NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu / Tamat
Popularitas:11.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia

Setelah sesi pengawasan yang menyesakkan di kamar Arlan berakhir, Amara mengira ia bisa kembali ke paviliun belakang untuk menenangkan hatinya yang karut-marut. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, Arlan menghentikannya dengan satu kalimat yang membuat langkahnya membeku.

"Amara, jangan kembali ke paviliun. Kemasi barang-barangmu sekarang," ucap Arlan sambil mengancingkan kembali kemejanya yang sempat berantakan.

Amara berbalik dengan wajah pucat. "T-Tuan? Apa saya diusir?"

Arlan mendengus kecil, menatap Kenzo yang kini tertidur pulas di boks bayinya. "Bukan diusir. Kau pindah ke lantai ini. Ada kamar kosong tepat di sebelah kamar Kenzo, yang juga terhubung dengan koridor menuju kamarku. Kau akan tinggal di sana mulai malam ini."

Amara terbelalak. "Tapi Tuan... Mbak Lasmi bilang semua pekerja harus tidur di paviliun belakang saat malam tiba. Saya tidak enak dengan pelayan yang lain kalau saya tinggal di lantai utama."

"Aku tidak butuh persetujuan Lasmi atau pelayan lainnya," tegas Arlan. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Amara. "Kenzo bisa bangun kapan saja di tengah malam. Aku tidak mau membuang waktu menunggumu berlari dari paviliun ke sini saat anakku kelaparan. Ini perintah, bukan tawaran."

Amara menelan ludah. Alasan itu memang sangat masuk akal secara logika, namun tinggal di lantai yang sama dengan Arlan terasa seperti menyerahkan diri ke dalam sarang singa.

***

"Beruntung sekali kamu, Mara," bisik Mbak Lasmi saat mereka mulai merapikan pakaian Amara ke dalam lemari kayu ek yang besar. "Baru kali ini ada pelayan yang diizinkan tidur di lantai utama. Ini artinya Tuan Arlan benar-benar percaya padamu untuk menjaga Tuan Muda Kenzo."

Amara terdiam sejenak, tangannya yang gemetar meremas ujung tas ranselnya yang lusuh. "Saya justru takut, Mbak. Tuan Arlan terlihat sangat menyeramkan dan... sepertinya dia benci sekali melihat saya."

Mbak Lasmi menghentikan aktivitasnya dan memegang bahu Amara dengan lembut. Ia menatap mata gadis itu dengan pandangan yang lebih teduh.

"Jangan salah paham dengan sikap diamnya, Mara. Tuan Arlan memang dingin, bicaranya sering ketus dan wajahnya tidak pernah tersenyum sejak Nyonya pergi. Tapi sebenarnya dia orang yang sangat baik. Dia hanya pria yang sedang patah hati dan merasa gagal melindungi keluarganya."

Amara mendengarkan dengan seksama, rasa takutnya sedikit berkurang.

"Lihat saja bagaimana dia memperlakukan para pekerja di sini," lanjut Mbak Lasmi. "Dia tidak pernah memotong gaji, selalu memastikan kesehatan kita, dan sangat adil. Ketegasannya itu hanya caranya untuk memastikan semuanya berjalan dengan benar demi Kenzo. Kalau dia sampai memindahkanmu ke sini, itu tandanya dia mulai menghargaimu. Jadi, bekerjalah dengan hati, ya? Jangan hanya karena takut."

Amara menarik napas panjang dan mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang demi Ibu dan adik-adik di desa. Saya akan berusaha mengerti Tuan Arlan."

"Bagus kalau begitu," Mbak Lasmi tersenyum sambil menepuk punggung Amara. "Istirahatlah, sebentar lagi malam. Kamar ini terhubung langsung dengan kamar Tuan Muda, jadi kalau dia menangis, kamu bisa lebih cepat sampai."

***

Malam harinya, sekitar pukul dua pagi, monitor bayi kembali berbunyi. Amara yang baru saja terlelap segera terbangun. Ia menyambar kain penutup dan masuk ke kamar Kenzo melalui pintu penghubung.

Namun, jantungnya hampir copot saat melihat Arlan sudah ada di sana. Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang tanpa atasan, memamerkan dada bidang dan perut berotot yang kokoh. Arlan sedang membungkuk di depan boks bayi, mengamati putranya yang mulai merengek.

"Dia bangun," ucap Arlan tenang, suaranya yang berat memecah keheningan malam.

"M-maaf Tuan, saya telat bangun," Amara segera menghampiri. Ia teringat kata-kata Mbak Lasmi bahwa tuannya ini orang baik, namun melihat tubuh atletis Arlan yang setengah telanjang di bawah remang lampu tidur tetap saja membuatnya merasa sesak napas.

