NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GIOK DAN MASA LALU YANG GELAP

Ruang VVIP Restoran Mutiara Lautan. Ditata meja bundar besar. Lampu gantung kristal. Dinding panel kayu ukiran naga dan phoenix. Wangi teh melati menyebar tipis — tidak jelas dari mana asalnya. Kedap suara untu pertemuan privasi

Tauke Hok duduk di kursi utama. Nyonya Hok di sampingnya. Wajah mereka tegang — bukan marah, bukan sedih. Tapi antara lega dan takut.

Ah Chio duduk di seberang. Map coklat di pangkuannya — belum dibuka. Wajahnya pucat. Matanya tidak menatap siapa pun — hanya meja di depannya.

Dokter Yong — wanita berjas putih, rambut beruban, kembaran Nyonya Hok — duduk di samping Ah Chio. Satu tangan di map, satu tangan di atas meja — diam.

Eng Sok duduk di samping Ah Me. Ah Me menggenggam tangan Eng Sok — kencang. Tidak tahu kenapa. Tiba-tiba takut. Dokter Yong, Ah Ik kesayangan Ah Chio yang sering dia ceritakan ke Eng Sok menatap Eng Sok. Bulu kuduknya berdiri.

---

Tauke Hok membuka suara,"Siau Heng... anak kandung kami... Hok Hiang Chio...  sebenarnya sudah meninggal."

Ah Me menarik napas.

"Waktu SMP. Kena Thalasemia intermedia dan kelainan pertumbuhan limpa." Tauke Hok berhenti. Menelan ludah. "Kami bersyukur... tiga anak lain normal."

Ah Me tidak mengerti. "Tapi — "

"Sabar, Me," potong Nyonya Hok. Suaranya pelan. "Biarkan suami saya selesai."

Tauke Hok menghela napas. "Saya sendiri juga Thalasemia intermedia dan baru tahu saat Ah Chio asli sakit. Istri normal. Tapi... Chio yang kedua... Sehat dan kuat."

Ia menatap Ah Chio — yang masih diam, tidak bergerak, seperti patung.

"Kami menemukan dia di bawah pohon Ceri. Di kebun belakang rumah kami... di desa."

---

Tauke Hok bercerita.

Kebun Ceri. Pagi. Kabut tipis.

Ia tidak sengaja bangun lebih awal. “Istri masih tidur. Anak-anak masih tidur. Ia keluar — mau ke belakang, menikmati udara segar sebelum kami menuju ke krematorium keluarga Hok diam-diam. Kami sedih, tidak terima kalo Ah Chio kami….” kata Tauke Hok dengan nafas berat.

Dan di bawah pohon Ceri — seorang gadis terbaring. 

Usianya sekitar 12-17 tahun. Pakaian compang-camping — pake Tng Sa berlapis-lapis. Kainnya kasar kayak bukan kain pabrik. Rambut panjang kusut ada konde tapi model kuno banget. Pake sepatu sebelah kanan, sebelah kirinya kaos kaki robek.

Tauke Hok mendekat. Takut. Gemetar. Ia meraba pergelangan tangan gadis itu — masih hangat. Masih hidup. “Wajahnya… seolah-olah itu Ah Chio yang dikembalikan Thien”, katanya.

Tauke Hok membangunkan semua anak dan istrinya, mengendap-endap subuh-subuh. Lalu Tauke segera ke Krematorium, ambil abu dan sogok petugas. Membawa Ah Chio baru ke rumah. “Cuma orang Kremasi keluarga gue yang tau”, katanya. Tauke Hok menutup mulutnya.

"Dia... dia seperti Chio. Pas kita tanyai nama kok kebeneran dia bilang namanya Chio juga… Hoki kita," bisiknya.

Istri melihat. Matanya membulat. Rambut. Wajah. Postur. Sama persis.

Mereka mengubur anak kandungnya — tanpa memberi tahu siapa pun. Kremasi. Diam-diam. Tidak ada pemberitahuan ke saudara. Tidak ada pemberitahuan ke tetangga.

Tiga anak lainnya — kakak-kakak Ah Chio — tidak terima. Tidak terima bahwa adik mereka sakit. Tidak terima bahwa adik mereka mati. Dan sudah jadi abu dalam guci keramik di tangan Ayah Mereka.

"Kami memutuskan..." Nyonya Hok bicara — suaranya patah. "...menghidupkan lagi Ah Chio. Lewat gadis ini. Ah Chio gak ingat apapun. Dia cuma tau kalo dia itu kerja di rumah orang kaya dan bukan anak kami. Sisanya? Sudah dihipnosis gak ada mempan. Kami rawat dia baik-baik. Kami sekolahkan farmasi. Walaupun gak di luar negeri."

---

Ah Chio yang sekarang amnesia.

Tidak ingat nama lengkap dia, cuma namaya Ah Chio. Tidak ingat orang tua. Tidak ingat dari mana. Cuma tau dia kerja di rumah Tuan Muda Kok.

Tapi — Ah Chio yang tau bukan putri keluarga Hok makin ingat posisi dia gara-gara kata-kata itu.

"Kamu sudah gua kasi makan."

"Kau gak jelas asal-usulnya."

"Balas budi!"

Diam-diam. Di kamar. Di dapur. Di toko. Setiap kali orang tua merasa lelah. Setiap kali kakak-kakak menuntut. Setiap kali ada yang tidak beres.

