NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Cadangan Bara

Sinar matahari sore menyelinap miring di antara celah-celah gedung sekolah, menyinari lapangan basket belakang yang sudah lama terbengkalai. Garis-garis cat putih di lantai semen itu sudah banyak yang pudar dan terkelupas, jaring gawangnya sudah hilang tinggal kerangka besi berkarat, dan rumput liar mulai tumbuh subur di pinggiran-pinggirannya.

Tempat ini terpencil, tertutup oleh dinding pembatas tinggi di sisi timur dan rimbunan pohon-pohon besar di sisi utara, membuatnya menjadi lokasi paling sempurna untuk pertemuan rahasia maupun pertarungan terlarang. Tidak ada guru yang berani datang ke sini, dan siswa biasa pun enggan mendekat karena dianggap wilayah angker dan berbahaya.

Namun sore ini, keheningan tempat itu pecah. Udara terasa tebal, panas, dan dipenuhi ketegangan yang nyata.

Di satu sisi lapangan, berbaris rapi sekitar tigapuluh anggota kelompok Singa Hitam. Semuanya bertubuh besar, berotot, dan berwajah keras. Mereka berdiri diam, tegak, dan serentak menatap ke tengah lapangan dengan tatapan tajam. Di barisan paling depan, berdiri Dika. Ia sudah melepas jaket seragamnya, mengikatkannya di pinggang, memperlihatkan lengan-lengan kekarnya yang berurat tebal. Wajahnya tenang namun matanya berkilat penuh semangat bertarung. Baginya, ini bukan sekadar pertarungan antar geng, ini adalah ajang pembuktian siapa yang benar-benar layak disebut terkuat.

Di sisi berlawanan, Rio berdiri sendirian di tengah-tengah lapangan. Ia juga sudah melepas jaketnya, menyisakan kemeja seragam lengan pendek yang digulung sebatas siku. Ia tidak sebesar Dika, tidak selebar anak buahnya, namun aura yang dipancarkannya sama kuatnya. Rio berdiri santai, kedua tangannya tergantung lemas di sisi tubuh, napasnya teratur dan tenang. Matanya tidak menatap musuhnya dengan rasa takut, melainkan dengan fokus yang tajam dan penuh kesiapan.

Namun yang tidak diketahui oleh Dika dan anak buahnya, di balik pepohonan rimbun yang mengelilingi lapangan ini, di atas atap gudang tua di sebelah barat, serta di balik dinding pembatas timur... puluhan pasukan Macan Putih sudah tersebar diam-diam. Mereka tidak terlihat, tidak bersuara, dan bersembunyi dengan sangat rapi. Mereka ada di sana atas perintah tegas pemimpin mereka, Bara Lesmana.

Bara sendiri berdiri di tempat pengawasan utama—di balik rimbunan daun pohon beringin besar yang posisinya paling strategis, bisa melihat seluruh penjuru lapangan dan jalan masuk. Di sampingnya berdiri Dinda, wajahnya pucat namun matanya terus mengawasi setiap gerakan dengan cemas. Di sekeliling mereka, berjejer pengurus inti Macan Putih, semuanya bersiap siaga.

Bara menatap tajam ke arah lapangan, tangannya mencengkeram erat dahan pohon di sampingnya. Ia tahu betul bahaya apa yang mengancam Rio sore ini. Bahayanya bukan hanya Dika, si petarung raksasa yang ada di depan sana. Bahaya sesungguhnya ada di tempat yang tidak terlihat: Raka dan pasukan Naga Hitam yang pasti sedang mengintai, menunggu momen tepat untuk menghancurkan Rio saat ia sedang lelah atau lengah.

"Lo yakin rencana ini bakal jalan mulus, Bang?" tanya salah satu anak buahnya pelan, matanya mengawasi gerbang masuk yang sepi. "Raka itu licik banget. Dia bisa aja kirim orang masuk lewat tembok belakang atau lewat saluran air samping."

Bara mengangguk perlahan, namun matanya tidak berkedip sedikit pun dari arah Rio. Suaranya rendah, berat, dan penuh keyakinan—hasil dari perhitungan matang yang ia susun sejak semalam hingga siang tadi.

"Tenang aja. Gue udah perhitungin semuanya sampai ke detail terkecil. Gue gak bakal biarin ada satu orang pun, satu nyamuk pun, yang ganggu Rio pas dia lagi bertarung. Ini pertarungan kehormatan, dan gue bakal pastiin itu murni satu lawan satu, persis kayak aturan Dika. Kalau Raka mau main kotor... dia bakal ngadepin gue duluan."

Sejak kemarin sore, tepat setelah Rio menceritakan tentang tantangan Dika, otak Bara langsung bekerja keras. Ia sadar bahwa Raka sengaja menjebak Rio ke dalam situasi ini. Raka berharap Dika akan menghabiskan tenaga Rio, atau Rio akan terluka parah, sehingga pasukan Naga Hitam bisa masuk dan menghabisi Rio dengan mudah tanpa terlihat bersalah.

