Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Belum bisa move on
Sementara di sebuah apartemen mewah, tepatnya di atas tempat tidur seorang pria dengan begitu gagahnya sedang menghimpit sosok wanita cantik nan sexy. wanita itu sudah seperti cacing kepanasan di bawah kukuhan Andrew saat ini.
"Ahhhh.... paster baby uhhh..." Lirih Ema terus mendesah saat Andrew terus bergerak di atas tubuhnya.
Sementara Andrew terus memaju mundurkan tubuhnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. karena selama ini ia hanya merasakan sensasi biasa saja saat bercinta dengan para wanita termasuk Ema.
mungkin karena para wanita yang pernah Andrew tiduri tidak ada satupun dari mereka yang masih Virgin sehingga pria itu tidak bisa merasakan sensasi yang luar biasa saat bercinta.
Ahhhhhh.....
terdengar lengkuhan keras dari Ema saat wanita itu telah sampai pada puncaknya. wanita merasa sangat puas meskipun tubuhnya begitu remuk dan lemas karena telah mengalami pelepasan sekitar 5 kali sementara pria di atasnya hanya sekali saja. sungguh Ema tidak dapat meragukan lagi keperkasaan Andrew.
Andrew segera menyingkir dari atas tubuh Ema, namun tiba-tiba wanita itu memeluk tubuh Andrew dengan manja.
"Apa yang sedang kamu lakukan?!, menyingkirlah aku ingin segera mandi!." Ucap Andrew dingin.
"Aku hanya ingin memeluk mu baby, bagaimana kalo kita mandi bersama heummm..." Goda Ema semakin mengeratkan pelukannya.
"Please Ema!" Tolak Andrew secara halus.
wanita itu terlihat mengalah dan membiarkan Andrew turun dari ranjang sambil memakai boxer pendek.
"Sampai kapan kamu akan terus bersikap dingin dan cuek kepada ku?, tidak bisakah kamu menatap ke arah ku dan belajar untuk menerima dan mencintai ku?. 10 tahun aku terus menunggu cinta mu." ucap Ema langsung membuat Andrew menatap ke arah wanita itu.
Andrew terlihat terkekeh pelan setelah mendengar pernyataan cinta yang selalu terucap dari bibir wanita itu, bukan hanya Ema saja yang mengatakan hal itu. hampir semua wanita yang pernah menikmati cinta satu malam dengan nya juga mengatakan hal yang sama.
"aku tidak pernah berharap kamu akan mencintai ku, sejak awal aku sudah memperingatkan agar kamu tidak baper karena aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita manapun!" Balas Andrew dengan ekspresi dingin.
"Kenapa?, aku cantik dan sexy. karir ku pun sangat bagus sebagai seorang model dan dari kalangan keluarga kaya raya. apa yang kurang dari diri ku sehingga kamu tidak bisa membuka hati dan memberi ku kesempatan?." Tanya Ema heran karena dia selalu di tolak.
"Hanya satu alasannya aku tidak bisa jatuh cinta kepada diri mu atau pun wanita lain. Jika kamu tidak bisa profesional maka jangan pernah lagi menampakan wajah mu di hadapan ku!" jelas Andrew begitu sadis. lalu pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa mempedulikan Ema.
"Aku harus cari cara lain agar Andrew menikahi ku secepatnya." batin Ema penuh ambisi.
******
Setelah berada di apartemen, Andrew kini sampai di Mansion sekitar pukul 12 malam. tentu saja semua orang sudah tertidur lelap hanya satpam saja yang masih terjaga.
Trek!
terdengar suara sakral lampu yang di tekan dan lampu pun mulai menyala dengan begitu terang saat Andrew baru saja memasuki rumah, sontak saja pria itu menghentikan langkah kakinya dan langsung menatap ke arah sakral lampu yang ada di pojok ruangan. pria itu sangat terkejut setelah melihat sang nenek yang masih terjaga dan seperti sedang menunggunya pulang saat ini.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya nenek Lily dengan wajah marah.
"Ya ampun nenek bikin kaget saja, lagian ini sudah tengah malam kenapa nenek belum juga tidur?" Gerutu Andrew segera mendekat ke arah sang nenek.
"Jawab pertanyaan dari nenek mu dulu Andrew!, kamu dari mana saja Jam segini baru pulang?!"
Kini nenek Lily mengurutkan keningnya heran karena mencium aroma sesuatu dari tubuh Andrew, nenek Lily mendekat dan mulai mengendus seperti seekor kucing di depan cucunya sendiri.
