NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26. Maya tersipu?

Beban berat yang menimpa tubuhnya membuat Chris harus terbangun dari tidurnya. Chris menepis tangan Riski yang sekali lagi berusaha memeluk tubuhnya layaknya sebuah bantal.

"Ck. Sialan lo, Ki!!"

Chris mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut, lalu turun dari atas tempat tidur. Masih mengenakan kaos oblong hitam tanpa lengan dan celana pendek sebatas lutut, Chris keluar kamar sambil membawa bantalnya.

Chris merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Diliriknya jam dinding yang saat ini masih menunjukkan pukul tiga dini hari menuju pagi. Chris membuka ponselnya dan menekan tombol aplikasi WhatsApp. Tidak ada satupun pesan dari Maya.

Chris kemudian meletakkan kembali ponselnya dan berusaha menutup matanya kembali. Tidak membutuhkan waktu lama, Chris tertidur pulas. Ia tidur cukup lama di sofa hingga sesuatu dirasakan olehnya.

Chris membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa berat dan kantuk belum sepenuhnya hilang. Tapi sentuhan lembut di wajahnya dan sebagian tubuhnya yang lain membuatnya tersentak setengah sadar. Awalnya ia mengira itu bagian dari mimpi, namun semakin lama, usapan itu terasa nyata.

Dengan refleks yang spontan, Chris langsung mencengkeram pergelangan tangan sosok yang menyentuh wajahnya. Matanya terbuka penuh dan tubuhnya menegang, siap melindungi diri jika perlu. Tapi saat melihat siapa yang ada di hadapannya, ekspresi waspada nya berubah menjadi bingung dan jengkel.

“Ami?” suaranya parau, masih serak karena baru bangun. “Ngapain lo?” Chris melihat Ami duduk di sampingnya. Pakaian wanita itu masih sama, tetapi kali ini terlihat lebih lusuh hingga belahan dadanya terlihat. Chris melepaskan cekalannya dan kembali duduk tegak.

Ami tersenyum, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Sorry, Kak. Aku nggak ada niatan buat bangunin Kakak," ucapnya dengan suara serak yang lembut.

Chris menghela napas dalam, dan menepuk-nepuk wajahnya sendiri yang masih lelah dan mengantuk. Dalam hatinya, ia makin yakin kalau kehadiran Ami di kos bukan hal baik. "Jam berapa sekarang?"

"Jam setengah tujuh pagi, Kak."

Chris mengangkat wajahnya dan menoleh, menatap Ami yang masih duduk di sampingnya.

"Alif mana? belum bangun?" tanya Chris.

"Belum Kak," jawab Ami dengan seulas senyum.

"Lo kuliah jurusan apa? Masih semester baru?" tanya Chris karena Ami memanggilnya dengan sebutan kakak.

"Aku anak farmasi, Kak. Baru semester tiga tahun ini."

"Oh.."

Chris baru saja meregangkan otot-otot kaku di punggungnya, punggung yang terasa pegal karena tidur semalaman di sofa sempit itu. Ia menguap panjang, mengacak rambutnya yang sudah berantakan, dan baru saja hendak berdiri untuk menuju kamar mandi ketika tiba-tiba bel rumah berbunyi.

Chris mengerutkan kening. Matanya otomatis melirik jam dinding di ruang tamu. Masih pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit. Siapa yang datang pagi-pagi begini? pikirnya curiga. Selama hampir empat tahun ia tinggal di kosan itu, hampir tidak pernah ada tamu yang bertandang sepagi ini. Anak-anak kos biasanya baru bangun jam delapan atau sembilan, dan itu pun dengan mata setengah melek.

Dengan rasa penasaran bercampur malas, Chris menyeret kakinya ke arah pintu. Ia sempat berpikir apakah Alif atau Riski yang memesan makanan online dan lupa mengambil, atau mungkin tukang listrik yang salah alamat. Tapi begitu daun pintu terbuka perlahan, pikiran Chris langsung terpental jauh dari dugaannya.

Di hadapannya berdiri seorang gadis muda, sosok gadis yang sudah tertanam di hatinya dengan mengenakan kaos putih longgar dan rok jeans sederhana yang jatuh sampai lutut. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai natural, sedikit berantakan tertiup angin pagi. Yang paling menarik perhatian Chris bukanlah pakaian Maya atau rambutnya, melainkan ekspresi wajah gadis itu.

