Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus tirai kamar.
Xerra terbangun perlahan, refleks menoleh ke sisi ranjang dan jantungnya langsung mencelos.
Evans duduk di tepi ranjang, punggungnya sedikit membungkuk. Kemeja hitam yang dikenakannya belum sempat diganti, bagian lengan kanannya tampak basah dan menggelap. Bau antiseptik bercampur samar dengan aroma darah yang belum sepenuhnya hilang.
“Om…?” suara Xerra bergetar.
Evans menoleh. Tatapan dinginnya melembut seketika saat melihat istrinya terbangun.
“Kau sudah bangun,” katanya pelan.
Xerra langsung bangkit, selimut jatuh begitu saja. Matanya menangkap jelas perban kasar yang melilit lengan Evans, dengan bercak merah yang masih merembes.
“Apa ini…?” napasnya tersengal. “Om terluka?”
Evans hendak menjawab, tapi Xerra sudah lebih dulu menyentuh lengannya,tangannya gemetar.
“Darahnya…” suaranya pecah. “Kenapa Om tidak membangunkanku?”
Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Satu jatuh, lalu yang lain menyusul.
Evans terdiam.
Ia sudah berkali-kali tertembak dalam hidupnya. terluka,penuh darah,dan rasa sakit semuanya biasa. Tapi melihat Xerra menangis karena dirinya… itu sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Dengan tangan kirinya, Evans mengangkat wajah Xerra perlahan.
“Jangan menangis,” ucapnya lembut, jauh berbeda dari nada dingin yang biasa ia gunakan pada dunia luar.
Xerra menggeleng, air matanya semakin deras.
“Aku takut… aku bangun dan Om tidak ada. Lalu sekarang Om terluka begini…”
Evans tersenyum tipis senyum yang hanya Xerra yang pernah melihatnya.
“Ini hanya luka kecil,” katanya tenang. “Peluru cuma menggores. Tidak menembus.”
Ia mengusap pipi Xerra dengan ibu jarinya, menghapus air mata itu dengan lembut.
“Aku masih di sini Xerra.”
Xerra memeluk tubuh Evans tiba-tiba, hati-hati agar tidak menyentuh lengannya yang terluka. Wajahnya tertanam di dada pria itu.
“Jangan pergi diam-diam lagi,” pintanya lirih. “Setidaknya… bilang padaku.”
Evans memejamkan mata sesaat, lalu membalas pelukan itu dengan tangan yang tidak terluka.
“Aku tidak bermaksud membuatmu takut,” katanya pelan. “Tapi ada beberapa hal yang harus kulakukan.”
Xerra mengangkat wajahnya, menatapnya dengan mata basah.
“Aku istrimu sekarang, Aku ingin tahu… meski hanya sedikit.”
Evans menatapnya lama.
Di dalam dadanya, sesuatu menghangat, sebuah perasaan asing yang tidak pernah ia rasakan bahkan ketika seluruh kekuasaan ada di tangannya.
“Aku akan berusaha,” jawabnya akhirnya. “Demi kau.”
Xerra menyeka sisa air matanya sendiri, lalu menatap perban di lengan Evans.
“Om duduk. Aku ambil kotak P3K. Perbannya harus diganti.”
Evans mengangkat alis.
“Kau yakin?”
Xerra mengangguk tegas, meski matanya masih merah.
“Sekarang bukan Om yang melindungiku,Tapi giliranku.”
Evans terkekeh pelan suara nya rendah yang jarang keluar darinya.
“Baiklah,” katanya. “Aku patuh pada istriku.”
Dan pagi itu, di kamar yang masih sunyi, Evans menyadari satu hal yang membuatnya jauh lebih bahagia daripada kemenangan apa pun
Ia tidak lagi pulang ke tempat yang kosong.
Xerra duduk di tepi ranjang, wajahnya serius dan penuh konsentrasi. Tangannya yang kecil bergerak perlahan, membersihkan bekas luka tembak di lengan Evans dengan kain steril yang sudah dibasahi antiseptik.
“Nanti perih sedikit,” ucapnya lirih.
Evans mengangguk singkat. Tatapannya tidak lepas dari wajah istrinya,alis yang sedikit berkerut, bibir yang terkatup rapat menahan cemas. Rasa nyeri di lengannya sama sekali tak sebanding dengan perasaan hangat yang merambat di dadanya.
Peluru itu sudah tidak ada lagi.
Evans sendiri yang mengeluarkannya dengan pisau kecil di dalam mobil semalam, dibantu Ben dan Gerry yang menahan dan memastikan tidak ada yang salah. Bukan pertama kali dan mungkin bukan yang terakhir namun kali ini rasanya berbeda.
Xerra menghela napas pelan saat melihat bekas jahitan kasar itu.
“Kenapa Om selalu menempatkan diri di depan?” tanyanya, suaranya gemetar meski berusaha tenang.
Evans diam sejenak, lalu menjawab jujur.
“Karena kalau bukan aku,apa mungkin mereka.”
Xerra menunduk.
“Semalam… apa yang sebenarnya terjadi?”
Evans tidak berniat menyembunyikan semuanya. Ia tahu, cepat atau lambat, Xerra akan mengerti dunia yang ia masuki.
“Setelah kami mengambil berlian itu,” katanya pelan, “kelompok lain menghadang. Mereka tahu transaksi itu bukan milik kami.”