"Dasar anak nakal!, sudah main wanita dan sekarang pulang dalam keadaan bau alkohol. sampai kapan kamu akan hidup seperti ini?!" Teriak nenek Lily begitu Frustasi.
"Husss... pelan kan suara mu nek, jangan marah-marah terus nanti cepet punya penyakit darah tinggi."
"Dasar anak nakal!, lihat saja aku akan menjodohkan mu dengan cucu kenalan ku. kamu tidak akan bisa menolaknya."
Kali ini nenek Lily benar-benar serius dengan ucapanya itu, ia sudah sangat lelah dan cape menghadapi sikap Andrew yang tidak mau menikah tapi sering bermalam dengan beberapa wanita berbeda di luaran sana. Nenek Lily sudah sangat ingin menimang seorang cicit, jika pria itu masih tidak mau menikah dan tidak ada niatan untuk berumah tangga mungkin sampai ia mati pun cicit yang di harapkan oleh nenek Lily tidak akan pernah ada.
"Sudahlah nek jangan paksa Andrew untuk menikah, nenek tahu sendiri aku tidak bisa mencintai wanita lain."
"Sampai kapan kamu akan tengelam dan terpuruk seperti ini?, sadarlah Amanda telah menikah dan memiliki anak. Kamu harus menerima kenyataan dan mulai bangkit, hanya kamu harapan kakek dan nenek satu-satunya jadi jangan buat kami kecewa." Ucap nenek Lily dengan raut wajah begitu sedih.
Andrew hanya bisa diam karena ucapan nenek nya itu ada benarnya juga, namun ia belum mau membuka hatinya untuk wanita mana pun sampai saat ini.
Sementara di balik tembok sedari tadi Bella telah menguping dan mendengar pembicaraan antara nenek Lily dan Andrew.
wanita itu tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan mereka berdua, karena ia baru saja kembali setelah mengambil air minum di dapur dan berniat masuk ke dalam kamarnya. namun saat melewati ruang tengah wanita itu tidak sengaja mendengar pertengkaran antara paman Andrew dan nenek lily.
karena merasa penasaran sehingga memutuskan untuk menguping. Ia pun merasa prihatin karena paman nya itu belum bisa move on padahal sudah bertahun-tahun lamanya. Bella sampai penasaran seperti apa rupa sosok wanita bernama Amanda itu karena hanya wanita itulah yang bisa meluluh lantahkan perasaan pamannya selama belasan tahun sehingga tidak mau berpacaran dan menikah.
"Sepertinya paman Andrew cinta mati sama wanita bernama Amanda itu sampai gak bisa move on. tapi kasihan kakek dan nenek sudah semakin tua. Mereka ingin melihat cucu satu-satunya segera menikah dan memberikan mereka seorang cicit yang lucu."
Kini Bella bergegas pergi dari sana, ia tidak mau sampai ketahuan oleh paman Andrew atau pun nenek Lily karena sedari tadi telah menguping pembicaraan mereka berdua. Ia memutuskan untuk kembali memasuki kamarnya.
******
Satu Minggu berlalu hubungan nenek Lily dan Andrew semakin jauh, sampai wanita tua itu tidak mau makan bersama.
"Kek, nenek kok belum juga mau makan bareng di meja makan sama kita?" Tanya Bella kepada kakek Adam yang baru saja datang.
"Iya kek, sudah hampir seminggu loh ini. Nenek terus mengurung di kamar" Timpal Fatir merasa khawatir.
Sementara di saat semua orang begitu khawatir dengan keadaan sang nenek, hanya Andrew saja yang terlihat diam dengan tatapan dingin yang ia miliki.
Sebenarnya di dalam lubuk hati Andrew yang paling dalam, ia merasa sedih dan sangat bersalah karena neneknya sampai tidak mau melihat wajahnya setelah pertengkaran mereka malam itu.
Andrew tidak tahu harus melakukan apa agar neneknya itu tidak marah lagi, jadi ia memutuskan untuk diam dan menunggu emosi neneknya itu mulai reda. Lalu ia perlahan akan meminta maaf kepada sang nenek.
"Belum mau, sudah biarkan saja mungkin ia sedang ingin menyendiri kalian tidak perlu khawatir." Jawab kakek Adam sembari melirik sekilas ke arah Andrew.
Sementara kini Bella terlihat menatap sekilas ke arah pamannya pula, ia bisa melihat wajah murung dari sang paman setelah pertengkaran nya dengan sang nenek.
