NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

"Masakan Tante Ratna memang tidak pernah berubah, selalu luar biasa. Terima kasih banyak atas undangannya, Om, Tante."

Alvaro meletakkan sendok peraknya dengan sangat sopan di atas piring porselen bermotif emas itu. Ia mengulas senyum tipis—senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun, namun selalu tersedia untuk keluarga Maheswari. Di depannya, meja makan kayu jati yang mengkilap itu dipenuhi hidangan kelas atas, mulai dari rendang wagyu hingga sup asparagus yang masih mengepulkan uap panas.

"Kamu ini seperti baru pertama kali makan di sini saja, Varo," Prasetya terkekeh, suara beratnya memenuhi ruang makan yang mewah itu. "Rumah ini selalu terbuka untukmu. Kamu sudah kami anggap seperti anak sendiri, apalagi setelah apa yang kamu lakukan untuk Airin di sekolah."

Ratna, yang duduk di samping suaminya, mengangguk pelan sembari mengusap sudut bibirnya dengan serbet kain sutra. Wajahnya yang awet muda tampak bersinar di bawah pijaran lampu kristal, namun matanya menyimpan kabut yang seolah sengaja diperlihatkan.

"Benar, Varo. Tante tidak tahu bagaimana jadinya Airin kalau tidak ada kamu. Airin itu lembut sekali, hatinya mudah patah. Beda dengan..." Ratna menggantung kalimatnya, kepalanya tertunduk sedikit, menciptakan suasana melankolis yang tiba-tiba menyesakkan.

"Mama... sudah, jangan dibahas lagi," bisik Airin di samping Alvaro. Ia menyentuh lengan Alvaro dengan jari-jarinya yang halus, wajahnya tampak memelas seolah sedang menahan beban yang sangat berat.

Alvaro mengernyitkan kening. Ia bisa merasakan ada duri yang terselip di balik kehangatan meja makan ini. "Ada apa, Tante? Apa ada masalah lain setelah kejadian di sekolah kemarin?"

Ratna menarik napas panjang, bahunya sedikit bergetar. Ia menoleh ke arah Prasetya seolah meminta izin, lalu kembali menatap Alvaro dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sebuah pertunjukan emosi yang sangat halus, yang sanggup membuat siapa pun merasa iba.

"Tante hanya sedih, Varo. Kenapa nasib kami harus seperti ini? Punya dua anak kembar, tapi yang satu seperti malaikat, dan yang satu lagi..." Satu tetes air mata meluncur mulus di pipi Ratna. Ia segera menyekanya dengan gerakan dramatis.

"Maafkan Tante kalau Tante lancang menceritakan aib keluarga, tapi Tante tidak tahan melihat Airin terus-menerus ditekan oleh Aira. Kamu mungkin melihat Aira sebagai gadis yang pendiam atau tertindas, tapi kenyataannya..." Ratna menjeda, ia mendekatkan tubuhnya ke arah meja, suaranya mengecil seolah sedang membisikkan rahasia gelap. "Aira itu memiliki gangguan psikologis sejak kecil, Varo. Kelainan mental yang membuatnya terobsesi pada milik kakaknya sendiri."

Deg.

Alvaro membeku. "Kelainan mental? Maksud Tante?"

"Dia pengidap kleptomania identitas, Varo," sahut Prasetya dengan nada suara yang terdengar sangat kecewa, seolah ia adalah ayah yang paling menderita di dunia. "Sejak kecil, Aira selalu merasa bahwa apa pun yang dimiliki Airin adalah miliknya. Mainan, baju, bahkan kasih sayang kami. Dia sering sengaja melukai dirinya sendiri atau merusak barang Airin hanya untuk menarik perhatian. Dia tumbuh menjadi gadis yang licik. Dia pintar memutarbalikkan fakta sampai kami sendiri pun bingung."

Ratna menyambar tangan Alvaro, menggenggamnya erat dengan jemari yang terasa dingin. "Itu sebabnya dia selalu terlihat 'menyedihkan' di depan orang lain. Itu senjatanya, Varo. Dia ingin orang-orang membenci Airin dan mengasihani dia. Dia bahkan pernah mengaku-ngaku sebagai sosok 'Ai' yang kamu cari itu saat dia masih kecil, hanya supaya kamu mau bermain dengannya dan meninggalkan Airin."

Alvaro menelan ludah. Pikirannya melayang ke koridor sekolah, ke tawa lepas Aira di bawah perlindungan Bara, dan ke tatapan mata Aira yang tajam saat membela Bara di depan kelas. Kata-kata "kleptomania identitas" itu berputar-putar di kepalanya seperti gema yang mengerikan.

"Tante takut sekali dia akan mencelakai masa depan Airin," isak Ratna semakin pecah. "Dia sengaja menjatuhkan mental Airin agar Airin tidak bisa fokus ikut lomba. Kemarin, saat dia menampar Airin... hati Tante hancur. Kenapa dia bisa sejahat itu pada saudara kembarnya sendiri hanya karena dia merasa iri?"

