NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan yang Salah Dimengerti (Lagi)

Tiga hari kemudian.

Aruna keluar dari rumah sakit.

Dokter udah ngasih surat rujukan ke psikolog. Ngasih resep obat vitamin sama suplemen buat menguatkan tubuhnya yang kekurangan gizi. Ngasih catatan panjang tentang apa aja yang harus dilakuin keluarga buat jaga Aruna.

Arya... baca semua itu dengan hati berat.

Luna nangis terus di mobil pulang.

Tapi Aruna... cuma diam. Ngeliat jendela dengan tatapan kosong.

---

Sampai rumah.

Aruna langsung masuk kamar. Kunci pintu.

Rebahan di kasur.

Ngeliat langit-langit.

*Aku... aku masih hidup...*

*Kenapa... kenapa aku masih hidup...*

Hapenya bunyi. Notifikasi.

Pesan dari Bu Maita.

Bu Maita: Aruna, kamu ada buku tugas yang tertinggal di kelas. Bisa diambil besok?

Aruna... baca pesan itu.

Nggak bales.

Tapi... dia inget. Buku tugas sejarah. Dia butuh itu buat ujian minggu depan.

*Harus ke sekolah besok...*

---

Besoknya.

Sore.

Arya bawa Aruna ke sekolah. Sekolah udah sepi. Anak-anak udah pada pulang.

Mereka parkir di depan gerbang.

"Kamu ambil bukunya di mana?" tanya Arya.

"Di kelas, Kak. Aku... aku sebentar aja," jawab Aruna pelan.

"Oke. Kakak tungguin di sini."

Aruna turun dari mobil. Jalan pelan masuk gerbang sekolah.

Tapi...

Begitu dia masuk...

Langkahnya... berhenti.

Dadanya... sesak.

*Tempat ini... tempat yang nyakitin aku...*

*Kenapa... kenapa aku harus balik lagi...*

Aruna ngerasain kakinya gemetar. Napasnya pendek-pendek.

Tiba-tiba...

"Run!"

Suara Arya dari belakang.

Aruna noleh.

Arya turun dari mobil. Jalan cepet menghampiri.

"Kak... kenapa turun?" tanya Aruna bingung.

"Kakak liat kamu... kamu kayak nggak kuat jalan. Kakak nemenin aja," kata Arya sambil senyum lembut.

Aruna... nggak nolak.

Mereka jalan bareng ke gedung kelas.

Naik tangga.

Sampai di kelas sebelas IPA satu.

Aruna masuk. Ambil buku tugas sejarah yang ada di laci mejanya.

Keluar lagi.

Tapi... begitu keluar...

Aruna... ngerasain tubuhnya lemes.

Pusing. Mata berkunang-kunang.

"Kak... aku..."

Aruna nyaris jatuh.

Arya langsung tangkap. Peluk adiknya erat supaya nggak jatuh.

"Run! Kamu oke?!" tanya Arya panik.

Aruna... napasnya pendek-pendek. "Aku... aku cuma pusing... bentar aja..."

Arya... memeluk Aruna lebih erat. Mengelus kepala adiknya lembut.

"Kakak akan selalu di sini, Run. Kakak nggak akan kemana-mana. Kamu nggak sendirian," bisik Arya pelan.

Aruna... menangis di pelukan kakaknya. Pelan. Tanpa suara.

"Terima kasih, Kak... terima kasih udah... udah selalu ada..." bisiknya.

Mereka berdiri di situ. Di koridor sekolah yang sepi. Berpelukan.

Yang nggak mereka tau...

Ada yang ngeliat.

Ada yang... ngambil foto.

Lagi.

---

Dari balik tembok koridor.

Nisa berdiri dengan hape di tangan. Senyum... senyum yang jahat.

Dia ngambil foto. Beberapa kali. Dari sudut yang... yang bikin keliatan intim.

"Masih berani bohong," gumam Nisa pelan sambil senyum puas.

Dia langsung kirim foto itu ke grup kelas. Ke grup angkatan. Ke semua grup yang dia tau.

Dengan caption:

**"Masih aja bohong. 'Kakak' katanya. Ini udah keterlaluan."**

---

Malam itu.

Foto-foto itu... tersebar.

