NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Gedung hotel bintang lima tempat berlangsungnya perayaan anniversary ke-20 tahun salah satu pengusaha yang masih kerabat dekat Abrari, malam itu tampak berkilauan. Lampu kristal raksasa menggantung megah di langit-langit aula utama, memantulkan cahaya pada ratusan tamu dari kalangan elite, pejabat, hingga pengusaha papan atas.

Di salah satu sudut dekat pilar, Eliza berdiri didampingi oleh Diki. Gadis itu tampil memukau dengan gaun muslimah berwarna biru malam yang longgar namun berkelas, dipadukan dengan hijab senada. Sebenarnya, atmosfer kemewahan seperti ini bukanlah hal baru bagi Eliza. Tiga tahun lalu, sebelum rahasia besar bahwa dirinya bukan anak kandung Papa Doni terbongkar, ia adalah sosialita muda yang terbiasa bersenang-senang di pesta glamor seperti ini. Namun kini, ia berdiri di sini dengan hati yang jauh lebih tenang dan bersahaja sebagai seorang Sekretaris Utama. Eliza sempat melihat kedatangan dokter Yolanda, dokter yang ia kenal saat membantu persalinan Maudi, Yolanda dan Kevin datang untuk menggantikan Rasya yang tidak mau menghadiri pesta siapapun karena takut terkontaminasi bakteri.

Eliza mendekat untuk menyapa dokter Yolanda.

" Assalamualaikum ... Tuan Kevin dokter Yolanda, bagaimana kabarnya, lama tak bertemu?" tanya Eliza dengan sopan sambil mengulurkan tangan nya untuk bersalaman dengan Yolanda.

"Waalaikumsalam....wah Eliza , Alhamdulillah seperti yang kau lihat, bagaimana kabarmu?" tanya Yolanda ramah setelah membalas jabatan tangan Eliza.

",Eliza juga baik Dok sekarang" jawab Eliza.

Mereka berbincang sebentar sampai akhirnya Kevin membawa Yolanda untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.

Setelah dokter Yolanda dan Kevin pergi, Pandangan Eliza mendadak terpaku pada pintu masuk aula. Langkah kakinya seolah terkunci ke lantai. Rombongan keluarga Abrari baru saja melangkah masuk dengan penuh keangkuhan.

Di barisan depan, Jihan menggandeng lengan Husen dengan senyum penuh kemenangan, karena bisa selalu mendampingi suaminya kemanapun Husen pergi , disusul Gavin yang berjalan dengan dagu terangkat. Dan tepat di samping Gavin, ada Jenita, musuh bebuyutan sekaligus pelaku perundungan setianya di kampus.

Namun, bukan kemunculan Jenita yang membuat napas Eliza tercekat. Matanya melebar sempurna saat menangkap sosok laki-laki yang berjalan di barisan paling belakang keluarga itu.

"Kak Faas?!" batin Eliza menjerit tak percaya.

Malam ini, Faas terlihat sangat berbeda. Setelan tuxedo hitamnya yang melekat sempurna di tubuh tegapnya membuat garis wajah blasteran Arab-nya tampak begitu tampan, matang, dan penuh karisma mahal. Eliza merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ada rasa terkejut yang luar biasa di benaknya, bagaimana bisa laki-laki penyelamatnya yang ia kira orang biasa, ternyata merupakan bagian dari keluarga besar Abrari Group?

Di sisi lain, ketegangan internal keluarga Abrari masih berlanjut. Begitu memasuki aula, beberapa kolega bisnis langsung menghampiri Husen dan Gavin untuk bersalaman, sementara Jihan dan Jenita mulai sibuk menyapa sesama sosialita.

Gavin melirik Faas yang berdiri diam di belakang mereka dengan tatapan sinis. "Ingat ya, Kak Faas. Di sini banyak investor penting. Kalau ada yang bertanya pekerjaanmu, diam saja atau gunakan kebohongan Jenita kemarin. Jangan sampai kamu merusak negosiasi proyek superblok kami malam ini," bisik Gavin dengan nada meremehkan yang tajam.

"Iya, Pa. Lebih baik Kak Faas tidak usah ikut bergerombol dengan kita. Bikin malu saja kalau ada teman-teman Jenita yang lihat," sahut Jenita ketus sembari membenarkan posisi tas bermereknya.

Faas tidak merespons. Wajah ketampanannya tetap sedatar es. "Saya permisi ke area minuman," ucap Faas pendek dengan suara beratnya yang tenang. Tanpa menunggu persetujuan Husen, ia langsung membalikkan badan dan memisahkan diri dari kerumunan toxic keluarganya, berjalan menuju sudut aula yang lebih sepi.

