NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Rahasia yang Terkubur Puluhan Tahun

Mobil-mobil itu berhenti mendadak tepat di depan gudang tua yang sudah lama tak terurus itu. Dindingnya sudah mulai lapuk, atapnya bocor di sana-sini, dan di sekelilingnya hanya ada tanah kosong serta semak belukar yang tinggi—tempat yang sepi, jauh dari keramaian, tempat yang sangat pas untuk menyembunyikan sesuatu atau seseorang.

Aditya turun lebih dulu, kakinya menginjak tanah keras dengan langkah tegas dan mantap. Di belakangnya, berbaris orang-orang kepercayaannya, semuanya siap siaga, tangannya siap memegang apa saja jika dibutuhkan. Wajah Aditya dingin, tanpa ekspresi, tapi siapa pun yang melihatnya akan langsung tahu—lelaki ini sedang sangat marah, dan tidak akan main-main hari ini.

Ia berjalan mendekati pintu gudang yang terbuat dari papan kayu tua, yang hanya tertutup gembok besi besar yang sudah berkarat. Tanpa ragu sedikit pun, Aditya mengangkat kakinya lalu menendang pintu itu dengan satu hentakan keras saja.

BRAK!

Pintu itu langsung terbelah, terbuka lebar dan menabrak dinding di dalamnya. Debu dan serbuk kayu beterbangan memenuhi udara, membuat pandangan sedikit kabur. Bau lembap, bau kayu lapuk, dan bau sesuatu yang sudah lama tersimpan menyengat hidung mereka.

Aditya melangkah masuk lebih dulu, matanya segera menyapu seluruh isi ruangan yang luas tapi gelap itu. Di sana, di tengah ruangan, tepat di bawah lubang atap tempat cahaya matahari masuk, berdiri sosok lelaki tua yang sudah memunggunginya. Ia mengenakan jaket kulit tua, topi lebar yang menutupi sebagian wajahnya, dan tangannya menyilang di dada—seolah ia sudah tahu mereka akan datang, seolah ia sudah menanti kedatangan mereka sejak lama.

Lelaki itu perlahan berbalik badan. Saat wajahnya akhirnya terlihat jelas, Aditya sedikit tertegun. Wajah itu memang sudah tua, keriput di mana-mana, rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya, tapi fitur wajahnya... masih sama persis dengan foto-foto lama yang baru saja ia lihat berkasnya. Ini benar-benar Paman Ardiansyah.

"Kau akhirnya datang juga, Aditya Pratama," ucap lelaki tua itu dengan suara parau, tapi terdengar tenang, bahkan sedikit mengejek. "Aku kira kau akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan jejakku. Ternyata... kau memang sehebat kabar yang beredar tentang dirimu."

Aditya berhenti tepat beberapa langkah di hadapannya, tatapannya tajam menusuk, seolah ingin membaca setiap isi hati dan pikiran lelaki di hadapannya ini.

"Berhenti main-main, Ardiansyah," ucap Aditya dingin, tanpa basa-basi. "Kau tahu kenapa aku ada di sini. Kau masuk ke rumahku, kau mengancam wanita yang aku cintai, kau menyebarkan ketakutan, dan selama puluhan tahun kau bersembunyi, hidup dalam kegelapan sambil menyimpan dendam. Sekarang katakan... apa sebenarnya yang kau inginkan? Uang? Harta? Atau kau hanya ingin melihat orang lain menderita hanya karena hatimu sendiri yang sudah gelap?"

Ardiansyah tertawa—tawa yang keras, kasar, dan penuh sarkasme. Ia berjalan mundur sedikit, lalu duduk di atas sebuah kotak kayu besar yang sudah tua, menatap Aditya dengan tatapan yang bercampur benci dan rasa kasihan sekaligus.

"Kau pikir aku melakukan semua ini hanya karena uang? Harta? Kau kira aku iri melihat gadis kecil itu mendapatkan segalanya? Kau salah besar, anak muda... masalah ini jauh lebih besar, jauh lebih dalam dari apa yang bisa kau bayangkan."

Ardiansyah berhenti sejenak, lalu tatapannya menjadi tajam, tepat menembus ke arah mata Aditya.

"Kau cinta padanya, ya? Kau rela melakukan apa saja demi dia? Kau rela menyerahkan nyawamu, kekuasaanmu, segalanya... hanya untuk melihatnya bahagia dan aman? Bagus... itu akan membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan saat kau tahu kebenaran yang sesungguhnya."

