Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Busa Pemadam Darurat
"Habisi tikus itu! Tembak langit-langitnya sekarang juga!" raung Gideon dengan suara serak yang memekakkan telinga. Tangannya mengayun liar ke bawah, memberikan komando eksekusi mati kepada pasukannya.
Jari-jari keenam pengawal berjas hitam itu menegang, bersiap menarik pelatuk senapan laras panjang mereka untuk menghancurkan penutup ventilasi udara di atas kepala.
"Batal!" teriak Riana jauh lebih keras dan melengking. Suaranya memotong udara ruang arsip dengan sangat tajam, merusak konsentrasi para penembak di detik paling krusial.
Bersamaan dengan teriakannya, Riana mengayunkan tangannya dan dengan sengaja menyenggol cangkir keramik berisi sisa kopi hitam dingin yang tergeletak di ujung meja kerjanya. Cangkir itu terlempar ke udara, lalu meluncur jatuh menghantam tepat ke arah deretan stop-kontak terminal server utama yang sampul plastiknya baru saja dibongkar oleh Jace.
PRANG! BZZT!
Cairan kopi pekat itu langsung tumpah menyiram sirkuit kabel listrik berarus besar yang terbuka. Korsleting luar biasa hebat terjadi seketika. Percikan api biru menyambar-nyambar liar di lantai keramik ruang arsip, langsung disusul oleh kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi menyengat hidung. Sesuai sistem keamanan gedung bertingkat modern, pemutus sirkuit otomatis atau sekring pusat di panel lantai lima belas langsung putus berbunyi klik keras untuk menahan rambatan arus, membuat seluruh lampu neon putih di ruangan itu mati total dalam kegelapan.
Keenam pengawal berjas hitam itu refleks melompat mundur di tengah kegelapan yang mendadak. Mereka buru-buru menurunkan laras senapan karena terkejut melihat letupan api listrik menyambar begitu dekat dengan kaki mereka. Anjing Doberman raksasa peliharaan Gideon langsung menyalak kaget dan melangkah mundur, menjauhi sumber panas tersebut.
"Sialan! Padamkan apinya! Jangan sampai merambat ke tumpukan kertas!" teriak Gideon panik bukan main, perut buncitnya berguncang saat dia melompat menjauhi meja. Pria itu sangat tahu aturan mutlak bos besarnya. Kalau api itu sampai membakar dokumen rahasia penting perusahaan, Bramantyo pasti akan menggantungnya hidup-hidup malam ini juga.
Riana sama sekali tidak membuang waktu emas sedetik pun.
Meskipun aliran listrik utama lantai itu mati total akibat sekring yang putus, tablet kerja di tangan Riana tetap menyala terang karena menggunakan daya baterai mandiri yang terhubung ke jaringan internet nirkabel darurat khusus eksekutif. Jari telunjuk Riana menari luar biasa cepat di atas layar sentuh. Perempuan itu memasukkan sandi akses tingkat dewa milik Direktur Kepatuhan, lalu meretas masuk ke dalam sistem kendali keamanan darurat internal gedung Aegis Corp yang disokong oleh generator cadangan terpisah. Riana mencari panel kendali ruang arsip.
Satu ketukan terakhir mendarat telak di tombol merah berlogo api.
"Protokol pemadaman level maksimum. Eksekusi," bisik Riana sedingin es.
TET! TET! TET!
Suara sirine karantina berwarna kuning mendadak mati. Detik berikutnya, sirine itu berubah menjadi lengkingan alarm merah kebakaran darurat yang jauh lebih bising dan menyakitkan telinga. Pasokan daya cadangan gedung langsung menghidupkan lampu darurat berwarna kuning yang berputar-putar liar menyorot ruangan.
Dari setiap sudut langit-langit ruang arsip, serta seluruh area lorong lantai lima belas, puluhan katup pipa penyemprot pemadam otomatis langsung terbuka lebar secara serentak.
