NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Clara berdiri canggung di dapur kecil rumah Bu Suci sambil memegang piring berisi telur dadar yang baru selesai dimasaknya. Aroma bawang goreng masih memenuhi ruangan. Di atas meja sudah ada nasi hangat, sambal, sayur bening, dan beberapa lauk sederhana yang disiapkan Bu Suci sejak pagi. Desti terlihat sibuk mengambil gelas, sedangkan Doni menuangkan teh hangat ke dalam cangkir satu per satu.

Rumah itu tidak mewah, tetapi terasa hangat. Sangat berbeda dengan rumah besar Clara yang selama ini selalu dipenuhi suara pelayan dan pendingin ruangan. Di rumah Bu Suci, semuanya terasa hidup. Ada suara kipas angin tua yang berputar pelan, suara sendok beradu dengan piring, dan percakapan kecil yang terdengar akrab.

“Sudah selesai semua. Ayo makan sebelum telurnya dingin,” kata Bu Suci sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk bersama di meja makan kayu yang ukurannya tidak terlalu besar. Clara duduk di samping Desti, sedangkan Doni berada di seberangnya. Clara sempat merasa canggung karena ini pertama kalinya ia makan bersama keluarga orang lain dengan suasana sesederhana itu.

Namun anehnya, ia merasa nyaman.

Desti langsung mengambil telur dadar buatan Clara lalu mencicipinya.

“Mmm… ternyata enak juga,” katanya sambil mengangguk puas.

Clara tersenyum kecil. “Aku takut terlalu asin.”

“Masih aman,” jawab Doni singkat sambil ikut mencoba.

Clara memperhatikan ekspresi pria itu dengan penasaran. “Jadi?”

“Lumayan.”

“Lumayan itu artinya tidak enak atau enak?”

Doni menatap Clara datar. “Kalau tidak enak, saya sudah berhenti makan dari tadi.”

Desti langsung tertawa. “Kak Doni memang begitu. Memuji orang seperti sedang dipaksa bayar utang.”

Bu Suci ikut tersenyum kecil melihat mereka.

Suasana makan kembali tenang beberapa saat. Clara mulai merasa lebih santai. Ia memperhatikan rumah itu sekali lagi. Tidak ada foto pria dewasa selain Doni di ruang tengah. Dari tadi ia juga tidak melihat sosok ayah Desti dan Doni.

Rasa penasarannya akhirnya muncul.

“Bu…” Clara membuka suara pelan. “Dari tadi saya tidak melihat ayahnya Desti dan Doni.”

Suasana meja makan tiba-tiba sedikit hening.

Desti menoleh pada ibunya, sedangkan Doni tetap makan seperti biasa.

Bu Suci tersenyum tipis walaupun matanya terlihat sedikit sendu.

“Bapak mereka sudah meninggal sejak Doni masih SD.”

Clara langsung merasa tidak enak. “Maaf, Bu. Saya tidak tahu.”

“Tidak apa-apa,” jawab Bu Suci lembut. “Sudah lama juga.”

Clara perlahan menunduk. Ia tidak menyangka keluarga yang terlihat hangat ini ternyata pernah mengalami masa sulit seperti itu.

Bu Suci kemudian melanjutkan sambil menuangkan sayur ke mangkuk Clara.

“Dulu setelah suami saya meninggal, keadaan memang sulit. Saya jualan makanan keliling kampung supaya anak-anak tetap bisa sekolah.”

Clara menatap Bu Suci dengan kaget.

“Keliling kampung?”

Bu Suci mengangguk kecil. “Iya. Kadang jual nasi pecel, kadang gorengan. Apa saja yang bisa dijual.”

Clara diam sesaat.

Selama hidupnya, ia tidak pernah membayangkan seorang ibu harus berjalan keliling kampung membawa dagangan demi menghidupi anak-anaknya. Bahkan Clara sendiri dulu sering mengeluh jika mobilnya terlambat datang lima menit.

Desti tersenyum kecil melihat ekspresi Clara.

“Kak Doni juga bantu Ibu sejak kecil.”

Doni langsung menghela napas pelan. “Desti, tidak usah dibahas.”

“Kenapa? Memang kenyataannya begitu.”

Desti kemudian menoleh pada Clara.

“Waktu SMA, Kak Doni kerja sambilan setiap pulang sekolah.”

Clara tampak makin terkejut. “Kerja apa?”