Xerra berhenti sejenak, lalu melanjutkan membersihkan luka dengan lebih hati-hati.
“Baku hantam tidak bisa dihindari,” lanjut Evans. “Salah satu dari mereka menembak saat jaraknya terlalu dekat.”
Xerra menahan napas.
“Om kena tembak karena melindungi…?”
Evans tidak menyangkal.
“Ben dan Gerry menghabisi sisanya. Orang yang menembakku Gerry yang menyelesaikannya.”
Tangan Xerra bergetar sesaat, tapi ia tetap melanjutkan. Setelah selesai, ia membalut luka itu dengan rapi, lalu menepuk perlahan.
“Sudah,” katanya pelan. “Jangan banyak bergerak.”
Evans tersenyum tipis.
“Perawatku galak.”
Xerra mendengus kecil, tapi matanya kembali berkaca-kaca.
“Aku tidak ingin kehilangan Om.”
Kalimat itu membuat Evans terdiam. Ia meraih tangan Xerra, menariknya mendekat, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
“Aku pulang,” ucapnya tegas. “Selalu.”
Xerra akhirnya tersenyum kecil, meski matanya masih basah.
Evans lalu berdiri dan berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Dari saku mantel hitamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna gelap.
“Ini,” katanya sambil menyerahkannya.
Xerra menatapnya bingung.
“Apa ini?”
“Dari berlian semalam,” jawab Evans. “Sebagian besar sudah kusimpan. Sebagian lagi akan disumbangkan ke panti asuhan.”
Xerra membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya, sebuah cincin berlian sederhana namun berkilau lembut terbaring anggun. Potongannya tidak berlebihan tapi elegan, bersih, dan sangat bersinar.
Matanya membelalak.
“Om…”
Evans mengambil cincin itu, lalu menggenggam tangan Xerra.
“Aku melihatnya dan langsung tahu,” katanya pelan. “Ini milikmu.”
Ia menyematkan cincin itu di jari manis Xerra dengan hati-hati, seolah takut melukainya.
“Kau sudah menjadi istriku,” lanjutnya, menatapnya dalam. “Tapi aku ingin kau selalu ingat… bahwa aku memilihmu Setiap hari.”
Xerra menatap cincin itu, lalu memeluk Evans lebih erat kali ini tanpa ragu.
“Terima kasih sayang,” bisiknya. “Aku akan menjaganya. Dan… aku akan menunggumu pulang Selalu.”
Evans memejamkan mata, membalas pelukan itu.
Dunia gelap yang ia jalani terasa memiliki cahaya yang layak dipertahankan.
Sementara itu, jauh dari kemewahan mansion Pattinson, Maxim menjalani hidup yang berbanding terbalik.
Ia berdiri di dalam sebuah gudang tua di pinggiran kota dindingnya lembap, lampu bohlam tunggal bergoyang pelan di langit-langit. Bau oli dan besi berkarat memenuhi udara. Tempat itu menjadi titik pertemuan kelompok mafia kecil yang selama ini bergerak di bawah bayang-bayang kekuasaan Evans.
Maxim menelan ludah.
Di hadapannya duduk tiga pria asing. Wajah mereka tidak ramah, sorot mata mereka tajam dan penuh perhitungan.
“Kami dengar,” ucap salah satu dari mereka, suaranya rendah, “kau punya hubungan darah dengan istri Evans Pattinson.”
Maxim tersenyum tipis senyum penuh kepalsuan.
“Paman,” koreksinya cepat. “Meski dia tidak pernah menganggapku keluarga.”
Pria itu tertawa pendek.
“Itu lebih baik.”
Sebuah koper hitam didorong ke arah Maxim. Ketika dibuka, lembaran uang terlihat rapi tersusun di dalamnya. Jumlahnya cukup untuk mengubah hidup seseorang atau menghancurkannya.
“Kami tidak meminta banyak,” lanjut pria itu.
“Hanya informasi,Kebiasaan Evans. Pergerakannya. Jadwal istrinya.”
Maxim menatap uang itu lebih lama dari yang seharusnya. Ingatannya melayang pada rumah kecil dua lantai yang dingin, perhiasan Melanie yang sudah hampir habis terjual, tatapan Liona dan Calvin yang penuh tuntutan, dan hidup yang semakin terjepit.
Harga diri tidak bisa membayar utang.
Loyalitas tidak mengisi perut.
“Apa pun?” tanya Maxim, suaranya serak.
“Selama itu tentang Evans Pattinson,” jawab pria itu ringan. “Kami tahu kau sering memperhatikan mereka.”
Maxim tertawa kecil dan pahit.
“Aku tahu banyak.”
Ia menutup koper itu dengan mantap.
“Anggap saja kita bekerja sama.”
Pria-pria itu saling pandang, lalu salah satu mengulurkan tangan.
“Selamat datang.”
Maxim menjabatnya tanpa ragu.
Saat keluar dari gudang itu, udara terasa lebih dingin. Namun di dada Maxim, ada api gelap yang menyala,campuran antara harapan dan kebencian.
Ia tahu betul siapa Evans Pattinson.
Ia tahu betul betapa berbahayanya permainan ini.
Tapi hidup yang susah telah membuatnya gelap mata.
Dan tanpa ia sadari, satu langkah itu akan menjadi awal kehancuran bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi semua orang yang ia seret ke dalam pengkhianatan itu.