Bukan percikan air biasa yang keluar dari pipa tersebut, melainkan cairan busa kimiawi anti-api berwarna putih pekat. Busa bertekanan luar biasa tinggi itu menyembur menderas layaknya badai salju buatan, menghujam seluruh sudut ruangan tanpa ampun sedikit pun.
Dalam hitungan kurang dari tiga detik, ruang arsip yang sempit itu langsung tenggelam di bawah lautan busa putih yang sangat tebal, dingin, dan berbau kimia menyengat. Jarak pandang hancur total, turun drastis menjadi nol sentimeter. Tidak ada yang bisa melihat apa pun selain tembok putih pekat di depan wajah mereka.
"Uhuk! Uhuk! Busa sialan apa ini?! Mata gue perih!" raung Gideon terbatuk-batuk parah, mengucek matanya yang kemasukan bahan kimia pemadam. Pria gempal itu meronta-ronta kehilangan keseimbangan.
"Tuan Gideon! Kami tidak bisa melihat posisi target! Anjingnya panik, Tuan!" teriak komandan pengawal dari balik gumpalan busa tebal, suaranya terdengar teredam dan putus asa.
Anjing Doberman yang tadinya sangat buas dan agresif kini berubah total menjadi hewan ketakutan. Indera penciumannya yang sangat tajam langsung rusak seratus persen tertutup aroma kimiawi busa yang menusuk saraf. Anjing itu bersin-bersin hebat, melolong panjang ketakutan, lalu berlari menabrak-nabrak rak besi secara membabi buta.
"Pegang senapan kalian erat-erat! Jangan ada yang berani menembak sembarangan atau kalian bakal saling bunuh satu sama lain!" teriak Gideon semakin histeris di tengah kekacauan. Pria itu merangkak menyusuri lantai, meraba-raba dinding mencari jalan keluar dari neraka busa tersebut.
Di saat musuhnya menjadi buta dan tersedak busa kimia, Riana justru bergerak dengan keakuratan layaknya mesin pembunuh. Mantan algojo itu sudah hafal di luar kepala setiap inci tata letak ruang arsip ini. Dengan mata sedikit menyipit menahan perih, Riana melompat ke atas meja kerjanya. Dia mengayunkan kepalan tangan, meninju keras penutup ventilasi udara di atas kepalanya.
"Turun sekarang, Jace!" bisik Riana tegas menembus suara alarm, tangannya menarik kerah seragam biru pria itu.
Jace meluncur turun dari langit-langit dengan gerakan yang luar biasa senyap. Pria tinggi itu mendarat mulus di atas meja tepat di sebelah Riana. Tubuh Jace langsung disambut oleh gumpalan busa putih tebal yang terus menyembur tiada henti dari atas.
"Taktik gila! Lo benar-benar mau menenggelamkan kita semua pakai cairan cuci piring raksasa?!" bisik Jace mengusap wajah tampannya yang kini tertutup gumpalan busa pemadam.
"Jangan banyak protes kalau lo masih mau keluar dari gedung ini bernapas," potong Riana cepat, meraih tangan pria itu.
Perempuan itu melompat turun dari meja. Dia menarik tangan Jace melewati celah sempit di antara rak besi menuju sebuah lemari kaca berwarna merah terang di sudut terdalam ruangan. Lemari itu bertuliskan PERLENGKAPAN DARURAT KEBAKARAN.
Riana menghantamkan sikunya ke permukaan kaca lemari itu hingga pecah berkeping-keping. Dia mengabaikan rasa perih di tangannya, menarik keluar sebuah tas ransel berat berisi perlengkapan teknisi evakuasi anti-api.
"Buka seragam pelayan lo! Pakai setelan ini secepatnya!" perintah Riana seraya melemparkan baju tebal anti-api berwarna perak mengkilap itu tepat ke dada Jace.
