NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus segera di makamkan

Rumah Bu Ratmini sudah sepi sore itu, warga yang sejak pagi berkumpul di rumahnya sudah pulang satu persatu.

Kini hanya tinggal Bu Ratmini dan Dila di dalam rumah. Dila memilih tetap menemani perempuan tua itu.

Meski usianya masih kecil, dia tahu Bu Ratmini sedang sangat sedih dan tidak seharusnya ditinggal sendirian.

Di kamar Sekar, Bu Ratmini terbaring di atas kasur milik Sekar. Di dadanya tergenggam erat sebuah baju lama milik Sekar.

Sesekali dia mengusap kain itu perlahan sambil menatap kosong ke depan. Sementara itu, Dila duduk diam di dekat pintu kamar.

Dia tidak banyak bicara, gadis kecil itu hanya sesekali melirik Bu Ratmini dengan tatapan khawatir.

Menjelang sore, terdengar suara langkah kaki menaiki tangga rumah.

"Assalamualaikum..." Suara itu ternyata pelan tanpa tenaga.

"Walaikumsalam..." Sahut Dila yang segera menoleh.

Tak lama kemudian Pakde Banyu masuk ke dalam rumah.

Wajah pria tua itu tampak begitu letih, bajunya kusut dan sorot matanya terlihat berat.

Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan

"Ibumu mana Dil?" Tanya pakde Banyu.

"Di kamar kak Sekar, Pakde." Jawab Dila.

Pakde Banyu langsung berjalan masuk kedalam kamar itu. Dila pun langsung berdiri memberi jalan saat Pakde Banyu melangkah menuju kamar Sekar.

Sedang Bu Ratmini tetap berbaring, memejamkan mata sambil memeluk erat baju itu.

Pakde Banyu kemudian duduk di tepi pintu kamar.

Beberapa saat dia terdiam. Seolah sedang mencari cara untuk menyampaikan apa yang baru saja didengarnya.

"Ratmini..." Suara pria itu terdengar pelan.

"Autopsinya sudah selesai dilakukan." Ucapnya.

Bu Ratmini tidak menjawab, dan tidak juga membuka matanya.

"Hasilnya belum keluar." Lanjut Pakde Banyu. Dia menarik napas panjang.

"Rumah sakit bilang masih harus menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan DNA untuk memastikan apakah benar jenazah itu Sekar atau orang lain."

Bahkan Dila yang belum sepenuhnya memahami semua itu ikut menahan napas.

"Pihak rumah sakit juga bilang jenazah bisa diambil sekarang untuk dimakamkan." Kata Pakde Banyu menatap Bu Ratmini.

"Atau menunggu sampai hasil autopsi dan DNA keluar."

"Kalau menunggu..." Suara Pakde Banyu terdengar semakin berat.

"Bisa dua sampai tiga minggu."

Bu Ratmini akhirnya berkedip pelan, tangannya masih memeluk baju Sekar erat-erat.

Beberapa saat dia terdiam. Lalu dengan suara lemah ia berkata.

"Sebaiknya segera dimakamkan saja."

Pakde Banyu menundukkan kepala.

"Kasihan anak itu kalau jenazahnya terlalu lama dibiarkan."

Air mata mulai memenuhi mata Bu Ratmini.

"Dia nda punya keluarga. Dan, nda tau siapa keluarganya." Suaranya bergetar.

"Jadi biar kita saja yang mengurusnya."

Dila menatap perempuan tua itu dengan bingung.

Sementara Pakde Banyu hanya diam. Karena, dia tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Bu Ratmini terus menyebut jenazah itu sebagai 'anak itu'.

Bukan Sekar, bukan anaknya.

Seolah dengan cara itu dia bisa mempertahankan harapan yang masih tersisa.

Padahal di dalam hatinya, dia hanya sedang berusaha melawan kenyataan yang paling dia takuti.

Kenyataan bahwa jenazah yang ditemukan di dasar sumur tua itu mungkin adalah putri yang dia harapkan kepulangannya.

Bu Ratmini masih memeluk erat baju milik Sekar di dadanya. Matanya terbuka tapi tatapan itu kosong.

Air mata yang sejak tadi menggenang perlahan kembali mengalir di pipinya.

Kemudian Bu Ratmini kembali membuka mulut. Suaranya pelan dan lemah.

"Keluarga anak itu sekarang pasti sedang mencarinya."

Pakde Banyu mengangkat pandangan.

Bu Ratmini menunduk menatap baju yang berada dalam pelukannya.

"Mungkin ada ibunya yang sedang menunggu." Suaranya mulai bergetar.

"Mungkin ada keluarganya yang sedang berharap dia pulang."

Kalimat itu membuat dada Pakde Banyu terasa sesak.

Karena tanpa disadari, apa yang diucapkan Bu Ratmini sebenarnya adalah gambaran dirinya sendiri.

"Sebaiknya kita cepat mengurusnya."

Bu Ratmini mengusap air matanya perlahan.

"Kasihan kalau terlalu lama dibiarkan."

Dila yang duduk di dekat pintu hanya diam mendengarkan.

Gadis kecil itu belum sepenuhnya memahami pembicaraan orang-orang dewasa.

