Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Suasana masih mencengkam, Tiara yang tadinya sempat meremehkan sekarang tatapannya kosong seperti seseorang yang hilang pijakan.
Tidak ada lagi kendali. Semua orang di belakangnya mulai runtuh satu per satu di tangan orang-orang yang dibawa Naya.
“Sial! Dia benar-benar merasa menang sekarang!”
Sintia yang ada di sampingnya terlihat goyah wanita paruh baya itu terlihat runtuh untuk pertama kalinya.
"Kau tega Dinda, selama ini kurang baik apa aku padamu," ucapnya seolah memojokkan.
Dinda terkejut, dua bola matanya melebar sempurna. “Ibu gak salah bicara begitu?” suara Dinda terdengar lirih, tapi menusuk. “Padahal selama ini yang paling tega justru Ibu.”
Dinda melirik ke arah Naya, seolah memberi kode, lalu tatapannya kembali menatap wajah Sintia.
"Tunggu sebentar," katanya pelan tapi dingin.
Sintia mengernyitkan alisnya, dadanya mulai terasa sesak tanpa alasan. Dan tidak lama kemudian suara langkah kaki terdengar semakin dekat menuju tempat ini.
Arya.
Dia datang bersama dua bodyguard yang diutus oleh Naya, Napasnya memburu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan yang dipenuhi orang-orang asing di sekelilingnya. Dan di tengah-tengahnya ada Adinda dan juga ibunya.
"Ini apa?" tanyanya bingung.
Sintia menggelengkan kepalanya cepat. "Arya apapun yang terjadi kamu harus percaya sama Ibu, jangan pernah kamu percaya dengan akal-akalan istrimu."
Arya tidak langsung menjawab, tatapannya tertuju pada ibunya, seolah meminta penjelasan lebih lanjut. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Istrimu menjebak Ibu Nak..."
“Kita tidak punya waktu untuk drama Bu,” potong Adinda tenang.
"Terus?" desak Arya.
Adinda menyeringai, sudut bibirnya terangkat tipis. "Mulai malam ini kamu harus tahu semuanya, dan aku yang kamu anggap ..." kalimat Adinda menggantung
“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan? Jangan bicara setengah-setengah begini!”
Semua mata tertuju pada Arya, orang-orang menunduk, seolah tidak ingin menjelaskan, tapi tidak dengan Adinda.
Perempuan itu maju satu langkah, kali ini ia berdiri lebih dekat di hadapan Arya. menatap wajah itu penuh dengan keberanian.
"Ada apa Din, tolong jelaskan," pinta Arya seraya memohon.
Adinda mengangguk perlahan. "Baiklah."
Ia segera melirik ke arah Naya, dengan satu isyarat Naya langsung membawa beberapa dokumen itu pada Arya, tapi sebelum perempuan itu menjelaskan satu persatu suara Adinda memotongnya.
"Tunggu!"
Tangan Naya berhenti ia segera menarik kembali map tersebut.
"Sebelum kamu mengetahui rahasia besar ini," ucap Adinda. "Alangkah lebih baik, kamu siapkan mentalmu juga Arya." lanjutnya bagaikan tamparan.
Pandangan Arya jatuh pada map biru yang ada di tangan Naya. "Tolong bacakan isi dari dokumen itu, jangan buat aku hilang kesabaran."
"Oh ya," sahut Adinda cepat.
Ia pun mulai mengedipkan matanya. Tanpa banyak bicara, Naya mengangguk. Dari tangannya. Ia meletakkan map tebal itu di atas meja dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang.
“Kita mulai dari yang paling sederhana dulu.”
Arya mematung, jelas dibuat penasaran.
Naya membukanya, satu persatu lembar ditarik keluar.
“Data rumah sakit,” ucapnya singkat.
Sintia langsung bereaksi. “Itu gak ada hubungannya...”
“Jangan potong,” suara Adinda datar. “Belum selesai.”
Sintia membeku, harus dengan cara apalagi agar menantunya itu tidak membuka rahasia yang selama ini ia takutkan.
Naya melanjutkan. “Tanggal. Nama pasien. Dan riwayat tindakan medis.”
Arya mengerutkan alisnya. “Dinda… ini apa?”
Adinda tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah Sintia.
“Masih mau bilang ini salah paham?”
Sintia menelan ludah. “Aku… aku gak tahu kamu dapat dari mana...”
“Kita tambah lagi.”
