Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha seorang ibu : 19
‘Dimana pintu persegi bertali tambang itu?’ Kanti benar-benar mengamati setiap jengkal lantai tanah sampai sudut.
‘Seingetku, disini.’ Sebelah kakinya menginjak bagian yang dalam ingatan adalah sebuah pintu. ‘Kenapa keras sekali, tak ada celah sedikitpun. Konturnya sama rata dengan tanah sisi lainnya.’
Derap langkah kaki terbilang cepat, membuat Kanti sedikit panik. Tak mungkin dia berlari ke kamar mandi yang berseberangan, akan ketahuan dari lorong.
Kanti menarik tali handle pintu kayu, buru-buru keluar, dan ….
Hueg!
Hueg!
Dia muntah-muntah setelah memasukkan jari telunjuk ke tenggorokan, memancing asam lambung naik. Perutnya sampai nyeri, dan mata memerah serta basah.
“Kanti, kamu masuk angin, ya?” Bu Sasmi mendekati, membantu memijat tengkuk gadis yang membungkuk. “Lain kali kalau waktunya makan, ya diusahakan menelan meskipun gak lapar.”
“Iya, Bu,” katanya pelan, menghayati peran. Lidahnya terasa pahit dan masam.
“Candra Kanti.” Aya juga menyusul, memperlihatkan rasa simpatinya.
“Dia masuk angin, cepat bawa masuk lagi ke dalam rumah biar bisa diobati mbah Munah.” Bu Sasmi mundur, memberikan tempatnya pada Ahwaya.
Sebelum masuk, Kanti sempat memperhatikan halaman belakang rumah mbah Munah yang ternyata lapangan luas tanpa tanaman selain rumput pendek sama seperti bagian depan.
‘Katanya dia seorang dukun, masa gak ada satupun jenis tanaman obat? Kan gak mungkin menyembuhkan orang cukup dengan mantra, terus apa yang kapan hari diberikan ke Mayang?’ ingatannya mundur ke belakang, pada tabung bambu berisi obat untuk temannya.
“Ayo!” Aya merangkul tangan gadis lemas, tangan sebelahnya berada di pinggang Kanti.
Cukup memakan waktu kala Aya memapah Kanti sampai pada ruang depan.
Aji bergegas berdiri, menyambut gadis pucat, bibir kering, membantu Aya mendudukkan Candra Kanti ditempat semula.
“Sebaiknya para pemuda keluar, biar saya periksa teman kalian ini. Sepertinya bukan sakit biasa, ada aura gaib berusaha menempeli,” senyumnya bukan jenis ramah tamah, tapi memiliki makna lain.
Bak makan buah simalakama, Kanti terjebak pada permainannya sendiri. Niat hati menciptakan kondisi tubuh lemah agar terhindar dari tatapan curiga bu Sasmi, malah sekarang menghadapi mbah Munah yang sedari awal dia masuk, sudah memandang lain.
“Tidak perlu, Mbah. Saya cuma masuk angin,” tolaknya sopan, ia mundur sampai punggung menyentuh dinding tepas.
“Masuk angin itu jenis penyakit perlu diwaspadai, Nak. Takutnya kasep jadi angin duduk yang kalau kambuh, tidak mendapatkan penanganan tepat, bisa membahayakan nyawa,” jelasnya masuk akal.
“Lilis, siapkan ruangan pijat!” teriak parau mba Munah.
“Aku temani, Kanti. Kamu harus sehat, kita semua wajib menjaga badan supaya gak terserang penyakit,” niatnya baik, tulus.
Lilis masuk kedalam rumah, tanpa menyapa dan bertanya langsung berjalan ke bagian lorong tengah, mendorong sebuah pintu.
'Aku harus apa? Gimana caranya kabur disaat jalan aja sempoyongan. Bodohnya kamu Kanti!’ hardiknya pada diri sendiri.
Kali ini Aji memilih setuju Kanti dipijat, dia tidak tega melihat gadis yang diam-diam disukainya itu jatuh sakit.
Ya, perasaan Aji bukan sekadar teman ke Kanti, tapi lebih dari itu, dan si gadis menyadarinya, pun telah menolak ajakan menjalin kasih sebanyak dua kali.
Namun, Aji belum menyerah. Berusaha dekat sebagai sahabat sekaligus pelindung gadis pujaan hatinya.
Ahwaya membantu Kanti berdiri, memapahnya berjalan tertatih-tatih.
Lilis menggandeng mbah Munah, mereka jalan beriringan masuk ke kamar berukuran cukup luas.
Sementara para pemuda sudah keluar, dan memilih duduk di teras sembari memandang hamparan luas rumput hijau diluar pagar.
Satu persatu pakaian Kanti dilucuti, sampai tinggal dalaman, lalu memakai sehelai kain jarik membungkus tubuhnya.
Terpaksa dia berbaring di atas tilam bersprei hitam garis putih. ‘Nyai, kalau engkau masih bersemayam ditubuhku! Bersembunyi lah ditempat tak bisa dijamah indera manusia.’
Harap-harap cemas dia meminta sang penjaga agar melindungi mereka berdua. Kanti belum bisa menebak sifat, karakter mbah Munah.