Ah Chio menerima. Diam. Tidak membantah. Tidak menangis.

Tapi kata-kata itu tertanam.

Ia tahu dia bukan anak kandung. Sejak remaja. Dia hanya tahu kerja di rumah tuan muda kaya. Tuan muda yang wajahnya mirip Sioh Bu. Ini bukan rumah dia. Ah Chio melihat Wallpaper HP dia. Wallpaper yang ia gambari wajah Tuan Muda. Sepintas seperti Sioh Bu dalam balutan Tng Sa. 

Ia tidak pernah bertanya. Tidak pernah mencari asal-usulnya. Karena — di mana lagi ia bisa pergi? Ah Chio sudah tanya ke ahli-ahli giok lewat koneksi paman bibi di pemerintahan. Giok dia ini usianya 1500 tahun mungkin lebih. Kemungkinan barang curian dari museum atau rumah orang kaya, mending jangan diusut. Air mata Ah Chio meleleh saat ingat pamannya yang ahli giok itu berkata,”Ini giok sangat tua. Giok milik selir paling rendah yang bisa dibuang kapan saja di Istana Leng. Ada giok ini kalo dari catatan artinya Pangeran hanya menjadikan dia cadangan. Istana Leng itu vazal yang sering perang. Jadi sering pelihara selir luar. Tapi ini zaman modern. Saran gua: Jangan diusut karena kemungkinan curian atau duplikat.”

---

Dokter Yong — ahli forensik, saudara kembar Nyonya Hok — membuka suara. 

"Kondisi amnesia ini... agak susah diperbaiki." Suaranya datar — profesional. "Pasien jatuh dari tempat cukup tinggi — sebelum dipindahkan ke kebun Ceri. Dan entah bagaimana... selamat."

Ia berhenti. Tangan di atas meja — bergetar.

"Ah Chio juga —", kata Dokter Yong sambil melihat paha Ah Chio.

Nyonya Hok memegang tangan Dokter Yong. Keras. Matanya memohon.

Dokter Yong diam.

---

Tauke Hok mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

"Kami cuma tau... giok ini."

Sebuah giok. Hijau. Ukiran ikan koi. Tali merah — tali kur Cia.

"Talinya rusak. Tapi Ah Chio selalu memperbaikinya... dengan tali kur Cia merah. Hampir identik."

Tauke Hok menyerahkan giok itu ke Eng Sok.

---

Eng Sok menerima.

Tangannya gemetar.

Bukan karena sedih. Bukan karena empati.

Dia sedang menghadapi dosanya sendiri.

Ia memejamkan mata. Membalik giok.

Di belakang — tulisan kode. Tinta cokelat — warna yang sudah luntur, tapi masih terbaca.

Tulisan tangannya sendiri.

"Bulan 1 tanggal 2 tahun pemerintahan kelima Kaisar Go Ai Hong."

Eng Sok membeku.

Kaisar Go Ai Hong. Tahun kelima. Ia berusia 15 tahun.

Saat kejadian bodoh itu menimpanya.

Ia membaca kode itu — dalam hati. Tidak berani bersuara.

"Pangeran Ketiga Istana Leng. Kok Eng Sok."

Ia meletakkan giok di meja.

Pandangannya kabur.

Gelap.

---

Ah Me menggenggam tangan Eng Sok — lebih kencang.

"Koh Sioh Bu? Kamu kenapa?"

Eng Sok tidak menjawab.

Ah Chio — yang sejak tadi diam — mendongak.

Matanya menatap Eng Sok.

Bukan marah. Bukan sedih. Hanya... lelah.

"Ko..." suaranya serak. "Kamu... kenapa dengan giok itu?"

Eng Sok tidak bisa menjawab.

Ah Chio menunduk lagi.

"Gua sudah tahu." Suara Ah Chio pelan. "Bahwa gua ni bukan anak kandung. Bahwa gua... ndak ada garis di sini."

Ia menggenggam ujung baju — gemetar.

"Tapi gua ga tahu... kalo itu giok..."

Ia tidak menyelesaikan kalimat, melihat Eng Sok seperti orang tidak sadar walaupun duduk. Pelan tapi pasti, Ah Chio engingat prajurit penjaga Rumah Tuan Muda sering tidur atau tidak sadar dalam posisi duduk juga.

---

Ruang VVIP menjadi sunyi.

Hanya suara AC dan napas orang-orang yang berusaha tenang.

Ah Me masih menggenggam tangan Eng Sok — tidak melepas.

Ah Chio — menutup map coklat di pangkuannya. Belum dibuka.

"Ah Pa," katanya pelan ke Tauke Hok. "Biarkan... nanti."

Tauke Hok mengangguk.

---

Eng Sok tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya memejamkan mata. Kesadarannya larut perlahan.

"Thien... ini ujian? Atau penghakiman?"

---

BERSAMBUNG

---

Giok koi. Kode Istana Leng.

Ah Chio bukan Ah Chio asli.

Dia sudah tahu — sejak kata-kata itu tertanam.

"Kamu sudah gua kasi makan. Kau gak jelas asal-usulnya. Balas budi!"

Dan Eng Sok — menerima dosanya sendiri.

"Pangeran Ketiga Istana Leng."

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!