“Macam-macam,” jawab Desti. “Pernah jadi pelayan toko, pernah bantu angkut barang di gudang, pernah juga jadi penjaga warnet malam.”

Clara langsung menatap Doni.

Sulit baginya membayangkan pria yang sekarang menjadi direktur pemasaran itu dulu harus bekerja sambil sekolah.

“Sampai malam?” tanya Clara pelan.

Doni hanya mengangguk singkat. “Biasa saja.”

“Bagaimana bisa biasa saja?” Clara terlihat benar-benar heran.

“Karena kalau tidak kerja, tidak ada uang.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi membuat Clara mendadak diam.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Desti kembali berbicara sambil tersenyum bangga.

“Sekarang Kak Doni jadi tulang punggung keluarga. Kuliahku juga dibiayai Kak Doni.”

“Desti,” tegur Doni pelan.

“Memang benar, kan?”

Bu Suci tersenyum hangat melihat anak-anaknya.

“Sekarang Ibu sudah tidak perlu jualan lagi. Doni melarang Ibu capek-capek.”

Clara memandang Doni beberapa detik lebih lama.

Pria itu memang sering terlihat dingin dan menyebalkan di kantor, tetapi Clara mulai menyadari ada sisi lain dari dirinya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Berarti sejak muda hidup kamu berat juga,” ucap Clara pelan.

Doni tersenyum tipis.

“Masih banyak orang yang hidupnya lebih berat.”

Jawaban itu membuat Clara kembali terdiam.

Ia mendadak merasa malu mengingat bagaimana dulu dirinya sering marah hanya karena tas yang diinginkan tidak segera dibelikan ayahnya.

Sementara di hadapannya ada seseorang yang sejak kecil sudah memikirkan cara mencari uang.

Bu Suci tiba-tiba menghela napas pelan.

“Yang Ibu khawatirkan sekarang justru Doni terlalu sibuk kerja.”

Doni langsung mengangkat wajah. “Ibu mulai lagi.”

“Memang benar.” Bu Suci tersenyum kecil. “Setiap hari kerja terus. Tidak pernah memikirkan diri sendiri.”

Desti langsung ikut menimpali.

“Apalagi soal pasangan.”

“Iya itu,” kata Bu Suci cepat. “Usianya sudah tiga puluh tahun, tetapi tidak pernah membawa perempuan ke rumah.”

Clara langsung menoleh pada Doni dengan ekspresi kaget.

“Tiga puluh?”

Doni mengangguk santai. “Kenapa memangnya?”

“Tidak kelihatan.”

“Syukurlah.”

“Tapi serius?” Clara masih terlihat heran. “Belum pernah bawa perempuan sama sekali?”

“Belum.”

Desti langsung tertawa kecil.

“Ibu sampai khawatir Kak Doni jangan-jangan menikah dengan pekerjaannya.”

“Kalau pekerjaan bisa masak dan tidak banyak bicara mungkin saya pertimbangkan,” jawab Doni datar.

“Kasihan sekali calon istrimu nanti,” balas Desti cepat.

Bu Suci menggeleng sambil tersenyum.

“Padahal banyak perempuan yang suka sama dia.”

Clara spontan mengangguk.

“Itu benar.”

Doni menatap Clara. “Kamu tahu dari mana?”

“Karena di kantor memang banyak.”

Desti langsung mendekat penasaran. “Serius?”

“Serius,” jawab Clara. “Banyak pegawai perempuan membicarakan Kak Doni.”

Doni malah terlihat tidak tertarik.

“Mereka cuma tertarik karena posisi saya direktur pemasaran.”

Clara mengangkat alis.

“Percaya diri sekali.”

“Itu kenyataan.”

Desti tertawa kecil, sedangkan Bu Suci hanya menggeleng pasrah melihat putranya.

Clara kemudian tersenyum tipis.

“Memangnya tipe wanita yang kamu suka seperti apa?”

Doni berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Sederhana dan pengertian.”

“Hanya itu?” tanya Clara.

“Iya.”

Desti langsung menyela sambil tertawa.

“Cantik itu bonus katanya.”

Doni mengangguk santai. “Betul.”

Clara tersenyum kecil mendengar itu.

Namun beberapa detik kemudian Doni kembali berbicara.

“Yang penting tidak suka menghamburkan uang untuk hal tidak penting.”

“Contohnya?” tanya Clara.

“Make up mahal. Perhiasan mahal. Barang-barang yang sebenarnya tidak perlu.”

