Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Suara debur hujan di luar jendela perpustakaan sekolah seolah menarik paksa kesadaran Aira ke masa sepuluh tahun yang lalu. Ingatan itu selalu punya cara untuk kembali—seperti hantu yang menolak pergi.
"Ini, makanlah. Jangan menangis lagi, Varo."
Aira kecil menyodorkan separuh roti cokelatnya yang sudah agak penyet. Di depannya, seorang bocah laki-laki duduk meringkuk di balik batang pohon mangga besar. Seragamnya dekil, lututnya berdarah, dan bau keringat bercampur tanah menguar dari tubuhnya. Dia adalah 'anak sponsor', sebutan kasar anak-anak lain untuk Varo karena ibunya hanya seorang tukang cuci.
Bocah itu mendongak. Matanya yang sayu menatap Aira dengan ragu. "Kenapa kamu mau berteman sama aku? Mereka bilang aku bau sampah."
Aira tertawa kecil, mengabaikan noda tanah yang menempel di pipinya sendiri. "Aku juga sering dibilang aneh karena lebih suka menggambar baju daripada main boneka. Kita sama-sama aneh, jadi kita harus bersama, kan?"
Varo menerima roti itu. Gigitan pertamanya terlihat begitu lahap. Setelah tenang, ia meraih tangan kecil Aira, lalu mengaitkan jari kelingking mereka. "Nanti, kalau aku sudah besar dan tidak bau sampah lagi, aku akan menjemputmu. Kita akan selalu bersama, Ai."
"Janji?"
"Janji."
*
"Aira! Malah melamun! Cepat bersihkan kaca jendela itu!"
Bentakan salah satu anggota OSIS membuyarkan lamunan Aira. Ia tersentak, hampir menjatuhkan kain pel yang dipegangnya. Hari ini, sebagai hukuman karena nilai ujiannya yang buruk, Aira ditugaskan membersihkan jendela koridor lantai dua yang menghadap langsung ke gerbang utama SMA Garuda.
Aira menghela napas, mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang kasar. Rambutnya yang berantakan hanya diikat asal dengan karet gelang. Ia kembali menggosok kaca, sampai sebuah pemandangan di bawah sana menghentikan gerakannya.
Tiga mobil Mercedes-Benz hitam mengkilap masuk ke area parkir sekolah. Iring-iringan itu terlihat begitu mencolok di antara mobil-mobil mewah lainnya. Pak Satpam bahkan berdiri tegak dan memberi hormat saat pintu mobil tengah dibuka oleh seorang pria berjas rapi.
Seorang pemuda keluar dari sana.
Jantung Aira berhenti berdetak sesaat.
Pemuda itu mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya, tapi entah kenapa, seragam itu terlihat seperti pakaian bangsawan saat ia kenakan. Postur tubuhnya tegap, rambutnya hitam pekat tertata rapi, dan rahangnya yang tegas memberikan kesan dingin namun mempesona. Dia tidak lagi bau tanah. Dia berbau kemewahan.
"Varo..." bisik Aira pelan. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Meski sepuluh tahun telah berlalu, Aira masih bisa mengenali tatapan mata itu. Mata yang dulu rapuh, kini tajam seperti elang. Itu adalah Alvaro. Sahabat kecilnya yang berjanji akan menjemputnya.
Air mata tanpa sadar menggenang di pelupuk mata Aira. Rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Bukan karena cemburu melihat perubahannya, tapi karena rasa rindu yang sudah ia simpan di dalam gudang gelap hatinya selama bertahun-tahun kini meledak keluar.
"Dia benar-benar kembali," gumam Aira.
Tanpa berpikir panjang, Aira meletakkan kain pelnya. Ia mengabaikan teriakan pengawas OSIS di belakangnya. Ia berlari menuruni tangga, melupakan penampilannya yang kusam, bajunya yang sedikit basah karena cipratan air pembersih, dan kacamata tebalnya yang melorot.
Ia hanya ingin menyapa. Ia ingin bilang bahwa 'Ai' masih di sini. Ia ingin menunjukkan sapu tangan tua yang masih ia simpan di saku roknya.
Langkah kaki Aira melambat saat ia sampai di lobi utama. Kerumunan siswi sudah mengerubungi Alvaro, namun para pengawal pribadinya memberikan jarak. Aira menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memanggil nama itu.
"Varo—"
Belum sempat suara Aira keluar, sebuah bayangan cantik melintas di sampingnya dengan aroma parfum mawar yang mahal.
"Varo! Kamu akhirnya sampai juga!"
Suara itu sangat akrab. Suara yang selalu terdengar merdu namun mengandung racun bagi Aira.
Aira terpaku di tempatnya. Di depan sana, Airin sudah berdiri dengan senyum termanisnya—senyum yang sanggup meluluhkan hati siapa pun. Airin berdiri tepat di hadapan Alvaro, menatap pemuda itu dengan binar mata yang seolah-olah menunjukkan kerinduan yang mendalam.
Alvaro berhenti melangkah. Tatapan dinginnya perlahan mencair saat melihat Airin. Ia terdiam sejenak, menatap wajah cantik Airin dengan seksama, seolah mencoba mencocokkan wajah itu dengan memori masa kecilnya.
"Ai?" tanya Alvaro dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Aira meremang.
Airin mengangguk cepat, tangannya meraih lengan Alvaro dengan manja. "Iya, Varo. Ini aku, Ai-mu. Kamu lama sekali kembalinya."
Aira yang berdiri hanya beberapa meter di belakang mereka merasa dunianya runtuh seketika. Kakinya terasa lemas, seolah seluruh tulangnya dicabut paksa. Ia melihat tangan Alvaro—tangan yang dulu mengaitkan kelingking dengannya—kini justru membalas genggaman tangan Airin dengan lembut.
"Maaf aku terlambat, Ai. Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik," ucap Alvaro pelan, tanpa sekali pun menoleh ke arah Aira yang berdiri mematung di balik bayangan pilar sekolah.
Aira meremas sapu tangan di sakunya sampai kuku-kukunya memutih. Harusnya itu dia. Harusnya senyum itu untuknya. Namun, kenyataan pahit menghantamnya lebih keras dari apa pun: Di mata Alvaro, 'Ai' yang dia cari adalah gadis sempurna yang berdiri di depannya, bukan bayangan buruk rupa yang bersembunyi di balik jendela.