NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

“Raras Muria?”

Udara di sekitar Jihan seolah membeku. Gemuruh air terjun yang biasanya riuh, kini terasa jauh, tak mampu menyadarkannya yang tertegun mendengar nama itu. Matanya melebar, menatap Raras dengan tatapan yang kini sedikit berbeda.

Dalam benaknya, ia memang sudah tahu bahwa gadis itu bukan orang biasa. Pakaiannya yang mewah dan aroma wewangian mahal yang menguar dari tubuhnya adalah petunjuk yang jelas. Namun, ia tidak pernah menyangka gadis di hadapannya ini adalah seorang putri kerajaan!

Senyum cerah merekah di wajah Raras, memperlihatkan deretan giginya yang seputih susu saat menatap Jihan yang masih terpaku dalam keterkejutan. Ia sudah menduganya, setiap kali seseorang mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka akan segera bersujud, memuja namanya seolah sedang berhadapan dengan dewa.

Biasanya, Raras tak ragu menampakkan keangkuhannya di hadapan orang-orang itu. Namun kali ini sedikit berbeda. Di hadapan Jihan, ia merasa perlu menjaga sikap. Ia tak ingin dianggap aneh oleh pemuda itu, meskipun pada kenyataannya, Jihan sudah menganggapnya aneh sejak awal.

“Ah, aku ingat ternyata kamu Nona Muda yang usil itu! Tidak heran jika kamu begitu ceroboh!”

“Heh! Siapa yang berani menyebar rumor tanpa dasar itu?!”

“Aku akan menghukumnya! Menyuruh dayang istina untuk memukul pantatnya 100 kali! Tidak, itu tidak cukup 1000 kali!”

Ekspresi kesal terukir di wajah Raras. Nada suaranya terdengar tegas, namun tersirat rasa malu di dalamnya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa selama ini banyak orang membicarakan hal buruk tentangnya. Lebih buruk lagi, rumor itu sampai ke telinga Jihan, membuatnya tidak bisa menjaga sikap baik yang coba ia tunjukkan.

'Mereka semua! Kalau aku berhasil menemukan siapa saja di antara mereka, akan kubalas seribu kali lipat, lebih memalukan dari apa yang kurasakan saat ini!'

Mata Jihan yang awalnya hanya memancarkan keterkejutan, kini dipenuhi rasa ngeri saat menatap wajah Raras yang memerah padam. Kecantikan lembut yang tadi terpancar dari wajah gadis itu lenyap seketika, digantikan sorot tajam dan ekspresi garang, seolah-olah ia bisa menghajarnya kapan saja tanpa peringatan.

‘Mungkinkah aku mengatakan sesuatu yang salah?’

Helaan napas Raras memecah keheningan, menghentikan pikiran Jihan. Wajahnya masih memerah karena kesal dan malu, namun ia mencoba menenangkan diri. Raras lalu membuka mulut, sengaja mengalihkan pembicaraan, kembali pada ajakannya untuk Jihan.

“Sudahlah!, membayangkannya hanya membuat ku kesal.”

“Jadi bagaimana? Maukah kau ikut bersamaku ke ibukota? Hidup di hutan ini pastilah tidak mudah. Aku akan mengatakan pada Ayahanda bahwa aku telah diselamatkan. Aku yakin, beliau akan menjanjikan tempat tinggal yang layak untukmu,"

Tawaran itu membuat Jihan membayangkan sebuah tempat tinggal yang layak, kehidupan yang tidak perlu ia dapatkan dengan jerih payah setiap hari. Ia sedikit tergoda, namun kepalanya menggeleng pelan saat bayangan wajah ibunya melintas di benak. Hatinya bergolak hebat.

‘Tidak. Aku tidak bisa goyah. Aku bekerja keras untuk menyembuhkan Ibu!’

Wajah sang ibu, yang terbaring lemah dengan cemas, seolah muncul di hadapannya. Jihan akhirnya tersadar, ia harus segera kembali. Ia tidak ingin ibunya menanti lebih lama, karena kekhawatiran itu akan membuat penyakitnya semakin parah. Dengan tekad yang membaja, Jihan pun menolak tawaran Raras dengan lembut.

“Maaf, Nona Raras. Aku tidak bermaksud menolak undanganmu, tapi ada hal yang lebih penting menungguku di rumah. Ibuku sedang sakit, ia pasti sangat cemas menungguku.”