Melihat Faas berjalan sendirian, Eliza tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sifat aslinya yang sedikit manja dan pro dalam mendekati laki-laki yang disukainya seketika keluar begitu saja, ia tidak akan melepaskan seorang Faas begitu saja, meski ia akan terlihat agresif ia tidak perduli, Laki-laki seperti Faas harus menjadi suaminya, laki-laki baik, perhatian dan seringkali mengingatkan dirinya untuk beribadah meski lewat pesan singkat. Ia memberikan kode isyarat kepada Diki untuk menunggunya sebentar, lalu dengan langkah cepat namun tetap anggun, Eliza setengah berlari kecil mengejar langkah Faas.

"Kak Faas!" panggil Eliza setengah berbisik dari arah belakang, tidak ingin menarik perhatian tamu lain.

Faas menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Sepasang mata elangnya menatap Eliza yang kini sudah berdiri di depannya dengan napas yang sedikit memburu dan wajah yang merona merah.

"Eliza? Kamu di sini?" tanya Faas, berpura-pura terkejut demi menjaga kerahasiaan identitasnya sebagai Tuan Malik.

"Ih, harusnya aku yang nanya! Kak Faas kok bisa bareng sama rombongan keluarga Abrari Group tadi?" tanya Eliza blak-blakan, mencondongkan badannya sedikit ke arah Faas dengan gaya manjanya yang khas, mencari perhatian. "Terus... Kak Faas malam ini ganteng banget tahu. Sampai pangling aku lihatnya. Baju kita juga agak senada begini, jangan-jangan kita jodoh ya, Kak?" goda Eliza lagi dengan kedipan mata centil, namun sedetik kemudian ia langsung meremas tas kecilnya dengan wajah merona karena lagi-lagi keceplosan agresif di depan Faas.

Faas menahan kedutan di sudut bibirnya agar tidak tertawa. Sifat menggemaskan Eliza selalu sukses mencairkan dinding es di hatinya. "Saya... hanya memiliki hubungan kerabat dengan keluarga Abrari. Kebetulan diajak ke sini," jawab Faas memberikan alasan yang aman. "Kamu sendiri? Bersama siapa?"

"Aku di sini tugas kantor, Kak. Nemani asisten bos aku," jawab Eliza dengan binar mata antusias.

Tepat pada saat mereka sedang mengobrol, sebuah pengumuman dari pembawa acara di panggung utama menggema di seluruh aula, memotong pembicaraan semua tamu.

"Selamat malam para tamu undangan yang terhormat. Kami memiliki sebuah pengumuman penting dari salah satu mitra utama malam ini. Berhubung Tuan Malik Ibrahim, pemilik dari Apex Core, mendadak memiliki urusan darurat yang tidak bisa ditinggalkan, beliau menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak dapat hadir secara personal di malam yang berbahagia ini..."

Bisik-bisik langsung riuh di antara para pengusaha. Di sudut lain, wajah Husen dan Gavin seketika berubah masam dan kecewa berat. Mereka malam ini sengaja datang mengenakan pakaian terbaik demi bisa menyapa Tuan Malik dan melobi proposal investasi superblok mereka. Mendengar sang konglomerat misterius batal hadir, rasanya seperti disiram air es.

Jenita yang berdiri di dekat kerumunan temannya langsung mendengus kesal. "Yah, padahal aku pengen banget lihat se-berpengaruh apa Tuan Malik itu."

Sementara itu, di sudut sepi, Eliza tampak menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. Ia menatap Faas dengan raut wajah kecewa yang manja. "Yah... Tuan Malik nggak datang, Kak. Padahal aku sudah deg-degan dari semalam mau mendampingi beliau sebagai sekretaris barunya. Eh, malah dibatalkan."

Faas menatap gadis di depannya dengan tatapan yang begitu dalam dan teduh. Tidak ada satu orang pun di aula mewah itu, termasuk Eliza, apalagi Gavin dan Jenita yang terus meremehkannya, yang tahu bahwa pria yang sedang mereka sesali ketidakhadirannya sebenarnya sedang berdiri tepat di sini, memakai tuxedo hitam, dan sedang menatap mutiara hatinya dengan senyuman tersembunyi.

"Tidak apa-apa, Eliza," ucap Faas pelan, suaranya terdengar sangat menenangkan di telinga Eliza. "Mungkin bosmu hanya ingin memberikanmu waktu untuk menikmati pesta ini tanpanya."

Eliza mendongak, menatap mata indah blasteran Arab milik Faas, dan seketika rasa kecewanya menguap digantikan oleh debaran jantung yang menggila. "Iya juga sih, Kak. Kalau Tuan Malik ada, pasti aku sibuk mencatat ini-itu, aku tidak bisa bebas mendekati kakak, Kalau begini kan... aku jadi bisa punya banyak waktu buat ngobrol sama Kak Faas," sahut Eliza dengan nada manja yang sukses membuat dada Faas kembali bergemuruh hangat.

Sandiwara besar ini berjalan dengan sangat rapi. Identitas Faas terkunci rapat di balik ketenangannya, sementara roda takdir pelan tapi pasti mulai mengikat hati mereka berdua di tengah pesta yang penuh dengan kepalsuan elite Jakarta.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!