tubuh yang mendadak kaku, bulu kuduknya berdiri. “Kenapa… kenapa dia ditahan dan diseret kayak gitu, pak? Dia kan jelas-jelas masih bisa bicara? Masih bisa mikir?”
Rendra menjawab pertanyaan itu bahkan tanpa menoleh ke arah Damar, pandangannya tetap lurus ke depan. “Karena kita belum tahu pasti berapa lama masa inkubasi patogen itu di dalam darah manusia sebelum perubahan total dimulai. Sejam? Dua jam? Atau sehari? Kita tidak punya kemewahan untuk berspekulasi. Satu kecerobohan kecil di dalam sini, maka seluruh barikade ini akan runtuh dari dalam.”
Damar langsung membisu. Lidahnya mendadak kelu. Realitas di dalam kamp ini ternyata sama kejamnya dengan dunia luar, hanya saja dibungkus oleh seragam dan disiplin militer.
Mereka berdua terus berjalan hingga sampai di ujung perimeter zona, tepat di balik pagar besi tambahan yang diperkuat dengan kawat silet. Dan dari balik pagar itulah, suara-suara horor dari kegelapan kota kembali terdengar.
Jeritan manusia yang letaknya entah berapa blok dari sini. Langkah kaki yang ribuan jumlahnya, bergerak acak di antara kegelapan gang. Bunyi hantaman tubuh pada tiang-tiang listrik. Kadang-kadang suasana berubah menjadi sunyi senyap yang menipu, sebelum akhirnya pecah kembali oleh raungan parau yang bersahutan seperti paduan suara kematian.
Rendra menghentikan langkahnya tepat di depan pagar, menatap menembus kegelapan malam yang pekat. “Dengar baik-baik, Damar.”
Damar menoleh, menatap sisi samping wajah sang kapten yang tampak mengeras seperti batu karang.
“Sekarang dunia sudah berubah total. Aturan lama sudah tidak berlaku,” Rendra mengangkat tangannya, menunjuk ke arah barikade tempat mereka berdiri, lalu ke arah kerumunan pengungsi di lapangan. “Ini bukan lagi sebuah kota yang punya hukum dan pemerintahan. Ini hanyalah sebuah titik bertahan terakhir yang sedang menghitung mundur waktunya.”
Damar menatap punggung tegap pria berseragam itu, rasa cemas yang teramat sangat mulai merayap di dadanya. “Kalau tempat ini cuma buat bertahan… kira-kira berapa lama kita bisa bertahan di sini, pak?”
Rendra tidak langsung menjawab. Dia meraba saku seragamnya, mengeluarkan sebuah peluit perak yang sudah kusam, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya kembali. Matanya menatap jauh ke luar pagar, ke arah siluet gedung-gedung pusat kota yang membara.
“Kalau kita beruntung, logistik makanan cukup, dan pasokan amunisi dari markas wilayah barat bisa menembus blokade…” Rendra menjeda kalimatnya. “Mungkin beberapa minggu.”
Dada Damar terasa seperti dihantam godam besi. “Beberapa minggu?! Cuma segitu?”
Rendra akhirnya memutar tubuhnya, menatap Damar dengan mata yang dingin tanpa kebohongan. “Itu kalau kita beruntung, Damar.”
“Kalau… kalau tidak beruntung?” bisik Damar dengan suara yang nyaris habis.
Rendra terdiam selama tiga detik yang terasa mencekam. “Beberapa hari. Atau bahkan mungkin… besok pagi tempat ini sudah rata dengan tanah.”
Hening yang luar biasa pekat mendadak turun di antara mereka berdua, mengabaikan bisingnya suara mesin truk dan radio HT. Jawaban jujur dari sang kapten justru menghancurkan sisa-sisa harapan naif yang sempat tumbuh di kepala Damar.
Dengan tubuh yang terasa luar biasa berat dan lelah, Damar berjalan tertatih menuju ke samping salah satu truk militer. Dia menjatuhkan pantatnya di atas bumper besi truk yang dingin, menekuk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Bahunya bergetar sedikit.
*“Rendi… Naya… aranjeun di mana ayeuna, euy? Masih haridup teu?”* gumam Damar sangat lirih, beralih menggunakan bahasa ibunya karena di saat-saat paling hancur seperti ini, hanya bahasa itulah yang bisa mengekspresikan keputusasaannya secara utuh. (Rendi… Naya… kalian di mana sekarang, euy? Masih hidup gak?)
Kapten Rendra ternyata berdiri tidak jauh dari sana dan mendengar gumaman lirih pemuda itu. Dia melangkah mendekat, berdiri di samping truk. “Teman-mu? Atau keluargamu?”
Damar mendongak dengan mata yang memerah berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. “Teman-teman saya, pak. Kita kepisah pas gerbang sekolah dasar tadi jebol.”
Rendra tidak langsung merespons dengan kata-kata penghibur yang klise seperti *'semuanya akan baik-baik saja'*. Dia tahu betul di dunia sekarang, janji seperti itu adalah kebohongan yang paling jahat. Namun, ekspresi wajahnya yang semula kaku perlahan sedikit melunak, memancarkan secercah empati dari seorang manusia yang juga kemungkinan telah kehilangan segalanya.
“Di dalam kondisi kiamat seperti ini,” kata Rendra dengan suara rendah yang sedikit lebih bersahabat, “orang tidak benar-benar hilang, Damar.”
Damar menatap sang kapten dengan secercah harapan yang tersisa di matanya. “Maksudnya, pak?”
“Mereka hanya… belum ketemu lagi saja di persimpangan yang sama,” lanjut Rendra.
Damar tertegun, menatap wajah tegas pria di depannya. “Bapak… bapak yakin mereka masih hidup? Lo yakin kita bakal ketemu lagi?”
Rendra menatap Damar lurus-lurus, lalu menggelengkan kepalanya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi. “Tidak. Aku tidak yakin sama sekali. Di luar sana sekarang adalah neraka. Tapi kalau kamu berhenti berharap dari sekarang, maka kakimu tidak akan mau melangkah lagi besok pagi. Dan di dunia yang baru ini, berhenti melangkah berarti kamu memilih untuk mati.”
Malam kian larut dan pekat merayap turun menyelimuti kota. Lampu-lampu darurat berwarna kuning redup mulai dinyalakan di sekeliling perimeter zona barikade, memancarkan pendar cahaya yang temaram dan memicu bayangan-bayangan panjang yang ganjil di atas beton.
Dan untuk pertama kalinya sejak kegilaan ini meledak di distrik mereka, Damar tidak lagi berlari dikejar waktu atau makhluk buas. Dia terduduk diam di balik perlindungan militer. Namun, ironisnya, dia sama sekali tidak merasa aman atau tenang.
Di luar pagar kawat berduri sana, suara erangan massal dan desas-desus langkah kaki yang terseret itu masih setia menemani malam. Dan kini, di bawah langit kota yang mati dan terbakar, Damar akhirnya menyadari satu hal yang teramat pahit: dunia yang dia kenal dulu tidak akan pernah kembali lagi. Dunia telah berhenti berubah, dan mereka yang tersisa dipaksa untuk ikut menjadi monster demi bisa bertahan di dalamnya.