Bara tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia menyusun Tiga Lapis Pertahanan dan Rencana Cadangan Mutlak yang tidak diketahui siapa pun, bahkan oleh Rio sendiri, agar Rio bisa fokus bertarung sepenuhnya.

Lapis Pertama: Penjagaan Wilayah & Jalur Masuk

Pagi tadi, jauh sebelum jam pulang, Bara sudah mengerahkan separuh pasukan Macan Putih. Mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang menyamar sebagai siswa yang sedang main atau nongkrong di tempat-tempat terpencil.

- Jalur Depan: Dijaga 10 orang yang berpura-pura latihan olahraga ringan. Tugas mereka: Mengalihkan perhatian dan menghalangi siapa saja yang mencoba mendekat dengan alasan apa pun.

- Jalur Belakang & Tembok Pembatas: Dijaga 8 orang pendaki dan pemanjat terbaik. Mereka bersembunyi di balik semak-semak tebal. Tugas mereka: Memantau pergerakan dari luar sekolah, karena Raka sering masuk lewat jalan pintas agar tidak ketahuan guru.

- Saluran Air & Gorong-gorong: Dijaga 5 orang yang paling cekatan. Ini jalur paling kotor dan rahasia yang sering dipakai pasukan Rian (Serigala Abu-abu). Bara tahu betul kebiasaan musuhnya, jadi jalur ini ditutup rapat.

Perintah Bara: "Kalau ada anak buah Raka atau Rian yang lewat, atau ada orang asing yang nyurigak nyurigak... tahan, diamkan, dan amankan. Jangan bikin keributan besar, jangan pake senjata tajam, tapi pastiin mereka gak bisa ngelangkah satu inci pun ke arah lapangan. Bikin seolah-olah gak ada apa-apa."

Lapis Kedua: Tim Pengawas & Deteksi Dini

Di titik tertinggi, di atap gudang tua, Bara menempatkan dua orang pengintai dengan isyarat tangan khusus. Mereka memiliki pandangan 360 derajat. Setiap ada gerakan mencurigakan, mereka akan memberi sinyal lewat gerakan tangan yang tidak mencolok.

- Bara juga sengaja mengundang Gilang, ketua Elang Merah — salah satu dari Lima Raja yang dikenal netral dan sangat menjunjung tinggi aturan main. Bara menemui Gilang diam-diam pagi tadi.

- "Gilang, lo tau gue sama lo gak musuhan. Dika udah ngasih tantangan jantan ke Rio. Ini urusan harga diri kelompok kita masing-masing. Tapi gue tau Raka mau rusuh. Lo kan pengamat, lo kan penjaga keseimbangan. Gue minta lo berdiri di pinggir sana, jadi saksi. Kalau Raka berani masuk dan ganggu... lo yang jadi penengah, lo yang nilai siapa yang melanggar aturan duluan. Nama lo bakal rusak kalau lo diem aja liat aturan dilanggar."

Gilang setuju. Kehadiran Gilang adalah senjata ampuh Bara. Raka sangat menghormati pendapat Gilang karena jaringan intelijen Gilang sangat luas. Kalau Gilang bilang Raka pengecut, seluruh sekolah akan percaya.

Lapis Ketiga: Pasukan Penyerang Balik (Rencana Cadangan Utama)

Kelompok terkuat Macan Putih, dipimpin langsung oleh wakil ketua Bara, bersembunyi di posisi terdekat dari lapangan, hanya berjarak belasan meter di balik semak belukar.

Perintah Bara: "Selama di lapangan cuma ada Rio sama Dika... kita diam. Gak ada satu orang pun boleh kelihatan. Tapi detik juga ada orang lain, ada senjata, ada serangan mendadak... KELUAR DAN SERANG! Langsung kepung mereka, amankan Raka, amankan pemimpin mereka. Jangan kasih mereka waktu buat bereaksi. Tujuan utama kita: bawa Rio keluar dari sana dalam keadaan selamat, terus kita kuasai tempat itu sampai aman."

Tambahan Khusus: Pengamanan Guru

Bara tahu Raka mungkin akan mencoba memanggil guru atau memancing keributan biar guru datang dan menghentikan pertarungan saat Rio sedang di atas angin atau menang. Maka, Bara menempatkan beberapa anak buahnya di dekat ruang guru dan kantor tata usaha. Tugas mereka: mengalihkan perhatian guru dengan laporan palsu, keributan kecil di sisi lain sekolah, atau pertanyaan-pertanyaan seputar pelajaran. Intinya: menahan guru agar tidak ada yang datang ke lapangan belakang sampai pertarungan selesai.

Semua ini dilakukan diam-diam, tanpa sepengetahuan Rio. Bara sengaja tidak memberi tahu Rio agar pemuda itu tidak merasa terbebani atau merasa dikawal. Bara ingin Rio bertarung dengan perasaan sendirian, berani, dan percaya diri, persis seperti yang Dika minta. Tapi di balik layar, Bara menggerakkan ribuan benang tak kasat mata untuk memastikan Rio aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!