"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: MASA DEPAN YANG CERAH DI BAWAH LINDUNGAN CINTA
Waktu terus berjalan, membawa perubahan yang begitu indah dalam kehidupan keluarga Wijaya. Lima tahun telah berlalu sejak kelahiran Arfan. Rumah besar itu kini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi telah berubah menjadi sebuah istana kecil yang penuh dengan tawa, canda, dan kenangan manis yang terukir setiap harinya.
Arfan kini sudah berusia lima tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat menggemaskan namun memiliki aura yang sangat khas. Jika Arka dikenal tenang dan bijaksana, serta Aira yang ceria dan manja, maka Arfan adalah perpaduan unik antara ketegasan ayahnya dan kelembutan ibunya.
Pagi itu, suasana di diruang makan sangat hidup namun tetap tertib.
"AYAHHH!!! ARFAN MAU YANG BESAR!!!" teriak Arfan dengan suaranya yang lantang, menunjuk potongan roti bakar di piring ayahnya.
Arga tertawa lebar, lalu tanpa ragu memindahkan potongan roti besar itu ke piring anak bungsunya. "Nah, ini buat pangeran kecil. Makan yang banyak ya biar cepat tinggi kayak Ayah."
"IYA!!! ARFAN MAU JADI BOS KAYAK AYAH!!!" seru Arfan penuh semangat, lalu memakan rotinya dengan lahap, sedikit remah-remah menempel di pipinya yang tembem.
Kirana yang melihat tingkah suami dan anak itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Dasar Ayah lembek. Dibilangin jangan dimanja banget malah dikasih terus. Nanti kalau dia besar jadi manja gimana?"
"Ah enggaklah Sayang," sanggah Arga santai sambil menuangkan susu cokelat ke gelas Arfan. "Anak laki-laki kalau dimanja sama Ayah nanti jiwanya jadi hangat. Dia jadi tahu rasanya dicintai, jadi nanti besarnya dia bakal tahu cara mencintai orang lain dengan benar."
Di sebelah mereka, Arka yang kini sudah menginjak usia tiga belas tahun duduk dengan sangat sopan dan rapi. Wajahnya semakin tampan, mulai menunjukkan ciri-ciri pria dewasa. Ia sedang membaca buku sambil sesekali mencicipi sarapannya.
"Kak Arka kok diam aja sih? Nggak ikut makan banyak?" tanya Kirana perhatian.
Arka mengangkat wajahnya, tersenyum sopan. "Arka sudah kenyang Bu. Nanti Arka mau berangkat sekolah lebih awal soalnya ada latihan basket. Hari ini kan ada pertandingan persahabatan."
"Wah hebat! Main yang bagus ya Nak. Nanti sore Ayah coba datang nonton," kata Arga bangga.
"Makasih Yah. Tapi kan Ayah sibuk, nggak apa-apa kok kalau nggak bisa," jawab Arka pengertian, sifat dewasanya sudah terlihat jelas.
"Harus bisa! Anak Ayah main bola basket, masa Ayah nggak dukung?" sahut Arga tegas.
Sementara itu, Aira yang kini sudah berusia delapan tahun tampil semakin cantik bak boneka hidup. Rambutnya dikepang dua rapi, mengenakan seragam sekolah yang sangat cocok di tubuhnya.
"Bu... Aira hari ini ada tugas menyanyi lho. Aira mau jadi yang paling bagus suaranya bagus," celetuk Aira manja sambil memakan buahnya.
"Pasti dong! Putri Ibu kan suaranya merdu banget," puji Kirana sambil mencubit pipi anak perempuannya itu pelan.
Pemandangan sarapan bersama ini adalah ritual paling berharga bagi Arga dan Kirana. Di meja itu, mereka tidak hanya mengisi perut, tapi juga mengisi hati dengan kehangatan yang tak ternilai harganya.
Setelah mengantar anak-anak sekolah dan kegiatan masing-masing, rumah menjadi sepi untuk sementara waktu. Ini adalah waktu berharga bagi Arga dan Kirana untuk menikmati momen berdua saja.
Mereka duduk berdua di teras belakang yang asri, ditemani secangkir kopi dan teh hangat. Angin sepoi-sepoi bertiup menyejukkan, membawa aroma bunga dari taman mereka yang indah.
Arga menggenggam tangan Kirana, mengusapnya pelan. Wajah mereka kini terlihat lebih dewasa. Sedikit garis halus mulai muncul di ujung mata, tanda bahwa mereka telah banyak tertawa dan bahagia selama bertahun-tahun ini.
"Ran..." panggil Arga pelan.
"Ya, Sayang?"
"Kadang aku sering nggak percaya... liat kita sekarang. Udah punya tiga anak yang sempurna, hidup berkecukupan, rumah besar, perusahaan maju... tapi yang paling bikin aku nggak percaya adalah... kamu masih sama aku sampai sekarang," ucap Arga dengan nada tulus yang sedikit sendu.