Jantung Aditya berdenyut keras. Ada sesuatu dalam nada bicara lelaki tua ini yang membuat bulu kuduknya meremang—seolah-olah apa yang akan dikatakannya ini, adalah sesuatu yang akan mengubah segalanya.

"Katakan saja apa maksudmu," desak Aditya, suaranya tetap tenang meski di dalam hatinya rasa tidak nyaman mulai merayap naik.

Ardiansyah tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin dan mengerikan. Ia mengangkat tangannya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam saku jaketnya, lalu melemparkannya ke arah Aditya. Amplop itu jatuh tepat di kaki lelaki muda itu.

"Buka. Bacalah. Di sana ada semua bukti, semua surat, semua catatan, bahkan ada saksi yang masih hidup sampai sekarang. Setelah kau membacanya... kau akan mengerti kenapa aku bilang, bahwa gadis yang kau lindungi dengan seluruh nyawamu itu... bukanlah siapa yang kau kira."

Dengan tangan yang sedikit tegang, Aditya membungkuk mengambil amplop itu. Jemarinya sedikit gemetar saat ia membuka lipatannya, lalu mengeluarkan kertas-kertas di dalamnya—ada surat-surat tulisan tangan, akta kelahiran lama, hasil tes darah, bahkan ada potongan surat wasiat yang sudah usang.

Matanya bergerak cepat membaca setiap kata, setiap baris tulisan. Awalnya ia masih bisa tenang, tapi semakin jauh ia membaca... semakin besar mata ia terbuka, darahnya seolah berhenti mengalir di pembuluh darahnya, dan wajahnya yang biasanya selalu terkontrol dan tenang perlahan berubah menjadi pucat pasi.

Tulisan itu... semua tulisan tangan kakek Arthur. Tulisan yang sangat ia kenal baik.

"...Aku tahu ini salah, aku tahu ini dosa besar yang akan kubawa sampai ke liang kubur, tapi aku tak punya pilihan lain. Saat aku menemukan gadis kecil itu, saat aku tahu siapa dia sebenarnya... hatiku hancur, tapi di sisi lain aku merasa lega. Aku pikir, jika aku merawatnya, jika aku memberinya nama keluarga ini, jika aku memberinya segalanya... aku bisa menebus kesalahanku, aku bisa menebus dosa yang sudah kulakukan bertahun-tahun lalu..."

"Tapi sekarang aku takut. Aku takut suatu hari nanti kebenaran ini akan terungkap. Aku takut gadis itu akan tahu, bahwa dia bukan cucu kandungku... dan dia juga bukan anak dari anak perempuanku sendiri. Dia adalah anak dari... orang yang paling aku benci, orang yang sudah menghancurkan hidupku, orang yang sudah merebut segalanya dariku dulu..."

"Ardiansyah benar. Semua harta, semua nama, semua kekuasaan ini... seharusnya menjadi milik keluarga kita sendiri. Tapi aku sudah terlalu sayang padanya. Aku sudah menganggapnya darah dagingku sendiri. Biarlah nanti Tuhan yang akan menilai tindakanku ini..."

Tangan Aditya gemetar hebat sampai kertas-kertas di tangannya hampir jatuh ke tanah. Kepalanya terasa berputar, suaranya tercekat di tenggorokan, dan ia hampir tidak bisa bernapas dengan benar.

Bukan cucu kandung...

Bukan anak dari ibu Luna...

Anak dari orang yang dibenci kakek Arthur...

"Jadi... semua ini bohong?" suara Aditya terdengar serak, hampir tak terdengar, matanya masih terpaku pada tulisan di tangannya. "Selama ini kita pikir Luna adalah cucu kandung Arthur Tanudjaya... ternyata semua itu hanya kebohongan? Dia diangkat, diambil, diberi nama, diberi hak... padahal dia sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarga ini?"

Ardiansyah mengangguk pelan, tatapannya penuh kemenangan dingin.

"Benar. Arthur menemukannya saat masih bayi, terlantar di jalanan. Dia tahu persis siapa orang tua kandung gadis itu—musuh bebuyutannya, orang yang dulu pernah menghancurkan usaha, nama baik, bahkan hampir merenggut nyawanya. Orang yang ia sumpah akan memusuhinya sampai mati. Tapi anehnya... justru anak dari musuhnya itulah yang dirawatnya, dibesarkannya, diberi segalanya, dan diangkat sebagai pewaris utama keluarga ini. Dia pikir dengan begitu dia bisa menebus kesalahannya, dia pikir dia bisa membalas kejahatan orang tuanya dengan berbuat baik pada anaknya. Bodoh! Itu hanya kebodohan besar!"