“Tapi, kamu bisa membawa ibumu, Jihan,”

“Aku yakin tabib istana pasti dapat menyembuhkannya!”

Raras membalas dengan nada meyakinkan, mencoba menanamkan keyakinan dalam diri Jihan. Gurat percaya diri tampak jelas di wajahnya, dan itu bukan tanpa alasan. Mereka memiliki kemampuan untuk menyembuhkan apa pun, bahkan racun paling mematikan sekalipun.

Namun sebelum semangat itu sempat menular sepenuhnya, sebuah suara berat memecah keheningan di antara mereka. Kakek Danu, yang sedari tadi hanya mengamati dari kejauhan, akhirnya angkat bicara.

“Nona Raras, kita tidak bisa membawa orang asing ke ibu kota, apalagi menjadikannya tamu istimewa. Dengan kondisi internal kerajaan yang sekarang, hal itu hanya akan menimbulkan kecemburuan dan kecurigaan di antara para bangsawan.”

“Tapi kek, Jihan bukan lagi orang asing! Dia telah menyalmatkanku, apa kakek lupa dengan perngobanannya!”

Raras menolak, suaranya meninggi dengan getar kesedihan. Matanya berkaca-kaca, tak sanggup membayangkan harus berpisah dengan pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya.

Di tengah keputusasaan Raras, sebuah tangan terulur dan menggenggamnya. Telapak tangan itu terasa keras namun kokoh, seolah menjanjikan ketenangan di tengah badai emosi yang menyelimutinya. Raras membalas genggaman itu. Matanya menelusuri wajah Jihan hingga tatapan mereka bertemu, sebelum akhirnya pemuda itu membuka suara.

“Raras, apa yang Kakek Danu katakan adalah benar. Kehadiranku, yang hanya seorang anak desa, di istana hanya akan menimbulkan masalah untukmu.”

“Tapi Jihan…”

Raras berbisik lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh isak yang tertahan. Air mata mengalir tanpa bisa dibendung, membasahi pipinya yang memerah karena emosi. Dalam hatinya, sebuah tekad perlahan tumbuh, jika Jihan benar-benar tak ingin ikut, maka ia rela meninggalkan segalanya. Ia tak akan kembali ke ibu kota, tak peduli gelar atau status putri kerajaan. Ia lebih memilih tinggal di desa ini… bersamanya.

Wajah sedih Raras menyentuh hati Jihan. Gadis yang awalnya ia anggap sebagai bangsawan ceroboh dan manja, kini tampak begitu tulus di matanya. Ia teringat bagaimana tangan mungil Raras mengguncangnya, mencoba menyadarkannya dari ketidaksadaran, dan bagaimana gadis itu berlari menghampirinya dengan wajah cemas saat ia terbangun.

Ketulusan itu begitu nyata, hingga mengingatkannya pada sosok yang paling ia cintai, ibunya. Untuk pertama kalinya, Jihan merasa di dunia ini ada sesuatu yang berharga selain sang ibu. Sesuatu yang baru, namun tak kalah hangat. Oleh sebab itu, ia tidak ingin kehangatan itu memudar hanya karena dirinya.

“Tapi aku janji... jika takdir mempertemukan kita lagi, aku akan datang mengunjungimu ke ibukota!"

Ucapan itu menggantung di udara, menggetarkan ruang di antara mereka. Sejenak, waktu seolah membeku, dan hanya gemuruh air terjun di kejauhan yang terus mengalir, menjadi saksi bisu atas sumpah yang terucap.

Emosi Raras akhirnya meledak, tak lagi bisa dibendung. Tubuhnya gemetar hebat saat ia tiba-tiba memeluk Jihan erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya. Air mata mengalir deras, membasahi pundaknya, menumpahkan semua ketegangan, ketakutan, dan perasaan yang selama ini ia tahan.

Jihan terkejut, matanya membelalak karena tak menyangka pelukan itu datang begitu mendadak. Tubuhnya seketika membeku, tak tahu harus membalas atau menjauh. Tapi sebelum ia sempat menggerakkan tangan, suara lirih Raras menembus keheningan, menyentak kesadarannya.

“Kamu harus janji... sungguh-sungguh.”

Jihan menatapnya dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan.

“Aku janji, Raras. Aku... Jihan, bersumpah.”

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!