Maya berdiri dengan kepala sedikit menunduk, kedua tangannya meremas-remas ujung kaosnya dengan gelisah. Pipi putihnya merona merah muda, dan matanya melirik Chris dengan malu-malu, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.

Chris mengerjap, memastikan bahwa ini bukan bagian dari mimpi aneh yang tadi pagi sempat menghantuinya.

"Maya?" suaranya terdengar setengah tak percaya.

Maya mengangguk pelan, masih menunduk. "Pagi. Ehm.. aku ganggu kamu, ya?"

Chris bersandar pada kusen pintu, menyilangkan tangan di dada. "Tumben banget kamu ke sini pagi-pagi. Ada apa?"

Maya menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum menjawab. "Aku... aku cuma..." Ia tampak kesulitan merangkai kata. "Aku mau minta maaf."

Chris tidak tahu apakah ini hanya mimpi atau tidak, tapi penampilan Maya saat ini, terlihat berbeda dari sebelumnya.

'Maya merias wajahnya? Dia berdandan?'

"Ish! Kok kamu diem aja, sih?!"

Chris yang sempat terpana, kembali sadar karena gertakan dan suara lantang Maya yang kembali memekakkan telinga.

"Nggak, May. Kamu nggak ganggu aku kok. Kamu juga nggak perlu minta maaf, tanpa kamu minta, aku pasti memaafkan kamu." Chris tersenyum dan Chris tak tahu apa yang mendorongnya saat itu, entah keberanian yang muncul begitu saja atau dorongan emosi yang belum sempat ia pahami. Tapi tangan kanannya terulur, menggenggam jemari Maya, dan menariknya perlahan masuk ke dalam rumah.

"Kamu baru bangun tidur, ya?" tanya Maya.

Jemari mereka bersentuhan, dan Chris sempat menunggu reaksi Maya. Ia menduga Maya akan menepis atau melepas genggamannya. Tapi tidak. Maya justru mengikuti langkahnya tanpa sedikit pun menarik tangannya. Padahal selama ini, Maya tidak suka disentuh olehnya. Kecuali saat-saat genting, seperti saat di rooftop yang pada saat itu Maya takut dengan kegelapan.

Chris menoleh sekilas, menatap wajah Maya dari sudut matanya. Ada rona merah di pipi gadis itu, seolah darahnya sedang berlomba naik ke permukaan kulit. Bukan karena marah, melainkan... malu? Senang? Atau justru nyaman?

Chris malah tersenyum sambil menutup pintunya kembali. "Kemarin aku nggak bisa tidur."

Genggaman Chris menguat tanpa sadar. Lalu, entah keberanian macam apa yang merasuki dirinya, tangannya perlahan berpindah dari menggenggam ke melingkar di pinggang Maya. Tubuh Maya sedikit tersentak, tapi tetap tak ada penolakan. Maya tetap diam di tempatnya, hanya menatap ke depan dengan wajah makin merona.

Chris hampir tak percaya. Maya tidak menepisnya. Tidak menegur. Tidak marah. Bahkan tak berkata apa pun.

"Kenapa nggak bisa tidur?" tanya Maya lagi.

"Ada apa dengan Maya?" bisik Chris dalam hati.

Chris memincingkan matanya bingung, menatap Maya karena lagi-lagi gadis itu bersikap aneh. Berbeda dari biasanya, tetapi itu membuat sisi liar Chris muncul.

Dan justru karena kebingungan itu, dorongan untuk menguji batasnya muncul. Dalam gerakan yang pelan dan hati-hati, Chris mencondongkan tubuh sedikit, lalu mencium pipi Maya dengan cepat.

CUP!

"Karena kamu."

Tubuh Maya menegang seketika, dan keterkejutan muncul di mata gadis yang berwarna coklat gelap itu, tapi hanya dalam satu detik.

Chris kembali terkejut, menatap Maya dengan perasaan berkecamuk. Antara bingung, cemas, dan tak percaya. Ia baru saja mencium Maya. Dan Maya tidak menamparnya. Justru sebaliknya, wajahnya bersemu merah.

'Apa Maya baru saja tersipu?'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!