Cepet banget.

Kayak api yang nyebar di hutan kering.

Dari satu grup ke grup lain.

Dari satu orang ke orang lain.

Bahkan... ada yang ngedit foto itu. Tambahin caption vulgar. Tambahin kata-kata kotor.

Dimas: Gue yakin seratus persen itu bukan kakaknya. Liat aja cara mereka pelukan. Mana ada kakak adik peluk seintim itu.

Riko: Aruna emang pembohong ulung. Sampe segitunya demi perhatian.

Alya: Kasian Dhira dibohongin cewek kayak gini. Untung belum jadian.

Sari: Menjijikkan. Cewek kayak gini harusnya diusir dari sekolah.

Adrian: Gue udah bilang kan dari awal. Cewek ini... nggak beres.

Bahkan... ada yang ngedit foto itu jadi meme. Jadi bahan ketawaan.

---

Keesokan harinya.

Pagi.

Aruna buka hapenya.

Notifikasi... ratusan.

Dia buka.

Dan...

Foto itu.

Foto dia sama Arya.

Tersebar lagi.

Dengan komentar yang... lebih kejam. Lebih vulgar. Lebih... menyakitkan.

Aruna... menatap layar hapenya.

Tangannya... gemetar.

Tapi...

Nggak ada air mata yang keluar.

Dia... udah terlalu lelah bahkan untuk menangis.

Aruna... matiin hapenya.

Taruh di meja.

Terus... bersiap ke sekolah.

Dengan wajah... kosong.

---

Di sekolah.

Aruna turun dari mobil Arya.

Jalan masuk gerbang.

Dan...

Bisikan-bisikan mulai terdengar.

"Itu dia..."

"Masih berani dateng..."

"Nggak tau malu..."

"Pembohong..."

Aruna... jalan terus. Nggak ngeliat kanan kiri. Nggak ngeliat siapa-siapa.

Cuma... jalan.

Dengan kepala nunduk.

Dengan hati yang... mati rasa.

Dia berdiri di tengah halaman sekolah. Deket pohon mangga besar.

Menatap kosong ke depan.

Bisikan-bisikan di sekitarnya... terdengar kayak gema dari dunia yang jauh.

Kayak... dia nggak ada di sana.

Kayak... dia udah nggak peduli lagi.

Tiba-tiba...

Kayla dateng. Lari. Peluk Aruna erat.

"Run! Gue udah liat fotonya! Gue tau itu kakak lu! Kita harus lapor ke kepala sekolah! Ini udah keterlaluan! Mereka nggak boleh ngelakuin ini!" kata Kayla cepet sambil napas ngos-ngosan.

Tapi Aruna... nggak jawab.

Cuma... diam.

"Run... dengerin gue... kita bisa lawan mereka... kita bisa buktiin kalau itu kakak lu..." lanjut Kayla.

"Kay..." suara Aruna sangat pelan. Hampir nggak kedengeran.

Kayla... berhenti ngomong. Ngeliat Aruna.

"Aku udah nggak peduli lagi."

Deg.

Kayla... merasakan firasat buruk. Sangat buruk.

"Run... jangan bilang kayak gitu. Kita bisa—"

"Aku capek, Kay." Aruna menatap Kayla dengan mata yang... kosong. Mata yang sudah kehilangan harapan. "Aku capek melawan. Aku capek bertahan."

Jeda.

"Mungkin... mungkin mereka benar. Mungkin dunia emang lebih baik... tanpa aku."

"JANGAN BILANG KAYAK GITU!" Kayla berteriak. Memeluk Aruna lebih erat.

Tapi dia... ngerasain tubuh Aruna yang sangat kurus. Sangat rapuh. Kayak... kayak bisa patah kapan saja.

"Run... kumohon... jangan nyerah... kumohon..." bisik Kayla sambil nangis.

Tapi Aruna... nggak nangis.

Nggak ngerasain apa-apa.

Cuma... kosong.

---

Aruna sudah tidak peduli lagi.

Dan ketika seseorang berhenti peduli pada hidupnya sendiri...

Itu adalah tanda bahaya yang paling menakutkan.

Karena orang yang udah nggak peduli...

Adalah orang yang... udah siap pergi.

Selamanya.

---

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!