Tetapi dia bisa merasakan kesedihan yang memenuhi ruangan tersebut.

Pakde Banyu menatap Bu Ratmini cukup lama, melihat adiknya perempuan seperti itu, hatinya terasa begitu berat. Namun akhirnya dia mengangguk pelan.

"Baiklah." Suaranya terdengar lirih.

"Aku akan segera mengabari pihak rumah sakit."

Bu Ratmini tidak menjawab.

Dia hanya kembali memeluk baju Sekar erat-erat.

Seolah benda itulah satu-satunya yang masih menghubungkannya dengan Sekar.

Pakde Banyu perlahan berdiri dari tempat duduknya. Sebelum keluar dari kamar, dia sempat menoleh sekali lagi ke arah Bu Ratmini.

Sementara di dalam hatinya, Pakde Banyu tahu bahwa keputusan yang baru saja diambil Bu Ratmini bukanlah karena dia benar-benar yakin jenazah itu milik orang lain.

Sebaliknya. Itu adalah cara seorang ibu mempertahankan harapan yang hampir hancur.

Setelah menghubungi pihak rumah sakit, Pakde Banyu kembali masuk ke dalam kamar itu.

Wajahnya tampak semakin berat dibanding sebelumnya.

Di atas kasur, Bu Ratmini masih berada di posisi yang sama. Memeluk baju milik putrinya erat-erat.

Sementara Dila duduk diam di dekat jendela kamar.

Pakde Banyu berhenti di ambang pintu.

"Ratmini..."

Bu Ratmini perlahan mengangkat pandangan.

Pakde Banyu menarik napas panjang.

"Tadi pihak rumah sakit sudah memberi jawaban." Katanya.

"Mereka menyarankan supaya jenazah langsung dimakamkan dari rumah sakit."

Bu Ratmini tidak bereaksi. Tatapannya tetap tenang.

Namun kedua tangannya semakin erat memeluk baju Sekar.

Pakde Banyu melanjutkan dengan hati-hati.

"Keadaannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk dibawa pulang ke rumah." Suaranya mulai terdengar berat.

"Sudah terlalu lama berada di dalam sumur."

Kalimat berikutnya terasa sulit keluar dari mulutnya.

Dia bahkan harus menundukkan kepala sesaat sebelum melanjutkan.

"Keadaannya... sudah sangat hancur."

Dila menatap Pakde Banyu tanpa benar-benar memahami maksud seluruh perkataannya.

"Jadi..." Pakde Banyu kembali berbicara. Namun, kalimatnya terhenti.

Karena dia sendiri tidak sanggup melanjutkannya.

Bu Ratmini perlahan memejamkan mata. Satu tetes air mata mengalir dari sudut matanya.

Beberapa saat kemudian dia membuka mata kembali.

Dan pasrah.

"Lakukan saja seperti yang diminta pihak rumah sakit."

Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.

Pakde Banyu terdiam. Bu Ratmini menunduk menatap baju yang berada dalam pelukannya.

"Kasihan kalau harus menunggu lebih lama lagi."

Air matanya kembali menetes. Namun kali ini dia tidak menghapusnya. Dia biarkan mengalir begitu saja.

"Baik." Pakde Banyu hanya mampu mengangguk pelan.

1
Riska Salahudin
jangan2 wulan pelaku ny
Mega Arum
dr awal wulan mencurigakan... Lanjut thor
Yulia Lia
kan jangan2 memang Wulan terlibat dengan meninggalnya sekar
Yulia Lia
nah apa yg terjadi thoor dengan fatimah
Mega Arum
lanjuut kak...
Nurr Tika
penasaran sebenernya yg bunuh sekar siapa yah
Siti Yatmi
jahat banget yah ai idah itu....coba kalo kamu yg ngalamin..hem..baru tau rasa....ayo sekar hantuin tuhsi idah....
Riska Salahudin
penasaran thor. up ny 1 tapi alhamdulillah masih up rutin
Maple latte: Iya🙏 habisnya author lagi sibuk hari ini di dunia nyata
total 1 replies
Yulia Lia
kok blm up date kk
Maple latte: udah kak, tapi cuman 1🙏 habisnya author lagi sibuk di dunia nyata hati ini
total 1 replies
Riska Salahudin
sekar ktmu siapa kira2
kayyaaa
apa iya sekar mulai meneror anak gadis?
kayyaaa
tuh kan, sedih banget sekar ternyata udah meninggal kayaknya
kayyaaa
apa iya sekar nanti ketemu nanti udah mati? kok belum muncul2
kayyaaa
ibunya wulan knp dah
Mega Arum
lanjut kak
Mega Arum
sebagai seorang ibu.. ikut merasakan sakitnya ibunya sekar 😥
Siti Yatmi
siapa yah laki2 itu, penasaran banget...kaya nya dia pasti org nya mengakibatkan kematian Sekar...
Iis Dawina
siapa yah yg ditemui Sekar..klo orang yg ga dikenal ga mungkin Sekar mau bertemu
Nurr Tika
sebenarnya sekar bertemu dengan siapa
Arafa Fitra
seru dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!