Ardiansyah berdiri lagi, berjalan mendekati Aditya yang masih terdiam kaku di tempatnya.

"Aku tahu kebenaran ini sejak awal. Aku sudah tahu saat gadis itu baru saja dibawa masuk ke rumah besar itu. Aku melihat bagaimana Arthur menyayanginya, bagaimana ia memberikan segalanya pada anak orang yang seharusnya dibenci itu... sementara aku, aku yang selalu ada di sisinya, aku yang mengabdi puluhan tahun, aku kerabat darahnya sendiri... justru dianggap tak berharga. Saat aku menentangnya, saat aku bilang itu salah besar... ia malah mengusirku, ia malah menyuruhku pergi, dan menyebarkan cerita bohong bahwa aku pergi ke luar negeri supaya tak ada yang menanyakan keberadaanku lagi."

Wajah lelaki tua itu berkerut, bercampur rasa marah, sakit, dan dendam yang sudah menumpuk bertahun-tahun.

"Aku menunggu, Aditya. Aku menunggu sampai Arthur meninggal, aku menunggu sampai gadis itu tumbuh besar, sampai ia merasa aman, sampai ia merasa dialah pemilik sah segalanya... supaya saat aku membuka kebenaran ini, rasanya akan jauh lebih sakit baginya. Semua yang ia miliki, semua nama besar, semua kehormatan, semua hak... semuanya didapatkan dengan kebohongan! Begitu dunia tahu siapa dia sebenarnya... semua orang akan menjauhinya, semua orang akan membencinya sama seperti mereka membenci orang tuanya dulu. Nama keluarga Tanudjaya akan tercemar, harta itu akan kembali ke tangan yang berhak... yaitu aku, dan keluargaku sendiri!"

Ardiansyah berhenti, lalu menatap Aditya dengan tatapan yang tajam dan penuh tantangan.

"Dan kau, Aditya Pratama... kau yang selama ini berjuang mati-matian untuknya, kau yang mempertaruhkan nama baik, nyawa, bahkan posisimu sendiri hanya untuk membela haknya... sekarang kau tahu kan? Selama ini kau membela orang yang sama sekali tidak berhak atas apa pun yang ia miliki. Kau jatuh cinta, kau berjanji akan menikahinya, kau akan menjadikannya nyonya besar... padahal gadis itu bukan siapa-siapa. Bahkan lebih buruk dari itu... dia adalah anak dari musuh besar kita semua."

Kata-kata itu menghantam dada Aditya bagaikan palu besi yang berat, berkali-kali bertubi-tubi sampai rasanya tulang rusuknya remuk, sampai rasanya ia ingin berteriak keras-keras karena rasa sakit yang tak bisa dijelaskan.

Selama ini ia berjuang... selama ini ia melindungi... selama ini ia mencintai...

Semua karena ia pikir Luna adalah gadis malang yang haknya dirampas, gadis yang pantas mendapatkan segala kebahagiaan. Ia pikir ia sedang menegakkan kebenaran, membela yang lemah, menuntaskan keadilan... tapi ternyata? Semua itu dibangun di atas kebohongan besar.

Luna... gadis lembut, baik hati, gadis yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri... ternyata bukan siapa yang ia kira. Dan yang paling menyakitkan... jika kebenaran ini terungkap, apa yang akan terjadi pada gadis itu? Dunia akan membenci dia, akan menolaknya, akan menjauhinya, semua yang ia miliki akan diambil kembali, dan dia akan kembali menjadi gadis tak berdaya, sendirian, tidak punya apa-apa, sama seperti saat pertama kali ia bertemu dengannya dulu.

Tapi... di tengah rasa kaget, rasa sakit, dan rasa bingung yang meluap-luap itu... satu hal yang tetap teguh di dalam hati Aditya, satu hal yang tidak akan pernah berubah, tak peduli apa pun rahasia yang terungkap.

Ia mencintai Luna.

Ia mencintai Luna... bukan karena siapa dia, bukan karena nama besarnya, bukan karena kekayaannya, bukan karena dia cucu Arthur Tanudjaya atau siapa pun. Ia mencintai Luna... karena dia adalah dirinya sendiri. Gadis yang lembut, tulus, berhati emas, gadis yang pernah menderita tapi tidak pernah menjadi jahat, gadis yang mengubah seluruh hidupnya, gadis yang menjadi satu-satunya alasan ia hidup dan berjuang sampai sekarang.

