Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawa Ke Bengkel
Jeviza menutup matanya dengan tangan berpegangan pada baju Keandra yang dikenakan, hanya sebatas ujung jemarinya saja memegangi baju itu, tidak ada peluk apa lagi bersandar pada punggung lebar di depannya. Meski kondisinya sangat memungkinkan untuk melakukan itu, Jeviza masih sadar dan cukup tahu diri, ada batasan setelah mereka menjadi mantan.
Ini untuk kedua kalinya Jeviza dibonceng oleh Keandra, tetapi untuk yang sekarang, tidak ada keraguan atau rasa takut akan diberitakan oleh akun gosip kampus. Jeviza butuh tumpangan untuk sampai ke rumah, dan hari juga sudah semakin sore. Biasanya di depan kampus banyak taksi yang menunggu, juga sangat mudah sekali jika Jeviza memesan melalui online, tetapi entah kenapa untuk hari ini sepertinya semesta memang menginginkan Jeviza pulang bersama dengan Keandra.
"Je, mampir bengkel bentar ya?"
Suara Keandra tidak begitu didengar dengan jelas oleh Jeviza. Gadis itu hanya mengangguk dengan jawaban singkat. "Iya."
Keandra melajukan motornya lebih kencang, ia melirik ke arah spion yang menampilkan Jeviza dengan mata tertutup juga jas hujan yang ia pinjam dari koh Amat tadi. Niatnya Keandra juga ingin membawa gitarnya pulang, tetapi urung setelah melihat Jeviza seorang diri di selasar kampus tadi. Keandra dengan sangat sadar berbalik arah, kembali menitipkan gitarnya dan meminjam jas hujan untuk dipakai Jeviza, sementara tubuhnya dibiarkan terkena air hujan begitu saja.
Motor Keandra berhenti di depan bengkel yang ternyata tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Jeviza membuka matanya secara perlahan, merasa aneh karena tiba-tiba motor Keandra berhenti, padahal jarak rumah Puspa masih ada sekitar 20 menitan lagi.
Dengan perasaan yang masih bingung, Jeviza turun dari motor Keandra, ia melihat ke sekitar dan baru sadar setelah di depannya banyak alat-alat dan juga beberapa motor yang sedang diperbaiki.
Keandra membuka helmnya, lalu menaruhnya di atas rak yang memang disediakan untuk menitipkan helm sepertinya, ia melirik pada Jeviza yang belum melakukan apa-apa selain wajah kebingungannya.
Sudut bibir Keandra tertarik ke atas sangat tipis saat melihat Jeviza yang mulai kesusahan membuka jas hujan milik koh Amat tadi.
Tanpa diminta, Keandra membantu Jeviza membuka jas hujan tersebut, lalu menaruhnya di atas bangku kosong depan bengkel.
"Baju lo basah," ujar Keandra melirik baju yang dikenakan oleh Jeviza tetap tidak aman dari air hujan.
Jas hujan yang ia pinjam tadi dari warung koh Amat sebenarnya milik salah satu mahasiswa dari fakultasnya, dan memang sudah tidak begitu layak untuk dipakai, banyak lubang yang bisa ditembus oleh air hujan, tetapi dari pada jas hujan milik koh Amat sendiri, Keandra lebih memilih meminjam jas hujan yang sudah lama tergeletak tersebut.
"Nggak bau kan?" tanya Keandra membuat kening Jeviza mengernyit. "Jas hujannya."
Jeviza menggeleng pelan, ia menatap Keandra yang lebih tinggi hampir dua kepala darinya. Jeviza terlihat kecil di depan Keandra. Apa lagi dengan kondisi seperti sekarang ini.
"Ayo, masuk bentar," ujar Keandra lagi.
Jeviza menurut tanpa menjawab ucapan Keandra, gadis itu mengikuti langkah kaki Keandra yang masuk ke bengkel, lalu masuk ke ruangan yang lebih mirip seperti ruang santai atau ruang tengah. Bahkan tanpa Jeviza sadari, langkahnya sampai mengikuti Keandra masuk ke dalam kamar yang berada di sana.
Jeviza baru tersadar saat langkah kaki Keandra terhenti di ambang pintu. Keandra menatap Jeviza yang kini melotot kaget setelah sadar apa yang dilakukannya.
"Gu-gue, tunggu di depan aja," ujarnya berniat untuk kembali ke depan.
Tetapi suara berat Keandra berhasil mengurungkan niatnya. Jeviza tetap berdiri di tempatnya.