Kali ini, Naya mengangkat ponselnya. Menekan sesuatu.
Beberapa detik kemudian— Langkah kaki kembali terdengar, pelan sedikit ragu. Seorang wanita masuk. Berpakaian sederhana. Wajahnya pucat saat melihat suasana di dalam.
"Suster itu," bisik Sintia pelan. Keringat dingin langsung membasahi tubuhnya.
"Apa sih Din, semakin tidak jelas," protes Arya.
"Sabar dulu," sahut Dinda enteng.
Wanita itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya sempat goyah… sebelum akhirnya mengarah ke Adinda.
“Ibu…” suaranya pelan.
Adinda mengangguk sedikit. Memberi izin.
“Ceritakan.”
Suster itu menarik napas panjang. “Malam itu… Bu Adinda masuk dalam kondisi kritis,” ucapnya pelan, tapi cukup jelas untuk semua orang.
Arya langsung menegang. “Apa maksudnya?”
Suster itu melirik sekilas ke arah Sintia. Lalu kembali ke Adinda.
“Beliau… melahirkan.”
Kata itu jatuh begitu saja. Arya sempat menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan ucapan yang baru dia dengar, tapi saat matanya melirik ke arah dokumen. Semuanya terlalu kuat untuk disangkal. “Apa…?”
Matanya langsung beralih ke Adinda. “Dinda…?”
Adinda tidak menoleh. Ia tetap menatap Sintia.
“Lanjutkan.”
Suster itu mengangguk, meski terlihat semakin gugup.
“Setelah proses itu selesai… bayi dibawa keluar. Dan… ada instruksi.”
“Itu... tidak benar!” potong Sintia tiba-tiba, suaranya meninggi.
Semua mata langsung tertuju padanya. Ia sedikit melirik ke arah Tiara, namun wanita itu juga sama saja. Tidak berkutik.
“Tolong,” ucap Adinda pelan, tapi tajam. “Jangan mempermalukan diri sendiri lebih jauh.”
Kalimat itu membuat Sintia menelan ludahnya sendiri, tatapannya jatuh ke bawah dengan napas yang mulai tak beraturan.
Suster itu melanjutkan, suaranya bergetar. “Saya diminta untuk diam. Tidak mencatat beberapa hal… dan tidak memberi tahu keluarga pasien secara lengkap.”
Arya mundur satu langkah. Wajahnya berubah. Pucat. Ia menatap ibunya. “Ibu… ini apa?”
Sintia tidak langsung menjawab. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
Adinda akhirnya menoleh ke arah Arya. Kali ini suara Adinda terdengar jauh lebih tenang.
“Selama ini kamu cuma tahu aku hilang ingatan, kan?” ucapnya pelan.
Arya mengangguk kaku. “Yang tidak kamu tahu…” lanjut Adinda, suaranya tetap stabil, “…aku kehilangan lebih dari itu.”
Rahang Arya mengeras tangannya mengepal kuat, selama ini ia menganggap sang ibu sebagai wanita yang paling ia hormati, bahkan ia selalu mengesampingkan istrinya demi menjaga hati ibunya.
“Ndin… tolong bilang ini cuma salah paham.”
Adinda menatapnya dalam, lalu menggeleng dengan pelan. "Sayangnya, ini nyata."
Arya berteriak sekencang mungkin. Suaranya menggema memenuhi ruangan ini. "Kenapa! Ibu melakukan ini pada kami. Bahkan dengan entengnya Ibu bilang dia wanita mandul dan menyuruhku untuk mencari istri baru."
Kali ini tangis Arya benar-benar pecah. Ia mencoba meraih tangan Dinda namun wanita itu langsung menariknya.
“Aku kehilangan semuanya. Ingatan, kepercayaan… bahkan anakku sendiri," kata Adinda. Hampa.
"Maaf Din..." suara Arya serak.
Adinda tidak menjawab. Ia perlahan berbalik— dan berhenti pada satu orang bukan Sintia melainkan. Tiara.
"Kali ini permainanmu sudah berakhir, dan siap-siap saja kamu kembali ke asal semula," ucap adinda cukup tenang.
Tatapan Tiara nyalang, bukannya tertunduk tapi wanita itu semakin menantang Adinda.
"Lakukan saja, apa maumu, dan jangan harap semua ini akan berakhir," sahutnya pelan. "Ini baru awal."
Bersambung ....