Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang yang Mendukungnya dengan Tulus
“Kamu baru saja diterima kerja?”
Mata Julian terlihat benar-benar berbinar, memancarkan kebahagiaan yang tulus mendengar kabar itu. Bukan sekadar basa-basi sopan santun, bukan sekadar pertanyaan kosong untuk mengisi waktu.
Melainkan perasaan senang yang murni, seolah keberhasilan Kayla adalah keberhasilannya juga.
Dan hal sederhana itu saja, perhatian tulus itu saja, sudah cukup membuat hati Kayla terasa hangat dan nyaman.
“Iya,” jawab Kayla sambil tersenyum kecil, tangannya meremas pinggiran cangkir kopi di hadapannya. “Walaupun masih sistem lepas atau paruh waktu dulu. Belum tetap.”
“Terus kenapa harus ada ‘walaupun’? Itu tetap hebat, Kay. Tetap pencapaian yang luar biasa,” ucap Julian tegas, seolah tidak mau mendengar pengecilan nilai atas apa yang baru saja diraih wanita itu.
Julian menggerakkan tangannya, meminta izin dengan tatapan untuk menarik kursi kosong di depan Kayla. “Boleh duduk sebentar? Nggak ganggu persiapan kamu kan?”
Kayla mengangguk kecil. “Boleh kok. Aku juga baru sampai dan lagi nunggu klien datang. Nggak apa-apa.”
“Aku serius banget senang dengernya,” ujar Julian sambil menatap lurus ke manik mata Kayla. “Akhirnya kamu balik lagi ke dunia kamu. Dunia yang kamu cintai dan yang bikin kamu bersinar.”
Kalimat itu membuat Kayla sedikit terdiam. Napasnya tertahan sejenak.
Karena memang benar sekali.
Setelah dua tahun lamanya hanya hidup dengan satu identitas: sebagai istri Adrian, yang harus menyesuaikan diri, mengalah, dan melupakan segala hal yang dulu ia banggakan… akhirnya ia mulai merasa menjadi dirinya sendiri lagi.
“aku juga nggak nyangka bakal bisa mulai lagi secepat ini,” gumam Kayla pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Julian tersenyum samar, senyum yang penuh keyakinan. “Kayla yang aku kenal dulu nggak mungkin hilang selamanya. Aku tahu kamu pasti bakal nemuin jalan pulang kamu sendiri.”
Dan entah kenapa… kalimat sederhana itu terasa lebih menyentuh, lebih dalam, dan lebih berarti daripada yang seharusnya. Di saat banyak orang lupa siapa dirinya yang dulu, Julian justru ingat dengan sangat jelas.
Mereka pun mengobrol cukup lama sebelum klien Kayla datang. Topik pembicaraan mereka mengalir begitu saja. Mulai membahas kenangan masa kampus, dosen-dosen yang dulu ditakuti sekaligus dikagumi, hingga membahas perkembangan karier masing-masing.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Kayla benar-benar menikmati sebuah percakapan tanpa rasa lelah di hati.
Ia tidak perlu berpikir keras untuk menjaga suasana hati lawan bicaranya. Ia tidak perlu menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan orang di hadapannya. Ia tidak perlu bersikap berhati-hati agar tidak menyinggung atau membuat orang lain tersinggung.
Semuanya terasa ringan. Semuanya terasa jujur. Semuanya terasa nyaman.
“Kamu sekarang beda banget ya,” ujar Julian tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka.
Kayla mengangkat alis kecil, menatap penasaran. “Beda gimana? Lebih tua? Atau lebih berkerut?”
Julian ikut tertawa kecil mendengar jawaban candaan itu. Namun beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius, lebih dalam, dan penuh perhatian.
“Lebih tenang. Lebih… tahu mau ke mana.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada rendah,
“Padahal sempat ada masa di mana kamu kelihatan sangat kehilangan diri sendiri. Kelihatan kayak orang yang lupa caranya bahagia.”
Jantung Kayla berdetak pelan dan berat.
Karena bahkan Julian, yang bukan siapa-siapanya, orang yang baru bertemu dengannya kembali beberapa waktu lalu… bisa melihat perubahan besar itu. Bisa melihat rasa hilang itu.
Sementara Adrian… suaminya sendiri… baru menyadarinya sekarang, saat semuanya hampir terlambat.
“Maaf ya kalau aku terlalu ikut campur atau ngomong sembarangan,” lanjut Julian pelan, seolah sadar ia sudah bicara terlalu jauh. “Tapi waktu ketemu kamu lagi pertama kali di acara itu… aku kaget banget.”
“Kaget kenapa?”
“Kamu kelihatan kosong. Kayak nggak bahagia sama sekali.”
Kalimat itu langsung membuat senyum di bibir Kayla perlahan memudar sepenuhnya. Wajahnya kembali terasa dingin.
Karena ternyata… rasa sakitnya selama ini, rasa sepinya, dan kekecewaannya… memang terlihat jelas bagi orang lain. Sangat terlihat sampai orang asing pun bisa membacanya.
Hanya dirinya yang selama ini terus mencoba berpura-pura semuanya baik-baik saja. Hanya dirinya yang berusaha keras menutupi semuanya.