Kirana tertawa kecil, menatap mata suaminya yang dalam. "Kenapa ngomong gitu sih? Kita kan suami isteri, sampai maut memisahkan."
"Iya... tapi aku ingat banget dulu awalnya kita nikah karena perjodohan. Aku yang dingin, aku yang masih terbayang-bayang masa lalu, aku yang sering bikin kamu nangis dan kecewa," lanjut Arga, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi kamu nggak pernah nyerah. Kamu tetap sabar, tetap lembut, sampai akhirnya kamu berhasil luluhkan hati aku yang beku ini."
Kirana mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Itu semua sudah berlalu, Ar. Yang penting sekarang kita bahagia. Aku nggak pernah nyesel sedikit pun dipersatukan sama kamu. Justru aku bersyukur banget, karena Tuhan kirim kamu buat lengkapan hidup aku."
"Aku sayang banget sama kamu, Ran. Lebih dari apapun di dunia ini," bisik Arga, lalu ia menarik tubuh isterinya ke dalam pelukan hangat. "Janji ya, kita bakal terus gini sampai tua nanti. Rambut kita putih semua, jalan pake tongkat, tapi tangan kita tetep gandengan kayak gini."
"Iya... janji. Kita bakal liat Arka nikah, liat Aira jadi wanita sukses, liat Arfan jadi pemimpin hebat, terus kita pensiun tinggal di tempat yang tenang, berdua aja," jawab Kirana lembut di dada bidang suaminya.
Momen kebersamaan mereka tidak pernah kehilangan romantismenya. Justru seiring bertambahnya usia, cinta mereka semakin matang, semakin tenang, dan semakin kuat. Mereka adalah sahabat, adalah pasangan, adalah segalanya satu sama lain.
Sore harinya, seperti yang dijanjikan, Arga benar-benar datang ke sekolah Arka untuk menonton pertandingan basket.
Di tribun penonton, Arga dan Kirana duduk berdampingan, mata mereka tak lepas dari lapangan. Di sana, Arka terlihat begitu gagah dan lincah. Tinggi badannya sudah hampir menyamai orang dewasa, posturnya atletis, dan cara dia memimpin timnya sangat cerdas.
"GO GO ARKA!!! GO!!!" teriak Arga bersorak dengan antusiasnya, melupakan sejenak citranya sebagai CEO yang serius. Di sini dia hanya seorang Ayah yang bangga.
PRIIITTTT!!!
Wasit meniup peluit panjang. Pertandingan usai! Tim Arka menang telak!
Arka dan teman-temannya bersorak kegirangan. Arka melihat ke arah tribun, dan saat matanya bertemu dengan mata Ayah dan Ibunya, dia tersenyum lebar dan memberikan tanda jempol.
Sesampainya di luar lapangan, Arka langsung berlari menghampiri orang tuanya.
"AYAH!!! IBU!!!" serunya napas terengah-engah tapi wajahnya bersinar bahagia.
"HEBAT ANAK AYAH!!!" Arga langsung memeluk anak pertamanya itu erat-erat, lalu menepuk punggungnya keras-keras penuh bangga. "Mainnya keren banget! Passingnya akurat, tembakannya mantap! Warisan Ayah memang nggak ada yang ngecewain!"
"Makasih Yah... makasih juga Bu udah datang," kata Arka senang.
"Pasti dong, kan kita tim," jawab Kirana sambil mengelap keringat di dahi anaknya dengan tisu. "Lapar kan? Yuk kita makan malam bersama, rayakan kemenangan Arka."
Perjalanan menuju restoran mewah itu diisi dengan tawa dan cerita. Arka bercerita tentang sekolah, tentang teman-temannya, dan sedikit tentang cita-citanya yang ingin menjadi arsitek hebat seperti Ayahnya namun lebih fokus pada pembangunan perumahan rakyat.
Arga mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan nasihat dan masukan. Hubungan Ayah dan Anak ini begitu dekat, layaknya dua sahabat yang saling menghormati.
Malam semakin larut, bintang-bintang mulai bermunculan di langit. Kehidupan keluarga Wijaya terasa begitu sempurna dan damai.
Namun, kehidupan memang selalu menyimpan cerita baru. Anak-anak yang kini mulai tumbuh remaja dan besar, pasti akan mulai memiliki dunia mereka sendiri. Tantangan tentang pergaulan, tentang cinta pertama, tentang pilihan masa depan, pasti akan datang menghampiri Arka, Aira, maupun Arfan.
Tapi Arga dan Kirana yakin, selama pondasi cinta dan kepercayaan ini tetap kokoh, selama mereka tetap menjadi rumah tempat anak-anak pulang, semuanya akan baik-baik saja.
Mereka telah membuktikan bahwa dari sebuah perjodohan yang dipenuhi keraguan, lahirlah sebuah keluarga yang penuh cinta, yang menjadi contoh bagi banyak orang.
Dan perjalanan panjang selanjutnya masih terus berlanjut, menorehkan kisah-kisah indah yang tak akan pernah terlupakan.