"Nanti akan aku suruh paman Fatir saja untuk menghibur paman Andrew." Batin Bella.
*******
Sementara di kantor Andrew dan Fatir baru saja memasuki ruangan kerja Andrew. tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua karena Andrew yang terus diam dan hanya berbicara ketika ada hal yang penting saja.
"Lo kenapa lagi bro?, Lo masih belum berbaikan sama nenek Lily ya? " Tanya Fatir penasaran.
"Apakah semua orang wajib menikah dan berumah tangga?" Tanya Andrew tiba-tiba di hadapan Fatir.
"Ini bukan di luar negeri men kita gak bisa hidup bebas sesuka hati kita, jadi menikah itu sudah menjadi kewajiban di sini jika tidak mau di bilang bujang lapuk atau tidak laku. sudahlah desakan nenek Lily yang terus menyuruh mu menikah dan memiliki anak jangan terlalu di pikirkan, lambat laun nenek Lily pun pasti akan menerima keputusan mu yang tidak ingin menikah itu" Ucap Fatir berusaha menghibur Andrew sesuai permintaan Bella.
"Semoga saja emosi nenek cepat reda dan bisa menerima keputusan yang aku buat." Gumam Andrew pelan namun masih bisa di dengar oleh Fatir.
*****
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, Bella sudah terlebih dahulu pulang ke rumah setelah bekerja. namun wanita cantik itu tidak langsung mandi atau pun beristirahat melainkan sedang melakukan latihan bela diri karate sebagai pertahanan diri yang sudah sejak lama ia kuasai.
Di balik penampilan nya yang anggun dan manis ternyata wanita itu sangat jago bela diri. bukan hanya jago bela diri ia juga sangat mahir dalam olahraga menembak dan memanah karena sejak bertemu Andrew, pria itu banyak mengajarkan beberapa cabang olahraga yang tidak biasa kepada Bella.
jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, waktunya wanita itu menyudahi olahraga sore harinya tersebut.
"Aku harus segera mandi karena satu jam lagi waktu makan malam akan tiba." Batin Bella bergegas pergi.
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Makan malam akan segera di mulai, namun baru ada dirinya saja dan kakek Adam di atas meja makan. Andrew dan Fathir belum terlihat, jika nenek Lily jangan di tanya karena wanita itu akan makan di dalam kamarnya. karena tidak mau bertemu dengan Andrew karena masih dalam mode marah dan mendiami cucunya itu yang tidak kunjung mau menikah dan memberikanya cicit.
Sementara Fatir yang baru saja datang terlihat langsung duduk di atas meja makan. penampilanya sudah sangat segar dan rapih ia baru saja selesai mandi. Kini tatapan mata Fatir langsung berbinar setelah melihat beberapa lauk pauk yang terlihat begitu menggiurkan tersaji di hadapanya saat ini.
"Paman Andrew kemana?" Kok belum keluar juga dari kamarnya." Tanya Bella kepada Fatir.
"Iya tumben banget belum muncul juga." timpal kakek Adam.
"Andrew masih di kantor, sudah di ajakin pulang bareng tapi gak mau. katanya masih ada yang harus di urus di kantor." Beritahu Fatir.
"Loh kok yang stay di kantor cuma paman Andrew saja, sedangka paman Fatir kok gak ikut?. kan paman Fatir seketaris pribadi paman Andrew." Heran Bella.
Fatir terlihat menghela nafasnya pelan dan menatap kesal ke arah Bella yang begitu cerewet.
"Keponakan ku yang cantik, paman hanya bawahan jika paman mu Andrew menyuruh ku pulang yah paman mu ini akan segera pulang sesuai intruksi yang ada. Jadi kamu jangan bawel karena bos di kantor itu Andrew." Jelas Fatir agak kesal.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lebih banyak lagi!" Gerutu Bella.
******
Sementara di kantor, tepatnya di ruang direktur utama terlihat Andrew yang sedang duduk melamun di mejanya dengan pandangan kosong terus menatap ke arah depan. Saat ini ia sedang merenungkan dan memikirkan semua ucapan yang telah nenek nya katakan saat mereka bertengkar satu minggu lalu. Ada rasa bersalah yang kini menganjal di hati Andrew karena belum bisa menjadi cucu yang baik dan berbakti kepada nenek dan kakeknya selama ini.
"Maafkan Andrew belum bisa memberikan kalian cicit, mungkin selamanya pun tidak akan bisa." Lirih Andrew pelan terlihat begitu sedih.
******