Tak lama kemudian, seseorang yang dicari Kayla datang menghampiri. Klien yang akan bekerja sama dengannya.
Kayla langsung berubah menjadi sosok yang profesional. Ia menyambut tamu itu dengan ramah, dan mereka pun mulai melakukan pertemuan singkat di meja itu.
Sepanjang diskusi kecil itu berlangsung, Julian tidak langsung pergi. Ia duduk agak di pinggir, diam-diam memperhatikan, menunggu momen yang tepat untuk pamit.
Namun sebelum benar-benar beranjak pergi, saat Kayla sempat melirik ke arahnya, pria itu sempat berkata pelan, cukup untuk didengar wanita itu saja.
“Aku bangga banget kamu mulai berdiri lagi dengan kaki kamu sendiri, Kayla.”
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana.
Tapi cukup membuat dada Kayla terasa penuh sesak oleh rasa haru.
Karena sudah lama sekali… tidak ada orang yang mengatakan mereka bangga padanya tanpa meminta imbalan, tanpa membuatnya merasa harus berkorban dulu, atau tanpa menganggap itu kewajiban.
Sore harinya, matahari mulai condong ke barat, Kayla pulang ke apartemennya dengan suasana hati yang jauh lebih ringan dari biasanya. Langkah kakinya terasa enteng.
Namun begitu masuk dan menutup pintu apartemen, langkahnya sedikit berhenti di tempat.
Adrian ternyata sudah pulang lebih dulu.
Pria itu sedang duduk di sofa ruang tamu, namun sikapnya kaku. Ia menatap layar ponselnya dengan wajah dingin, bibirnya terkatup rapat.
“Aku pulang,” ujar Kayla pelan sambil melepas sepatu.
Adrian mengangkat kepala perlahan. Tatapannya langsung jatuh tepat ke wajah istrinya.
“Kamu dari mana aja?”
Nada suaranya terdengar biasa saja, seolah pertanyaan umum. Namun tatapan matanya terlalu tajam, terlalu meneliti, dan penuh dugaan.
“Dari kafe tadi. Ada pertemuan sama klien,” jawab Kayla jujur.
“Lama banget.”
Kayla sedikit bingung dengan nada bicara suaminya. “Tadi sekalian ketemu Julian nggak sengaja. Jadinya ngobrol sebentar,” jawabnya santai.
Dan seketika itu juga… ekspresi wajah Adrian langsung berubah kecil. Menjadi lebih gelap dan dingin.
“Oh.”
Hanya satu kata pendek yang keluar dari mulut Adrian. Namun cukup membuat suhu ruangan mendadak terasa dingin dan berat.
Kayla meletakkan tas dan kuncinya di meja dengan perlahan. Ia berjalan mendekat.
“Kamu kenapa? Ada masalah di kantor?”
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Adrian cepat. Terlalu cepat.
Kayla langsung menghela napas kecil. Sudah hafal betul perubahan sikap suaminya ini.
“Adrian…”
“Aku bilang nggak apa-apa. Udah ya,” potong Adrian, nada suaranya mulai terdengar lebih keras dan emosinya mulai naik.
Dan untuk pertama kalinya saat ini… Kayla mulai merasa sangat lelah menghadapi kecemburuan yang datang terlambat ini. Lelah menghadapi perubahan sikap yang tak menentu ini.
“Kamu boleh dekat sama Bianca tiap hari. Boleh ngabarin dia terus. Boleh pulang telat karena dia,” ujar Kayla pelan namun tegas, suaranya tenang namun tajam, “tapi aku cuma ngobrol biasa sama Julian aja langsung bikin kamu berubah mood dan marah-marah gini.”
Kalimat itu langsung membuat Adrian terdiam kaku. Mulutnya terbuka hendak membantah, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Karena ia tidak bisa membantahnya. Fakta itu terlalu nyata.
Dan justru itulah yang membuatnya semakin frustrasi, semakin marah pada dirinya sendiri, dan semakin tidak nyaman.
“Aku sama Bianca beda. Kami cuma rekan kerja,” jawab Adrian akhirnya, kalimat yang sudah ribuan kali ia ucapkan.
“Masih pakai alasan yang sama lagi?”
Kayla tertawa kecil samar. Namun kali ini tawanya terdengar benar-benar lelah. Tidak ada lagi rasa sakit atau marah, hanya sisa keletihan yang mendalam.
“Capek, Adrian.”
Dan satu kata itu… sederhana namun penuh makna, langsung membuat dada Adrian terasa tidak nyaman lagi. Rasa bersalah itu kembali menghantamnya.
Karena ia sadar, pelan tapi pasti, sikapnya yang terlambat berubah ini justru semakin menjauhkan wanita yang ingin ia jaga seumur hidupnya.
dan si Bianca berasa jadi korban, tapi dia sendiri yg milih jadi Pelakor !! sengaja cari-cari perhatian dan sok perhatian serta deketin lakii yg udah tau punya istri!!! 🤨😡😡
mending bahagiakan diri kamu dengan apa yg kau bisa lakukan sendiri 😡👍👍