NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Batuk di Sela Asap

Embusan angin siang di teras rumah bawah terasa begitu kering, membawa debu-debu jalanan kompleks yang hinggap di permukaan kulit Hino yang mulai terasa menghangat. Pria itu duduk bersandar di kursi rotan dengan kaus dalam yang kusam, kedua matanya menatap kosong ke arah deretan pot kembang milik Irmi di sudut pagar. Tubuhnya sudah benar-benar kehilangan sisa tenaga. Hantaman dari rahim Hina siang tadi, ditambah ancaman Linda semalam dan kerakusan Erni di parkiran pasar, telah membuat sistem imun tubuhnya ambruk total siang ini. Ia meriang, kepalanya pening, dan ia merasa tidak akan sanggup melangkahkan kaki untuk shift kerja di gerai minimarket depan selama beberapa hari ke depan.

"Sialan!" kutuk Hino pelan, suaranya serak dan parau.

Ia menjentikkan puntung rokoknya yang sudah habis ke atas lantai semen, lalu menyalakan kembali sebatang rokok baru dari korek gasnya. Ini sudah batang kelima yang ia habiskan dalam waktu satu jam terakhir, mencoba membakar seluruh kepengapan batinnya dengan gulungan asap tembakau yang menyesakkan dada. Namun, ketenangan semu itu mendadak buyar saat pintu kamar depan terbuka pelan.

Pak Juned melangkah keluar dengan sarung kotak-kotak dan kaos oblong putih. Wajah judes pria tua itu tampak sedikit lebih santai setelah mencicipi kopi buatan istrinya di dalam kamar tadi. Ia berjalan mendekati Hino, mencium aroma pekat asap rokok yang memenuhi udara teras bawah.

"Mas, beliin rokok ke warung depan kompleks buruan," ucap Pak Juned, suaranya yang berat mengejutkan Hino hingga pria itu refleks memperbaiki posisi duduknya.

Hino menelan ludahnya yang terasa pahit, mencoba menguasai rasa lemas di persendian kakinya. "Baik, Pak... rokok apa?"

Pak Juned mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dari saku sarungnya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Hino. "Yang enak saja. Sekalian beli enam bungkus, buat kamu dua bungkus biar tidak melamun terus di teras ini... sana berangkat."

Hino menerima uang tersebut dengan tangan yang terasa dingin. Tepat saat ia hendak melangkah menuju motornya, ponsel pintar di dalam saku celananya bergetar hebat dengan nada dering yang sangat berisik. Layar gawai menampilkan nama Irmi. Hino menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan sisa tenaga yang tersisa.

Belum sempat Hino mengucapkan kata salam, suara teriakan histeris Irmi dari seberang telepon seluler langsung menusuk lubang telinganya, memotong seluruh kesunyian siang di teras tersebut.

"Ngapain izin?! Kerja!!" teriak Irmi dengan nada suara yang meninggi, sarat akan kepanikan finansial yang luar biasa dari dalam taksi daring yang sedang membawanya ke arah kota bersama Linda.

Di dalam kabin taksi yang melaju kencang, Irmi duduk gelisah sambil meremas tas tangannya dengan wajah yang pucat pasi. Ia baru saja membongkar isi dompet kulitnya dan menyadari sebuah kecerobohan fatal yang membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya yang sedang mengandung dua setengah bulan.

"Ah, sial... gara-gara buru-buru menghadapi Bapak tadi, uang gaji tunai toko dari laci ikut keambil dan terbawa di dalam seikat uang tebal yang aku kasih ke Erni di kamar depan!" desis Irmi, batinnya menjerit meratapi kebodohannya sendiri. Ia kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, menumpahkan seluruh kemarahannya pada Hino. "Pasti nanti Erni merasa bisa malak aku lagi karena memegang uang sebanyak itu! Kalau istri sahmu itu sampai ngelunjak, awas saja kau, Hino! Bongkar semua rahasia ini! Suruh dia balikin semua uang itu, sampai ke kotoran-kotorannya kalau perlu!"

Hino hanya bisa terdiam dengan mata yang berkedip kaku, menatap punggung Pak Juned yang sudah kembali masuk ke dalam rumah bawah. "Irmi, dengar dulu... aku sedang sakit..."

"Aku tidak peduli kau sakit atau tidak, Hino! Dan satu hal lagi yang harus kau ingat baik-baik," potong Irmi dengan napas yang memburu menahan mual, memberikan hukuman batin terakhir untuk meremukkan sisa harga diri suaminya. "Jangan berani-berani kau melangkahkan kakimu masuk ke dalam kamarku selama tiga bulan penuh ini! Urus saja istri sahmu yang sedang foya-foya di salon itu!"

Panggilan diputus secara sepihak, meninggalkan bunyi bip panjang yang terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan hidup Hino.

***

Sementara itu, di koridor lantai tiga gedung rumpun ilmu sosial universitas daerah, suasana tampak sangat lengang karena jam perkuliahan siang baru saja usai. Linda berjalan lambat melewati deretan ruang dosen, tangan kanannya tidak pernah lepas mencengkeram bagian perutnya yang mulai terasa melilit oleh rasa mual yang teramat sangat menyiksa fisiknya.

Layar ponsel di tangan kirinya bergetar, menampilkan panggilan suara dari nomor ibunya di kampung halaman. Linda menarik napas dalam-dalam, mencoba menata intonasi suaranya seprofesional mungkin agar kedok kehamilannya tidak tercium sampai ke luar kompleks.

"Iya, Ibu... di kampus belum ada pria yang cocok dengan kriteria Linda," ucap Linda dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, meskipun matanya menatap horor pada lantai selasar keramik di bawah kakinya.

"Iya, iya... nanti kalau urusan jodohnya sudah ada perkembangan pasti Linda kabari lagi ke rumah," lanjut Linda, jemarinya bergetar semakin hebat saat mendengar rentetan kalimat tegas dari seberang telepon yang mulai membahas tentang nama seorang pria anak kolega bisnis ayahnya.

Langkah kaki Linda mendadak berhenti total di depan pintu ruang kerjanya. Wajah cantiknya seketika berubah pucat padam, dan seluruh teori sosiologi yang tersimpan di dalam kepalanya seolah menguap menjadi ketakutan biologis yang sangat nyata setelah mendengar kata penutup dari ibunya di telepon. Linda meremas ponselnya dengan sangat kuat, matanya membelalak lebar menatap koridor sepi saat kalimat terakhir itu merobek seluruh sisa harga dirinya sore ini.

"Perjodohan...?" bisik Linda lirih, suaranya tersedak di tenggorokan, menatap kalender meja dengan tatapan kosong menyadari bahwa rahimnya yang sudah terisi benih pelayan toko di bawah tangga kini harus berhadapan dengan hukum perjodohan keluarga besarnya minggu depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!