Jace tidak membantah. Dengan sangat lincah, pewaris Diwantara Group itu melucuti seragam petugas kebersihannya, menyisakan kaus dalam hitam basah yang mencetak otot dadanya. Dia buru-buru memakai setelan pemadam kebakaran tebal tersebut. Setelan perak itu benar-benar menutupi seluruh postur tubuh aslinya, membuatnya terlihat jauh lebih gempal dan kaku.
Riana kemudian menyodorkan sebuah helm keselamatan berukuran besar, lengkap dengan kaca pelindung wajah yang tertutup rapat dan berwarna gelap gulita. Jace langsung memasang helm itu ke kepalanya, mengunci sabuk pengamannya. Kaca gelap itu menyembunyikan wajah tampannya. Kini dia sama sekali tidak terlihat seperti bos mafia, melainkan murni seorang staf teknisi evakuasi darurat Aegis Corp.
"Lalu bagaimana dengan lo? Penyamaran lo cuma kemeja putih basah kuyup begini," tanya Jace. Suaranya terdengar menggema berat dari balik helm tertutup itu.
"Gue adalah Direktur Kepatuhan gedung ini. Gue harus memimpin jalur evakuasi ini biar mereka tidak menaruh curiga sedikit pun," jawab Riana lincah dan penuh perhitungan.
Perempuan itu sengaja mengacak-acak rambut panjangnya hingga berantakan. Dia mengoleskan sedikit busa kotor dari lantai ke lensa kacamata tebalnya dan pipinya agar terlihat persis seperti staf kantoran yang menjadi korban kekacauan.
Di luar ruang arsip, suara sirine terus menjerit tiada henti. Sistem pengeras suara otomatis gedung menyala terang berkat pasokan daya cadangan yang stabil.
"Perhatian. Terdeteksi bahaya korsleting dan percikan api di lantai lima belas. Sistem karantina pintu baja akan dibuka paksa demi keselamatan. Harap seluruh staf segera mengevakuasi diri ke arah lobi utama menggunakan tangga darurat sekarang juga. Ulangi, segera menuju lobi utama."
Suara lempengan pintu baja hidrolik yang bergeser terbuka terdengar menderu keras dari arah lorong utama karena sistem pengunci otomatis mendeteksi ancaman kebakaran. Ratusan staf HRD yang sejak tadi panik dan menangis ketakutan langsung berlarian keluar berdesak-desakan. Mereka menerobos lorong yang dipenuhi busa tebal untuk berlomba-lomba menyelamatkan nyawa mereka menuju lobi.
"Bos! Pintu utama lantai lima belas terbuka! Semua staf kantoran lari-lari berhamburan ke bawah!" lapor pengawal Gideon yang masih tersesat meraba-raba dinding di dalam ruang arsip.
"Kejar mereka, pasukan bodoh! Anjing Diwantara itu pasti ikut kabur berbaur sama kerumunan staf!" raung Gideon membabi buta, mencoba berdiri meski kakinya terpeleset cairan busa licin.
Riana menoleh menatap bahu Jace yang sudah berlapis baju anti-api tebal.
"Waktunya kita ikut arus air," bisik Riana tenang.
Mereka berdua berjalan cepat menerobos keluar dari ruang arsip, membelah lautan busa tebal yang perlahan mulai menyurut. Riana dan Jace langsung menyusup mulus ke tengah-tengah kerumunan ratusan staf HRD yang sedang lari-lari histeris menuruni tangga darurat. Suasana di tangga sangat luar biasa kacau. Pegawai saling dorong, menangis, dan berteriak ketakutan mencari jalan selamat.
Jace menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan postur tegapnya sambil terus berjalan merunduk di belakang punggung Riana. Dia membiarkan tubuhnya terombang-ambing di tengah lautan manusia yang sedang berebut nyawa menuruni anak tangga, bergerak selangkah demi selangkah menuju zona eksekusi terakhir di lantai lobi.
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