Siapa pun orang tuanya... di mana pun ia lahir... apa pun rahasia masa lalunya... itu tidak akan pernah mengubah perasaannya sedikit pun.

Aditya perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya yang tadinya bingung dan terguncang, perlahan berubah kembali menjadi tegas, dingin, dan tak tergoyahkan. Ia melipat kertas-kertas di tangannya dengan rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop, lalu melangkah maju, berjalan tepat di hadapan Ardiansyah, sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

Ardiansyah sedikit mundur karena terkejut melihat perubahan itu. Ia kira berita ini akan membuat Aditya marah, akan membuatnya membenci Luna, akan membuatnya pergi meninggalkan gadis itu... tapi justru sebaliknya, aura lelaki muda ini sekarang justru jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Kau sudah selesai bicara?" tanya Aditya pelan, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa berat dan berisi ancaman yang nyata. "Apakah kau pikir dengan menceritakan semua ini, kau akan bisa menghancurkan Luna? Apakah kau pikir aku akan berbalik memusuhinya, meninggalkannya, atau ikut-ikutan membenci dia hanya karena dia bukan cucu Arthur Tanudjaya?"

Aditya tersenyum tipis—senyum yang dingin, tajam, dan membuat tulang punggung Ardiansyah merinding.

"Kau salah besar, Ardiansyah. Kau tahu apa yang paling bodoh dari semua yang kau lakukan ini? Kau pikir segalanya tentang harta, tentang nama, tentang darah keturunan... sama seperti caramu berpikir selama ini. Tapi kau tidak pernah mengerti satu hal: bagiku, Luna bukan berarti apa-apa karena siapa keluarganya. Bagiku, Luna adalah segalanya... hanya karena dia adalah dirinya sendiri."

Suara Aditya makin rendah, makin tajam, bagaikan pisau yang menusuk tepat ke hati lelaki tua itu.

"Katakan padaku, apa bedanya? Apakah karena dia anak orang yang kau benci, lalu hatinya yang baik menjadi buruk? Apakah karena dia tidak ada hubungan darah denganmu, lalu ketulusannya menjadi bohong? Apakah karena dia bukan cucu kandung Arthur, lalu semua penderitaannya dulu menjadi tidak nyata, semua air matanya menjadi tidak berharga? Tidak! Semua yang dia rasakan, semua yang dia lakukan, semua sifatnya, semua perasaannya... itu nyata. Itu miliknya sendiri. Dan itu lah yang aku cintai, itu lah yang aku lindungi, dan itu lah yang akan aku jaga sampai nyawaku tercabut."

Aditya menunjuk tepat ke dada lelaki tua itu dengan jari telunjuknya yang kuat.

"Kau pikir kau bisa menghancurkannya dengan menyebarkan rahasia ini? Coba saja lakukan. Coba saja kau katakan ini pada siapa pun, coba saja kau buka mulutmu sedikit pun di depan orang lain... aku akan pastikan, bahwa sebelum dunia tahu siapa Luna sebenarnya, dunia lebih dulu akan tahu siapa kau sebenarnya. Aku akan buka semua dosamu, semua kesalahanmu, semua kejahatan yang pernah kau lakukan, bahkan hal-hal yang kau kira sudah mati dan terkubur selamanya. Aku akan pastikan nama baikmu hancur, hidupmu hancur, dan kau akan menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini."

Napas Ardiansyah tercekat, wajahnya memucat mendengar ancaman itu. Ia kira ia yang memegang kendali, ia kira ia yang memegang senjata paling kuat untuk menghancurkan mereka berdua... tapi ternyata, ia justru sedang berdiri di depan singa yang sudah terbangun, dan yang siap menerkamnya mati kapan saja.

"Dan ingat baik-baik..." lanjut Aditya lagi, suaranya dingin dan berat, tanpa ada sedikit pun ragu. "Rahasia ini akan tetap menjadi rahasia selamanya. Tidak akan ada satu pun orang di luar ruangan ini yang akan mendengarnya. Tidak akan ada yang tahu, tidak akan ada yang menilai, tidak akan ada yang menghakimi. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Luna... bahkan kebenaran sekalipun, jika kebenaran itu akan menyakitinya, aku akan menguburnya selamanya, di tempat yang paling dalam, di mana tidak akan pernah ada yang bisa menemukannya."

Aditya berhenti, lalu tatapannya menjadi lebih tajam lagi.