"Duduklah di sofa itu. Sesuai perjanjian, aku akan mengawasi," Arlan memberikan Kenzo ke tangan Amara.

Di bawah temaram lampu yang redup, suasana terasa jauh lebih intim. Amara duduk di sofa, sementara Arlan berdiri tepat di depannya, bersandar pada pilar boks bayi sambil bersedekap. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Amara.

Amara dengan gemetar membuka kancing bajunya. Karena suhu malam yang dingin, kulitnya meremang saat bersentuhan dengan udara. Saat asinya mulai mengalir dan Kenzo menghisapnya dengan suara halus, Amara bisa merasakan tatapan Arlan yang membakar setiap inci kulitnya yang terbuka.

"Kenapa wajahmu merah sekali, Amara?" tanya Arlan pelan, suaranya terdengar lebih lembut namun tetap berwibawa.

"Dingin, Tuan," dusta Amara, padahal jantungnya berdegup kencang karena posisi Arlan yang kini mulai mendekat.

Arlan melangkah maju, duduk di tepi sofa yang sama dengan Amara. Ia sedikit menunduk, memperhatikan Kenzo yang sedang menyusu dengan tenang, namun jarak di antara wajah mereka kini hanya terpaut beberapa senti saja.

"Ternyata benar..." bisik Arlan. Tangannya yang besar terangkat perlahan, ujung jarinya mengusap setetes sisa ASI yang mengalir di sudut mulut Kenzo. Arlan menatap Amara dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menimbang-nimbang antara kewarasan dan keinginan yang mulai tumbuh di hatinya.

Amara terengah, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat tindakan berani tuannya. "T-Tuan... apa yang Tuan lakukan?"

"Hanya memastikan kualitas asupan anakku," jawab Arlan dengan suara serak dan penuh gåïråh yang tak lagi disembunyikan.

1
Rahma Ita
semangat amara... 💪
Rahma Ita
😍lanjut....... 👍
Rahma Ita
nah..... ini 😍
Deny Kurniawati
bagus ceritanya
Deny Kurniawati
ceritanya bagus bikin penasaran
manis Alika
makin kesini makin byk adegan ranjangnya,, arlan sudah keterlaluan, dia udh merusak gadis polos dan memanfaatkannya demi kepuasan dia tanpa berpikir bagaimana dengan perasaan Amara..
Rahma Ita
👍
manis Alika
tadi aja menghina sekarang menjilat lagi.. emang agak laen si arlan
Siti Aisyah
maaf, bbrp bab aku skip main ranjang nya..baca lg di bab perjalan ke london..di bab ini lbh manusiawi ..biarkan mereka memiliki 'rasa' menampilkan sisi lainnya dari ke 2 nya..berharap mereka happy ending kasihan amara klo dibuang setelah dipakai..
manis Alika
aneh deh sm arlan, lgian diawal jg Amara melamar kerja untuk jd pengasub baby Kenzo.trus arlan yg nyosor terus, ga bsa klo lihat dada mulus. giliran kek gini aja arlan nyalahin Amara
Adela Hari
ceritanya bgus bngtt
Visitor5237
jd budak and pelacur, kasihan amara
Siti Aisyah
nasib orang miskin begitu kali nya...disisi lain dia ingin mengabdi pd keluarga nya..disisi lain tuntutan dunia kerja yg melenceng dari kata 'baik'...pelecehan dan bahkan membuat diri nya jd pelampiasan napsu bejad dari tuannya sendiri yg tdk bermoral..amara gak ada pilihan lg selain mengikuti permainan tuannya..kejam nya dunia menjadikan seorang amara menjadi pemuas napsu tuannya..smg aja tdk hamil di luar nikah..
Rosmalini Chaniago
Seorang suami yang benar-benar melindungi istri tercintanya.
Rosmalini Chaniago
Benar Arlan tenangkan pikiran, Amara tidak salah karena dia menjaga kerukunan anak dengan maknya.
Ront Maanulang
hangus ndan sangat menggoda
Jhon Leke Ruru
ceritanya bagus untuk di simaj👍
Siti Aisyah
aaah...sdh gak bener thor ini mah...seorang arlan pria terhormat tp kelakuan minus gitu..ini mah sdh termasuk pelecehan...kabur aja amara daripada masa dpn mu terancam...
Siti Aisyah
hati.hati bos..jgn merusak anak orang..kasihan
Rose Anjani
pak duda dia msh bau kencur loh ... blm paham yg aneh2 ... 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!