Dikamar tersebut, hanya ada Kanti, mbah Munah, Ahwaya, dan bu Sasmi. Baru disusul Lilis yang membawa nampan berisi beberapa botol, dan mangkuk terbuat dari tempurung kelapa.
“Balikan badanmu, saya akan memijat bagian depan terlebih dahulu.” Mbah Munah duduk bersimpuh di samping gadis yang menggeliat.
'Tahan. Kosongkan pikiranmu Kanti! Buang jauh-jauh semua kenangan yang tersimpan!’ ia mensugesti diri, berusaha mengusir setiap momen pernah dilalui dalam hidupnya.
Mbah Munah menuang minyak wangi daun serai, dan ada campuran aroma lain, lebih tajam sampai membuat badan Kanti menegang.
‘Aroma ini kenapa seperti tak asing?’ ia berusaha menggali ingatan yang baru saja dilarang keras hadir.
Dikarenakan sangat berkonsentrasi mencoba mengingat tentang aroma familiar, Kanti tidak menyadari jika sang dukun mengelus keningnya seraya bibirnya bergerak samar.
***
Di saat yang sama, namun hari jauh tertinggal dari tempat tinggal Kanti saat ini – sepasang suami istri dengan ditemani gadis dewasa, berdiri di tanah lapang berumput kering pada musim kemarau.
Pak Pramudya, ibu Laila Ngatemi, dan Resendriya – cucu dari nyi Dasah penjaga hutan terlarang. Bersiap memasuki wilayah paling angker, sangat jarang dimasuki manusia selain keluarga juru kunci.
Kedatangan mereka disambut suara hewan Gareng yang hinggap pada pohon beringin berumur mencapai seratus tahun.
Barisan pohon raksasa itu layaknya gerbang, bagian tengahnya lenggang. Bila dari luar, maka hanya terlihat rimbunnya pepohonan tanpa celah bagi mata manusia awam tanpa memiliki ilmu kebatinan.
Resendriya memejamkan mata, membaca mantra, lalu sesudahnya mulutnya mengerucut meniup udara.
Nyanyian Gareng bertambah bersisik merasakan kedatangan salah satu murid ni Dasah.
Sosok wanita mengenakan jubah putih, wajah pucat pasi, berdiri ditengah-tengah gerbang masuk – Kunti membuka portal dimensi tak kasat mata.
Kabut tipis perlahan sirna, terlihatlah jalan cukup untuk dilewati dua orang.
“Ayo bibi, paman,” suaranya tenang, sama seperti pembawaan dirinya.
Sepasang suami istri mengangguk, ini bukan pertama kali mereka memasuki hutan terlarang. Dulu, sewaktu hamil si kembar, ibu Laila Ngatemi pernah berkunjung kemari, lalu beberapa tahun lalu juga.
Gadis cantik berpenampilan sangat sederhana di era zaman sudah sangat modern ini, berjalan paling belakang bersebelahan dengan sang bibi dari dunia lain – Kunti.
Jalan itu berliku, melewati hutan belantara tapi bersih, meskipun banyak lumut dan tumbuhan benalu menumpang hidup pada pepohonan.
Pun, tidak ada sinar matahari yang menembus masuk, membuat suasana sedikit suram, lembab, berkabut tipis, kendatipun jarak pandang tidak terhalang.
Setelah dua puluh menit jalan kaki, orang tua Kanti tiba di sebuah gubuk beratap daun rumbia yang dikelilingi kolam berair tenang dan berlumut.
“Mari masuk, Nak.” Sosok yang masih tetap sama seperti berumur pertengahan lima puluh tahunan, menyambut ramah. Wajahnya awet muda karena dia bukan lagi sepenuhnya manusia biasa.
Ni Dasah, dukun sakti hutan terlarang, bertugas melindungi wilayah tersebut dan menundukkan para makhluk halus yang membelot dari sang tuan, membuat keributan, melanggar batas antara dunia manusia dan gaib.
Laila Ngatemi melangkah cepat, memeluk ni Dasah yang sudah dekat dengannya. “Tolong putriku, Ni.”
Tangis seorang ibu pecah. Sebelumnya dia tidak berniat ikut dikarenakan tugas sebagai seorang bidan, tapi setelah sebuah mimpi mengerikan, tak ada alasan untuk tinggal.
“Ayo ke ke samping. Ritualnya sudah siap.” Ni Dasah merangkul wanita yang masih terisak-isak.
Pak camat mengikuti dengan langkah tenang meskipun batinnya amat sangat berisik.
Pada halaman bagian samping – diatas batu pipih terdapat sesaji, tungku perapian, dan taburan bunga segar, secawan darah dari ayam cemani.
Bu Laila duduk bersila di atas batu dengan hanya mengenakan kain jarik, ia akan menjadi media perantara terhubung dengan putrinya – Candra Kanti.
Ni Dasah mulai membaca mantra aksara Nusantara, dirinya tidak sendirian. Ada Kunti dan Resendriya yang membantunya di belakang.
.
.
“Kita terlambat ….”
Bersambung.
emang bener² laki durjana, dah lah sono di makan anjjing aja🤭
tinggal di dalam kandang pemangsa membuat was was setiap detiknya