Clara yang tadinya santai langsung menatap Doni tajam.

“Tunggu dulu.”

“Apa?”

“Kamu serius bicara begitu?”

Doni terlihat bingung. “Memangnya salah?”

“Jelas salah.”

Desti langsung menahan senyum karena tahu perdebatan akan dimulai.

Doni menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kenapa salah?”

“Karena wanita berdandan bukan cuma untuk pamer.”

“Lalu?”

“Wanita ingin terlihat cantik dan menarik.”

Doni mengangguk kecil. “Tetap saja banyak yang berlebihan.”

Clara langsung protes.

“Bagi perempuan, berdandan itu bentuk usaha menjaga penampilan.”

“Bedanya tipis dengan boros.”

“Kamu bicara begitu karena kamu laki-laki.”

“Justru karena saya laki-laki saya tahu mana yang berlebihan.”

Clara langsung meletakkan sendoknya.

“Jadi menurutmu perempuan yang membeli make up itu tidak penting?”

“Kalau sampai menghabiskan uang terlalu banyak, iya.”

“Padahal perempuan berdandan juga supaya enak dilihat laki-laki.”

“Saya lebih suka yang sederhana.”

“Itu karena kamu tidak tahu usaha perempuan untuk terlihat rapi.”

Doni mengangkat alis tipis.

“Bedak lima lapis itu rapi?”

Desti langsung tertawa sampai hampir tersedak minum.

“Kak, jangan bicara begitu.”

Namun Clara terlihat benar-benar kesal.

“Kamu tidak menghargai usaha perempuan.”

“Saya menghargai.”

“Tidak terlihat begitu.”

“Saya cuma tidak suka berlebihan.”

“Masalahnya standar berlebihan menurut laki-laki dan perempuan berbeda.”

Doni diam sebentar.

Clara melanjutkan dengan nada serius.

“Perempuan bisa menghabiskan waktu lama memilih pakaian, make up, dan penampilan supaya percaya diri.”

“Percaya diri tidak harus mahal.”

“Kadang memang tidak harus mahal. Tapi bukan berarti salah.”

Suasana meja makan mulai dipenuhi perdebatan kecil yang justru terasa hidup.

Desti menikmati pemandangan itu sambil makan pelan.

“Jarang ada yang berani debat dengan Kak Doni,” katanya sambil terkikik.

“Karena mereka malas,” jawab Doni santai.

“Karena kamu keras kepala,” balas Clara cepat.

Doni menatap Clara beberapa detik lalu tersenyum tipis.

“Dan kamu terlalu defensif.”

“Karena kamu menghakimi.”

Bu Suci yang sejak tadi diam akhirnya tertawa kecil.

“Kalian ini baru juga kenal dekat sudah seperti acara debat televisi.”

Clara langsung tersenyum malu.

Namun Bu Suci kemudian menoleh pada Doni.

“Tapi Clara ada benarnya juga.”

Doni menghela napas pelan. “Ibu juga?”

“Iya.” Bu Suci tersenyum lembut. “Kamu harus belajar melihat dari sudut pandang perempuan sebelum menghakimi.”

Doni diam.

Bu Suci melanjutkan pelan.

“Perempuan berdandan bukan selalu karena ingin pamer. Kadang mereka hanya ingin merasa dihargai dan cantik.”

Clara mengangguk cepat setuju.

“Nah, itu.”

Bu Suci tersenyum tipis melihat Clara yang langsung bersemangat.

“Lagipula,” lanjut Bu Suci, “setiap orang punya cara sendiri untuk membuat dirinya bahagia.”

Doni akhirnya mengangguk kecil walaupun ekspresinya masih keras kepala.

“Baiklah. Saya mengerti maksudnya.”

Clara menyilangkan tangan di depan dada.

“Tidak tulus sekali cara ngomongnya.”

“Saya memang sedang belajar memahami dunia perempuan yang rumit.”

“Dunia perempuan tidak rumit.”

“Kalau memilih warna lipstik saja bisa setengah jam, itu sudah termasuk rumit.”

“Itu karena laki-laki tidak bisa membedakan warna.”

Desti langsung tertawa lagi.

“Benar juga. Menurut laki-laki semua warna merah itu sama.”

“Padahal beda,” balas Clara cepat.

Doni menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak makan bersama, suasana terasa benar-benar hangat.

Dan tanpa Clara sadari, sejak tadi ia sudah tertawa jauh lebih banyak dibanding beberapa minggu terakhir dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!