"Baju lo basah kan?"
Jeviza meniliki keadaannya, lalu meringis sebagai bentuk jawaban.
Terdengar helaan napas dari Keandra, salah sebenarnya jika Keandra mengajak Jeviza pergi ke bengkelnya, tetapi yang paling dekat dengan kampus memang bengkel Keandra, dibanding apartemen miliknya yang sedang ditempati Gio, apa lagi rumah Puspa yang lebih jauh, mau tidak mau, Keandra mengajak Jeviza untuk berteduh di bengkel miliknya, beruntung di sana terdapat tempat istirahat yang bisa dikatakan cukup nyaman.
"Bentar," ujar Keandra masuk ke dalam kamar. Lalu tidak berselang lama, Keandra kembali dengan celana panjang miliknya juga hoodie hitam.
"Lo bisa bersihin diri dulu dan pakai ini." Keandra menyerahkan hoodie dan celana miliknya.
"Dimana? Kak?" tanya Jeviza tanpa berniay protes, dia memang sudah cukup kedinginan dan ingin segera mengganti pakaiannya.
"Di kamar gue, di dalam ada hair dryer juga kalau lo butuh."
Jeviza mengangguk patuh, ia menatap Keandra sebentar sebelum benar-benar masuk ke dalam. "Tapi, baju lo lebih basah dari pada gue, kak."
"Gue juga mau ganti, di kamar mandi sebelah."
Jeviza kembali mengangguk pelan, ia masuk ke dalam kamar asing yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan menginjakan kakinya di sana.
Kamar istirahat milik Keandra di bengkelnya.
Jadi ini kamar kedua, lo?
Batin Jeviza mengamati seisi kamar tersebut.
Tidak terlalu besar memang, tidak banyak barang juga, tetapi cukup untuk istirahat karena kamar tersebut sangat bersih dan juga rapih.
Sudah hampir satu jam berlalu, Jeviza belum juga memunculkan dirinya, sementara Kean baru saja kembali dengan dua cangkir coklat hangat juga beberapa senek ringan yang tadi dibelinya di minimarket depan.
Keandra duduk di sofa panjang depan televisi, ia menyalakan televisi di depannya untuk mengusir rasa jenuhnya, ekor matanya kerap kali melirik pada pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.
Sampai hampir 15 menit berlalu, pintu kamarnya belum ada tanda-tanda dibuka dari dalam, Kean melirik pada coklat panas yang mulai dingin, lalu ia bangkit dari duduknya untuk mengetuk pintu kamarnya.
Tetapi belum sempat Keandra menggerakan tangannya, pintu tersebut sudah lebih dulu terbuka, menampilkan Jeviza dengan tubuh mungilnya yang tenggelam dari balik hoodie besar miliknya.
Keandra melirik ke arah Jeviza dengan mata menyipit. Menahan sudut bibir yang memaksanya untuk mengukir senyum. Lalu beralih pada kaki Jeviza yang setengahnya terlihat.
"Celana?" tanya Keandra melirik pada kaki telanjang Jeviza, lalu menatap wajah gadis itu.
"O-oh, gue udah coba pakai tadi, gede banget," ujarnya pelan. "Kepanjangan," cicitnya lagi semakin pelan.
Keandra mengangguk paham. Celana panjang miliknya mungkin jika dipakai Jeviza bisa sampai batas dada gadis itu, mengingat perbedaan tinggi keduanya.
"Coklat-hangat, Je." Keandra melirik pada segelas coklat hangat yang kini mengepulkan asap tipis.
Menunggu Jeviza tadi membuat coklat panas tersebut sudah berubah hangat.
"Ma-makasih kak," jawabnya pelan.
Jeviza duduk di sebelah Keandra, mengambil coklat hangat itu dan sedikit memainkannya pada tangannya untuk menyalurkan rasa hangat, lalu baru meneguknya secara perlahan.
Aroma sabun miliknya dapat Keandra cium dari dekatnya jarak keduanya sekarang, Keandra melirik ke arah Jeviza, matanya menyipit saat baru menyadari jika rambut gadis itu masih setengah basah.
"Lo nggak pakai hair dryer? Je?" heran Keandra mengingat betapa lamanya Jeviza muncul tadi.
Jeviza yang sedang memegang cangkir di tangannya seketika tersentak, sedikit mengeratkan pegangan tangannya, lalu melirik pada Keandra dengan perasaan campur aduk.
Gue pakai buat nge-ringin daleman
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!