"Al, aku nggak apa-apa kok. Jangan dengerin Mama," Airin menyela dengan suara parau, ia menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro. "Aku cuma pengin Aira sembuh. Aku nggak butuh permintaan maafnya, aku cuma mau dia berhenti membenciku."

POV Alvaro

Aku menatap Airin yang sedang bersandar di bahuku. Keharuman parfum mawarnya yang lembut menyerang indra penciumanku, memberikan rasa tenang yang biasa aku rasakan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa janggal. Namun, melihat air mata Tante Ratna dan gurat kelelahan di wajah Om Prasetya, logikaku mulai bekerja.

Jadi, semua perilaku 'tertindas' Aira selama ini hanyalah topeng?

Aku merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku sempat merasa ragu hanya karena melihat dia tertawa untuk Bara? Mungkin benar apa yang dibilang Om Prasetya, Aira itu ahli dalam memanipulasi keadaan. Dia sengaja mendekati Bara—berandal nomor satu di sekolah—untuk menakut-nakuti Airin. Dia menggunakan Bara sebagai alat untuk membalas dendam pada keluarga yang sudah 'menyekolahkannya' dengan layak.

Di meja makan ini, di tengah keluarga yang tampak begitu sempurna dan hangat, aku melihat Aira sebagai sosok "perusak". Dia adalah noda hitam di atas kain sutra putih bernama Maheswari. Dia adalah parasit yang ingin menghisap kebahagiaan Airin.

"Tante tenang saja," ucapku akhirnya, suaraku terdengar lebih berat. "Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Airin lagi. Aku akan lebih waspada terhadapnya."

Ratna tersenyum tipis di balik sapu tangannya. "Terima kasih, Varo. Kamu benar-benar pelindung bagi putri kami."

*

Makan malam berlanjut, namun pikiranku tetap tidak tenang. Aku mencoba menggali ingatan masa kecilku lebih dalam, mencari kepingan yang mungkin terlewat.

"Ngomong-ngomong soal masa kecil," ucapku tiba-tiba, membuat denting sendok terhenti sejenak. "Tante ingat tidak? Dulu, ada seorang anak perempuan seumuran denganku di komplek ini, atau mungkin teman sekolah kita dulu... yang sering sekali mengejekku? Dia suka menghinaku sebagai anak manja dan meremehkanku karena aku sering menangis?"

Aku ingat gadis itu. Wajahnya agak mirip dengan Ai, tapi perangainya sangat buruk. Dia sering menyembunyikan mainanku dan menertawakanku saat aku mencari-carinya. Dia adalah mimpi burukku sebelum aku benar-benar dekat dengan "Ai".

Ratna dan Prasetya saling melirik sesaat. Sebuah kilatan aneh melintas di mata Ratna sebelum ia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan raut sedih yang amat sangat.

"Ya Tuhan, Varo... kamu masih ingat kejadian itu?" tanya Ratna dengan nada tak percaya.

"Jadi... Tante tahu siapa dia?" desakku.

Ratna mengangguk pelan, air matanya kembali menggenang. "Varo... sebenarnya Tante ingin menyembunyikan ini selamanya supaya kamu tidak semakin benci padanya. Tapi karena kamu bertanya..."

Ia menghentikan kalimatnya, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk jujur.

"Gadis kecil yang sering membully-mu, yang meremehkanmu dan menghinamu sampai kamu menangis itu... itu adalah Aira, Varo. Dia cemburu karena sejak kecil kamu hanya mau dekat dengan Airin. Dia menggunakan kebencian itu untuk merusak mentalmu, sementara Airin lah yang selalu datang untuk menghiburmu dan memberikan sapu tangannya padamu."

Jantungku berdegup kencang. Rasanya seperti ada potongan teka-teki yang baru saja terpasang sempurna di kepalaku.

Benar. Itulah alasan kenapa Aira selalu terlihat "mirip" dengan Ai dalam ingatanku, tapi memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Itu karena mereka kembar identik, tapi jiwanya berbeda kutub. Aira adalah kegelapan yang menghinaku, dan Airin adalah cahaya yang menyelamatkanku.

Aku mengepalkan tanganku di bawah meja. Rasa sesak itu kembali, tapi kali ini bukan karena keraguan. Kali ini, itu adalah kemarahan yang meluap pada Aira. Berani-beraninya dia berakting suci di depan Bara, seolah dialah yang paling tersakiti, padahal dialah akar dari semua rasa sakit ini sejak kami masih anak-anak.

"Dia memang licik," desisku tanpa sadar.

Airin yang mendengar itu tersenyum sangat tipis, nyaris tak terlihat, sembari menyesap air putihnya dengan anggun. Sementara di luar jendela, langit malam Maheswari tampak begitu pekat, seolah sedang menyembunyikan badai yang jauh lebih besar.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!