NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 01

“Ahh … masukin lebih dalam lagi, Sayang!”

Dari balik pintu apartemen nomor 0129, terdengar desahan dua insan tengah memadu kasih. Kekasih tak halal, menjalin hubungan gelap.

Sementara di luar ruangan, gadis berparas cantik tampak mematung seraya meremas erat daun pintu. Wajahnya pias, jantungnya tak mau berdetak tenang.

‘Benarkah dia memiliki wanita lain di belakangku?’ Benak Alyra kembali pada bayang-bayang pesan anonim yang belum lama ini diterima.

Pesan singkat yang berhasil mengungkap perilaku buruk sang kekasih di belakangnya.

“Ahhh … goyang lagi, Sayang!” Desahan itu semakin terdengar menusuk, mengoyakkan hati Alyra.

Ceklek!

Buru-buru gadis bergaun anggun membuka pintu.

Betapa terkejutnya Alyra, melihat dengan kedua matanya sendiri, sebuah pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan. Kekasihnya tengah beradu keringat penuh gairah bersama wanita lain yang dikenalnya.

“Ervin!”

Seketika, Ervin dan Velisa terhenyak dari tempat begitu mendengar jeritan Alyra yang menggema.

Ervin lekas menyambar kemejanya yang tergeletak di lantai, begitupun dengan Velisa yang terlihat panik, tangannya meraih apa saja yang bisa digapai untuk menutupi tubuhnya.

“A-Alyra?” Ervin gelagapan.

“Biadab kalian!” Alyra kesulitan mengatur napas, giginya bergemeretak menahan murka.

“Al, dengerin dulu—”

“Denger apa lagi?! Desahan kalian berdua masih terngiang di kepalaku, Vin!”

“Alyra, aku bisa jelasin ….” Ervin berusaha membujuk kekasihnya. Rautnya kelabakan, kakinya tersandung-sandung, bersusah payah ia mengenakan kembali celana boxernya. “Alyra, jangan salah paham. Kita bicarakan ini baik-baik, ya. Hm?”

“Bicarakan baik-baik?” Alyra tersenyum hambar. “Setelah apa yang sudah aku saksikan hari ini … kamu masih meminta aku untuk bicara baik-baik?!”

“Alyra … aku nggak ngapa-ngapain sama dia,” kilah lelaki hidung belang itu.

“Nggak ngapa-ngapain?!” sergah gadis berwajah sendu. Manik legamnya menyapu ruangan, bibirnya mengatup rapat saat mendapati sosok wanita bertelanjang dada, bergerak panik di atas sofa, menunduk tanpa suara. “Terus kenapa kalian nggak pakai baju?! Pangku-pangkuan di atas sofa. Kalian berdua mendesah keenakan, dan kamu bilang nggak ngapa-ngapain?!”

Tanpa bisa ditahan, bulir bening yang enggan ia tunjukan pun berguguran, bersamaan dengan amarah yang menggebu-gebu.

“Kenapa, Ervin?” Alyra menegakkan wajah, memandang Ervin dengan tatapan tak percaya. “Kenapa kamu tega—” Napasnya tersengal, tangisnya tak tertahan.

Ervin menghela napas panjang, menatap malas ke arah kekasih yang sudah sering ia khianati. Menurutnya, reaksi Alyra sangatlah berlebihan, terlalu mendramatisir masalah yang dianggapnya kecil.

“Al, kamu bisa tenang dikit, nggak? Kamu tuh ya, selalu kayak gini, berlebihan untuk sesuatu yang nggak perlu dibesar-besarkan. Dramatis!”

Kata-kata tak berperasaan itu membuat Alyra terhenyak sekian detik. “Apa kamu bilang?” Ia menarik napas dalam. “Dramatis?”

“Kenapa? Aku salah lagi? Salah terus aku di mata kamu, Al!” Ia pungut pakaian berserakan di lantai, lalu melemparkan ke arah Velisa. “Iya, aku emang salah karena bermain gila. Tapi semua itu gara-gara kamu, kenapa aku bisa jadi sebrengsek ini? Kenapa kamu nggak mikir jauh dan introspeksi diri, sih. Hah?!”

“Apa maksud kamu?”

“Aku jadi begini juga gara-gara kamu, Al. Kamu itu kolot. Nggak mau ngertiin aku, nggak mau nurutin kemauanku!” bentak Ervin. “Berkali-kali aku udah ngajak kamu buat bermalam, penuhi hasratku, tapi kamu selalu menolak. Selalu bawa-bawa kata halal, nggak mau disentuh sebelum menikah. Aku ini pria normal, Al. Mana bisa aku tahan selama lima tahun sama kamu nggak ngapa-ngapain!” Ia mulai mengeluarkan jurus andalan, menekan sang kekasih, bahwa setiap khilaf yang dilakukannya terselip kesalahan Alyra, sebab gadis itu tak mau memenuhi nafsunya.

Alyra terdiam. Ia meremas ujung baju, menatap Ervin dengan netra sendu. Rasanya sungguh menyakitkan mendengar kalimat tajam itu dari mulut kekasihnya langsung.