"Kau punya dua pilihan sekarang. Pertama: serahkan semua bukti yang kau miliki, berjanji tidak akan pernah mengganggu Luna lagi, menghilang selamanya dari kehidupan kami, dan aku akan membiarkanmu pergi dengan selamat, tidak akan menyentuh sehelai rambut pun di kepalamu. Atau pilihan kedua... kau coba bermain-main lagi, kau coba berani menyebarkan sedikit saja informasi ini, atau menyakiti Luna sedikit saja... dan aku janji, tidak akan ada tempat di dunia ini yang bisa melindungimu dariku. Pilihlah."

Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara napas berat Ardiansyah yang terdengar jelas, dan suara detak jantung yang terasa makin keras di telinga mereka.

Lelaki tua itu menatap Aditya lama sekali—menatap tatapan yang tak tergoyahkan, menatap tekad yang benar-benar siap melakukan apa saja demi wanita yang dicintainya itu. Perlahan, rasa benci, rasa dendam, rasa ingin menangis... semuanya perlahan lenyap, berganti dengan rasa kalah, dan rasa takut yang nyata.

Ia tahu... lawannya bukan orang biasa. Ia berhadapan dengan lelaki yang cintanya lebih kuat dari apa pun, lebih kuat dari harta, lebih kuat dari kebenaran, bahkan lebih kuat dari kematian sendiri.

Ardiansyah perlahan menundukkan kepalanya. Tangan-tangannya yang gemetar perlahan mengeluarkan semua berkas, semua surat, semua catatan yang ia simpan selama puluhan tahun itu, lalu meletakkannya semuanya di lantai, di kaki Aditya.

"Aku... aku menyerah..." ucapnya pelan, suaranya sudah tak lagi ada kekuatannya. "Aku akan pergi. Aku tidak akan pernah kembali ke kota ini lagi. Aku tidak akan pernah mengganggu kalian berdua... selamanya."

Aditya mengangguk pelan. "Bagus. Sekarang pergilah. Dan jangan pernah lupa... janji itu berlaku sampai kapan pun. Jika kau melanggarnya... aku akan menemukannya, di mana pun kau berada."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Ardiansyah berbalik, lalu berjalan keluar dari gudang tua itu, berjalan menjauh, sampai sosoknya akhirnya hilang di balik semak belukar dan jalan berdebu di kejauhan.

Di dalam gudang itu, kini hanya ada Aditya dan anak buahnya yang berdiri diam, tak berani bersuara.

Aditya berjongkok, mengumpulkan semua kertas dan bukti itu kembali, memasukkannya semuanya ke dalam amplop, lalu memandang ke arah pintu tempat lelaki tua itu pergi.

Ia menang hari ini. Ancaman sudah pergi. Rahasia ini akan tetap terkubur selamanya. Luna tidak akan pernah tahu apa-apa. Ia akan tetap menjadi wanita yang bahagia, aman, dan dicintai... persis seperti yang ia inginkan.

Tapi di dalam hati Aditya, ada sesuatu yang terasa berat, ada rasa yang campur aduk—rasa lega bercampur rasa sedih, rasa bahagia bercampur rasa takut.

Ia baru saja memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran terbesar dari wanita yang ia cintai. Ia tahu, apa yang ia lakukan ini... benar atau salah, hanya Tuhan yang tahu. Tapi ia yakin satu hal: ia melakukan ini bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan keluarga, bukan untuk apa pun... ia melakukan ini semata-mata untuk Luna.

Ia tidak akan pernah membiarkan apa pun—bahkan kebenaran sekalipun—menyakiti wanita itu.

Aditya berdiri kembali, menyimpan amplop itu dengan aman di dalam saku baju dalamnya, lalu berbalik badan dan berjalan keluar gudang.

Matahari mulai condong ke barat, menerangi jalan pulang yang panjang di hadapannya. Ia harus kembali ke rumah, kembali ke sisi wanita yang dicintainya, kembali memberitahunya bahwa bahaya sudah lewat, bahwa semuanya aman, bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.

Tapi saat ia melangkah masuk ke dalam mobil, satu janji ia ucapkan dalam hatinya sendiri—janji yang tak akan pernah ia ingkari sampai mati:

"Luna... apa pun yang terjadi, siapa pun dirimu, apa pun rahasia yang tersembunyi... kamu adalah wanitaku. Hanya milikku. Dan aku akan mencintaimu, melindungimu, dan setia padamu... sampai napas terakhirku."

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
😄👍
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!