Namun di satu sisi, ucapan Ervin membuat pikiran Alyra terbuka dan sadar. Beginilah sifat asli kekasihnya. Sejak dulu, tak pernah berubah. Selalu merasa benar, tak mau kalah, terus melimpahkan salah kepada dirinya.

Alyra tersenyum getir, namun sorot matanya berubah tegas. “Kamu benar, Vin,” ucapnya pelan seraya mengangkat wajah. “Aku memang kolot. Tapi aku bersyukur, sikap kolotku ini bisa menyelamatkan diriku dari tipu daya lelaki brengsek kayak kamu. Apa jadinya kalau aku menuruti kemauanmu, memberikan keperawanan pada pria yang belum pasti mau menikahiku. Lima tahun kita menjalin kasih, tapi sejauh ini … kamu selalu menghindar dari tuntutan pernikahan, tidak memberi kepastian!”

“Dan kamu ….” Ia memberi jeda, menodong telunjuk tepat di depan wajah kekasihnya. “Kamu terus menekanku, menyalahkanku karena tak memenuhi hasratmu. Kamu pikir aku pelacurr?!”

Ervin menelan ludah, tak menduga Alyra berani membantah ucapannya, mengacungkan telunjuk, menatapnya sengit. “Alyra—”

“Kita akhiri saja semuanya di sini. Kamu benar-benar bikin aku jijik, Vin.” Ujung bibirnya menyungging sinis, Alyra pun berbalik memilih pergi.

“Dasar anak gundik nggak tau terima kasih!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut pria tak berperasaan itu.

‘Anak gundik?’ Alyra menghentikan langkah.

“Seharusnya kamu bersyukur masih ada yang mau sama gadis rendahan kayak kamu. Kamu akan nyesel setelah lepasin aku!” pungkas Ervino.

Ya, beginilah Ervino Pradana. Bersikap congkak, suka merendahkan, fakta bahwa Alyra adalah anak dari istri kedua pimpinan Dewangga Group, semakin membuat Ervin memiliki bahan empuk untuk mencela.

Anak gundik, anak haram, gadis rendahan, si bodoh tak tahu diri bahkan sebutan pelacurr pun pernah ia dengar. Kalimat keji itu seakan menjadi jamuan pahit selama perjalanan hubungannya bersama Ervin.

Namun, dahulu Alyra begitu mencintainya sampai-sampai mengesampingkan rasa sakit demi mempertahankan Ervin di sisinya.

“Brengsek!” Alyra meradang. Kali ini dirinya tak mau lagi hanya diam, tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia berbalik, maju satu langkah mendekati Ervin.

PLAK!

PLAK!

PLAK!

“Dasar Badjingan!” Alyra murka.

Teriakan itu diiringi oleh tamparan, jambakan dan amukan yang ia lampiaskan kepada kekasihnya tanpa ampun. Tak ketinggalan, ia juga menendang biji Ervin yang besarnya tak seberapa itu.

BUGH!

“AAKHHHH!!”

“Dasar manusia tak beradabbb! Kau itu memang macam BABIIIII!” Alyra meledak-ledak malam itu.

.

.

.

Pagi itu, langkah Alyra nyaris tak beraturan. Rambutnya terikat seadanya, beberapa helai jatuh menutupi wajah yang tampak lelah. Di tangannya, map berisi berkas revisi naskah terjepit asal — lembarannya tak tersusun rapi. Ia tergesa menyusuri lorong gedung rumah produksi yang menangani karyanya.

“Telat … aku pasti telat …,” gumamnya, napasnya terburu-buru.

Novel yang ditulisnya menjadi best seller, dengan penjualan yang membludak, viral di media sosial, sehingga seorang produser pun akhirnya melirik karyanya. Dan ia pun direkrut sebagai penulis kontrak di salah satu perusahaan hiburan.

Pertengkaran dengan Ervin semalam berdampak buruk, Alyra benar-benar berantakan. Pikirannya kacau, sehingga ia melupakan hal penting dari rapat sebelumnya. Produser sempat mengingatkan — ada beberapa bagian yang harus direvisi. Alyra pun gelagapan. Tak ada pilihan lain, ia terjaga hingga pagi, memaksa diri menyelesaikan naskah sesuai permintaan atasannya.

“Gara-gara si monyet sialan itu, semuanya jadi kacau!” gerutunya sambil berlari kecil menuju ruang rapat.

Nasib sial masih menghampirinya. Di tengah waktu yang mendesak, ia menabrak seseorang dengan keras.

Brak!

Semua lembaran berkas yang di bawanya berhamburan di udara, jatuh berserakan di lantai.

Alyra terperangah, emosinya memuncak. “Astaga, Mas. Kalau jalan pakai mata dong!”

*

*

Bersambung.

Hai, Pembaca. Terima kasih sudah berkenan mampir di karya perdana saya, semoga suka dan betah, ya, ikuti terus cerita sederhana dan perjalanan hidup Alyra.

Mohon dukungannya, klik suka, subscribe dan tinggalkan komentar.

Salam hangat. Lylia Yuu. 🌻✨️

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!